Karina Erisa dan Pernikahannya

/1/

Tak pernah terlintas di benak Karina Erisa bahwa pernikahan yang telah dibayang-bayangkannya sejak delapan bulan lalu pada akhirnya terpaksa dibatalkan. Ia kesal sekesal-kesalnya, dan ia menyalahkan calon suaminya atas hal ini. Demi mewujudkan sebuah pernikahan yang mewah-meriah dan tak terlupakan mereka menyewa sebuah wedding organizer dan uang yang telah mereka gelontorkan untuk ini bukan main banyaknya. Agaknya, Karina Erisa dan calon suaminya terlalu bersemangat; mereka lupa memperhitungkan kemungkinan orang-orang yang mereka beri kepercayaan itu membawa-lari uang mereka.

Memang benar, calon suaminyalah yang menjatuhkan pilihan pada wedding organizer tersebut, sehingga kekesalan Karina Erisa sungguh beralasan. Tetapi sesungguhnya, Karina Erisa pun punya andil dalam hal ini. Ide menyerahkan persiapan pernikahan kepada sebuah wedding organizer terlontar dari lidahnya, dan ia dalam keadaan sepenuhnya sadar saat itu. Sebenarnya ia bisa saja memberdayakan saudara-saudaranya—baik itu kandung maupun ipar—yang akan dengan senang hati membantunya; jika opsi ini yang ia pilih uang yang harus dikeluarkan pun akan terbilang sedikit. Tapi seperti yang kubilang tadi, Karina Erisa menginginkan sebuah pernikahan yang mewah, meriah, dan tak akan pernah dilupakan baik olehnya atau siapa pun yang menghadiri pernikahan tersebut, dan menurutnya hal itu baru bisa terwujud jika segala hal terkait pernikahan itu diserahkannya kepada mereka yang profesional dalam hal ini. Kebetulan saldo tabungan suaminya dirasanya cukup, dan lelaki itu pun bersedia mewujudkan keinginannya. Ketika akhirnya orang-orang wedding organizer itu sukses mengibulinya, Karina Erisa berusaha menghapus dari ingatannya detik-detik saat ia melontarkan ide cemerlangnya itu.

Karina Erisa tahu, di mata orang lain, pihak yang bersalah itu adalah si wedding organizer. Setidaknya itulah yang ia pahami dari reaksi dan ungkapan belasungkawa yang ia terima dari teman-teman dan saudara-saudaranya. Akan tetapi, itu sama sekali tak menenangkannya. Jauh di dalam hatinya ia menilai dirinyalah sesungguhnya si pihak bersalah itu.

Jika calon suaminya dipusingkan oleh bagaimana mengumpulkan sejumlah besar uang untuk mengganti uangnya yang hilang itu, Karina Erisa justru dipusingkan oleh bagaimana membuat dirinya berhenti merasa bersalah. Berada dalam situasi seperti itu, bagi Karina Erisa, seperti terjebak dalam mimpi buruk, dan ia ingin secepat mungkin terbangun dan menggeliat lepas. Beberapa cara telah ia pikirkan, seperti memperbanyak amal saleh atau menenggak berbotol-botol bir, tetapi ia tak merasa cara-cara itu akan cocok padanya. Untuk memperbanyak amal saleh, ia terlalu malas, sedangkan ia adalah tipe orang yang tingkat religiusitasnya berbanding lurus dengan suasana hatinya. Sedangkan untuk menenggal berbotol-botol bir, ia tak berani; calon suaminya tentu akan sangat kecewa padanya dan ia tak sanggup membayangkan lelaki yang dicintainya itu meninggalkannya.

Lalu sebuah cara lain melintas di benaknya, dan cara inilah yang kemudian ia coba realisasikan: berpura-pura menilai calon suaminya sebagai si pihak bersalah. Ia sudah memikirkannya dengan matang. Dalam suasana hati yang sangat buruk melakukan hal itu akan mudah baginya; setidak-tidaknya tak akan sulit. Dan kendatipun ia secara kontinu melakukannya, ia yakin lelaki yang dicintainya itu tak akan meninggalkannya; tidak dengan alasan itu. Ia sendiri berusaha meyakinkan dirinya bahwa menempuh cara ini adalah semata upaya untuk membebaskan dirinya dari perasaan bersalah tadi, dan ini berarti ia akan dengan sendirinya berhenti saat rasa bersalah itu lenyap. Dalam bayangannya, ia butuh waktu setidaknya satu bulan.

