Kebahagiaan

Belum juga berhasil membuat dirinya terlelap, ia memutuskan untuk mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya seharian itu. Ia melakukannya dalam keadaan mata terbuka, dan lampu kamar yang telah padam. Mulanya ia ingin bangkit menyandarkan punggungnya di dinding kamar, namun kemudian ia menyadari betapa sesungguhnya saat itu ia sudah sangat lelah, dan betapa tak inginnya ia terjebak dalam keadaan tak-bisa-tidur-meski-sungguh-sungguh-ingin-tidur lebih lama lagi. Ia, memang telah melalui hari yang berat.

Hal pertama yang melintas di benaknya adalah tentang salah mengirim SMS. Sekitar pukul tujuh pagi ia mengambil ponselnya dan mendapati sebuah SMS telah masuk ke inbox-nya. Saat itu ia baru saja mandi dan masih hanya mengenakan handuk, sementara SMS itu sendiri datangnya dari seseorang yang ia sukai belum lama ini—sebut saja N. Ia berusaha membalas SMS itu, namun entah kenapa SMS itu gagal terkirim dan tersimpan dalam outbox dengan tanda silang merah. Ia lantas mencoba mengirimkannya lagi, dan kali ini ia harus mencari-cari nama N di daftar kontaknya. Tepat saat ia telah menemukan nama itu dan baru saja akan memilihnya, sebuah bunyi gedebum yang padat terdengar dari luar, dan secara refleks ia pun menoleh ke arah pintu. Sialnya, jempolnya rupanya masih sempat bergerak sebelum ia menoleh itu, dan nama yang terpilih sebagai alamat tujuan itu bukanlah N, melainkan nama salah seorang rekan kantornya yang adalah seorang laki-laki keperempuan-perempuanan yang ia curigai menyukainya. Ia pun menepuk jidatnya. Isi SMS yang ia kirim itu pasalnya cukup bermasalah: “Sudah kuduga kamu juga menunggu-nunggu SMS dariku. Entah kenapa aku seperti bisa merasakannya. Mungkin, kita memang ditakdirkan jadi semacam Adam-Hawa. Ya, Adam-Hawa. Versi kitab suci yang belum Tuhan turunkan tentunya.”

Ia kembali menepuk-nepuk jidatnya. Terbayang di benaknya raut muka rekan kantornya itu selepas membaca SMS tersebut, dan ia jadi geli sendiri, bahkan mual. Dalam bayangannya lelaki keperempuan-perempuanan itu tersenyum lebar, dan dengan penuh gairah mengetik SMS balasan. SMS balasan itu sendiri, baru ia terima sekitar sepuluh menit kemudian, dan untunglah tidak membuatnya pingsan atau muntah-muntah. Lelaki keperempuan-perempuanan itu hanya bertanya apakah ia telah salah kirim atau bagaimana dan ia membalasnya cepat: “Ya, aku salah kirim. Maaf banget ya.” Persis di detik SMS-nya itu terkirim, ia menerima SMS balasan dari N, yang ternyata pendek saja: “Ya, bisa jadi.” Namun pesan balasan yang teramat pendek itu rupanya cukup mampu membuatnya terhibur dan menyelamatkannya dari menikmati pagi dengan kepala berdenyut-denyut. Pesan untuk N itu sendiri, ia kirimkan beberapa saat setelah ia merasa puas menepuk-nepuk jidatnya.

Hal berikutnya yang ia ingat dan bayangkan adalah tentang telepon dari ibunya di saat jam makan siang. Telepon dari ibunya itu begitu tiba-tiba, dan entah kenapa ia merasa ada ketidaksabaran pada dering yang ia dengar. Ia pun mengangkatnya, dan seketika merasa lemas, seakan-akan baru saja tubuhnya terjatuh dari atap gedung bertingkat dan menghantam kolam. Ibunya mengabarkan padanya bahwa neneknya, yang dua minggu terakhir ini kondisinya memprihatinkan, akhirnya mengembuskan napas terakhirnya, beberapa menit sebelum ibunya itu meneleponnya. Ia langsung terdiam, dan seperti kebingungan ketika ibunya bertanya apakah ia bisa pulang ke kampung halaman sore itu atau besok harinya. “Mungkin besok pagi aku berangkat,” ujarnya kemudian. Ia pun mulai membayangkan dirinya berjalan ke ruangan atasannya, dan mengabarkan berita duka itu, dan meminta atasannya itu mengizinkannya untuk tidak masuk kantor besok harinya. Rasa lemas dan bingung itu masih dirasakannya ketika ibunya telah mengakhiri percakapan, dan ketika rekan kantornya yang keperempuan-perempuanan itu menghampirinya dan mengajaknya makan siang di salah satu kafe di seberang jalan. Ia, dalam benaknya, membayangkan rekan kantornya itu tertabrak truk pengangkut tinja yang melintas cepat.

Tiba-tiba, ia merasa sedih. Airmatanya menetes pelan, tanpa ia sadari. Neneknya yang meninggal itu adalah nenek dari pihak ibunya yang sewaktu ia kecil rajin sekali mengasuhnya. Ia bahkan ingat suatu ketika pernah begitu usil mendorong pantat neneknya ketika neneknya itu sedang membungkuk untuk mengambil sesuatu, dan itu membuat perempuan tua itu terhuyung-huyung dan membentur pintu dapur, dan saking kerasnya benturan itu dua gigi depannya langsung tanggal. Ia memikirkan keusilannya itu, dan merasa ganjil: tak tahu apakah ia harus tersenyum-senyum atau memejamkan mata. Merasa dadanya mulai begitu sesak, ia memutuskan untuk mengingat-ingat dan membayangkan sesuatu yang lain.

