Bahasa Jepang: Kalimat Sederhana Tanpa Katakerja (bagian 1)

Bertutur dalam bahasa Jepang berarti berpikir sebagai orang Jepang. Itu artinya, saat kita akan membuat kalimat dalam bahasa Jepang, sebisa mungkin kita memosisikan diri kita sebagai orang Jepang yang akan mengatakan sesuatu, atau menuliskan sesuatu, dalam bahasa ibu mereka. Ini menjadi penting ketika karakter bahasa Jepang benar-benar berbeda dengan bahasa kita, dan memang seperti itulah adanya. Tapi memang, itu bukan hal mudah, terutama jika kita masih benar-benar asing dengan bahasa tersebut. Butuh pembiasaan, juga langkah awal. Di Pelajaran ke-1 ini kita akan coba mengambil langkah awal dalam bentuk membuat terlebih dahulu kalimat dalam bahasa ibu kita—lantas mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Jepang.

Kita mulai dengan kalimat sederhana tanpa katakerja. Jika kalimat yang akan kita buat adalah dalam bahasa ibu kita, bahasa Indonesia, maka pola yang kita gunakan adalah ini: “S + Pelengkap”. Wujud konkretnya sendiri bisa seperti ini: “Saya laki-laki”, “Saya anak pertama di keluarga saya”, “Saya sakit keras”, “Saya masih muda”. Kadang-kadang di dalam pelengkap itu kita menambahkan “adalah”, meski artinya tetap sama. Dalam bahasa Jepang, pola yang kita gunakan adalah ini: “S + wa + … + desu.”

Bagian yang dikosongkan di sana akan kita isi oleh berbagai hal selain katakerja. Bisa katasifat, bisa katabenda, bisa kata keterangan. Sebagai permulaan, seperti yang disepakati tadi, kita akan coba membuat terlebih dahulu kalimat dalam bahasa Indonesia, untuk kemudian mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Jepang. Misalnya: “Saya sakit.” Dalam bahasa Jepang, padanan kata untuk “saya” salah satunya adalah watashi ()”, sedangkan padanan kata untuk “sakit” adalah byouki (病気)”. Maka, kalimat tadi, setelah kita alihbahasakan, jadi seperti ini: Watashi wa byouki desu. (私は病気です.)” Sesederhana itu.

Sekarang kita coba kalimat lainnya. Misalnya: “Saya berumur 17 tahun.” Dalam bahasa Jepang, padanan kata untuk “umur” adalah -sai ()”, yang disatukan dengan angka-untuk-umur di depannya, sementara padanan kata untuk “17” adalah juunana/jyuunana (十七)”, yang adalah gabungan dari juu/jyu ()” yang berarti “10” dan nana ()” yang berarti “tujuh”. Maka, kalimat tersebut akan menjadi seperti ini: Watashi wa juunana-sai desu. (私は十七歳です./私は17歳です.)” Sesederhana itu.

Untuk membuat kalimat tersebut tidak terlalu sederhana, mari kita tambahkan kata keterangan, seperti waktu. Misalnya: “Tahun ini saya berumur 17 tahun.” Padanan kata untuk “tahun ini” dalam bahasa Jepang adalah kotoshi (今年)”, dan bisa ditempatkan di awal kalimat. Maka setelah dialihbahasakan, kalimat itu akan menjadi seperti ini: Kotoshi watashi wa juunana-sai desu. (今年私は17歳です.)”

 

Kosakata

Selain “watashi (私)”, ada beberapa kata lain yang merupakan padanan kata untuk “saya”, yakni “watakushi (私)”, “boku (僕)”, “atashi (あたし)”, “ore (俺)”, “ora (オラ)”, “uchi (うち)”. Kata “watakushi (私)” dan “watashi (私)” bersifat netral, dalam arti biasa digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan—kanjinya sama. Kata “boku (僕)”, “ore (俺)”, dan “ora (オラ)”, biasanya digunakan oleh laki-laki; ada kesan kata ini digunakan untuk menunjukkan maskulinitas si pengguna. Sementara itu, kata “atashi (あたし)” dan “uchi (うち)” biasanya digunakan oleh perempuan; sebaliknya, ada kesan kata ini digunakan untuk menunjukkan femininitas si pengguna.

Sebagai lawan kata “saya”, yakni “anda”, berikut ini beberapa padanan katanya dalam bahasa Jepang: “anata (あなた)”, “kimi (君)”, “omae (お前)”, “anta (あんた)”. Kebetulan keempat kata ini tersusun dari tingkat formalitas paling tinggi ke tingkat formalitas paling rendah; dari tingkat penghormatan paling tinggi ke tingkat penghormatan paling rendah. Kata “omae (お前)” dan “anta (あんた)” biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari yang sangat cair, bisa untuk menunjukkan keakraban atau dominasi atau senioritas. Kata “kimi (君)”, sesungguhnya juga terbilang cair, tetapi tidak terasa mengandung dominasi atau senioritas, dan tidak benar-benar menunjukkan keakraban. Sedangkan kata “anata (あなた)”, bisa juga diposisikan sebagai padanan kata untuk “Sayang”; biasanya digunakan seorang istri untuk memanggil suaminya.

