Shigemori Ayako dan Novelnya yang Menyebalkan

~ Sebelum membaca cerita ini, disarankan membaca terlebih dahulu cerita berjudul “Kematian Sesosok Bayi di Prefektur X”; bisa ditemukan di https://kresnacrenata.wordpress.com/2016/02/08/kematian-sesosok-bayi-di-prefektur-x/ ~

/1/

Kinoshita Yuna mencekik ibunya sendiri hingga ibunya itu sekarat. Yuna berusia 40 tahun dan seorang penganggur, sedangkan ibunya berusia 67 tahun dan sudah dalam keadaan lumpuh sejak beberapa tahun sebelumnya. Kepada polisi, Yuna mengaku sudah sangat lelah merawat ibunya, dan menurut polisi, diduga kuat, inilah motif utama dari apa yang dilakukannya itu. Ibunya sendiri akhirnya tewas, meski sempat dilarikan ke rumah sakit oleh anak laki-lakinya—adik kandung Yuna—yang menemukannya terbaring tak berdaya sepulang kerja. Satu jam kemudian, Kinoshita Yuna ditemukan polisi di sebuah kafe tak jauh dari TKP. Ia tak memberikan perlawanan apa pun saat polisi mengatakan akan menahannya dan menginterogasinya.

Perempuan cantik paling menyebalkan abad ini, Shigemori Ayako, mengembangkan ceritanya dari kasus tersebut. Ia adalah klien kami, dan sebagaimana klien-klien kami yang lainnya, ia membayar kami untuk memberinya sebuah bakal cerita yang potensial. Alasannya: ia sedang ingin ikut serta dalam sebuah sayembara novel nasional, yang jika ia menangkan akan mengangkat kembali namanya di kesusastraan negeri ini, terutama di kalangan penulis perempuan kontemporer—untuk tidak menyebut posmodernis. Ia percaya kemampuan menulisnya masih mumpuni, dan satu-satunya hal yang menahannya dari kembali “berada di puncak” adalah belum juga datangnya ide-ide cerita, bakal-bakal cerita, yang menurutnya bagus. Sejak berkeluarga delapan tahun lalu ia mengaku menghabiskan hampir seluruh waktunya—ini sangat berlebihan—untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik, yang karena itulah ia tak memiliki cukup waktu untuk memikirkan—atau membiarkan muncul—ide-ide bagus tersebut, dan kondisi kejiwaannya ternyata belum juga kembali stabil pasca ia bercerai dan menyerahkan hak asuh anak kepada mantan suaminya enam bulan lalu, sehingga ide-ide tersebut diprediksinya tak akan muncul dalam waktu dekat, tidak di saat ia justru sedang (merasa) sangat membutuhkannya. Itulah kemudian, setidaknya menurutku, yang membuatnya meminta bantuan kami.

Jika kau pernah membaca postinganku yang berjudul “Kematian Sesosok Bayi di Prefektur X”, kau tentu bisa mengikuti dengan mudah apa-apa yang kututurkan barusan. Benar, kasus yang kumunculkan di awal tadi adalah fakta, sesuatu yang sungguh terjadi di dunia nyata, meski nama si pelaku sudah kuubah—semacam kode etik. Peristiwa itu sendiri terjadi di Prefektur Saitama, Tokyo, jika kau ingin tahu. Waktu yang kuhabiskan untuk meneliti kasus ini adalah lima hari, dengan laporan deskriptif yang kukirimkan ke atasanku sebanyak 18 halaman A4—spasi 1,5. Sepertiga diantaranya, bisa jadi kurang, diteruskan bagian humas kepada Ayako.

Aku membaca novel Shigemori Ayako (yang dikembangkannya dari kasus) itu lima bulan setelah laporan penelitian tadi kukirimkan, dan, jujur saja, aku tidak senang. Setidaknya ada tiga alasan.

