Kematian Ayah

Ayahku tersayang mati dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ibuku menangisinya, berhari-hari. Aku menemukan ia menangis setibanya di rumah sepulang kerja, atau saat sedang memasak di pagi hari. Kadang-kadang, aku juga menemukan ia menangis saat tengah berada di kamarnya, atau di kamar mandi, atau di teras belakang. Aku curiga ia pun menangis di tempat-tempat lain di waktu-waktu lain yang tak mungkin tertangkap oleh mataku. Misalnya, di kamar mandi kantornya. Atau, di salah satu bangku di stasiun. Atau, di dalam angkot yang telah hampir kosong. Di saat-saat tertentu aku merasa kasihan padanya dan kuhampiri ia dan kuelus-elus rambutnya dan kucium-cium pipinya. Ia tak menoleh, tak juga mengucapkan “terima kasih” atau apa. Yang kulakukan itu malah kerap membuat tangisnya menjadi-jadi dan itu semakin mendorongku untuk melakukannya dengan lebih intens. Ayahku mati. Suami tersayangnya mati. Aku pikir ibuku bisa saja mengambil cuti dua-tiga hari atau meliburkan diri atau bahkan berhenti bekerja, sekadar untuk memudahkannya mendapatkan ketenangan. Namun, ia tak melakukannya.

Aku sendiri tak menangis. Entah kenapa. Tentu saja aku benar-benar sedih sebab ia adalah ayah tersayangku, ayah yang sangat sangat kusayangi; rasa sayangku padanya jauh lebih besar melebihi rasa sayangku pada istrinya. Di detik aku mendengar kematiannya itu, dari mulut ibuku, aku seperti tak merasakan degup jantungku, aliran darahku, bahkan embusan napasku. Aku berdiri sambil membiarkan ponsel di dekat telinga kiri sementara di tempat yang lain ibuku terisak-isak memberitakan kematian ayahku, menjelaskan bagaimana suaminya itu mati dan apa saja yang belum lama terjadi di antara mereka—ayahku dan ibuku—sebelum kecelakaan nahas itu. Aku mendengarkan, tetapi hanya diam. Aku menyimak, tetapi tak mengatakan apa pun. Sampai ibuku mengakhiri percakapan dan menutup panggilan aku masih hanya diam dan tak mengatakan apa pun. Ponsel memang telah kujauhkan dari telinga kiri, tetapi aku seperti masih mendengar dengan jelas suara ibuku, apa-apa yang baru saja dikatakannya itu, dan itu secara otomatis mendorongku untuk membayangkan kecelakaan yang menimpa ayah tersayangku itu. Ia mati, di sebuah ruas tol di Jagorawi. Bersamanya ada seorang perempuan yang adalah teman seprofesinya sekaligus pacar gelapnya. Mobil yang ditumpanginya adalah milik perempuan itu.

Berbeda dengan ibuku, aku sudah mengetahui perselingkuhan ayahku sejak setahun sebelumnya. Itu sebuah ketaksengajaan. Aku sedang merindukan ayahku dan sebab aku tahu ibuku belum akan pulang sampai satu jam kemudian maka aku menyelinap ke kamar ayahku. Pintu rupanya tak dikunci, dan aku mendorongnya perlahan seperti mengharapkan ada sebuah kejutan yang akan kuterima di balik pintu itu. Ketika aku masuk, kulihat kamar itu kosong. Di tempat tidur ada sebentuk jejak yang menandakan bahwa seseorang yang terakhir berada di sana beranjak begitu saja tanpa sempat merapikannya. Mungkin ia sedang mandi, pikirku. Kamar mandi di rumah kami hanya ada satu dan itu terletak di dekat dapur, yang berarti cukup jauh dari kamar ayahku itu.

Aku telah berpikir untuk keluar dari kamar itu dan menahan kerinduanku sedikit lebih lama ketika tiba-tiba aku mendengar dering ponsel yang kukenal. Ayahku, meninggalkan ponselnya di tempat tidur, di dekat bantal dan di dekat meja kecil. Merasa penasaran aku menghampirinya dan sedikit mengintip nama siapa yang tertera di layar ponsel itu. Ternyata, bukan seseorang yang kukenal. Dan sepertinya perempuan. Aku menoleh ke arah pintu kalau-kalau ayahku sudah berdiri di sana. Ternyata belum. Semakin besar rasa penasaranku dan akhirnya kuberanikan diri meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan dari si perempuan yang entah siapanya ayahku itu.