Yang ia ingat-ingat dan bayangkan selanjutnya adalah kencannya dengan N. Mereka janji bertemu pukul tujuh tepat di depan bioskop sebuah mall besar di kota B, dan ia terlambat tiga belas menit dan itu cukup untuk membuat N cemberut dan mendiamkannya selama hampir satu jam kemudian. Mereka menonton sebuah film animasi, dan N menjaga arah matanya tetap ke layar. Ia jadi tak bisa menikmati aktivitas menonton itu sebab setiap kali ia menoleh menatap N ia selalu saja terjebak antara mengatakan sesuatu atau tidak, antara terus melontarkan permintaan maaf atau tidak, antara menceritakan pada N tentang meninggalnya neneknya atau tidak. Selama sekitar dua puluh menit film berlangsung, ia hanya terus menyalahkan dirinya sendiri, dan sedikit-sedikit memejamkan mata dan membentur-benturkan belakang kepalanya ke bantalan kursi. Barulah setelah N mulai menoleh kepadanya, dan mulai mengajaknya bicara dan tersenyum padanya, ia merasa lega. Ia dan N pun melanjutkan aktivitas menonton mereka dengan nyaman dan penuh senyum dan gelak tawa.

Sekeluarnya dari studio bioskop mereka makan malam di sebuah restoran Jepang di lantai satu, dan di sanalah ia menceritakan kepada N tentang meninggalnya neneknya. N mengerutkan kening, dan langsung berusaha menenangkannya—atau menunjukkan kepeduliannya?—dengan cara menyentuh punggung tangannya dan mengelus-elusnya perlahan. Tangan N, baginya, terasa sangat hangat, seolah-olah tangan itu mengalirkan energi berwarna biru cerah setiap kali kulit mereka bersentuhan. Ia mengatakan kepada N bahwa besok pagi ia tidak akan masuk kantor dan akan melakukan perjalanan lintas-kota menuju kampung halamannya, dan N memintanya untuk berhati-hati dan mengabarinya jika ia sudah tiba di rumah duka. “Terima kasih. Aku senang di saat-saat seperti ini ada seseorang yang bisa membuatku merasa sedikit lebih baik,” ujarnya, yang langsung disambut N dengan senyum lebar. Mereka meninggalkan mall itu lewat sedikit dari pukul sebelas. Ia mengantar N ke kosannya terlebih dulu, sebelum akhirnya melajukan motornya begitu cepat seolah-olah berusaha mengeringkan airmatanya yang tak henti-henti menetes. Tiba di depan pintu kamar, ia merasa ingin ambruk begitu saja, tanpa melepas sepatunya, ataupun jaketnya, ataupun celananya, ataupun kaus kakinya. Namun ia akhirnya memaksakan diri untuk sedikit membersihkan diri di kamar mandi, dan mulai berbaring dan berusaha tidur sekitar lima belas menit sebelum tengah malam. Lampu neon tentunya telah ia padamkan sekeluarnya ia dari kamar mandi. Dan begitulah, menit demi menit berlalu, dan ia belum juga berhasil membuat dirinya terlelap.

Kini kemudian ia menyadari—atau hanya merasa?—bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kesalahan. Yang ia inginkan adalah segera terlelap, dan dengan mengingat-ingat hal-hal yang membuatnya sedih ia justru jadi semakin sulit terlelap, dan ia jadi harus berusaha lebih keras lagi untuk membuat dirinya terlelap. Seharusnya aku hanya mengingat-ingat hal-hal yang membuatku senang saja, gerutunya. Ia mendengus. Ia lantas dengan konyolnya mencoba mengingat-ingat dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan saja, namun upayanya itu justru membuatnya kembali terjebak di dalam kesedihan dan kesedihan yang tadi dirasakannya, sebab ingatan-ingatan yang kembali menyeruak adalah ingatan-ingatan tentang kematian neneknya. Konyol. Seharusnya aku tahu kalau ingatan bukanlah sesuatu yang bisa kukendalikan semudah itu, gumamnya. Merasa jauh lebih lelah dari beberapa menit sebelumnya, ia putuskan untuk membiarkan saja ingatan-ingatan itu, kesedihan-kesedihan itu, menguasainya. Ia bahkan tak lagi peduli kalaupun ia baru bisa terlelap beberapa jam lagi.

Di titik inilah ia menerima SMS dari N. Usai membaca SMS itu, sekonyong-konyong ia merasa kesedihan-kesedihan itu lenyap, ingatan-ingatan itu lenyap. Ia yang sedari tadi cemberut pun kini tiba-tiba tersenyum dengan mudahnya, dan terus mempertahankan senyumnya itu beberapa menit lamanya. Setelah membalas SMS tak terduga dari N itu, ia memejamkan mata, dan kembali tersenyum, dan seolah-olah akan terus tersenyum seperti itu hingga pagi tiba, hingga azan subuh terdengar dan warna langit sedikit-sedikit berubah. Kini ia bahkan merasa tinggal menunggu hitungan detik saja sampai ia akhirnya terlelap dan bermimpi indah.(*)

Bogor-Cianjur, Juni-Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s