Prostitusi, Alienasi, dan Ruang-Hidup

/1/

Tokoh utama dalam novel In the Miso Soup karya Ryu Murakami, Kenji, memilih sebuah profesi yang autentik, bahkan unik, yakni pemandu-wisata-malam (nightlife-guide) di Tokyo. Harap dipahami bahwa frasa “wisata malam” di sana mesti ditujukan ke hal-hal yang sifatnya “hitam”, “gelap”, atau “merah”. Jangan membayangkan profesi ini sebagai sesuatu yang berpusat pada makanan atau aksi-hiburan di tempat-tempat pariwisata, sebab upaya itu akan membuatmu memahami frasa tersebut—dan akhirnya profesi tadi—secara salah. Yang dimaksud dengan “wisata malam” di sana adalah “wisata seks”. Ya, wisata seks. Apa yang dilakukan Kenji dengan profesinya itu adalah memandu para gaijin yang ingin menikmati industri seks di Jepang, khususnya Tokyo. Gaijin sendiri adalah sebutan orang-orang Jepang untuk orang-orang non-Jepang yang berada di Jepang, terutama mereka yang berasal dari benua Amerika atau Eropa.

Mengapa Kenji memilih profesi ini kau bisa memahaminya dari nukilan berikut: Since AIDS, the sex industry hasn’t exactly welcomed foreigners with open arms—in fact, most of the clubs are pretty blatant about refusing service to gaijin—but lots of visitors from overseas are still determined to play, and they’re the ones who pay me to guide them to relatively safe cabarets and massage parlors and S&M bars and “soaplands” and what have you. I’m not employed by a company and don’t even have an office, but by running a simple ad in an English-language tourist magazine I make enough to rent a nice studio apartment in Meguro, take my girl out of Korean barbecue once in a while, and listen to the music I liked and read the things I want to read. Pada awalnya, informasi yang kaudapatkan adalah bahwa merebaknya AIDS telah membuat industri seks di Jepang tak lagi terbuka kepada para gaijin, dan celah inilah yang dimanfaatkan Kenji mengingat para gaijin sendiri masih memiliki minat yang tinggi terhadap industri seks di Jepang—setidaknya begitulah Kenji melihatnya. Selanjutnya, kau juga mendapatkan informasi mengenai hal-hal baik yang diperoleh Kenji dari apa yang dilakukannya itu. Di titik ini, kau patut menduga bahwa Kenji seorang oportunis, juga pragmatis. Ia tentulah paham betul bahwa keikutsertaan aktif para gaijin dalam industri seks di Jepang bisa berdampak buruk bagi orang-orang Jepang sendiri, seperti dengan muncul dan meningkatnya kembali pengidap HIV/AIDS di sana, tapi ia seakan-akan tak ambil pusing soal ini dan menjalani profesinya yang autentik itu dengan profesional.

Salah satu gaijin yang menggunakan jasa Kenji, yang dihadirkan sebagai sosok antagonis dalam novel ini, bernama Frank. Lelaki berkebangsaan Amerika ini dicitrakan sebagai seorang penipu, sehingga sampai novel ini berakhir pun kau tak bisa memastikan siapa nama aslinya, apakah Frank atau John atau Mark atau yang lainnya; kau juga tak bisa memastikan apakah ia memang baru beberapa hari berada di Jepang seperti yang dikatakannya atau justru sudah sejak lama berada di sana—yang berarti sebelum dipandu Kenji pun ia sudah menikmati industri seks tersebut. Namun demikian, soal mengapa ia menggunakan jasa yang ditawarkan Kenji, agaknya bisa kauketahui dari apa yang pernah dikatakannya ini: “I want to try a lot of things, go to a lot of different places.” Frank showed me the bashful grin again, and I couldn’t help looking away. “According to what I’ve read, you can find it all here—Tokyo’s like a department store of sex!”

Perhatikan kalimat terakhir di sana. Rupanya bagi para gaijin, atau setidaknya bagi Frank yang adalah gaijin, Tokyo adalah sebuah kawasan di mana di sana ia akan bisa menemukan berbagai hal yang berkaitan dengan seks, dan dengan dipandu oleh Kenji yang seorang Jepang dan tinggal di sana, akan jauh lebih mudah baginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan itu. Imej tentang Tokyo dan jasa autentik yang ditawarkan Kenji menjadi dua hal utama yang membuat cerita bergulir. Semacam titik tolak. Katakanlah begitu. Dan kau mungkin jadi bertanya-tanya: apakah Jepang, khususnya Tokyo, pada kenyataannya memanglah kawasan seperti itu? Dan kau pun mungkin juga bertanya-tanya: apakah Kenji dan Frank merupakan gambaran umum (stereotype) dari orang-orang yang satu ras atau satu kebangsaan dengan mereka?

Di novel ini diceritakan Kenji membawa Frank ke beberapa tempat hiburan malam di Kabuki-cho, Tokyo, mulai dari tempat-tempat yang di sana mereka hanya diperbolehkan mengobrol dengan perempuan-perempuan yang masih berpakaian—baik pakaian lengkap maupun hanya bikini—seperti lingerie pub dan omiai pub, sampai ke tempat-tempat yang di sana mereka bisa menikmati perempuan-perempuan menari dalam keadaan telanjang bahkan beroleh handjob dari mereka. Beberapa jenis tempat hiburan malam lain juga disebutkan Kenji saat ia bernarasi, seperti cabaret club (kyabakura), massage parlor, S&M bar, dan soapland. Selain itu, Kenji juga menyebutkan beberapa opsi hiburan malam lainnya seperti mendatangkan prostitutor ke kamar hotel atau membayar seorang perempuan untuk berkencan (baca: mengobrol, mengobrol, dan mengobrol).