“Hai, kamu sedang apa? Lama sekali.”

Itulah yang kudengar saat itu. Sebuah suara yang lembut dan halus, dan sedikit manja. Dugaanku agaknya tepat bahwa ia perempuan. Dan si perempuan ini sepertinya mengharapkan respon dariku, atau lebih tepatnya ayahku. Aku sempat akan mengatakan sesuatu ketika akhirnya ia memutus keheningan dengan mengatakan beberapa hal lainnya. Aku menyimaknya saja, dan selama itu aku sibuk membayangkan seperti apa wajah perempuan ini dan seperti apa postur tubuhnya dan apa sebenarnya hubungan perempuan ini dengan ayahku. Satu hal yang kemudian bisa kupastikan: perempuan ini menyukai ayahku.

Sampai ia berhenti berbicara dengan sendirinya, aku masih hanya diam. Yang dikatakannya adalah tentang apa-apa yang baru saja (atau belum lama) dialaminya saat ia tengah berada di Kota X dalam rangka mengumpulkan data. Data hidup dan data mati. Begitulah ia menyebutnya. Di kota itu ia bertemu penulis A dan penulis B, juga penyair C dan penyair D, dan ia menceritakan dengan penuh gairah waktu-waktu menyenangkan sekaligus melelahkannya bersama orang-orang tersebut. Dari sini aku sudah bisa menyimpulkan bahwa perempuan ini bergerak di ruang yang sama dengan ayahku, yang karenanya mereka mungkin teman seprofesi, atau mungkin sekomunitas. Ia masih terus berbicara seperti tentang bagaimana ia hampir salah naik kereta sepulangnya dari kota itu dan bahwa ia terpikir untuk pergi ke kota itu lagi dalam waktu dekat, dalam rangka memperkaya data-data tadi. Ketika ia berhenti, kudengar ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, dan kemudian tertawa. Tawanya sungguh ringan dan lucu dan aku sempat ingin tertawa. Di titik inilah ia kembali diam dan seperti mengharapkan respon dariku, atau lebih tepatnya ayahku. Aku bingung. Terus-terang saja aku ingin mengatakan sesuatu tetapi aku khawatir apa yang kukatakan akan berbuah buruk bagi ayahku.

Sementara aku terus diam, ia pun terus menunggu, dan keheningan seperti menampakkan dirinya di hadapanku, sebagai sesosok bayangan yang hanya berwarna hitam dan tak berwajah, dan tak bermata—meski aku bisa merasakan bahwa ia tengah menatapku. Pada akhirnya, mungkin karena kesal menunggu, perempuan itu mengatakan “ya sudahlah” dengan ketus, dan menutup panggilan. Aku terselamatkan. Itulah yang bergaung di benakku saat itu. Perempuan itu mungkin mengira ayahku sedang dengan sengaja mendiamkannya dan ia tentulah kesal, dan mungkin marah dan sakit hati. Menyadari sudah cukup lama aku berada di kamar itu, aku cepat-cepat menaruh ponsel di tempatnya semula dan bergerak menuju pintu. Sekeluarnya dari kamar itu, aku telah bisa memastikan satu hal lainnya: ayahku dan perempuan itu telah cukup sering bertemu dan mengobrol.

Selepas itu aku masuk ke kamarku dan merebahkan diri di tempat tidur. Sebenarnya aku masih merindukan ayahku, yang artinya semestinya aku menunggu saja ia keluar dari kamar mandi dan menyambutnya dengan senyum termanis dan pelukan terhangat, seperti yang telah sering kulakukan. Akan tetapi, entah kenapa, pikiranku justru terfokus pada perempuan itu. Suaranya. Tawanya. Aku kembali membayangkan seperti apa wajahnya dan bagaimana gerakan tubuhnya saat ia berbicara. Dan tentu saja, lagi-lagi, aku bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan perempuan itu dengan ayahku.