Untuk mengisi posisi subjek dalam pola kalimat tadi, kita tentu bisa menggunakan katabenda-katabenda yang bukan manusia, seperti hewan atau benda mati. Beberapa kata dalam bahasa Jepang untuk hewan diantaranya: neko (猫/kucing), inu (犬/anjing), saru (猿/monyet), kame (亀/kura-kura), buta (豚/babi), kirin (麒麟/jerapah), usagi (兎/kelinci), risu (栗鼠/tupai), hebi (蛇/ular), ari (蟻/semut), tori (鳥/burung), niwatori (鶏/ayam), unagi (鰻/belut), ebi (蝦/udang), kani (蟹/kepiting), chouchou (蝶々/kupu-kupu), mushi (虫/serangga), taka (鷹/elang), iruka (海豚/lumba-lumba), kujira (鯨/paus), same (鮫/hiu), kaba (河馬/kudanil), uma (馬/kuda), kuma (熊/beruang), sakana (魚/ikan), tako (蛸/gurita), ika (烏賊/cumi-cumi), kaeru (蛙/katak), gyuu (牛/sapi), hitsuji (羊/domba), yagi (山羊/kambing), sai (犀/badak), zou (象/gajah). Sedangkan untuk benda mati diantaranya: isu (椅子/kursi), teburu (テブル/meja), pasokon (パソコン/komputer), biru (ビル/bangunan), fuku (服/pakaian), supun (スプン/sendok), fooku (フォーク/garpu), naifu (ナイフ/pisau), taoru (タオル/handuk), doa (ドア/pintu), mado (窓/jendela), kaaten (カーテン/gorden), kichin (キチン/dapur), kurasu (クラス/kelas), erebeeta (エレベータ/lift), kuruma (車/mobil), jitensha (自転車/sepeda), baiku (バイク/sepeda motor), kutsu (靴/sepatu), kutsushita (靴下/kaus kaki), surippa (スリッパ/sandal), gurasu (グラス/gelas), makura (枕/bantal), beddo (ベッド/kasur), futon (布団/kasur ala Jepang), ranpu (ランプ/lampu), boorupen (ボールペン/bolpoin), enpitsu (鉛筆/pensil), shaapu penshiru (シャープペンシル/pensil mekanik), keshigomu (消しゴム/penghapus), hon (本/buku), kaban (鞄/), kooto (コート/mantel).

Bisa juga, sebenarnya, untuk posisi tersebut, kita menggunakan kata keterangan waktu, seperti kyou (今日/hari ini), ashita (明日/besok), asatte (あさって/lusa), kinou (昨日/kemarin), ototoi (おととい/kemarin lusa), ima (今/sekarang), sakki (さっき/barusan), asa (朝/pagi), hiru (昼/siang), yoru (夜/malam), yonaka (夜中/tengah malam), kotoshi (今年/tahun ini), kyonen (去年/tahun lalu), rainen (来年/tahun depan).

Lalu bagaimana dengan posisi kosong pada pola kalimat tadi? Dengan apa kita bisa mengisinya? Mudah saja. Jika bukan katabenda, kita bisa menggunakan katasifat, atau kata keterangan. Itu tergantung dari kebutuhan kita; tergantung pada kalimat apa yang ingin kita buat. Katasifat itu sendiri diantaranya: ookii (大きい/besar), chiisai (小さい/kecil), takai (高い/tinggi), hikui (低い/pendek), tooi (遠い/jauh), chikai (近い/dekat), osoi (遅い/lambat), hayai (早い/cepat), karui (軽い/ringan), omoi (重い/berat), warui (悪い/buruk), yoi (良い/bagus), kurai (暗い/gelap), akarui (明るい/terang), hiroi (広い/luas), semai (狭い/sempit), yawarakai (柔らかい/lembut), katai (固い/padat), furui (古い/lawas), atarashii (新しい/baru), amai (甘い/manis), karai (辛い/pedas), nigai (苦い/pahit), suppai (酸っぱい/asam), shoppai (しょっぱい/asin), samui (寒い/dingin), atsui (暑い/panas), takai (高い/mahal), yasui (安い/murah), kitanai (汚い/kotor), kirei (きれい/bersih), genki (元気/sehat), byouki (病気/sakit), omoshiroi (面白い/lucu), tsumaranai (詰らない/membosankan).

 

Tugas

  1. Berbekal pola kalimat dan kosakata yang telah diberikan sejauh ini, buatlah setidaknya lima kalimat sederhana tanpa katakerja.
  2. Dengan menggunakan kamus dan google, cobalah cari dan temukan sejumlah banyak katabenda, katasifat, dan kata keterangan waktu untuk memperkaya kosakata-bahasa-Jepang-mu. Selanjutnya, buatlah setidaknya sepuluh kalimat sederhana (yang berbeda dari kalimat-kalimat yang sudah kamu buat sebelumnya) dengan menggunakan kosakata yang kini kamu miliki.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s