Maka begitulah Karina Erisa sebisa mungkin memosisikan lelaki yang dicintainya itu sebagai pihak yang bersalah. Setiap kali mereka mengobrol Karina Erisa menyisipkan kekesalannya itu; dikatakannya ia kurang berhati-hati dan membiarkan calon suaminya itu mengatur semuanya; dikatakannya ia kelewat baik hati sehingga tak sekalipun meragukan kemampuan memilih lelaki itu. Ia melakukannya, dan terus melakukannya. Kadangkala ia melihat raut muka lelaki yang dicintainya itu berubah masam dan itu membuatnya menahan diri, tetapi kemudian ia melakukannya lagi ketika dilihatnya raut muka lelaki itu kembali seperti semula. Sembari melakukan hal tersebut, di dalam dirinya ia berusaha menghapus ingatannya tadi; menimpanya dan terus menimpanya dengan ingatan-ingatannya yang lain.

 

/2/

Karina Erisa berusia 33 tahun saat lelaki yang dicintainya itu melamarnya, dan bagi banyak orang, termasuk orangtuanya dan saudara-saudaranya, itu adalah umur yang sangat matang untuk menikah. Bahkan, terlalu matang. Adik-adiknya, yang keduanya perempuan, telah menikah beberapa tahun lalu, di pertengahan dua puluhan. Mendapati anak sulung mereka dilangkahi sampai dua kali kedua orangtuanya, terutama ibunya, giat sekali mendesaknya perihal pendamping hidup dan rencana pernikahan. Karina Erisa sendiri tak ambil pusing soal hal ini. Di matanya, pernikahan adalah sesuatu yang sifatnya alamiah dan tak boleh dipaksakan.

Cara melihat pernikahan seperti itu didapatinya dari membaca sebuah novel karya Mitsuyo Kakuta, dulu sekali, saat ia tengah mempersiapkan tugas akhirnya sebagai mahasiswa Sastra Jepang sebuah universitas di Bogor. Di dalam novel itu ada sesosok tokoh bernama Aoi, seorang perempuan yang pernah mengalami masa-masa suram ketika ia remaja, termasuk diantaranya ditinggalkan oleh sahabat-cum-kekasih-cum-teman-main-cum-partner-in-crime-nya, yang dengan itu ia kemudian memilih kesendirian sebagai jalan hidupnya. Alih-alih memiliki seseorang tetapi setiap detik dihantui bayangan akan kemungkinan perginya seseorang itu, lebih baik tak memiliki siapa pun tetapi baik-baik saja. Alih-alih menjadi kuat tetapi sangat bergantung kepada orang-orang lain, semestinya manusia menjadi kuat dengan dirinya sendiri. Begitulah kira-kira apa yang dikemukakan Aoi. Karina Erisa tertegun dihadapkan pada cara pandang semacam ini. Untuk beberapa lama ia menengadah memandangi langit, seolah-olah di hamparan hitam pekat itu ia tengah menunggu sesuatu muncul.

Jika aku menjalani hidupku seorang diri dan aku baik-baik saja, itu artinya aku kuat, benar-benar kuat. Begitulah Karina Erisa berpikir, dan pada kurun waktu tertentu ia terus menggumamkannya di dalam kepalanya, seolah-olah sedang menghipnosis dirinya sendiri. Berbekal pemahaman ini, ia tak menggubris desakan-desakan orangtuanya, pertanyaan-pertanyaan usil teman-temannya, tatapan-tatapan prihatin saudara-saudaranya. Jika memang sudah saatnya aku memiliki seseorang, aku akan memilikinya. Jika memang sudah saatnya aku menikah, aku akan menikah. Demikianlah ia meyakinkan dirinya. Ia tak bisa membayangkan dirinya mengejar-ngejar seseorang atau menerima begitu saja pernyataan cinta (apalagi lamaran) seseorang, hanya agar ia tak lagi sendiri, hanya agar ia menjalani hidup layaknya orang-orang di sekitarnya. Karina Erisa menilai hal semenyedihkan itu hanya cocok untuk para pecundang, dan ia bukan salah satu diantaranya.

