Apa yang Mungkin Kita Pahami dari O

Apa yang dilakukan Eka Kurniawan dalam novel terbarunya, O, saya kira sesuatu yang menarik. Di dalam novel ini Eka menyajikan begitu banyak “subjek”, mulai dari manusia, hewan, sampai benda mati, dengan porsi yang terbilang berimbang sehingga kita pembaca akan kesulitan jika diminta menentukan “pusat” atau inti cerita. Kendatipun memang salah satu “subjek” tersebut namanya dijadikan judul novel, yakni seekor monyet betina yang meyakini tunangannya telah berubah jadi Kaisar Dangdut, namun kita tak bisa memungkiri bahwa ada sejumlah banyak sub-cerita yang (nyaris) tak menyertakannya, seperti kisah yang dialami Toni Bagong atau Dara. Dengan begini, dominasi satu “subjek” terhindarkan, sehingga cerita lebih terlihat seperti sekumpulan struktur ketimbang sebuah struktur, sebuah montase ketimbang sebuah wujud, layaknya lukisan-lukisan kubistis a la Goerges Braque. Dan yang paling penting adalah: ia seperti mengingatkan kita bahwa yang tersebar di kehidupan ini dan menjalaninya bukan hanya kita (baca: manusia).

Dipilihnya nama sesosok monyet sebagai judul novel, juga dipilihnya fragmen kehidupan para monyet sebagai sajian pembuka, jika kita masih mau bersikeras menentukan “pusat”, sangat mungkin adalah sindiran bagi kita, manusia, yang kerap merasa dominan terhadap yang lain, atau setidaknya sebuah upaya lainnya untuk menghindarkan kita dari merasa dominan, atau superior. Dan harap dipahami, interaksi para monyet itu, cara-cara mereka menjalani hidupnya sebagai monyet itu, digambarkan seakan-akan mereka adalah kita, manusia, namun dalam wujud monyet. Mereka merangkai kalimat untuk berbicara seperti halnya kita berbicara. Mereka berpikir seperti halnya kita berpikir—tentu saja dengan keterbatasan pengalaman mereka. Mereka memahami cara berkomunikasi kita—meski tidak semuanya. Mereka bahkan mengalami jatuh cinta dan cemburu dan hal-hal semacamnya seperti halnya kita mengalaminya. Artinya apa? Artinya adalah: kita keliru jika menganggap mereka sepenuhnya berbeda, dari kita; kita keliru, jika menganggap hanya kita yang menjalani hidup layaknya “manusia”, sedangkan yang lainnya tidak; kita keliru, jika kita menjadikan wujud kita yang “sempurna” sebagai alasan memperlakukan mereka yang selain kita itu sesuka hati kita. Kita keliru. Keliru sekeliru-kelirunya.

Hal tersebut akan lebih terasa jika kita menjadikan “subjek” berupa benda mati sebagai titik tolak, semisal revolver. Ia sejatinya tidak bernyawa. Setidaknya begitulah kita meyakininya. Namun di dalam novel ini, Eka Kurniawan, membiarkan si revolver bernyawa, sehingga ia bercerita seperti halnya kita bercerita, sehingga ia memiliki ikatan emosional dengan pemiliknya—seorang polisi bernama Sobar, sehingga ia merasakan apa-apa yang mungkin kita rasakan sebagai manusia. Si revolver bahkan menyebut si pemiliknya itu sebagai orang baik, yang berarti ia melakukan penilaian; ia memiliki kehendak bebas yang digunakannya untuk melakukan penilaian, seperti halnya kita, manusia. Dan jangan lupa, ia juga sangat mengapresiasi ketekunan si pemiliknya itu dalam merawatnya setiap hari, juga upaya konyol polisi tersebut dalam mengajaknya bicara, yang karena itulah ia jadi menyukai lelaki tersebut. Sesuatu yang musykil, tetapi disajikan secara mungkin. Bisa dikatakan Eka Kurniawan, di dalam O, memperlakukan setiap hal sebagai “benda hidup”—kalau bukan makhluk hidup. Pada praktiknya si revolver itu memang diposisikan oleh pemiliknya sebagai alat, namun kita tetap diingatkan bahwa si alat ini juga menjalani kehidupan, bahwa ia “ada” sebagaimana halnya kita “ada”. Maka dari itu, sekali lagi, novel O ini seakan-akan sebuah tamparan bagi kita yang kerap—jika bukan selalu—merasa dominan-cum-superior terhadap hal-hal yang bukan kita, yang kemudian membuat kita membenarkan setiap tindakan yang menempatkan hal-hal itu sebagai “objek” belaka, sebagai alat (atau media) belaka. Setelah ditampar seperti ini, akankah kita memperlakukan mereka secara berbeda?