Khusus yang terakhir, yang di novel ini disebut compensated dating (enjo-kousai), Vice pernah mencoba mengemukakan dan membahasnya lewat video dokumenter berjudul School Girls for Sale in Japan—bisa ditemukan di youtube. Malam hari, di sebuah ruas jalan di Akihabara, Tokyo, perempuan-perempuan dengan seragam SMA “menjajakan diri”; mereka membawa poster-poster dan selebaran-selebaran berisi sejumlah informasi tentang mereka dan menawarkannya kepada para lelaki yang melalui ruas jalan tersebut. Jika si lelaki berminat, ia harus mengeluarkan kira-kira tiga ribu yen yang dengan itu ia bisa menikmati percakapan hangat di ruang privat dengan si perempuan selama satu setengah jam; ada juga menu lain seperti fortune-telling. Sekilas, jenis hiburan malam yang satu ini sama sekali tak berada pada garis prostitusi. Akan tetapi kenyataannya, tidak seperti itu. Selain dua menu tadi (mengobrol dan fortune-telling) masih ada menu-menu lain yang sifatnya tersembunyi, ilegal, dan nakal. Jika si lelaki ingin meraba-raba bagian tubuh si perempuan, misalnya, ia bisa mengeluarkan uang lebih. Jika ia ingin melakukan hubungan seks dengan perempuan itu, misalnya, ia bisa mengajak si perempuan bertemu di luar jam yang ditentukan dengan bayaran tertentu.

Apa yang barusan kau simak adalah semacam sisi gelap dari sebuah profesi, atau ruang-gerak bagi profesi tersebut. Tentu tidak semua perempuan yang melakukan enjo-kousai memuarakan aktivitas mereka itu ke hubungan seks dengan klien; sebagian bisa jadi sangat tak menginginkannya, dan jumlah mereka bukan tak mungkin mendominasi. Pada dasarnya enjo-kousai sendiri bukanlah aktivitas prostitusi, melainkan sebuah pelayanan (service) untuk mengatasi kesunyian (loneliness) seseorang, dan itu tentu tidak mesti lewat hubungan seks—dengan atau tanpa intercourse. Bahwa pelaku enjo-kousai “berkembang” menjadi prostitutor adalah efek samping yang negatif—yang berarti ada juga efek samping yang positif. Prinsip kerja aktivitas ini, pada dasarnya, mirip dengan aktivitas yang berlangsung di lingerie pub dan omiai pub—juga kyabakura.

Baik enjo-kousai, lingerie pub, maupun omiai pub, ketiganya dimunculkan Ryu Murakami di In the Miso Soup—terutama yang dua terakhir. Dan sebab si tokoh antagonis di novel ini menginginkan sebuah wisata seks, maka ketiga wujud hiburan malam ini selalu dicoba-muarakan ke hubungan seks. Tidak hanya Kenji dan Frank yang digambarkan bertanya ke perempuan yang “melayani” mereka apakah si perempuan ini bisa dibayar untuk berhubungan seks atau tidak; klien(-klien) lain—yang juga laki-laki—pun melakukan hal yang sama. Memang pada akhirnya kau dihadapankan pada “kenyataan” bahwa hubungan seks ini tak (sempat) berhasil disepakati. Tapi setidaknya, kau jadi memiliki gambaran tentang sedekat apa ketiga hal tersebut dengan prostitusi.

Harap dipahami, di sini kau tidak sedang akan melakukan penghakiman terhadap prostitusi. Bahkan, sebisa mungkin, mencoba menilainya pun tidak. Alih-alih demikian, yang (sedang dan) akan coba kaulakukan adalah mempelajari keterhubungan antara hal-hal yang dikemukakan di novel dengan fakta-fakta di lapangan. Dan salah satu hal yang paling menarik tentunya: pemilihan ketiga jenis hiburan malam tadi dan bukannya yang lain.

Dibandingkan dengan enjo-kousai, lingerie pub, dan omiai pub, ada banyak jenis hiburan malam lain yang jauh lebih dekat dengan prostitusi, dan beberapa diantaranya bahkan bisa dibilang menyatu dengan prostitusi itu sendiri. Misalnya, yang disebutkan Kenji dalam narasi tadi: massage parlor, S&M bar, soapland. Atau, yang tak disebutkan Kenji (dan tak dimunculkan di novel): pink salon, Turkish bath, delivery health, image room. Lantas mengapa yang dipilih Ryu Murakami untuk ditonjolkan dalam novelnya ini bukan salah satunya? Apakah ia sedang berusaha mengatakan bahwa kendatipun imej Jepang—dalam hal ini Tokyo—di mata para gaijin adalah department store of sex, kenyataannya tidaklah “setelanjang” dan “semurah” itu? Bahwa Jepang, alih-alih sebuah department store of sex, lebih merupakan sebuah space for healing loneliness? Bahwa meskipun setiap bentuk hiburan malam itu bisa bermuara pada hubungan seks, namun esensinya bukanlah hubungan seks tersebut melainkan “permainannya”, segala macam “tawar-menawar” yang terjadi dalam rangka menuju (atau tak menuju) ke sana? Bisa jadi. Dan jika benar demikian, maka Ryu Murakami, dalam novelnya ini, melakukan dua hal sekaligus yang antara keduanya terjadi tarik-menarik secara terus-menerus. Terus-menerus dan tanpa henti. Di satu sisi ia menonjolkan Jepang sebagai kawasan di mana industri seks tumbuh subur, di mana seseorang (termasuk gaijin) bisa menikmati wisata seks di sana selama ia memiliki uang. Di sisi lain, ia (seperti) mengingatkanmu bahwa yang menjadi daya tarik industri seks ini bukanlah seks itu sendiri, melainkan bagaimana ia akhirnya disepakati atau tak disepakati. Dengan kata lain: proses.

Tapi kau pun bisa berpikir seperti ini. Ketiga jenis hiburan malam tersebut adalah jenis hiburan malam yang hanya akan kautemukan di Jepang. Ya, hanya di Jepang. Maka dengan memilih mengemukakannya (dan bukan yang lain), Ryu Murakami seperti hendak berbicara soal otentisitas, entah itu untuk memperkuat latar atau menguatkan diferensiasi. Seandainya penjelasan ini kurang memuaskanmu, kau tentu bisa kembali ke penjelasan yang kau terima tadi.