Pertama, Shigemori Ayako terlalu banyak melakukan perubahan. Saking banyaknya perubahan itu, pembaca akan sangat mungkin tak menyadari bahwa ceritanya ini beririsan (bahkan berasal dari) kasus tadi. Jenis kelamin pelaku, tanggal kejadian, motif-motif yang melatarbelakangi, semuanya ia ubah. Bahkan proses kematian korban pun ia ubah. Bayangkan saja. Aku tentu tidak sedang mengatakan bahwa novelnya ini tak berkualitas; tidak juga bahwa apa yang dilakukannya ini sebuah kejahatan. (Dari sudut pandang seorang novelis, apa yang dilakukannya ini masih terbilang sah. Sesuatu yang boleh-boleh saja.) Yang ingin kukatakan adalah: ia tak menghargai kerja keras kami—kerja kerasku. Jika memang sedari awal ia menghendaki sebuah cerita seperti yang tersaji di novelnya itu, untuk apa ia menggunakan jasa kami? Ia tinggal sedikit berselancar di internet dan setelahnya berimajinasi. Detail dan segala macam yang kami berikan kepadanya jadi sesuatu yang tak perlu; toh apa yang disajikannya kemudian sangat sangat berbeda dari apa-apa yang kami tawarkan. Pada akhirnya, ia seperti dengan pongahnya mengatakan bahwa kinerja kami sama sekali tak memuaskannya namun ia tetap membayar kami seperti yang kami minta, untuk menunjukkan superioritasnya, posisinya yang jelas-jelas berada di atas kami. Bleh! Jika ia saat ini ada di hadapanku, aku mungkin sudah melempari wajahnya dengan kotoran kucing. (Seekor kucing sialan telah dengan seenaknya “meninggalkan jejak” di depan pintu kamarku dan aku dengan tololnya menginjaknya saat keluar tergesa-gesa tadi pagi.)

Kedua, di dalam novelnya itu ia sama sekali tak menunjukkan respek baik terhadap korban atau orang-orang di sekitar korban, atau bahkan peristiwa itu sendiri. Kau akan memahaminya sendiri ketika membaca novelnya itu. Bisa dikatakan, yang dilakukannya adalah bermain-main, murni bermain-main. Peristiwa nahas itu ia jadikan bahan tertawaan; tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya ia biarkan bertindak dan berpikir konyol sampai-sampai tak tersisa sedikit pun sisi baik yang membuat mereka patut diberi simpati—apalagi empati. Di sepanjang cerita, ia tak ubahnya sosok anti-hero-cum-antisosial yang mengambil peristiwa nahas itu sebagai topik pembicaraan, dan ia tak segan-segan membahasnya sebagai sesuatu yang menggelikan, sangat sangat menggelikan, sampai-sampai kematian yang jelas-jelas ada itu jadi sesuatu yang minor, sesuatu yang tidak penting dan bisa lekas dilupakan, atau dianggap tak ada. Bukan hal aneh kukira jika sejumlah orang yang membaca novelnya itu pada akhirnya merasa jengah dan ingin meludahi si pencerita tersebut—yang dalam arti tertentu adalah Shigemori Ayako sendiri. Salah satu dari sejumlah orang itu, tentunya aku.

Sekali lagi, aku tidak sedang bicara soal kualitas. Bahwa novelnya itu terpilih sebagai satu dari tiga naskah terbaik versi para juri sayembara, tentulah menandakan satu hal: ia bukan novel sembarangan. Tetapi kualitas, kurasa ini sudah jadi rahasia umum, bukanlah satu-satunya hal yang kita jadikan patokan atau indikator dalam melihat sebuah karya, atau sesuatu pada umumnya. Nilai guna, misalnya, bisa menjadi salah satu indikator lainnya, yang tidak kalah penting dari kualitas. Demikian juga dengan fungsi sosial, yang sesungguhnya adalah perpanjangan dari nilai guna tadi. Salah satu indikator lainnya yang tak kalah penting tentunya adalah sikap si karya, dalam hal ini kepada pembaca. Dan khusus untuk yang terakhir, novelnya Shigemori Ayako itu sungguh-sungguh buruk—setidaknya menurutku.

Dalam sebuah percakapan makan malam bersama Rena, pacarku, aku pernah membahasnya. Dan di luar dugaan, balas-membalas argumen di antara kami terjadi.