Karina Erisa bertemu seseorang yang kemudian menjadi calon suaminya dua tahun lalu, dan itu bukan sebuah pertemuan yang direncanakan, apalagi dibuat-buat. Ia punya istilah sendiri untuk ini: “pertemuan yang terjadi dengan sendirinya”. Di hadapan teman-temannya dan saudara-saudaranya, meski bukan lewat ucapan, Karina Erisa selalu menunjukkan betapa bangganya ia menjadi dirinya sendiri, betapa kagumnya ia dengan dirinya yang mampu bertahan dan memegang prinsip hidupnya, tidak seperti sebagian orang yang dikenalnya. Tuhan pastilah menyayangiku, dan itu tentu disebabkan aku menjadikan diriku seseorang yang sangat pantas Ia cintai. Begitu ia menyimpulkan. Seandainya kau melihat binar mata dan raut muka Karina Erisa saat pikiran itu melintas di benaknya, kau akan sepakat denganku bahwa sangatlah wajar jika tiba-tiba ia muncul di televisi membawakan sebuah iklan produk kecantikan. Tagline iklan tersebut mungkin seperti ini: “Kasih sayang Tuhan akan membuatmu lebih segar dan lebih berkilau dari yang pernah kaubayangkan.”

Karina Erisa memegang teguh keyakinannya itu selama ia menjalani hari-hari yang menyenangkan bersama lelaki yang dicintainya, dan ia memegangnya lebih teguh lagi saat lelaki itu akhirnya mengajaknya menikah. Itu terjadi delapan bulan lalu; sebuah hari dengan malam yang seakan-akan jatuh lebih cepat dan bunyi bising kendaraan yang seolah-olah telah disulap jadi iringan musik. Tanpa pikir panjang, Karina Erisa langsung menyambut uluran tangan lelaki yang dicintainya itu, dan menerima lamarannya. Inilah detik-detik yang kudamba-dambakan itu, gumam Karina Erisa. Pulang dari bioskop mereka menyetop taksi dan di setiap taksi berhenti mereka berciuman dan berciuman. Si sopir taksi, sesekali melirik ke arah kaca spion dan menelan ludah.

Tapi kemudian pernikahannya itu dibatalkan. Pernikahannya yang telah dibayang-bayangkannya sejak delapan bulan lalu itu, dibatalkan. Seketika ia lupa pada momen-momen indah barusan, juga pada apa yang diyakininya selama ini. Ia jadi kerap membayangkan hal-hal buruk, seperti bahwa dibatalkannya pernikahan ini adalah awal dari berpisahnya ia dengan lelaki yang dicintainya itu. Ia menjadi lemah, dengan sendirinya. Jika ia saat ini membaca kembali novelnya Mitsuyo Kakuta itu, ia mungkin akan menilai sosok bernama Aoi tadi mengada-ada.

 

/3/

Di antara bayangan-bayangan akan hal-hal buruk yang hidup dalam benaknya dan menjadikannya lemah itu, menilai diri sendiri sebagai pihak yang memiliki andil besar dalam dibatalkannya pernikahannya adalah yang paling mengganggunya. Mengapa begitu? Mungkin dikarenakan selama ini ia menilai dirinya sebagai orang yang “benar”; pilihannya untuk bertahan dengan kesendirian menjadikannya tangguh dan membuatnya beroleh kasih sayang dan hadiah dari Tuhan—berupa seorang kekasih. Dan ia merasa kebahagiaanlah yang menantinya di hadapannya, yang selayaknya dan semestinya menantinya di hadapannya, dan ia memang telah mulai melihatnya. Kini, kebahagiaan itu sirna, digantikan kekecewaan, kemuraman, kekesalan, dan sedikit keputusasaan. Ia tentu sulit sekali menerima apa yang dipilihnya adalah titik awal dari sirnanya kebahagiaan tersebut.

 

/4/

“Jadi bagaimana? Kita jadi menikah atau tidak?” tanya Karina Erisa. Ia dan calon suaminya sedang berdiri di balkon sebuah kamar hotel di Bogor Kota. Dingin malam kerap menyerang, tetapi mereka seperti telah bersepakat untuk sama-sama telanjang.

Maksud Karina Erisa melontarkan pertanyaan itu, tak pelak lagi, adalah untuk membebaskan dirinya dari rasa bersalah tadi, dan ia masih percaya upayanya ini akan berbuah baik—baginya. Tentu saja ia berharap mereka jadi menikah, meski mungkin baru tahun depan atau tahun depannya lagi—sebab baik ia maupun calon suaminya tak bisa mengumpulkan sejumlah banyak uang yang diperlukan dalam waktu singkat. Ia percaya itulah yang akan terjadi. Lelaki yang dicintainya itu pastilah tak akan mengecewakannya, apalagi selama hampir tiga minggu ini Karina Erisa terus menekankan bahwa tertundanya kebahagiaan mereka disebabkan oleh keteledoran lelaki tersebut. Ia pasti akan berupaya sekuat tenaga membalas keteledorannya itu, pikir Karina Erisa.