 

/2/

Sekarang coba geser sedikit fokus pengamatanmu. Selain Kenji dan Frank, satu tokoh lainnya yang kerap dimunculkan dalam novel ini adalah Jun, pacarnya Kenji. Jun seorang anak SMA, dan ia disebutkan kerap menghabiskan waktu-luangnya di kamar apartemen Kenji lalu pulang sekitar tengah malam. Alasan Jun melakukan hal ini, menurut Kenji, adalah karena ia menginginkan sebuah ruang privat yang tak bisa didapatkannya di rumah. Gambaran tentang Jun dan apa yang dilakukannya di kamar apartemen Kenji bisa kautemukan pada nukilan berikut: Jun was generally in my room around this time of night. Not that she was waiting for me to get back—she likes to spend time there by herself, reading or listening music, because she doesn’t have any private space at home. Jun’s parents divorced when she was small, and she lives with her mother and little brother. She tells her mother she’s been studying at a friend’s house, and as long as she gets home by midnight no questions are asked.

Kau bisa mengatakan bahwa yang dilakukan Jun adalah pengasingan, atau alienasi, terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain: mengasingkan diri. Ia memiliki rumah, memiliki keluarga—ibu dan adik, tapi kemudian ia mengasingkan diri dari keduanya, dan di kamar apartemen Kenji ia menikmati keterasingannya itu—membaca buku, mendengarkan musik. Untuk memperkuat—jika bukan menyempurnakan—keterasingannya ini, Jun bahkan berbohong kepada ibunya dengan mengatakan bahwa selama di luar itu ia menghabiskan waktu dengan belajar di rumah teman.

Sebelum berpacaran dengan Kenji, Jun sempat menjalani enjo-kousai. Kedua tokoh ini sendiri bertemu dalam aktivitas tersebut. Kenji mungkin menjadi klien Jun dan entah bagaimana mereka kemudian saling tertarik satu sama lain dan berpacaran dan Jun berhenti melakukan aktivitasnya itu—hal ini tidak dijelaskan di novel. Mengapa Jun sampai sempat menjalani enjo-kousai, ini sebuah pertanyaan tersendiri. Seperti yang tergambar pada nukilan tadi, Jun memiliki keluarga, juga memiliki tempat pulang, dan ia tidak dalam kondisi finansial yang buruk; tidak juga ia digambarkan sebagai sosok yang terjebak pada hedonisme atau semacamnya. Lantas, mengapa Jun sampai menjalani enjo-kousai? Mungkinkah karena di sini pun ia, seperti halnya yang kaupahami dari kasus tadi, berusaha mengasingkan diri (dan menikmati keterasingannya itu)? Atau justru sebaliknya: ia tengah berusaha mengatasi keterasingan yang telanjur diciptakannya atau menimpanya itu? Ingat, ketika Jun memutuskan untuk menjalani enjo-kousai, ia belum bertemu Kenji; ia belum menemukan ruang di mana ia bisa berdamai dengan keterasingannya itu dan kemudian menikmatinya.

Dalam sebuah nukilan lainnya, Kenji menyinggung hal ini. Ia tidak sedang berbicara tentang Jun, melainkan perempuan-perempuan Jepang seumuran Jun yang melakukan aktivitas tersebut, juga perempuan-perempuan Jepang lainnya yang melakukan aktivitas serupa (misal: pergi ke omiai pub). A woman like her turns to prostitution because she has no other means of making money, which isn’t the case with high-school girls involved in compensated dating, for example, or the ladies in the omiai pub. Most Japanese girls sell it, not because they need money, but as a way of escaping loneliness. Sebagai sebuah cara untuk melepaskan diri dari kesunyian. Barangkali seperti itu jugalah yang berlaku pada kasus Jun. Para perempuan yang pergi ke omiai pub pun biasanya hanya ingin mengobrol atau terlibat dalam suatu obrolan dengan seseorang, meski seseorang itu benar-benar asing baginya sekalipun. Omiai sendiri adalah sebuah kata yang merujuk pada perjodohan, meski di industri ini pengertiannya kemudian diperluas.

Bicara soal omiai pub, yang kemunculannya di novel ini cukup detail dan dominan, ada satu hal yang menarik untuk dibahas. Dua perempuan yang dikisahkan terlibat obrolan dengan Kenji dan Frank di sebuah omiai pub, Maki dan Yuko, tampak sekali tak berniat berada di sana untuk mendapatkan teman tidur. Maki, dengan cara bicaranya yang congkak, berulangkali menegaskan bahwa ia hanyalah mampir untuk mengobrol, dan bahwa ia biasanya hanya memilih tempat-tempat yang mewah dan berkelas saja. Yuko, dengan bahasa tubuh yang menunjukkan betapa ia tak benar-benar berniat terlibat dalam obrolan itu, mengatakan bahwa ia berada di sana sebab batal menghadiri pesta seorang teman—sedangkan untuk langsung pulang ia belum mau. Kedua tokoh ini, berada di sana bukan untuk mencari seseorang yang akan mengajak mereka berhubungan seks. Mereka hanya sedang terjebak pada kesunyian yang membuat mereka merasa terasing. Mereka, terjebak pada keterasingannya masing-masing dan tengah mencoba mengatasinya.

Keterasingan tentu tidak hanya dialami oleh para perempuan di omiai pub (atau yang menjalani enjo-kousai atau yang lainnya), melainkan juga oleh para lelaki di sana. Simak nukilan berikut ini: I looked at the manager of this place, who was standing at the counter tapping away on calculator. He might have been the prototype of men in the sex industry. You could tell by his face he’d long since stopped even asking himself if his life was of any value. Men like him, managers of soaplands and Chinese clubs and S&M clubs, not to mention gigolos and pimps—men who eke out a living exploiting women’s bodies—all have one characteristis in common: they look as if something has eroded away inside them. Mereka terlihat seolah-olah sesuatu telah terhapus dari diri mereka. Keterasingan yang mereka alami membuat mereka kehilangan gairah untuk “memuaskan” diri sendiri. Lalu perhatikan juga nukilan berikut ini: This place was more like the waiting room in a train station or something than a pub: a random mix of men and women killing time till something happened. They say that not just in Kabuki-cho but in entertainment districts around the country there are fewer customers whose main goal is sex. I know of a street in Higashi-Okubo where older men form a queue for a chance to talk—just talk!—to high-school girls. The girls hang out in coffee shops on that street and get thousands of yen an hour for chatting with these guys. Kali ini, lelaki-lelaki yang mengalami keterasingan itu justru harus mengeluarkan uang untuk mengatasi keterasingan mereka. Dampak atau cara mengatasi keterasingan yang berkebalikan dengan yang kaudapati tadi.

