Kopi dan Sebuah Ruang

Segelas kopi, adalah juga sebuah ruang. Saat menghirup aroma keringnya, kita seperti tengah berhadapan dengan ruang tersebut; mungkin berdiri tepat di depan pintu dan perlahan membukanya. Ada yang kita rasakan, di sana. Sesuatu datang dan menghampiri kita dari arah depan. Kadang kita menamainya kegembiraan. Kadang, kesedihan. Kadang kita mengenalinya sebagai sesuatu yang pernah kita temui. Kadang, sesuatu yang asing. Tiap-tiap kopi menawarkan aroma-keringnya masing-masing, dan itulah yang terjadi saat kita mulai menghirupnya dan merasakannya. Bagi kita, yang telanjur memiliki pengalaman dan ingatan, aroma kering kopi adalah seberkas cahaya yang menuntun kita menuju pengalaman tersebut, ingatan tersebut, lantas menjemputnya. Maka jangan heran jika tepat setelah menghirup aroma kering kopi seseorang berkata, “Rasanya, aku mulai bisa mengingat seperti apa suara Papa.” Di situ, aroma kering kopi bekerja; membangkitkan ingatan seseorang itu akan ayahnya yang dulu mungkin pernah menikmati kopi tersebut, di hadapannya. Demikianlah aroma kering kopi tak lagi sekadar aroma, tetapi rasa.

Setelah menghirup aroma keringnya, kita kemudian menghirup aroma basahnya. Ada yang berbeda, tentu. Panas air seolah-olah menetralkan aroma yang sebelumnya ada tadi; membuat aroma kopi yang satu dengan aroma kopi yang lain jadi hampir sama, atau setidaknya tak terlalu jauh berbeda. Kita mungkin masih menamai yang satu kegembiraan, dan yang lain kesedihan, tetapi di saat yang sama kita menyadari bahwa keduanya nyaris sama, sulit dibedakan, bahkan mungkin melebur-satu. Kegembiraan dan kesedihan, sesuatu yang familiar dan sesuatu yang asing, seperti hanya mitos; sesuatu yang muncul untuk menipu kita dan menertawakan kita. Kita mencoba menghirupnya lagi, dan lagi, seakan-akan menolak apa yang kita temukan itu; bahwa perbedaan itu mestilah ada; mestilah jelas ada. Pada tahap inilah kopi mengingatkan kita akan fakta, realitas, atau saat ini; menyelamatkan kita dari terbawa terlalu jauh ke masa silam, ke titik waktu di mana pengalaman tadi terasa nyata. Seseorang tadi, di titik ini, mungkin akan merasa konyol mendapati dirinya merasakan kehadiran seseorang yang telah tiada, atau lama tak dijumpainya.

Tetapi kita tidak berhenti di situ. Kita, kemudian mencicipinya, mulai mencicipinya. Yang kita lakukan di sini adalah benar-benar memasuki ruang itu, berada di dalamnya dan mengamatinya, dan mencermatinya, dan merasakannya. Kita melihat benda-benda yang menarik kita pada apa yang kita rasakan di tahap awal tadi. Kita melihat warna-warna, yang kembali membuat kita memercayai dan menjemput ingatan-ingatan kita. Apakah kegembiraaan ini, kesedihan ini, benar-benar ada? Apakah sesuatu yang kukenali ini, sesuatu yang asing ini, benar-benar nyata? Seperti itulah kita mungkin bertanya-tanya, dan terus bertanya-tanya, dan terus bertanya-tanya. Kita berada di ruang itu dan menjadi bagian dari dirinya; mengalami apa-apa yang tersaji padanya. Lantas, kita mulai benar-benar mengenalinya, dan selanjutnya menerimanya. Kita tahu di sudut mana saja kegembiraan itu ada. Kita tahu, di benda-benda mana saja kesedihan itu tertinggal. Kita tahu, di titik mana saja di ruang itu kita merasa terasing atau tidak. Dan kita, tak (lagi) mempermasalahkannya. Rasa kopi yang tertinggal di lidah, pada akhirnya, seperti sebuah harapan. Kita pun mulai membayangkan semakin lama berada di ruang itu kita akan semakin mengenalnya, dan menerimanya.

Dan tibalah kita pada tahap akhir, yakni saat kita memisahkan kopi dari ampasnya, dan meminumnya. Kopi-tanpa-ampas menghadirkan sesuatu yang lain; sesuatu yang mungkin kita sukai atau tidak; sesuatu yang mungkin memenuhi harapan kita tadi atau tidak. Ibaratnya, kita sudah membuka tirai-tirai, dan kita mendapati jendela-jendela di ruang itu telanjang, yang dengan itu kita bisa melihat apa yang ada di luar sana, apa yang tersaji atau menunggu kita, di luar sana. Bisa jadi, pada kasus-kasus tertentu, sesuatu itu tidak tersaji di luar, melainkan di dalam; persis di ruang tersebut, bersama kita. Maka tahap ini, sejatinya, adalah tahap di mana kita mengenal kembali apa yang kita kira sudah kita kenal; sebuah tahap di mana kita memaknai ulang apa-apa yang telanjur kita maknai sedari tadi. Apakah kita keliru, atau sebaliknya, kita akan mengetahuinya di sini. Apakah kita benar-benar merasakan kegembiraan, atau kesedihan, kita akan mengetahuinya di sini. Tetapi sesungguhnya itu tidaklah penting. Tidaklah penting lagi. Untuk sampai di tahap ini kita telah mengalami serangkaian proses, dan selama itu kita telah mendapatkan banyak hal, dan merasakan banyak hal. Kita pada akhirnya memang menentukan apa yang kita temukan di tahap ini sebagai fakta, sebagai realitas, sebagai saat ini, tapi sepenuhnya kita memahami apa-apa yang kita temukan sebelum sampai di sana adalah hal-hal berharga, hal-hal yang sangat berharga, hal-hal yang tidak semestinya kita lupakan. Segelas kopi, selain sebuah ruang, pada akhirnya adalah juga sebuah proses, sebuah pengalaman. Dan seseorang yang teringat kepada ayahnya tadi mungkin berkata, “Ingatan, dalam segelas kopi yang baik, adalah keindahan.”(*)

Dramaga, Februari 2016

(Untuk Rumah Kopi Ranin)

Advertisements

2 thoughts on “Kopi dan Sebuah Ruang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s