Sepertinya hubungan mereka istimewa. Atau setidaknya tidak biasa. Begitulah aku berpikir.

Masih dalam keadaan telentang aku menatap langit-langit dan kemudian memejamkan mata dan mengingat-ingat percakapan-via-telepon-satu-arah tadi. Hai, kamu sedang apa? Lama sekali. Begitulah perempuan itu memulai. Berkali-kali aku menggumamkannya di kepala dan semakin berusaha keras membayangkan wajah perempuan itu sampai ke hal-hal yang spesifik seperti bentuk bibirnya dan susunan giginya. Mungkin dia cantik, pikirku. Ya, mungkin dia cantik, sambungku. Pada saat itu aku sebenarnya sedang menghibur diriku saja. Bahwa ayahku memiliki hubungan istimewa dengan seorang perempuan cantik adalah sesuatu yang tak terhindarkan, meskipun itu bukan sesuatu yang kuharapkan, apalagi kusukai. Setidaknya perempuan itu cantik. Bahkan mungkin, lebih cantik dariku. Aku tentunya akan sangat kesal dan sulit menerimanya jika ayahku menjalin hubungan istimewa—dalam arti berselingkuh—dengan seorang perempuan yang tidak cantik, biasa-biasa saja, apalagi buruk rupa.

Kepada ayahku tidak kukemukakan rasa penasaran (dan kegelisahanku) itu. Tidak juga percakapan-via-telepon-satu-arah tadi. Dari yang kulihat, ayahku agaknya tak mengetahuinya, atau tak menyadarinya. Tapi bisa jadi ia hanya berpura-pura. Bisa saja toh perempuan itu meneleponnya lagi dan kali itu ayahku yang mengangkatnya dan perempuan itu mengeluhkan percakapan-satu-arah tadi, dan dari sana ayahku akan mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya telah terjadi dan lambat-laun wajahku pun muncul di benaknya. Ya, bisa saja. Namun anehnya meskipun aku merasakan dorongan yang kuat untuk mengkonfrontasikan hal itu kepada ayahku, aku tidak juga melakukannya. Atau mungkin, lebih tepatnya, aku tak juga bisa melakukannya. Apakah aku takut ayahku akan memarahiku, atau berubah mengabaikanku? Aku tak tahu. Yang jelas sampai hampir sebulan berlalu pun sejak percakapan-via-telepon-satu-arah itu, aku tak juga melakukannya. Tak juga bisa melakukannya. Ayahku pun bertingkah seolah-olah ia tak mengetahuinya. Atau mungkin ia memang tak mengetahuinya. Barulah kemudian, suatu hari, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Kau keliru jika berpikir di situ aku membicarakannya dengan ayahku. Kau keliru. Yang kulakukan saat itu adalah menelepon perempuan itu dan mengajaknya bicara. Ya, seperti itu. Sebelumnya aku telah mengendap-endap ke kamar ayahku untuk mendapatkan nomor perempuan itu. Untunglah aku masih ingat namanya di daftar kontak ayahku dan tidak sampai satu menit aku sudah berhasil mencatat nomornya di daftar kontakku. Dan aku pun meneleponnya, di kamarku, sambil berbaring telentang dan menatap langit-langit. Itu adalah sore hari dan suhu masih hangat dan angin berembus lembut dari jendela, dan aku menunggu suara halus-lembut dan manja perempuan itu.

“Hallo?”

Hanya itulah yang diucapkan perempuan itu. Suaranya masih sama, namun kehalusan dan kelembutan dan kemanjaan yang kurasakan jauhlah berbeda. Jauh di bawah yang ada di benakku, di ingatanku. Seakan-akan, tempo hari itu, ia memberikan kesan seperti itu sebab ia akan berbicara dengan ayahku.

“Hallo? Ini siapa…?” ujarnya kemudian.

“Ya, hallo. Ini aku, Karla,” kataku.

“Karla? Karla siapa ya?”

Tentu saja itu membingungkannya. Ia tak mengenalku dan kami sebelumnya tak pernah berinteraksi—dua arah, maksudnya—dan aku menggunakan “aku” seolah-olah kami cukup akrab.