Perlu juga dimengerti bahwa di novelnya ini, Eka Kurniawan, terlihat sebisa mungkin menjadikan hal-hal yang bukan kita itu sejajar dengan kita, atau bahkan melebihi kita. Manikmaya, misalnya. Ia seekor tikus yang dibekali—bukan diberkati—kemampuan meramal alias mengetahui masa depan, yang karena kemampuannya ini ia harus menahan diri dari “menyatu” dengan tikus jantan pujaan hatinya, sebab ia tahu betul ia dan si tikus jantan itu akan mati jika mereka sampai berhubungan seks, dan ia tak ingin itu terjadi. Seperti halnya kita, manusia, Manikmaya merasakan kebimbangan, kegalauan, kegamangan, dan ia melakukan apa yang agaknya tidak mungkin dilakukan sebuah “objek”, yakni menjauhkan diri dari tikus jantan pujaan hatinya itu untuk merenungi kehidupannya sebagai seekor tikus bernama Manikmaya; ia, menggunakan kehendak bebas yang dimilikinya, untuk melakukan hal itu. Di sini terasa sekali kepedihan yang harus dihadapi seseorang yang sedang jatuh cinta, dan Eka menggambarkannya begitu “natural” sehingga kita, bisa jadi, tak lagi melihat Manikmaya ini sebagai seekor tikus, melainkan seorang manusia. Bahwa Manikmaya—setelah tersentuh oleh kesungguhan O dalam memperjuangkan cinta dan keyakinannya—akhirnya memilih untuk menemui tikus jantan pujaan hatinya itu dan menjemput kematiannya, membuat kita sangat mungkin jadi bersimpati padanya, atau bahkan lebih dari itu. Kisah tikus ini, di tangan Eka, telah menjelma sebuah dongeng—atau fabel?—yang mampu menjangkau sisi terdalam kita sebagai manusia, lantas memunculkannya.

Yang lebih mengesankan dari itu kita temukan pada “subjek” seekor kakaktua betina, yang dikisahkan mempertanyakan arti kehidupan ini bagi seekor kakaktua, atau arti keberadaan seekor kakaktua dalam kehidupan ini. Ia melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, lalu melakukan pencarian demi pencarian. Suatu ketika kehidupan mempertemukannya dengan seorang kiyai pelantun ayat-ayat suci Al-Quran sekaligus “pengabar”, dan pertemuan ini membuahkan beberapa hal positif baginya, termasuk di dalamnya kepuasan sebab merasa telah berada di jalan yang tepat untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya itu. Ia, kemudian menjadi sosok terakhir yang berinteraksi dengan si kiyai sebelum ajal menjemput lelaki itu, yang di sana ia menahbiskan dirinya sebagai “pengabar” bagi segala sesuatu yang ada di sekitarnya—jika bukan alam semesta ini. Dari semua ini kita tentu memahami: kisah si kakaktua adalah kisah tentang eksistensialisme dan religiusitas.

Pertanyaannya kemudian: Mengapa hal tersebut harus disampaikan lewat kisah seekor kakaktua? Mengapa, misalnya, pertanyaan yang sangat eksistensialis itu meluncur dari mulut—atau lidah?—seekor kakaktua dan bukannya dari sesosok manusia, seperti Mimi atau Rudi Gudel? Jika dicermati lebih jauh, di antara sekian banyak “subjek” yang berwujud manusia, tidak ada satu pun yang melontarkan pertanyaan seperti itu secara terang-terangan. Sebagian besar dari mereka terjebak dalam kompleksitas dari kisah-kisah “cinta” mereka, baik itu yang linear ataupun yang tidak. Pencarian jati diri nyaris hanya dilakukan si kakaktua itu, dan ini seolah-olah sebuah pernyataan bahwa kita, manusia, sudah tak lagi lebih “manusia” ketimbang si kakaktua, atau hewan-hewan pada umumnya, atau alam semesta itu sendiri. Kehidupan yang rumit dan kejam telah mengubah kita; melemahkan sisi “manusia” kita dan terus melemahkannya dari waktu ke waktu. Dan ini, lagi-lagi, sebuah tamparan bagi kita.