Setidak-tidaknya sampai saat ini, optimisme Karina Erisa itu beralasan. Tanpa sepengetahuannya, lelaki itu menyusun sebuah rencana liburan ke kota ini, dan beberapa belas menit yang lalu mereka tengah dalam sebuah persenggamaan yang penuh gairah. Di kota inilah dua tahun yang lalu mereka bertemu. Sebuah pameran fotografi. Sebuah kafe. Karina Erisa terpaksa menghadiri acara tersebut sebab atasannya yang tanda-tangannya ia butuhkan sore itu juga menjadi salah satu pengisi-acara-yang-tak-boleh-absen. Yang menjadi bintang di pameran fotografi tersebut, yang namanya saat itu banyak disebut dan karya fotografinya beberapa kali dibahas, adalah si lelaki yang kemudian menjadi calon suaminya, yang kini berdiri telanjang persis di samping kanannya. Ia ingat betul karya fotografi itu. Seorang perempuan di depan cermin. Wajahnya segar dan bersinar, tetapi ia tak tersenyum. Di belakangnya, di dalam cermin, sepasang manekin berdiri. Manekin yang sebelah kanan memiliki wajah sedangkan yang sebelah kiri tidak. Berkat lampu terang yang menyorot dari atas cermin, bisa dilihat betapa miripnya wajah si manekin dengan wajah si perempuan; seakan-akan, sebuah replika wajah si perempuan telah dipasangkan ke kepala si manekin. Situasi ini ditampilkan dalam dua lembar foto yang disandingkan di satu bidang putih. Seingat Karina Erisa, si manekin yang sebelah kanan itu tersenyum.

Karina Erisa begitu menyukai karya fotografi tersebut, meski ia, sampai detik ini, tak bisa memastikan apa persisnya yang ia sukai darinya. Di pameran itu, setelah sesi talkshow selesai, ia berdiri di hadapan karya tersebut, mengkhidmatinya seperti mengkhidmati demo memasak. Saat itulah si pembuat karya, lelaki yang beberapa belas menit lalu bersenggama dengannya, menghampirinya, dan menyapanya. “Aku suka seseorang yang punya kedalaman seperti ini,” ujar Karina Erisa, begitu saja, padahal ia sesungguhnya tak begitu paham apa itu kedalaman yang dimaksudkannya. Ia mengatakannya lebih karena ia kaget, dan sedikit gugup. Dan lelaki itu merespons dengan melebarkan senyum dan berkata, “Aku suka seseorang yang sanggup menemukan kedalaman dalam karyaku ini.”

Karina Erisa, dihadapkan pada pernyataan seperti itu, jadi benar-benar gugup. Mungkin ia sedang berharap lelaki itu tak menanyainya (dan setelahnya mencecarnya) perihal “kedalaman” tersebut. Atau mungkin, ia hanya tak nyaman saja berada begitu dekat dengan seorang lelaki yang tatapan mata dan warna suaranya mampu seketika membuat sendi-sendinya kaku. “Tenang saja,” kata si lelaki kemudian. “Kalaupun kamu tak memahami apa yang kumaksudkan di sini, aku sudah sangat senang mendapati kamu mengamati dan menikmatinya selama lebih dari sepuluh menit. Aku pastilah akan mengingatmu. Wajahmu, rambutmu, wangi tubuhmu. Juga namamu dan nomor kontakmu, kalau boleh.” Karina Erisa tak tahu harus memberikan respons seperti apa, dan ia tak berusaha mencari tahu. Sesuatu yang hangat telah menjalar dan merasuk ke dalam dirinya, membuatnya perlahan-lahan merasa nyaman berada di dekat lelaki itu.

Teringat hal itu sebuah senyum cerah terbit di wajah Karina Erisa, dan ia sampai lupa pada pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Ketika lelaki di sampingnya menjawab pertanyaannya itu, ia tak menyimaknya, sehingga si lelaki dimintanya mengatakannya lagi. Dan inilah yang dikatakan lelaki itu, “Kalaupun kita tak jadi menikah, kita toh tetap bisa bersama-sama seperti ini.” Karina Erisa menyimaknya, mengunyahnya, menelannya, mencernanya, dan hampir memuntahkannya. Ia mengulang apa yang disimaknya itu di benaknya dan berharap mendapati kalimat yang berbeda. Sebuah tindakan konyol, tentunya.

“Kamu serius sama yang kamu bilang barusan?” tanya Karina Erisa, sedikit panik, dan lelaki itu mengangguk.

Senyum yang lebar dan cerah terpampang di wajah lelaki itu, tetapi Karina Erisa tak merasakan kehangatannya, ataupun hal-hal lain yang baik darinya.