Satu hal yang bisa kaupahami dari dua nukilan tersebut: keterasingan telah diposisikan sebagai sebuah bahan produksi, sesuatu yang diproduksi untuk kemudian dipasarkan, dan dikonsumsi. Mengapa ini bisa terjadi? Pertama, tentu saja karena keterasingan itu ada; orang-orang yang mengalami keterasingan ada dan jumlah mereka banyak dan mereka—mungkin sebagian besar—ingin bisa mengatasi keterasingannya itu. Kedua, karena pihak-pihak yang cukup kreatif (dan cukup berani dan cukup gila) untuk mengoleh keterasingan itu ada, sehingga ia menjelma berbagai macam rupa yang memiliki daya pikat dan nilai jual. Ketiga, karena orang-orang yang mengalami keterasingan tadi mau mengeluarkan sejumlah uang demi menikmati produk berbahan dasar keterasingan tersebut.

Perhatikan nukilan berikut: Maki was short, with a round face and rough, swarhty skin. To think there were men who’d pay good money even for a woman like this. Men today are such a lonely breed that any woman who wants to sell it, as long as she isn’t absolutely hideous to look at, will find a buyer. Which is partly why women like Maki get so full of themselves. Betapa putus-asanya (sebagian dari) orang-orang yang mengalami keterasingan itu (laki-laki), sehingga seorang perempuan yang dari segi penampilan (maupun kepribadian) tak menarik sekalipun masih bisa mendapatkan klien, orang-orang yang mau menggunakan jasa mereka dan membayar mereka, dan kondisi ini tentu ikut menjaga keberlangsungan sistem di mana keterasingan begitu diberdayakan tadi. Di sebuah video dokumenter dari Vice yang lainnya—judulnya The Japanese Love Industry, dikatakan bahwa banyak dari para pengguna jasa itu, secara mengejutkan, adalah anak-anak muda (laki-laki).

 

/3/

Soal omiai pub, agaknya kau memang perlu memberikan perhatian khusus, sebab bisa jadi ia menduduki posisi yang strategis di novelnya Ryu Murakami ini. Mengapa begitu? Salah satu alasannya adalah porsi kemunculannya yang sangat detail dan sangat hidup—yang tadi sudah kauketahui. Alasan lainnya: di omiai pub ini terjadi sebuah peristiwa yang tak bisa dilupakan oleh Kenji si tokoh utama (dan mungkin juga olehmu), yakni mutilasi dan pembunuhan oleh Frank yang diawali dengan hipnosis. Alasan lainnya lagi: di dalam narasinya Kenji menyatakan secara cukup eksplisit bahwa omiai pub ini adalah simbol dari kehidupan orang-orang Jepang pada umumnya.

Pernyataan Kenji tersebut bisa kau simak di nukilan ini: Before Frank had turned up, this pub was like a symbol of Japan; self-contained, unwilling to interact with the world outside, just communicating with itself in every breath—mmm, ahhh. People who’ve spent their lives in that kind of bubble tend to panic in emergencies, to lose the ability to communicate, and to end up getting killed. Kau bisa juga menyimaknya di nukilan ini: There were no windows in the pub, but on one wall was an enermous video screen, and on it I could somehow visualize the street outside—a world where people still lived and talked and walked around, now hopelessly out of reach. I felt I was already knee-deep in the world of the dead. Outside, people were buying and selling sex. Women were standing on corners in miniskirts, legs covered with goose-bumps from the cold, trying to rent out their bodies, and men were laughing and singing drunkenly as they shopped for a woman to relieve their loneliness. Under the twinkling neon lights touts and barkers were calling out to the drunks walking by: We promise you a good time! I saw this vision as if through an ufocused lens, and I tried to face the fact that all of that was gone forever now.

Dua nukilan yang kau simak itu membantumu memahami dua hal. Pertama, di mata Kenji yang seorang Jepang dan tinggal serta hidup di Jepang, dalam hal ini Tokyo, kehidupan (orang-orang) di Jepang adalah kehidupan yang sarat kesunyian dan akhirnya keterasingan, di mana orang-orang melakukan atau terjebak dalam alienasi setiap harinya, di mana mereka kehilangan niat untuk benar-benar berinteraksi satu sama lain dan akhirnya kehilangan kemampuan untuk melakukannya. Kedua, omiai pub pasca-peristiwa-tak-terlupakan itu seolah-olah sebuah ruang yang telah terpisah dari realitas yang (masih) berlangsung di luarnya; sebentuk keterasingan lain. Dan kini di benakmu mungkin terbit sebuah pertanyaan: apakah orang-orang itu baik-baik saja berada di sebuah dunia semacam ini?

Di mata orang-orang beragama atau yang kadung beragama, juga di mata orang-orang bermoral atau yang kadung bermoral, keadaan barusan itu barangkali akan dikategorikan ke dalam normlessness, atau anomie. Pada awalnya orang-orang mengalami kesunyian dan keterasingan, lalu mereka mencoba mengatasinya dengan cara-cara yang untuk itu mereka mau tak mau harus mengabaikan norma-norma yang ada dan menciptakan norma-norma baru; norma-norma yang memperbolehkan mereka menempuh cara-cara itu. Ada banyak cara umum yang bisa ditempuh seseorang untuk melepaskan diri dari kesunyian dan keterasingan, seperti mencari pasangan atau teman main atau teman ngobrol secara alamiah (alamiah, yang artinya tidak melibatkan transaksi finansial atau jual-beli jasa), yang dengan itu pengabaian terhadap norma-norma yang ada tak perlu dilakukan. Sebuah cara yang sehat. Katakanlah begitu. Namun cara yang sehat ini dianggap menyulitkan oleh sebagian (banyak) orang, dan karena itulah cara-cara lain yang diangap tak menyulitkan, cara-cara yang dianggap praktis dan “terjangkau”, dipilih. Maka alih-alih mencari pasangan yang benar-benar pasangan, teman main yang benar-benar teman main, teman ngobrol yang benar-benar teman ngobrol, yang dilakukan adalah mencari orang-orang yang bisa dan bersedia berperan sebagai pasangan atau teman main atau teman ngobrol dengan bayaran tertentu, meski untuk sementara waktu saja. Peduli amat dengan norma-norma dan cara-cara sehat tadi. Selama cara yang ditempuh itu bisa melepaskan seseorang itu dari kesunyian dan keterasingan, meski sifatnya sungguh temporal, maka cara itu bisa dipilih.

