Terpsichora

merah itu muncul seketika seperti hendak melahap setiap kuning di hadapannya. pada saat itu, hitam telah menutup mata dari biru yang tak juga mati, dan dari putih yang tak juga lesi. ia melupakan dari matanya ungu yang telah lama berdiam di sana, berdoa di sana, bersimpuh di sana. saat itu maut bisa muncul dalam wujud apa saja dan mendekati siapa saja dan mencengkeramnya kapan saja. di dalam merah itu, sementara hitam seumpama latar yang terasa hambar, sesosok asing membentangkan dirinya dan bangkit seperti akan melesat meninggalkan dirinya, dengan garis-garis teramat kasar dan kekosongan pada rongga mata dan mulut yang terbuka. udara, hanyalah percakapan yang tak selesai, hanyalah degup jantung yang tertunda. ia terdiam di ruang itu, dan bersusah-payah membaca tetesan kata yang membuat merah itu terluka, sehingga ungu kembali padanya dan menyadarkannya betapa tak pantas ia di sana, betapa tak layak ia menelan jarak dan membiarkan merah itu mengancam musuhnya, betapa tak semestinya ia mengabaikan setiap kuning itu yang dalam hitungan detik akan merobohkan hijau yang menanti di sana, di tempat yang baru saja ditinggalkannya. dan sebuah kuning lain muncul di hadapannya. kuning yang mahabesar, dan mahaterang. kuning yang mampu membuat merah itu tak berdaya sementara ia dan sesosok asing yang mendampinginya terlempar jauh ke arah jam tujuh, terlempar begitu jauh ke arah jam tujuh. dan maut telah menjadi apa saja ketika itu; ketika semua telah teramat nyata di hadapannya.

2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s