“Ah, maaf. Nama saya Karla dan saya ingin tahu apakah saat ini saya bisa berbicara dengan Anda,” ujarku kemudian, mencoba mengatasi rasa maluku.

“Oh, oke. Tentang apa ya?”

Dari nada bicaranya ia terdengar ragu dan curiga. Dan itu wajar. Sementara itu aku tiba-tiba kebingungan mau mengatakan apa, mau memulainya dari mana. Simulasi-simulasi yang telah kulakukan di benakku sebelumnya seperti sama sekali tak ada artinya.

“Hmm… Saya sebenarnya tidak punya waktu banyak,” kata perempuan itu.

Di titik inilah aku menyebut nama ayahku. Nama lengkapnya. Dan itu seperti berhasil menarik perhatiannya. Selama beberapa detik, ia terdiam seperti menahan napas.

Kumanfaatkan keterkejutannya ini dengan membanjirinya penjelasan tentang percakapan-via-telepon-satu-arah tempo hari dan tentang bagaimana aku selama hampir satu bulan itu terus memikirkannya dan bagaimana ayahku bertingkah seolah-olah tak mengetahuinya. Sementara aku terus berbicara itu, ia tak mengatakan apa pun. Aku sempat menduga ia tak menyimak dan bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya sebab setelah aku selesai bercerita pun aku masihlah belum mendengar suaranya lagi. Barulah ketika aku melontarkan pertanyaan yang telah kutahan-tahan dari sejak aku mencoba meneleponnya, aku mendengar suaranya lagi. Pertanyaan yang kulontarkan itu sendiri adalah ini: “Apakah Anda dan ayah saya… berpacaran?”

Di luar dugaanku, ia merespon pertanyaanku itu dengan pertanyaan juga, “Jika iya, kamu keberatan?” Aku tidak siap mendengar pertanyaan seperti itu sehingga selama hampir satu menit aku hanya diam, sambil memikirkan jawaban seperti apa yang sebaiknya kuberikan. Dan ketika akhirnya aku berkata, “Tidak. Sama sekali tidak,” aku sesungguhnya tidak mengerti mengapa aku mengatakannya; aku tak habis pikir kata-kata itu yang terlontar dari mulutku dan bukannya kata-kata lain yang lebih masuk akal seperti “Tentu saja saya keberatan” atau “Tolong jangan lanjutkan hubungan yang tak semestinya ini”. Perempuan itu, sepertinya begitu lega mendengar jawabanku. Itu terbukti dari embusan napasnya yang terdengar lepas dan panjang. Dan apa yang dikatakannya kemudian kembali mengejutkanku, “Sudah kuduga kamu tak akan keberatan.”

Tidak mungkin tidak, mendengarnya aku kembali terdiam. Bagaimana bisa perempuan ini melontarkan pernyataan seperti itu? pikirku. Ia mengatakannya seolah-olah ia pernah berinteraksi denganku dan telah mengenalku, sambungku. Selanjutnya, perempuan itu kembali melontarkan sesuatu yang mengejutkanku lagi. Ia bercerita tentang bagaimana ayahku, di beberapa kencan gelap mereka, menceritakan diriku dan apa-apa saja yang telah dan sedang terjadi di antara kami, hal-hal yang tentunya adalah sesuatu yang sebaiknya dirahasiakan bahkan kepada ibuku sendiri. Kali ini, suaranya telah benar-benar sama dengan yang kudengar pertama kali tempo hari itu.

Percakapan dengan perempuan itu berlangsung sekitar setengah jam. Setelah percakapan berakhir, aku masih saja terkejut dan belum bisa menormalkan detak jantungku. Perempuan itu tahu beberapa hal tentangku. Ayahku memberitahu perempuan itu seperti apa hubungan kami dan apa-apa yang telah terjadi di antara kami. Mengerikan. Itulah penilaianku saat itu. Ia bagaimanapun orang luar dan apa-apa yang terjadi di antara aku dan ayahku semestinya hanya menjadi milik kami saja. Tapi itu berarti satu hal lainnya: hubungan perempuan itu dengan ayahku memanglah istimewa.