Jika mau beranjak lebih jauh, kita bisa mencoba melihat apa yang disajikan Eka Kurniawan ini sebagai simbol, atau metafora. Jika tadi kita mengkategorikan sejumlah “subjek” itu sebagai manusia, hewan, dan benda mati, kali ini kita coba memasukkan mereka ke dalam satu kategori yang sama, yakni manusia. Tentu persoalan dominasi dan superioritas itu masih kita tekankan. Si “subjek” yang disajikan dalam wujud manusia, kita anggap sebagian dari kita yang memiliki kekuatan atau kewenangan yang memungkinkan mereka menekan sebagian yang lain, yang pada akhirnya melakukannya; “subjek” yang disajikan dalam wujud bukan-manusia, kita anggap sebagian dari kita yang tidak memiliki kekuatan atau kewenangan tersebut.

Dengan melihatnya seperti itu, kita akan menyadari bahwa kesejajaran atau kesetaraan itu tak pernah ada. Tidak di kehidupan ini. Tidak di realitas yang kita hadapi ini. Pihak yang kuat akan menekan yang lemah. Pihak yang banyak, akan menekan yang sedikit. Selalu seperti itu. Penggambaran bahwa para hewan dalam novel O bisa memahami satu sama lain, dalam arti berbicara dengan bahasa yang sama satu sama lain, menunjukkan bahwa dominasi-cum-superioritas itu kerap membuat sejumlah orang lupa diri, pongah, angkuh, yang dengan itu mereka kehilangan kemampuan untuk memahami yang lain, orang-orang yang dianggapnya berada di bawah mereka, kendatipun mereka sama-sama manusia sepertinya. Tamparan lagi? Jelas. Lagipula sebenarnya, di kehidupan yang sudah sangat kompleks ini, apakah benar kita melihat manusia-manusia lain di sekitar kita sebagai manusia? Bisa jadi tidak. Sebagian dari mereka mungkin alat, sebagian yang lain mungkin media. Sebagian yang lain lagi bisa jadi sampah, atau bahkan tahi.

Di titik ini, kalau kita mau menyimpulkan, apa yang dilakukan Eka Kurniawan di novel O ini adalah mengingatkan kita untuk menerima bahwa kita tidak “sendirian”, dan bahwa dominasi dan superioritas itu semu, juga bahwa perbedaan sekaligus kesamaan adalah sesuatu yang niscaya, dan keduanya menyatu dalam satu tubuh dan tak bisa dipisahkan; sesuatu yang paradoks. Para “subjek” yang bukan-manusia itu, misalnya, jelas sekali kita tak menyebutnya manusia, sebab wujud mereka bukanlah manusia, tapi di sisi lain, mereka pun bisa jadi memiliki sejumlah hal yang juga kita miliki, yang membuat mereka pada konteks-konteks tertentu tidak ada bedanya dengan kita; manusia dalam wujud bukan-manusia. Dengan demikian, manusia-manusia yang kita anggap berbeda dengan kita, bisa juga pada konteks tertentu tidak ada bedanya dengan kita, yang karena itulah kita sesungguhnya tak semestinya melihat mereka sebagai murni bukan-kita, melainkan kita-dalam-wujud bukan-kita. Lewat cara pandang seperti ini, barangkali, kita bisa lebih bisa—untuk tidak menyebut lebih mudah—menerima perbedaan, atau bahkan lebih jauh dari itu: melihat perbedaan itu sebagai kesamaan. Manusia, monyet, revolver, kakaktua, anjing, tikus, ular, babi, dan yang lainnya, pada satu titik bisa jadi adalah sesuatu yang sama, sesuatu yang tak berbeda. Ini akan lebih terlihat lagi jika kita juga berbicara tentang kedekatan novel O dengan reinkarnasi dan siklus hidup, yang secara indah terhubung dengan nama si “subjek” monyet betina itu sendiri, O. Tapi agaknya, untuk membahasnya, kita membutuhkan ruang lain, sebab itu akan menjadi sebuah pembahasan panjang yang lainnya. Ruang ini sendiri, agaknya dicukupkan di sini saja. Selamat beristirahat dan semoga bermimpi indah.(*)

(Sindangbarang, akhir Maret 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s