Jika kaucermati baik-baik, yang dilakukan Kenji pun adalah itu. Profesinya sebagai pemandu-wisata-malam mengharuskannya memandu para gaijin yang ingin menikmati industri seks di Jepang, dan untuk itu ia mau tak mau harus mengabaikan norma yang kadung ditetapkan bahwa para gaijin tak lagi diterima dengan hangat demi mengurangi dan menekan dan menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di sana. Apabila berkembang dan tumbuh-suburnya industri seks itu sendiri sudahlah sebuah anomie, sudahlah sebuah keadaan anomik (anomic situation), maka yang terjadi pada kasus Kenji adalah anomie dari anomie, keadaan anomik dari sebuah keadaan anomik. Dan apakah Kenji baik-baik saja? Ya, ia baik-baik saja. Setidaknya itulah yang tergambar di novel seandainya kau mengesampingkan kehadiran Frank. Maka barangkali, orang-orang Jepang yang berada dalam keadaan anomik itu pun baik-baik saja, dalam arti mereka bisa terus menjalani hidup dan beroleh kebahagiaan, meski (lagi-lagi) sifatnya temporal dan sulit dideteksi apakah itu murni (true happiness) atau ilusif (ilussory happiness). Bagi mereka ini mungkin hanya soal melampaui—atau memperbaharui—norma-norma yang ada untuk kemudian menciptakan norma-norma baru, yang dengan itu masalah mereka dengan kesunyian bisa teratasi, dengan mudah dan praktis. Fokus mereka adalah pada bagaimana mengatasi kesunyian, bukan pada bagaimana menjaga keberlangsungan norma-norma.

Dengan demikian, kau kini jadi memahami bahwa alienasi tidak selalu sesuatu yang buruk. Atau, lebih tepatnya, alienasi bisa juga sesuatu yang baik. Tergantung bagaimana kau melihatnya dan menyiasatinya, dan mengatasinya. Katakanlah alienasi yang berujung pada anomie seperti yang terjadi pada tumbuh dan berkembangnya industri seks—lebih tepatnya love industry—di Jepang tadi dilabeli negatif oleh sejumlah pihak, terutama mereka yang gencar melawan human-trafficking. Tapi bagi para pelakunya sendiri, label negatif ini terkesan remaja; seperti sebuah penilaian yang tergesa-gesa dan tak komprehensif. Seperti yang tadi telah kauketahui, esensi dari industri seks di Jepang bukanlah pada seks itu sendiri, melainkan pada segala rupa “tawar-menawar” yang terjadi untuk sampai (atau tidak sampai) ke tahap itu. Dan ini, butuh keahlian, juga pengalaman dan dedikasi. Para perempuan yang bekerja sebagai hostess di kyabakura, misalnya, harus memiliki keahlian khusus untuk bisa membuat klien-kliennya betah menghabiskan waktu dengan mereka dan akhirnya mau datang lagi. Mereka yang menjalani enjo-kousai, misalnya, perlu mengembangkan trik-trik tertentu supaya para lelaki yang menjadi klien mereka tidak merasa membuang-buang uang hanya untuk sebuah percakapan privat (tanpa kontak fisik) yang relatif singkat. Dan satu hal lagi: alienasi semacam ini bisa juga berujung pada hadirnya otentisitas, yang kemudian membentuk karakter. Terlepas dari label negatif yang kadung disematkan sejumlah pihak kepadanya, industri seks Jepang merupakan sebuah warna tersendiri di kehidupan ini yang layak kauamati—jika bukan kaunikmati.

 

/4/

Sejauh ini, kau sudah diajak melihat persoalan prostitusi dan alienasi—terutama alienasi—dengan Kenji dan Jun sebagai titik tolak. Kini, ada baiknya kau mencoba melakukannya dengan Frank sebagai titik tolak. Ini untuk membantumu beroleh gambaran seperti apa wujud gelap sebuah alienasi (dan anomie).

Di sepertiga bagian akhir novel, kepada Kenji, Frank menceritakan sebagian kisah hidupnya, masa silamnya, yang sarat keterasingan. Ia memulainya dengan pengalaman ketika ia tersesat sewaktu kecil, di mana dalam keadaan itu ia mengalami ambivalensi, antara ketakutan dan kenikmatan. Kau bisa menyimaknya sendiri dalam nukilan ini: “The circumstance varied, but the moment I realized I was lost was always the same. No kid ever got lost gradually. Suddenly you find yourself in unfamiliar surroundings, and that’s it, you’re lost. You’ve been walking along past familiar houses and parks and streets, and then you turn a corner and the scenery changes completely. I remembered being very scared when that happened but also really liking it.”