Di mata Rena, rupanya, caraku mencampur-adukkan kualitas dengan hal-hal lain (yang kusebut indikator-indikator tadi) tidaklah fair, dan itu menurutnya dikarenakan aku sudah dalam keadaan tak menyukai si penulis saat melakukan penilaian tersebut. Dengan kata lain, aku sentimen (terhadap si penulis). Ia bilang aku semestinya mengakui saja kehebatan novelnya Shigemori Ayako itu jika memang seperti itulah kenyataannya, dan ia dengan liciknya menjadikan penilaian para juri sayembara sebagai titik tolak penilaiannya itu, sehingga aku sulit balik menyerangnya, apalagi menekannya. Sampai akhirnya adu argumen berakhir (dan kami memilih membahas hal lain yang tak akan membuat kami tambah bersitegang), aku tak sedikit pun bisa membuatnya bersimpati pada penilaianku, meski di saat yang sama aku pun sama sekali tak terisap ke dalam argumen-argumennya. Sekadar untuk menghibur diri, di sisa percakapan kami aku terus-menerus mengingatkan diriku bahwa Rena bukanlah penulis—ia bahkan tidak banyak membaca teks fiksi—dan karenanya aku tak perlu kecewa telah gagal membuatnya mengerti. Untunglah Rena tak terlihat begitu memikirkan adu argumen kami itu, sehingga aku bisa berpisah dengannya malam itu dengan menciumnya di bibir—seperti biasanya.

Ketiga, dan ini kukira bukan yang terakhir, Shigemori Ayako memunculkan dirinya sendiri di tengah-tengah cerita, dan ketika itu, ia membeberkan apa-apa yang dialaminya terkait upaya penulisan novelnya itu, termasuk “pemberian bantuan” dari kami. Ini sungguh sesuatu yang mengejutkan; kurasa orang-orang di kantor pun berpikir demikian. Tak pernah sebelumnya, di antara lebih dari delapan ratus klien yang tercatat di list kami, sebuah novel bikinan klien itu menghadirkan diri kami, perusahaan tempat kami bekerja, proses-prosesnya, atau yang semacamnya. Dan yang menjengkelkan adalah: Shigemori Ayako di novelnya itu mencitrakan kami sebagai sesuatu yang tak baik, yang negatif, yang akan baik jika tak pernah ada. Bahwa kami “memberikan bantuan” kepada para (calon) penulis, misalnya, ia katakan sebuah pembodohan dan penipuan. Pembodohan kepada si (calon) penulis itu sendiri, penipuan kepada (calon) pembaca. Adapun mengapa ia menerima “pemberian bantuan” itu, akunya, adalah untuk mengetahui sejauh mana pembodohan dan penipuan itu dilakukan. Sederhananya, method-writing. Kesimpulannya yang dihadirkannya sebagai quote di novelnya itu kemudian hampir berhasil membuatku menutup novelnya itu dan membantingnya ke lantai: “Kita selama ini menilai para novelis sebagai orang-orang yang kreatif dan jujur, juga pekerja keras. Tetapi dengan adanya sesuatu seperti ini, kita agaknya perlu mulai curiga bahwa kenyataannya tidaklah seperti itu. Nama baik para novelis… telah tercoreng.”

 

/2/

Suatu siang, kira-kira satu bulan sejak novelnya Shigemori Ayako yang menyebalkan itu beredar di toko-toko buku, sebuah rapat darurat, di kantor kami, dilangsungkan. Ini benar; aku tidak sedang berbohong. Apa yang dibahas di rapat darurat itu adalah bagaimana kami sebaiknya menyikapi “tantangan” atau “kenakalan” seorang klien seperti Shigemori Ayako, juga bagaimana langkah-langkah kami selanjutnya—apakah beroperasi seperti biasa atau melakukan sejumlah perubahan di sana-sini. Aku ikut serta dalam rapat itu, dan tak sedikit pun bicara, bahkan kerap tak menyimak penjelasan orang-orang. Pagi hari itu Shigemori Ayako mengatakan di situs-resmi-kepenulisannya bahwa beberapa hal dalam novelnya itu ia adaptasi dari apa-apa yang terjadi atau dialaminya di dunia nyata, dan ia meminta para pembaca untuk mencoba mencaritahu apa saja “beberapa hal” itu, dan itu hampir sama dengan ia berkata, “Hey, perusahaan yang ‘memberikan bantuan’ kepada para novelis itu bisa jadi selama ini benar-benar ada. Nah, jika begitu kenyataannya, sikapmu bagaimana?” Sebagai seorang klien, apa yang dilakukannya itu sungguh di luar akal sehat. Aku benar-benar membencinya, sampai-sampai tak bisa berhenti memikirkannya lebih dari tiga belas detik saja.