Apa yang dikatakan calon suaminya itu benar, pikir Karina Erisa. Jadi menikah atau tidak, mereka tetap bisa bersama-sama seperti ini; bertemu, makan malam, bercengkerama, bersenggama. Menikah hanya akan membuat aktivitas mereka itu legal dan sah, dan itu semestinya bukan sesuatu yang ia kejar-kejar sekuat tenaga. Dengan menikah, banyak hal baru akan berdatangan, dan itu akan membuat hubungan mereka tak lagi sama. Dan siapa yang bisa menjamin ia dan calon suaminya itu mampu mengatasinya? Siapa yang bisa menjamin mereka berdua akan tetap bahagia? Kelak jika mereka memiliki seorang anak, misalnya, dan anak itu tumbuh mewarisi kejelekan-kejelekan orangtuanya, apakah ia akan baik-baik saja dengan itu? Agaknya tidak. Ia ingat hal semacam ini dikemukakan Aoi di novelnya Mitsuyo Kakuta tadi, dan ia sudah kesal sendiri membayangkan hal itu benar terjadi.

Maka, pikir Karina Erisa kemudian, jadi menikah atau tidak semestinya bukanlah masalah. Yang mana pun yang terjadi aku akan baik-baik saja. Kita tahu ia hanya sedang menghibur diri saja. Karina Erisa saat ini tidaklah sama dengan Karina Erisa tiga tahun lalu. Ia yang dulu bisa menjalani hidup dengan kesendirian, ia yang sekarang tak bisa lagi. Ia yang dulu bisa menjalani hidup tanpa pernikahan, ia yang sekarang tak bisa lagi. Itu karena ia telah menikmati hari-hari penuh kebahagiaan bersama lelaki yang dicintainya, dan karena pernikahan sudah pernah begitu dekat dan begitu nyata di hadapannya. Tokoh Aoi dalam novelnya Mitsuyo Kakuta tadi, kalau kau ingin tahu, baru bisa menjalani hidup dengan kesendirian jauh bertahun-tahun setelah sosok yang dicintainya itu pergi meninggalkannya, jauh bertahun-tahun setelah ia berhenti melakukan pencarian atas sosok tersebut, dan itu pun berakhir dengan ia jatuh suka dan jatuh cinta kepada seseorang yang lain—meski pernikahan tetap tak terbersit di benaknya. Karina Erisa, jika memang bisa kembali menjadi dirinya yang dulu, tentulah butuh waktu bertahun-tahun. Seandainya ia mau jujur ia akan berkata saat ini ia sangat menginginkan pernikahan itu.

“Jangan sedih begitu. Aku cuman bercanda,” ujar lelaki di sampingnya. Karina Erisa terhenyak. Beberapa puluh detik ini wajahku pastilah terlihat menyedihkan, pikirnya. Ia membayangkan seorang Pevita Pearce perlahan-lahan berubah rupa jadi seorang Omas-kulit-putih.

“Kita jadi menikah, tapi mungkin baru tahun depan, atau tahun depannya lagi,” kata lelaki itu kemudian, yang kini sudah merangkulnya dan menciuminya.

Karina Erisa tak mengatakan apa pun. Ia memejamkan mata, dan menikmati segala yang datang padanya: angin malam, bunyi jalan, suara televisi, ciuman-ciuman. Sekilas melintas di benaknya orang-orang yang telah menipunya habis-habisan itu, dan ia jadi bertanya-tanya apakah mereka saat ini tengah merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakannya ataukah mereka justru bersedih, cemas, ketakutan, dihantui rasa bersalah, dan sebagainya. Ia tahu yang mana pun yang benar itu sama sekali bukan urusannya, dan tak akan berpengaruh padanya. Di detik ia menyadari orang-orang itu menipunya, di detik itu pula ia merelakan apa pun itu yang terjadi pada mereka. Ia tak tergerak untuk melapor ke polisi, atau melacak dengan gigih keberadaan para penipu itu. Ia bersyukur calon suaminya pun tak berpikir ke arah sana. Jika kami melakukannya, saat ini mungkin kami sedang dalam keadaan yang tak memungkinkan kami menikmati kebersamaan kami seperti ini, merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti ini. Begitu Karina Erisa berpikir. Selanjutnya, ia pun berpikir kasih sayang Tuhan masih terlimpah kepadanya. Khusus yang terakhir ini membuatnya tergerak untuk segera meningkatkan kadar keimanan dan memperbanyak amal saleh.

“Kita masuk sekarang?” tanya calon suaminya. Dan Karina Erisa mengangguk.(*)

(Dramaga, 18-19 Januari 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s