Apa yang dialaminya itu bisa dikatakan hanyalah awal dari mewujud-nyata dan menyatunya keterasingan dengan dirinya. Semacam gejala. Barangkali begitu. Suatu ketika dalam keadaan tersesat itu Frank menemukan—lebih tepatnya ditemukan—ibunya, dan ketika ibunya ini menghampirinya ia justru merasakan keterasingan lain dan karenanya ia “menolak” ibunya itu. Dalam pemahamannya, ibunya itu tak semestinya ia temukan di sebuah kawasan asing. Ibunya yang dihadapinya di kawasan asing itu di matanya adalah sosok asing. Dan percaya atau tidak, dalam upaya melepaskan dirinya dari ajakan ibunya untuk pulang, Frank menggigit pergelangan tangan perempuan itu, dan ia benar-benar menggigitnya sampai-sampai darah memancar—atau membual?—dari sana. Dan, tidak berhenti di situ, Frank meminum darah yang memancar dari pergelangan tangan ibunya itu. Sebagai konsekuensi dari apa yang dilakukannya ini Frank dibawa ke psikiater dan hal-hal semacam ini kelak semakin menegaskan hadirnya keterasingan tadi di dalam dirinya.

Frank memiliki dua kakak laki-laki, tetapi ia seolah-olah terasing dari mereka, atau merekalah yang sengaja menciptakan keadaan ini. Tidak sekalipun Frank menggambarkan ia dekat dengan kedua kakaknya itu. Tidak juga Frank menyatakan ia dan kedua kakaknya itu memiliki kesamaan. (Sebagai contoh, kedua kakaknya itu benar-benar menggandrungi film horor, sedangkan Frank menyikapi film horor sewajarnya saja.) Yang ada, Frank justru menjelaskan sebentuk penolakan yang dilakukan kakak-kakaknya itu kepadanya. Dan bukan hanya dari kedua kakaknya, melainkan juga dari ayahnya. Kau bisa menemukannya di nukilan berikut ini: “A year later I was released from the hospital fat as a pig, a physical wreck. My family had moved to this little town in Virginia, and they came and got me, but from that point on Daddy and my brothers hardly ever said two words to me. About ten years later, when I went to prison as an adult, my oldest brother came to visit and explained about those days. He said they hadn’t known how to relate to me or what to talk about, not because I’d killed people but because I was so fat I looked like a complete stranger.” Wujud gemuk seperti babi didapati Frank dari perawatan demi perawatan yang diterimanya, dan itu berarti satu hal: perawatan-perawatan itu justru membantu keterasingan untuk semakin mewujud-nyata dan menyatu di dalam dirinya, mengeluarkan Frank dari dunia yang selama ini ia berada di sana.

Singkat kata, bisa dikatakan Frank menilai dirinya sebagai sosok yang tidak semestinya berada pada kehidupan yang dijalaninya, atau sistem yang mengekangnya. Ia tak melakukan hal-hal yang lumrahnya dilakukan untuk mengatasi keterasingan. Atau bisa jadi lebih tepatnya, hal-hal lumrah itu tidaklah cocok untuknya atau tak bekerja dengan baik padanya. Ia seperti sesuatu yang asing bagi kehidupan yang dijalaninya. Dan cara-cara yang dipilihnya untuk mengatasi keterasingannya itu, seperti melakukan pembunuhan yang disertai—bahkan didahului—penyiksaan dan mutilasi, atau meminum darah korban-korbannya, menjadikannya semakin sosok yang asing dan tak berterima. Ia, pada akhirnya, tak ubahnya alius, other, sesuatu yang berbeda yang seolah-olah bukan (lagi) bagian dari sistem yang ada. Kelak keadaan ini berkembang dan memasuki tahap selanjutnya di mana Frank mulai kesulitan mengenali dirinya sendiri (self estrangement), setidaknya dalam menentukan siapakah dirinya yang sebenarnya—apakah yang melakukan pembunuhan itu atau yang hangat dan bersahabat atau yang lain lagi (yang ia belum tahu). Kau bisa merasakan apa yang dialami Frank ini dalam pengakuannya kepada Kenji berikut: “You don’t get it, Kenji. I’m not your client anymore. You’re free, go ahead and go to the police, tell them I’m criminal. I’m tired, Kenji. So tired. I came to Japan looking for peace. Peace of a sort I thought I could find only here. But now I’ve gone and done something really out of line. What’s to become of me? I want to leave it all up to you, Kenji. I’m entrusting my fate to you, my only Japanese friend. That is, of course, if you still think of me as a friend.”

Tentang Frank sebagai sebuah alius, sebuah other, kau bisa juga memahaminya dari nukilan ini: “And then I looked up and realized I was at the top of the hill. In front of me was a pond, and when I turned to look back I could see the whole town laid out below in miniature, like a diorama. I’d never seen this view because I’d never made it to the top before, but there it was, the whole town, with clusters of houses and shops on the slopes of the vallet, and in the center were bigger buildings and churches and parks, and from there to the harbor were the factories with their smokestacks and warehouse, and the giant crane at the shipyard, which I recognized from one time when my brother took me there, but which now looked like a toy. Beyond that was the sea, gray and hazy, and I could smell the salt in the wind, and behind me the sun was a huge ball sitting on the horizon, and I felt this overwhelming sense of power, and at the same time this extreme panic and anxiety. It was as if the whole world was bowing down at my feet, but also as if I alone was cut off from the world, and I just stood there thinking, Holy moly. I was overwhelmed. It was like receiving a revelation from God.” Usai menyimaknya kau mungkin berpikir bahwa selain berbeda Frank juga menilai dirinya istimewa. Ya, istimewa. Layaknya Nabi. Atau bahkan Tuhan. Dan kau akan semakin berpikir ke arah sana ketika berhadapan dengan pernyataan Frank sendiri soal fungsi dirinya di kehidupan yang dijalaninya, yakni melenyapkan sosok-sosok lemah yang tak memberi sumbangsih berarti bagi kehidupan—sesuatu yang pada akhirnya tak diamini Kenji. Demikianlah pada kasus Frank alienasi benar-benar hadir dalam wujud gelapnya.