Kesimpulan-kesimpulan dari rapat darurat itu sendiri adalah ini: 1) kami akan membiarkan Shigemori Ayako berkoar-koar sesuka hatinya; semakin kami tak merespons, semakin konten tentang kami di novelnya itu terlihat sebagai fiksi; 2) untuk ke depannya, penerimaan order dari klien diperketat, seperti dengan melakukan investigasi awal soal motif dan tujuan klien atas pengajuan order-nya itu; 3) hubungan perusahaan kami dengan Shigemori Ayako diputus; namanya dihapus dari list, begitu juga data-data yang menyangkut transaksi; 4) orang-orang perusahaan yang terlibat dalam penggarapan projek Shigemori Ayako—si penerima order, si pelaku riset, si penyunting awal, si penyunting akhir, si perantara utama, si perantara cadangan, dan beberapa orang lain—diberi kesempatan paling lama enam bulan terhitung dari ditetapkannya putusan rapat untuk membuktikan integritas dan kapabilitasnya terhadap perusahaan, seperti dengan memberikan sejumlah “tangkapan besar” yang secara nyata berguna bagi perusahaan; aku, tentu saja, termasuk salah satu diantaranya.

Jika dibilang penilaianku terhadap novelnya Shigemori Ayako sangat dipengaruhi oleh putusan nomor 4 dari rapat darurat tersebut, itu agaknya tak bisa dibantah. Bagaimanapun, apa yang dilakukan Shigemori Ayako telah membuatku begitu saja berada dalam situasi sulit, padahal aku jelas sekali tidak melakukan kesalahan apa pun. Apa-apa yang kulakukan dalam proses penggarapan projek Shigemori Ayako adalah hal-hal yang sesuai prosedur, hal-hal yang biasanya kulakukan dan membuatku diganjar bonus tinggi dari atasanku. Bahwa kemudian Shigemori Ayako mengambil langkah tak terduga tadi, itu sama sekali di luar kendaliku, bahkan sama sekali bukan urusanku. Dengan melihat pengabdian dan “prestasi”-ku selama hampir sembilan tahun menjadi bagian dari perusahaan ini, semestinya kecurigaan amatir yang terwujud dalam putusan rapat nomor 4 itu tak diarahkan padaku. Tak sekali pun diarahkan padaku. Atasanku, dalam sebuah percakapan-via-teleponnya sehari setelah rapat darurat itu, memang mengatakan ia percaya sepenuhnya padaku dan memintaku melihat putusan rapat darurat nomor 4 itu sebagai formalitas saja; artinya: aku tetap harus melakukannya meski keputusannya sudah dibuat—aku aman. Tapi tetap saja, berada dalam situasi seperti ini, sebuah situasi di mana kau dijadikan salah satu pihak yang dicurigai dan diminta bertanggungjawab, bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Dengan ini, bisa dikatakan aku sudah sewajarnya membenci Shigemori Ayako—juga novelnya yang menyebalkan itu.

 

/3/

Jika kau ingin tahu sejauh mana Shigemori Ayako mempermainkan “pemberian bantuan” dari kami, akan kutunjukkan beberapa diantaranya. Semoga saja ini bisa membuatmu percaya bahwa apa yang kukeluhkan dan kugerutukan sedari tadi memanglah beralasan, dan sama sekali bukan kebohongan.

