Persetubuhan Jam Tiga Pagi

tanpa sepasang mata aku mencari-cari sisa hangat pada bibirmu. sebuah perayaan tentang dosa-baru seperti berjalan di atas tubuhku di atas tubuhmu. aku berkali-kali harus begitu tabah merasakan malam perlahan-lahan membuat lehermu semakin menjauh semakin terpiuh. payudaramu seperti pagi yang tersamarkan langkah kaki, dan deru mesin yang seperti berasal dari halaman sebuah novel yang enggan bercerita tentang sebuah kota.

bagaimanakah kita mengatasi jarak yang terlampau nyata ini, kita seperti tak benar-benar memikirkannya. setiap bulir keringat yang jatuh dari tubuhku yang jatuh dari tubuhmu, tak ubahnya tetes hujan yang entah hijau yang entah biru. kita berada di sebuah ruang kosong, dan seperti tengah berusaha menggenggam erangan masing-masing, dan desahan masing-masing, dan jeritan masing-masing. saat aku menyemburkan dingin pagi lewat tanganku, dan engkau menciptakan semacam danau di atas perutmu di celah dalam di antara payudaramu, aku mulai menyadari betapa teramat belaka persetubuhan ini, betapa setelahnya kita hanya seperti mengambil cermin dan memandangi wajah kita yang tetaplah sama, yang tetaplah penuh bekas luka yang kian kentara.

dan katamu, “tapi aku mencintai dingin yang menyebar cepat dari tanganmu, dan aku merasakan angin yang berdesir lambat menuju farjiku.”

sedikit malas, aku mengisap sisa hangat pada bibirmu, dan sisa hangat yang lain pada kakimu.

ketika aku memelukmu engkau melukaiku dengan desahanmu, dengan eranganmu, dengan jeritanmu. dan katamu, “jangan biarkan pagi berlalu sehingga ia harus kita buru. jangan biarkan lidahmu menguarkan ladu sehingga aku tak akan lekas melukaimu.”

dan setelah itu aku kembali menyemburkan dingin pagi ke arah wajahmu ke arah payudaramu, dan membiuskan dosa-lain pada mulutmu pada farjimu.

dan ketika sepasang mata menghampiriku dan perlahan-lahan menjadi mataku, aku menemukan di sebuah layar waktu telah berhenti di angka tiga, dan seperti akan kekal bertahan di sana.

dan suaramu seperti berasal dari sebuah novel, yang tengah meminta untuk kurampungkan. dan aku seperti terus berusaha memeluk tubuhmu, yang semakin menjauh semakin terpiuh.

dan aku tak mengatakan kepadamu, bayanganku telah menjadi sisa hangat lain yang kerap mendekapmu di ranjang itu.

—sebuah ranjang, yang pernah mengirim bau Tuhan ke setiap kita.

2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s