 

Percakapan penuh kejutan dengan perempuan itu rupanya menyisakan sesuatu yang asing di dalam diriku. Setelah percakapan itu, setiap kali aku melihat ayahku, aku seperti merasakan kehadiran perempuan itu di dekat ayahku. Ia, seperti menguntitnya, seperti terus bersamanya, seperti menggelayut di lengan atau pundaknya, dan berbicara dengan suaranya yang halus-lembut dan manja itu. Tak kupungkiri, itu membuatku cemburu. Sebelumnya satu-satunya perempuan selain diriku yang kutahu bisa sedekat itu dengan ayahku adalah ibuku, dan aku tak bisa mengeluhkannya sebab mereka suami-istri; mereka sudah seperti itu sebelum aku ada. Tapi perempuan itu, perempuan yang wajah dan rupanya bahkan tak kuketahui itu, adalah orang luar. Tentulah tak mungkin ayahku sudah dekat dengan perempuan itu dari sebelum aku ada. Ah, bisa saja memang, tapi yang kumaksud adalah mereka tentu menjalin hubungan terlarangnya itu baru-baru saja; kedekatanku dengan ayahku pastiah berumur lebih lama ketimbang kedekatan perempuan itu dengan ayahku. Ya, pastilah begitu. Karena itulah mau tak mau, aku cemburu. Kadang kecemburuanku menjadi-jadi dan aku seperti melihat sesosok perempuan benar-benar berada di dekat ayahku, menggelayut padanya dan berbicara padanya dengan manjanya, dan itu membuatku marah. Jika keadaan sudah separah itu, yang kulakukan adalah mengurung diri di kamar dan menelentang sambil menarik-embuskan napas keras-keras atau membenamkan wajah di bantal dan mengepalkan kedua tangan. Bisa-bisanya ayahku berselingkuh. Bisa-bisanya ayahku menjalin hubungan dengan perempuan lain selain aku. Itulah yang terus kugumamkan di kepala. Tentu saja aku tak pernah membocorkan perselingkuhan ayahku itu kepada ibuku.

Aku tak tahu apakah ibuku orang yang bodoh atau naif atau ia hanya pura-pura tak tahu. Bahkan meski aku dan ayahku telah melakukan banyak hal istimewa selama hampir dua tahun, ia seperti tak sedikit pun menyadarinya. Aku dan ayahku, kau tahu, tidak lagi melihat satu sama lain sebagai ayah dan anak, melainkan lebih dari itu. Semua ini bermula di tahun terakhirku di SMP. Ayahku menciumku tepat di bibirku dan ia terus menciumku berkali-kali mendapati reaksiku yang oke-oke saja. Pada saat itu, ibuku tentunya masih di kantor. Profesi ayahku sebagai penulis memang menguntungkannya dalam hal ini, bahwa ia bisa bekerja di mana saja dan kapan saja dan itu berarti ia punya kesempatan yang sangat banyak untuk menciumku di rumah. Ia melakukannya, setibanya aku di rumah selepas bimbel. Ia melakukannya, ketika aku akan pergi ke mall bersama teman-teman. Ia melakukannya, ketika aku sedang membaca di kamar dan ibu masih dalam perjalanan dari kantor. Pada awalnya aku tak benar-benar menikmatinya. Sebelumnya aku tak pernah berciuman atau dicium seseorang dan mendapati ayahku menciumku aku mungkin lebih ke terkejut ketimbang bergairah. Namun lama-lama, sebab ia begitu sering melakukannya, dan sebab reaksiku selalu oke-oke saja, maka aku pun mulai menikmatinya. Ketika ayahku menciumku, aku balas menciumnya, balas menekan dan mengisap bibirnya. Ayahku pastilah senang dengan perkembangan reaksiku itu sebab ia jadi lebih sering dan lebih bersemangat dan lebih bergairah menciumku. Pernah juga, saat ibuku masih ada di rumah, ayahku menciumku. Tentu saja ibuku tidak melihatnya dan berada dalam situasi seperti itu kami rupanya begitu menikmatinya. Seringkali, kami tersenyum-senyum selepas melakukannya. Seandainya kami teledor dan ibuku melihatnya, entah akan seperti apa reaksinya.