Di bab III, misalnya, Shigemori Ayako, yang bertindak sebagai penutur, menulis seperti ini: “Tanpa sedikit pun merasa gugup, Yuna mencekik ibunya, dan terus mencekiknya hingga perempuan tua itu berhenti meronta dan terbaring tak berdaya—meski ia tidak mati. Tak sedikit pun terbersit rasa bersalah di wajah Yuna, kendatipun ia menyadari apa yang dilakukannya itu bukan sesuatu yang baik. Malahan, setelah melepaskan kedua tangannya dari leher ibunya, dan setelah mendapati perempuan-tua-super-cerewet itu tak melakukan apa pun dan tak mengucapkan apa pun, ia tersenyum. Tersenyum dan tersenyum. Senyumnya begitu ranum bagaikan sebutir jeruk yang siap dipetik. Tak berhenti di situ, di satu titik ia bahkan tertawa. Tertawa dan tertawa. Di puncak tawanya ia kentut dan itu sempat membuat tawanya terhenti namun ia lekas melanjutkannya, dengan tawa yang lebih keras, seakan-akan ia sudah gila. Ibunya sendiri, dalam keadaan seperti ini, tentulah terserang bau busuk yang sama sekali tak mencerminkan kesantunan atau dukacita itu. Untung saja, ia tak sadarkan diri.”

Kau bisa melihatnya sendiri. Adegan pembunuhan, yang sejatinya adalah tragedi (apalagi jika kita mempertimbangkan hubungan atau hierarki antara si pembunuh dengan yang dibunuh—anak dan ibu), di tangan Shigemori Ayako menjadi sesuatu yang sama sekali jauh dari tragedi, bahkan cenderung komikal dan tak berarti—untuk tak menyebut nihil. Bagaimana Yuna digambarkannya tersenyum dan selanjutnya tertawa usai mencoba melakukan pembunuhan, ditambah lagi ia buang angin begitu saja, sungguhlah bukan sesuatu yang bisa mengajak pembaca bersimpati; itu lebih ke sebuah pernyataan bahwa yang terjadi hanyalah omong kosong yang tak perlu dipikirkan, yang tak perlu diperhatikan apalagi dicemaskan. Yuna yang mencekik ibunya sendiri, ibunya yang terbaring tak berdaya dan kelak mati, oleh Shigemori Ayako seakan-akan disajikan sebagai sebuah konto (istilah orang Jepang untuk lawakan singkat nan sederhana—penerj.), dan ia tak sedikit pun menyisipkan “pesan moral” di sana. Dewan juri yang menilai novel ini berkualitas barangkali punya cara pandang tersendiri akan hal ini, tapi bagiku, dan bisa jadi bagi orang-orang di perusahaan kami, apa yang ditawarkan Shigemori Ayako ini adalah sampah. Ia, seperti tadi telah kusinggung, sama sekali tak menunjukkan respek baik terhadap korban, orang-orang di sekitar korban, maupun peristiwa percobaan pembunuhan itu sendiri.

Contoh kekonyolan lainnya adalah apa yang dituturkan Shigemori Ayako di Bab I: “Bertahun-tahun merawat ibunya yang super-duper-cerewet dan seperti baru saja diangkat dari neraka itu, Kinoshita Yuna tak melihatnya sesuatu yang buruk. Lebih tepatnya, ia sama sekali tak memikirkannya. Kendatipun ia kerapkali kesal disuruh-suruh ibunya dengan suara lantang—nyaris serupa teriakan, ia menolak untuk terganggu olehnya dan membiarkan hal itu melindap cepat dan akhirnya lenyap. Tak ada gunanya membiarkan dirimu terusik oleh sesuatu semacam itu. Jika kau membiarkan dirimu terganggu, itu berarti kau membiarkan dirimu kalah, dan seseorang itu akan jadi leluasa memperbudakmu. Begitu ia selalu mengingatkan dirinya. Sejak dulu ia memang memegang prinsip bahwa mengalah kepada mereka yang lemah adalah salah satu cara kau menunjukkan dirimu kuat.//Namun dalam beberapa bulan terakhir, persisnya sejak ia menjalin hubungan gelap dengan seorang lelaki sepantaran adiknya—rekan kerja adiknya di kantor tempat ia bekerja, cara pandangnya sedikit mengalami perubahan. Jika sebelumnya ia sama sekali tak memikirkannya, kini ia berusaha untuk tak memikirkannya. Dengan kata lain, ia sesungguhnya memikirkannya, dan itu tentu dalam arti negatif. Terakhir kali ia menjalin hubungan dengan seorang lelaki adalah tujuh tahun lalu dan jalinan ini terputus ketika si lelaki begitu saja meninggalkannya demi seorang perempuan yang lebih muda dan lebih kaya dan lebih ceria darinya, dan secara otomatis ini membuatnya menahan diri—untuk tak menyebut membentengi diri—dari jatuh suka kepada seorang lelaki, siapa pun itu. Tujuh tahun adalah kurun waktu yang cukup lama; cukup lama untuk membuat tekadnya itu melemah. Ketika kehidupan akhirnya mempertemukannya dengan rekan kerja adiknya itu, dan ia merasakan baik ia maupun lelaki itu memancarkan ketertarikan bahkan dari tatapan mata, ia segera menyambutnya. Tak ada lagi menahan diri. Omong kosong soal tekad. Ia dan lelaki itu pun menjalin hubungan gelap—adiknya tak tahu hal ini sama sekali. Akibatnya ia jadi kerap membayangkan dirinya dan lelaki itu menjalani hidup berdua dan terbebas dari tuntutan apa pun. Maka merawat ibunya, pada titik ini, sudah jadi sesuatu yang dinilainya mengganggunya.”