 

/5/

Sedikit-banyak, kau sudah tahu bahwa salah satu cara yang ditempuh Frank untuk mengatasi keterasingannya adalah melakukan pembunuhan demi pembunuhan, dan ia menikmatinya. Apakah ini bisa diterima? Tentu tidak. Tapi di mata Frank, yang entah sudah berapa kali menciptakan anomie di dalam dirinya, diterima atau tidak oleh orang-orang lain bukan lagi sesuatu yang penting. Bahkan tidak penting sama sekali. Dengan melakukannya Frank merasa hidup; ia seperti menemukan ruang di mana ia bisa berdamai dengan keterasingannya itu dan kemudian menikmatinya. Melakukan pembunuhan hanyalah langkah awal yang membawanya ke sebuah kondisi yang di sana ia merasa berada dalam kondisi terbaiknya, hadir sebagai dirinya yang ia cintai. “I’m not saying I feel fulfilled when I kill people. When it’s happening I often think there must be something else I should be doing, and sometimes I feel like I’m right on the verge of discovering what that something else might be, because the interesting thing is, when I’m killing, that’s when I’m the most focused on life, the most clearheaded…” Begitulah Frank berkata. Tampak sekali ia tak peduli pada norma-norma atau orang-orang di luar dirinya. Selama dengan melakukan pembunuhan ia bisa berada di sebuah ruang di mana ia merasa hidup sehidup-hidupnya, ia akan melakukannya.

Sebuah ruang yang di sana seseorang merasa benar-benar hidup, kau bisa menyebutnya ruang-hidup. Pada kasus Frank barusan ruang-hidup ini tercipta saat ia melakukan pembunuhan, yang didefinisikannya sebagai saat-saat di mana ia merasa fokus sefokus-fokusnya, merasa waras sewaras-warasnya—mungkin juga bahagia sebahagia-bahagianya. Ketika berada pada ruang seperti ini seseorang bisa sejenak melupakan masalah-masalahnya, sekaligus merasakan eksistensinya di kehidupan yang dijalaninya. Jika sebelumnya seseorang terjebak pada powerlessness, maka saat berada di ruang-hidup-nya ia terbebas dari keadaan tersebut. Bukan hanya Frank, tentunya. Setiap orang yang dihadapkan pada keterasingan akan mencoba mencari dan atau menciptakan ruang-hidup-nya masing-masing. Kenji, misalnya. Ruang-hidup-nya ia ciptakan dengan menjalani kehidupannya sebagai pemandu-wisata-malam di Tokyo. Tak ada pembunuhan. Tak ada pihak-pihak yang “dikorbankan” untuk bisa mewujudkan ruang-hidup tersebut. Demikianlah ruang-hidup pun pada akhirnya adalah sesuatu yang autentik.

Jun, seperti yang kau tahu, kerap menghabiskan waktu sendirian di kamar apartemen Kenji, entah itu dengan membaca buku atau mendengarkan musik, dan kau bisa dengan mudah menyadari bahwa apa yang dilakukannya ini membuat Jun merasa nyaman, hidup, bahkan mungkin bahagia. Maka itulah ruang-hidup Jun. Jika ingin menambahkan ruang-hidup lainnya, kau bisa menambahkan “saat-saat di mana Jun bersenang-senang dengan Kenji”. Keterasingan, yang membuat Jun tak lagi menikmati waktu-waktu yang dihabiskannya, dengan sekejap teratasi ketika ia berada di ruang-hidup-nya. Lantas bagaimana dengan orang-orang di omiai pub dan semacamnya?

Tadi kau telah mendapatkan informasi bahwa Maki dan Yuko, dua perempuan yang menemani Kenji dan Frank di omiai pub, berada di tempat tersebut dalam rangka mengatasi kesunyiannya masing-masing, keterasingannya masing-masing. Ketika memutuskan memasuki tempat itu, mereka tentu berharap mendapati hal-hal menyenangkan, apa pun itu yang bisa membuat mereka tertawa-tawa dan sesaat terlepas dari keterasingannya. Paradoks juga, sebenarnya. Kau menjejalkan dirimu ke sebuah ruang yang di sana kau dihadapkan pada orang-orang yang bagimu asing, dan kau berharap orang-orang asing ini akan membuatmu terbebas dari keterasinganmu itu untuk sementara waktu. Seandainya kau berhasil, maka omiai pub bisa kaukategorikan ruang-hidup-mu. Seandainya tidak, kau tentu perlu mencari dan atau menciptakannya di tempat lain. Pada kasus Maki dan Yuko tadi, sayangnya, ruang-hidup ini tak berhasil tercipta.

Kondisi berbeda kautemukan saat kau memfokuskan pengamatanmu ke para lelaki di tempat itu, juga di tempat-tempat hiburan malam lainnya. Si lelaki yang datang sebagai klien, dengan mengeluarkan sejumlah uang, tentunya berharap ditemani dan dilayani oleh satu atau dua perempuan yang berada di sana. Di novel, digambarkan seorang lelaki memanfaatkan posisinya sebagai klien (baca: pihak yang mengeluarkan uang) dengan menekan si perempuan yang menjadi teman-ngobrol-nya, sekaligus menawari—untuk tidak menyebut meminta—si perempuan untuk melakukan hubungan seks dengannya. Dalam kasus ini, si lelaki menemukan ruang-hidup-nya, yang karenanya ia tak akan ambil pusing soal sejumlah besar uang yang terpaksa digelontorkannya. Ia bahagia berada dalam posisi dominan seperti itu. Ia merasa hidup, dan ia merasa eksitensinya diakui—meski ia tahu betul pengakuan ini sifatnya palsu dan transaksional. Berbeda lagi dengan si manajer tempat hiburan tersebut. Seperti yang kau tahu, meski dengan melakoni profesinya itu ia mendapatkan sejumlah banyak uang dan ia berdiri pada posisi yang tinggi, yang dominan, namun sesuatu semacam kebahagiaan itu tak dirasakannya, tidak hadir dan mendekapnya. Sesuatu penting seakan-akan telah terhapus dari diri mereka. Dan dengan demikian, ruang-hidup itu tak tercipta.