Ketika kutanyakan kepada ayahku mengapa ia menciumku, apa yang ada di kepalanya sampai ia menciumku, anaknya sendiri ini, ia berkata bahwa itu sesuatu yang wajar. Aku bingung. Ia kemudian menjelaskan bahwa aku begitu cantik dan bibirku begitu menggodanya dan sebab ia lelaki yang normal maka reaksinya adalah menciumku. Sesederhana itu. Alasannya ini langsung kusanggah sebab jika memang itu benar maka di sekolah aku pastilah sudah dikejar-kejar teman-teman lelakiku, padahal sampai detik itu aku belum pernah berpacaran; lelaki-lelaki yang kutahu tertarik padaku bisa dihitung dengan jari dan mereka semua bukan orang yang menarik. Dan ayahku, berkata seperti ini, “Itu karena mereka masih bocah dan belum memahami kecantikanmu. Ketika mereka sudah dewasa, mereka akan memahaminya.” Sampai berbulan-bulan kemudian aku tak menyadari bahwa apa yang berusaha dikatakan ayahku saat itu adalah aku seorang perempuan yang hanya (benar-benar) menarik bagi lelaki-lelaki dewasa, lelaki-lelaki di atas tiga puluh atau mungkin yang di atasnya lagi. Tetapi benarkah itu? Aku tak tahu. Satu-satunya lelaki dewasa yang aku benar-benar berinteraksi dengannya hanyalah ayahku, sementara lelaki-lelaki seumuranku memang tak terlihat begitu tertarik padaku.

Seiring waktu berlalu, hubunganku dengan ayahku semakin dalam. Jika ini adalah sebuah perselingkuhan, maka ini adalah sebuah perselingkuhan yang perkembangannya pesat. Ayahku, yang semula hanya menciumku di bibir, berbulan-bulan kemudian sudah mulai menciumku di leher, di perut, dan di paha. Aku menikmatinya meski aku sejujurnya bingung juga harus bereaksi seperti apa. Ingat, saat itu aku belum pernah berpacaran; aku bahkan belum pernah membiarkan teman-teman lelakiku menyentuh tanganku (kecuali untuk bersalaman), apalagi pahaku. Namun ayahku, sepertinya tak memedulikannya. Ia tampaknya sudah merasa senang telah bisa menciumku di tempat-tempat itu. Dan ketika usia hubungan istimewa kami mendekati satu tahun, ia meraba-raba payudaraku. Lagi-lagi aku tak tahu harus bereaksi seperti apa dan hanya diam dan memejamkan mata, membiarkan ia melakukannya hingga ia merasa puas. Ketika ia menciumku di bibir, ia mengajariku bagaimana semestinya aku menggunakan lidahku.

Seperti yang mungkin kauduga, kadar istimewa hubunganku dengan ayahku semakin lama semakin tinggi, semakin parah, dan ibuku tak menyadarinya. Ini sungguh sebuah keluarga yang aneh, pikirku suatu kali. Pada saat-saat tertentu ketika suasana dan keadaannya mendukung, aku membantu ayahku berejakulasi. Saat itu aku sudah memasuki tahun pertamaku di SMA dan payudaraku telah membesar dan ayahku bilang aku semakin cantik. Aku melakukannya, dengan tanganku. Aku melakukannya juga, dengan payudaraku. Tapi dengan V-ku, tidak.

Jika kautanya apakah saat itu aku mengharapkannya, akan kujawab bahwa aku mengharapkannya. Bagaimanapun aku begitu menikmati apa yang kami lakukan itu dan kami sudah melakukannya lebih dari setahun. Namun ayahku, tak melakukannya. Meskipun aku sendiri yang mengusulkannya, ia tetap tak melakukannya. Pada awalnya ketika kutanya alasannya ia berkata bahwa ia tak ingin melakukan hubungan badan dengan anaknya sendiri, namun kemudian suatu hari ia mengakui bahwa ia tak bisa berhubungan badan dengan perempuan yang masih perawan, bahwa ia tak sanggup membuat si perempuan “berdarah” dan “terluka”. Ini alasan yang cukup unik, meski aku tak benar-benar memercayainya. Ayahku lantas bercerita bahwa ketika ia melakukan hubungan badan pertamanya dengan ibuku saat itu ibuku sudah tak perawan, dan ia justru bersyukur keadaannya seperti itu. “Jika saat itu ibumu rupanya masih perawan, aku mungkin tak akan pernah bisa melakukannya dengannya, dan kami tak akan menikah, dan kamu tak akan ada,” kata ayahku. Ia bilang, dulu sekali ia punya pengalaman yang sangat buruk dengan hubungan badan seperti itu. Sayangnya ia tidak pernah menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan “pengalaman yang sangat buruk” tersebut.