Lihatlah bahwa di sana sosok Kinoshita Yuna digambarkan Shigemori Ayako begitu buruk—untuk tidak menyebut busuk. Tak terasa sama sekali kepeduliannya terhadap kondisi ibunya. Bahkan perubahan sikapnya disebabkan oleh sesuatu yang justru akan menjauhkan para pembaca dari bersimpati—apalagi berempati. Ia seperti halnya anak remaja, padahal di titik itu ia sudah kepala tiga. Ini berbeda dari apa yang kami (baca: aku) temukan di lapangan. Benar-benar berbeda.

Kenyataan di lapangan itu sendiri adalah seperti ini: Kinoshita Yuna seorang anak yang baik dan berbakti. Ia merawat ibunya dengan sabar, dan selalu berusaha untuk melihat “penderitaan” yang dialaminya sebagai risiko dari kehidupan yang dijalaninya, atau lebih tepatnya jalan hidup yang dulu dipilihnya. Tiga tahun sebelum percobaan pembunuhan itu terjadi, ia masih bekerja di sebuah perusahaan asuransi di pusat kota, dan alasan di balik pengunduran dirinya dari perusahaan tersebut tak lain dan tak bukan adalah agar ia bisa setiap saat merawat ibunya—sebab adiknya mengaku tak bisa melakukannya. Demikianlah, sejak saat itu ia jadi seorang penganggur dan berusaha sesabar mungkin merawat ibunya, yang rupanya belum bisa memaafkannya. Dulu saat memutuskan untuk bekerja di pusat kota, yang berarti meninggalkan rumah, ibunya tak memberinya izin, namun ia tak sedikit pun mengindahkannya. Bertahun-tahun ia menikmati hari-hari yang menyenangkan di pusat kota tanpa sedikit pun memikirkan ibunya, sampai akhirnya nasib buruk menimpa ibunya: perempuan tua itu terserang stroke dan harus menerima kedua kakinya tak lagi bisa ia gerakkan. Yuna mendengar kabar ini dari adiknya beberapa bulan kemudian, dan adik-kakak ini selanjutnya bertemu dan di pertemuan inilah adiknya memintanya pulang (dan berhenti bekerja) dan merawat ibunya. ‘Karierku di perusahaan sedang bagus dan aku tak bisa mengorbankannya demi Ibu,’ begitu kira-kira adiknya berkata. Di luar dugaan, Yuna, yang semula tak sedikit pun memikirkan ibunya, tiba-tiba begitu kesal; ia tak percaya adiknya mengatakan sesuatu sekeji itu. Lama mempertimbangkan permintaan adiknya itu ia akhirnya memutuskan untuk mengabulkannya. Ia saat itu tentu tidak berpikir, pilihannya ini tiga tahun kemudian akan membuatnya mendekam di balik jeruji.