Jika berpikir ke arah sana, kau akan menilai para perempuan pelaku enjo-kousai jauh lebih beruntung ketimbang manajer omiai pub tersebut, dan kau benar. Mereka, meski sewaktu-waktu bisa saja harus berhadapan dengan klien yang tak menyenangkan, yang bahkan membuat mereka kesal, namun mereka sudah pasti memperoleh satu hal: ruang privat di mana mereka bisa melarikan diri dari kehidupan mereka yang suram. Di video dokumenter keluaran Vice tadi, ditunjukkan bahwa para perempuan—usia SMA—yang menjalani enjo-kousai biasanya jenuh (dan bosan dan muak) dengan suasana suram di rumah mereka. Mereka berusaha melarikan diri dari kesuraman seperti itu, dan mereka menemukan ruang privat di mana di sana mereka bisa bersenang-senang dan mendapatkan uang. Ruang-hidup mereka, dengan demikian, tercipta.

 

/6/

Pertanyaannya sekarang: apa kaitannya prostitusi dengan alienasi dan dengan ruang-hidup? Setelah menerima penjelasan sepanjang ini semestinya kau sudah bisa menjawabnya. Bagi sebagian (besar) perempuan (di) Jepang, prostisusi diposisikan sebagai cara untuk melepaskan diri dari kesunyian, atau cara untuk membebaskan diri dari keterasingan, dari alienasi. Mereka tidak melakukannya untuk semata-mata mendapatkan uang, namun lebih ke beroleh kesenangan, beroleh sesuatu yang bisa membuat mereka sejenak lupa bahwa mereka sesungguhnya terasing, sekaligus membuat mereka percaya bahwa di kehidupan yang dijalaninya mereka sungguh-sungguh ada, sungguh-sungguh ada dan “berguna”. Dengan melakukannya, dengan menjalani profesinya itu dengan sungguh-sungguh, mereka mendapatkan kebahagiaan—meski entah yang sifatnya murni atau ilusif. Dan begitulah ruang-hidup mereka tercipta.

Sedangkan jika kau memfokuskan pengamatanmu kepada para klien, yang adalah para lelaki, kau bisa memahaminya seperti ini. Menggunakan jasa prostitutor di mata mereka adalah sebuah cara mudah (dan praktis) untuk mengatasi keterasingan, untuk melepaskan diri dari kesunyian, dan meskipun untuk itu mereka harus mengeluarkan sejumlah (banyak) uang mereka sama sekali tak menilainya memberatkan dan mereka mau melakukannya lagi dan lagi. Beruntungnya mereka, norma-norma yang semula ditetapkan untuk membatasi—untuk tidak mengatakan mengekang—hal ini mengalami pelonggaran, dari waktu ke waktu. Percaya atau tidak, ada sebuah pemafhuman bersama di sana bahwa prostitusi bisa dijadikan sebuah cara untuk meredam tingkat kriminalitas yang mungkin dilakukan para lelaki. Kelonggaran, ketersediaan, dan kemudahan. Dengan itu ruang-hidup pun mudah tercipta. Kasarnya, mereka cukup memiliki uang (dalam jumlah besar) untuk bisa (terus) berada di ruang-hidup tersebut.

Dan sekarang pertanyaan berikutnya: mengapa cara kerja penciptaan ruang-hidup seperti itu tidak berlaku pada Frank? Jawaban paling mudah tentunya: sebab Frank adalah sebuah alius, sebuah other, yang karenanya hal-hal yang umum bekerja pada orang-orang lain sangat mungkin tak bekerja padanya. Tapi tunggu. Perhatikan nukilan berikut: After listening to a lot of these stories, I began to think that American loneliness is a completely different creature from anything we experience in this country, and it made me glad I was born Japanese. The type of loneliness where you need to keep struggling to accept a situation is fundamentally different from the sort you know you’ll get through if you just hang in there. I don’t think I could stand the sort of loneliness Americans feel. Itu pernyataan Kenji, dan katakanlah akurasinya tinggi. Maka dari sana kau menemukan jawaban lain untuk pertanyaan tadi, yakni berbedanya kesunyian orang-orang Amerika dengan kesunyian orang-orang Jepang. Frank seorang Amerika (yang tinggal dan hidup di Amerika), dan di sana ia tak menemukan ruang-ruang seperti lingerie pub, omiai pub, kyabakura, enjo-kousai. Bayangkan perempuan-perempuan Amerika “menjajakan diri” di sebuah ruas jalan di Las Vegas atau Los Angels dan lelaki-lelaki Amerika menghampiri mereka lantas membayar mereka puluhan ribu dolar hanya untuk mengobrol di kafe atau di sebuah ruang privat. Hanya untuk itu. Pastilah kau melihat itu aneh. Bahkan, bisa jadi, kau mulai sakit kepala dan selanjutnya mual-mual. Karakter orang-orang (di) Amerika berbeda dengan karakter orang-orang (di) Jepang, dan karenanya jenis kesunyian mereka pun berbeda, dan karenanya jenis keterasingan mereka berbeda. Jika kesunyian orang Jepang bisa kauatasi dengan hanya bertahan dalam kesunyian itu, sambil sesekali menciptakan ruang-hidup di tempat-tempat hiburan malam yang ada di sana, maka kesunyian orang Amerika memaksamu untuk berubah agar kau bisa diterima di dalamnya; kesunyian macam ini menuntutmu untuk mengalah. Dan tentunya, jika opsi mengalah ini kau tolak, maka satu-satunya cara yang tersisa adalah mengeluarkan dirimu darinya, dari sistem yang kadung kaujalani itu, yang dengan itu kau menghadapi keterasingan dengan dosis lebih tinggi, sebuah keterasingan yang jauh lebih sulit lagi untuk kauatasi. Dan kiranya, itulah yang terjadi pada Frank. Saking dalamnya Frank tenggelam dalam keterasingannya ini, ketika ia telah berada di Jepang pun ia tak mampu membebaskan diri darinya. Ia telanjur sebuah alius, sebuah other. Ruang-hidup bagi Frank tetaplah saat-saat di mana ia melakukan pembunuhan (dengan didahului hipnosis dan penyiksaan dan mutilasi) tadi. Setidaknya itulah yang ia akui. Pada kasusnya ini prostitusi seperti sepercik cahaya belaka, sedangkan alienasi adalah latar gelap yang terlalu pekat dan terlalu kuat dan terlalu dominan untuk bisa diatasinya.(*)

(Bojongpicung-Dramaga, Januari 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s