Sampai akhirnya ayahku meninggal, hampir setahun yang lalu, aku tak pernah melakukan hubungan badan dengannya. Tentu saja yang kumaksud dengan hubungan badan di sini adalah bertemunya Mr. P dan Ms. V, bukan sekadar saling menggerayangi tubuh dan memancing orgasme. Aku menyesalinya, jujur saja. Ia lelaki yang sangat kusayangi dan aku merindukannya bahkan sampai ke cara ia menyebut namaku.

Sebenarnya, aku sempat berpikir keras untuk membuat ayahku mau mencoba melakukan hubungan badan denganku. Berbagai ide muncul di benakku. Aku menganalisanya satu per satu dan pilihanku jatuh pada yang satu ini: aku harus melepaskan keperawananku di suatu tempat, di tangan lelaki lain. Kau benar. Ini sungguh sesuatu yang serius. Sangat sangat serius. Tetapi keinginanku akan hubungan badan itu rupanya sangat-sangat tinggi sehingga aku tak lagi ambil pusing soal yang lain-lain.

Dalam rangka mewujudkannya, aku berpacaran dengan salah satu teman sekolahku. Ia satu dari sedikit lelaki yang aku tahu menyukaiku sejak lama dan aku mempermudah jalan baginya untuk mendekatiku, untuk memasuki duniaku. Ia tampaknya terkejut, ketika mendapati aku begitu agresif dan tak banyak berbasa-basi. Aku menciumnya dan ia menciumku. Aku menggerayanginya dan ia menggerayangiku. Payudaraku, kau tahu, sungguhlah cukup besar untuk perempuan di usia seperti itu, dan lelaki itu begitu menikmatinya. Dan akhirnya aku berhasil mencapai tujuanku. Kami melakukan hubungan badan di rumahnya, saat di rumah itu benar-benar tak ada siapa-siapa selain kami. Aku merasakan sakit yang luar biasa saat ia memasukiku, sampai-sampai airmataku menetes dan menetes begitu saja. Namun setelahnya, selepas permainan itu selesai, aku merasa lega, dan seperti dihinggapi kesenangan yang aneh. Aku merasa benar-benar ringan ketika akhirnya berdiri, seolah-olah di punggungku telah terpasang sayap yang siap membawaku terbang kapan pun aku mau. Di kepalaku, aku terus membayangkan hubungan badan pertamaku dengan ayahku.

Namun sayangnya, seperti yang kubilang tadi, hubungan badan itu tak sempat terwujud. Kecelakaan nahas di Tol Jagorawi itu terjadi di hari aku melepaskan keperawananku. Ketika aku mendengar kabar kematian ayahku dari ibuku, pada saat itu aku baru saja akan meninggalkan rumah teman lelakiku itu. Rasa lega yang sebelumnya kurasakan lenyap sudah. Sepasang sayap di punggungku itu, telah dalam sekejap terbakar dan tak tersisa.

Selepas itu aku memutuskan hubunganku dengan teman sekolahku itu. Aku tak punya alasan lagi menjalin hubungan dengannya. Begitulah aku berpikir. Ia tampak amat kesal dan marah tetapi aku tak peduli. Lelaki yang kusayangi adalah ayahku. Satu-satunya lelaki yang kusayangi adalah ayahku. Aku bahkan mulai menyesal telah berpacaran dan melakukan hubungan badan dengan lelaki itu. Selanjutnya, entah kusadari atau tidak, aku benar-benar menjauhkan diriku dari teman-teman lelakiku yang lainnya. Jika ada salah satunya yang mendekatiku, aku segera menjauhinya, atau menunjukkan padanya bahwa apa yang dilakukannya itu membuatku muak. Benar-benar membuatku muak. Lama-lama sebuah rumor pun beredar. Katanya, aku telah bertransformasi, dari seorang perempuan normal menjadi seorang lesbian. Sungguh itu benar-benar lucu, benar-benar menggelikan, meski di saat yang sama aku luar biasa kesal. Mungkin lelaki yang kuputuskan itu yang menyebarkan rumor tersebut. Biarlah. Aku tak peduli juga. Yang pasti sejak saat itu aku semakin menjauhkan diriku dari teman-teman lelakiku, atau lelaki-lelaki pada umumnya. Dan sebab ayahku sudah tak ada, aku jadi meraskan duniaku begitu sepi, begitu sunyi. Tentulah itu dikarenakan aku sudah sangat terbiasa melakukan hal-hal menyenangkan bersama ayahku. Dan, meski aku sesungguhnya masih memiliki seorang ibu, aku merasa aku telah yatim-piatu dan tak memiliki siapa-siapa lagi.

 

Kau tahu, meskipun dari apa yang telah kuceritakan sejauh ini aku mungkin tampak begitu tegar menghadapi kematian ayahku, namun sejujurnya aku pernah juga berada dalam masa-masa sulit, saat-saat di mana aku merasakan kesepian yang melingkupiku begitu gila dan aku sedikit-sedikit menangis dan kehilangan nafsu makan. Ini terjadi di minggu ketiga setelah kematian ayahku. Pada saat itu, ibuku sudah tidak tampak terguncang lagi; ia bahkan sudah kembali sering tersenyum dan mengajakku bicara, dan aku tak pernah lagi menemukan ia menangis baik itu di kamar mandi atau kamarnya atau teras belakang atau dapur. Di luar dugaan, perubahan positif yang dialami ibuku ini membuatku terusik. Aku seperti… ditinggalkan. Seseorang yang mati adalah ayah tersayangku dan aku benar-benar sedih dan aku tak sudi jika hanya aku yang merasakan kesedihan itu. Ibuku tak semestinya pulih secepat itu. Ibuku tak semestinya berhenti menangis secepat itu. Begitulah saat itu aku berpikir. Dan aku pun menangis, di saat aku sendirian di rumah sepulangnya aku dari sekolah. Dan aku pun menangis, di kamarku saat aku terbangun di dini hari dan teringat ayahku. Ya, teringat ayahku. Pada saat-saat terburuk seperti itu, kau tahu, segala sesuatu di sekitarku, segala sesuatu yang ada padaku, dengan mudahnya mengingatkanku pada ayahku. Aku teringat bagaimana aku memeluknya dari belakang ketika ia tengah duduk di kursi kerjanya dan mengetik sesuatu. Aku pun teringat bagaimana ia memelukku dan menciumku selepas ia membukakan pintu untukku di sore hari. Dan aku pun teringat bagaimana ia menggerayangiku di tempat tidurku dan di kamar mandi. Dan masih banyak yang lainnya. Dan aku pun jadi berpikir, bagaimana seandainya akulah yang ikut mati bersamanya dalam kecelakaan itu. Perempuan itu, kau tahu, perempuan selingkuhan ayahku itu, kupikir sangatlah beruntung. Pertama, ia mati di hari yang sama dan dengan cara yang sama dengan seseorang yang disayanginya. Kedua, ia tak perlu ikut menanggung kesedihan dan kepedihan akibat ditinggal seseorang yang disayanginya. Seandainya ia terselamatkan, maka ia mungkin akan berada dalam posisiku itu, bahkan mungkin lebih buruk dari itu. Kematian, seperti telah menyelamatkannya dari melanjutkan hidup yang seperti mimpi buruk. Sedangkan bagiku, kematian seperti sebuah ledakan yang menghancurkan sebuah rumah yang telah susah-payah kubuat, yang benar-benar telah susah-payah kubuat. Dan aku tak mungkin bisa membangunnya lagi, sebab sesuatu (dan seseorang) yang semestinya ada di sana… sudah tak ada.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s