Dari penjelasanku sejauh ini, kau tentu sudah memahami bahwa apa yang dilakukan Shigemori Ayako benarlah sesuatu yang di luar jalur. Ia mengubah motif percobaan pembunuhan, dan ia benar-benar mengubahnya. Begitu juga terhadap karakter Kinoshita Yuna. Hal ini, mau tidak mau, akan mengarahkan pembaca ke kesimpulan yang berbeda, yang sangat jauh berbeda, dan inilah yang kupertanyakan. Maksudku, alasan Shigemori Ayako mengambil peristiwa nahas itu jadi tidak jelas. Jika ia berusaha membuat para pembaca mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut, ia gagal. Jelas-jelas gagal. Hampir pasti ia bermain-main belaka, dan ini sungguh sikap yang tidak terpuji—untuk tidak mengatakan keji. Dan karena itulah aku tak menyukainya.

Di titik ini izinkan aku sedikit berbicara tentang penulis perempuan kontemporer kesayanganku, Kirino Natsuo. Ia pernah menulis novel yang ia beri judul Grotesque (judul dalam bahasa aslinya: Gurotesuku—penerj.), yang ia kembangkan dari kasus pembunuhan Watanabe Yasuko, seorang senior economic researcher di Tokyo Electric Power Company alias TEPCO (nama perusahaan ini dalam bahasa aslinya adalah Tokyo Denryoku Kabukishi-gaisha, yang kerap disingkat menjadi Toden—penerj.). Dalam novelnya ini, ia mencoba mendedahkan apa saja yang mungkin terjadi di balik peristiwa tersebut, dan ini menyangkut masa lalu si korban (tokoh di Grotesque yang merepresentasikan korban adalah Kazue Sato)—sebagai motif—juga sistem sosial yang bekerja di sekitarnya. Harus kukatakan, Kirino Natsuo tak menerima “pemberian bantuan” dari kami, sama sekali tidak, namun apa yang dilakukannya mencerminkan visi dan semangat kami. Setidaknya begitulah aku melihatnya. Dengan membaca Grotesque, para pembaca bisa memahami seperti apa sesungguhnya kasus pembunuhan Watanabe Yasuko itu, juga bagaimana mereka mesti menyikapinya. Dan ini menjadi relevan, juga berguna, sebab Kirino Natsuo tidak melakukan banyak “perubahan” seperti yang dilakukan Shigemori Ayako. Ia pun tetap menunjukkan respek terhadap korban, orang-orang di sekitar korban, serta kasus pembunuhan itu sendiri. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Kirino Natsuo adalah apa yang idealnya dilakukan seorang penulis—atau novelis, dalam istilah Shigemori Ayako. Dan sebagai penyuka novel-novel Kirino Natsuo, menyatakan perlawanan terhadap apa yang dilakukan Shigemori Ayako kurasa adalah sesuatu yang wajar. Benar-benar sesuatu yang wajar.

 

/4/

Kini kau tentu memahami bahwa ketidaksukaanku terhadap novelnya Shigemori Ayako itu, juga penilaianku yang buruk atasnya, tidak hanya disebabkan oleh “kenakalan” yang dilakukan Shigemori Ayako sesuka hatinya, melainkan juga oleh sikap novel itu sendiri yang tak sejalan dengan visi dan semangat kami. Tolong garis-bawahi hal ini. Aku tidak mau dirimu dan orang-orang yang membaca postinganku ini kelak menilaiku sentimentil dan tidak profesional. Jika dua penggalan yang kutunjukkan tadi masih belum cukup dijadikan bahan pertimbangan, aku akan menunjukkan satu penggalan lainnya.

Penggalan ini, yang bisa kautemukan di Bab VIII, bisa jadi adalah bagian yang paling menunjukkan betapa novelnya Shigemori Ayako ini adalah sampah—meski mungkin sampah berkualitas. Di Bab VIII ini Shigemori Ayako memunculkan dirinya, dalam arti ia bertutur sebagai dirinya, dan ia mendedahkan banyak hal yang dialaminya selama menulis novel tersebut. Untuk lebih jelasnya simak saja penggalan yang dimaksud berikut ini:

“Jujur, kukatakan kepada kalian, menulis novel ini hampir-hampir tak memberiku kesenangan. Data-data yang kuperoleh tentang kasus pembunuhan itu tak banyak yang kugunakan, sementara kasus itu sendiri bukanlah kasus yang istimewa, dalam arti ia bisa terjadi di banyak tempat dengan banyak variasi dan sama sekali tak otentik. Aku heran, sebenarnya, mengapa Perusahaan A memilih kasus tersebut sebagai kasusku, dan aku bertambah heran ketika data-data yang mereka kirimkan sebagian besar tak menarik dan nyaris klise. Bayangkan, seorang anak perempuan yang berbakti dan baik hati, seorang ibu yang kekanak-kanakan dan cerewet, seorang anak laki-laki yang lebih memikirkan karier ketimbang keluarganya. Ayolah. Itu bukan sesuatu yang menarik. Kau bisa menemukannya di banyak tempat, entah itu kebetulan atau disengaja. Jika aku harus memaksakan diri mengembangkan data-data tersebut (baca: menggunakannya) jadi sebuah novel, pastilah aku akan menderita sakit kepala beberapa lama.

Maka kuputuskan untuk melakukan banyak perubahan, demi memberiku kesenangan, dan itu nyaris berarti aku tak mengangkat kasus pembunuhan itu (juga data-data yang mengikutinya) ke dalam novelku. Orang-orang Perusahaan A, terutama mereka yang telah bekerja keras mengumpulkan data-data itu, bisa jadi akan kecewa; begitu juga mungkin para pembaca yang berharap memperoleh bimbingan untuk menemukan ‘pesan moral’ dari kasus pembunuhan itu. Tapi aku tak peduli. Itu urusan mereka. Urusanku sebagai novelis adalah menulis sebuah novel yang menarik, yang asyik, yang memberi kesenangan di setiap bagiannya, di setiap paragrafnya, di setiap kalimatnya. Omong kosong soal ‘pesan moral’. Kau bisa menghabiskan hampir seluruh waktumu untuk menemukan ‘pesan moral’ dan sangat mungkin kau tak bahagia, bahkan sama sekali tak menikmati waktumu itu. Sementara aku meyakini, sedari dulu hingga sekarang, hal paling mengerikan dari hidup ini adalah kau menjalaninya tanpa menikmatinya.

Kembali ke kasus tadi, harus kuakui, dalam novelku ini aku tak menjadikannya sesuatu yang kudus, sakral, atau semacamnya. Malahan, aku banyak mempermainkannya—mengolok-oloknya, menertawakannya, menjadikannya seolah-olah fiksi belaka. Sejumlah orang mungkin akan melihat apa yang kulakukan ini sebagai sampah, tapi itu tentu dikarenakan mereka para pencari ‘pesan moral’ sejati. Ya, pastilah begitu. Mereka perlu mencoba santai, jika kau ingin tahu pendapatku. Bersantai, dan tak terlampau serius memikirkan kasus itu, ataupun hal-hal lainnya. Menjadikan novel sebuah catatan serius mengenai apa yang (sedang) terjadi di sekitar kita, seperti yang dilakukan para novelis Tiongkok di zaman dulu, sudahlah usang. Benar-benar usang. Kita yang hidup di zaman ini harus mencoba melihat novel sebagai sebuah produk. Dan produk, di mana-mana, dibuat untuk ditawarkan dan dipertukarkan dengan produk lain—seperti uang. Dengan kata lain ia harus menarik, harus bisa membuat calon konsumen terpikat, bahkan kecanduan. Jangan terfokus hanya pada ‘konten’, namun beri juga perhatian khusus pada ‘kemasan’, atau ‘bentuk’. Apa yang kukemukakan ini tentunya bukan sesuatu yang baru; dari ratusan tahun lalu orang-orang cerdas di belahan dunia lain telah memikirkannya dan mempraktikkannya. Hanya saja, para pencari ‘pesan moral’ sejati itu, kerap meyakini kehidupan ini telah berhenti berkembang ratusan tahun lalu.”

Bagaimana? Kau sependapat denganku—bahwa novelnya Shigemori Ayako itu adalah sampah? Bukan hanya ia tak menghargai kerja keras kami, ia pun dengan terang-terangan menunjukkan kepongahannya. Dan apakah kita perlu memberikan dukungan kepada penulis seperti ini?

 

/5/

Sekarang izinkan aku bertanya: Menurutmu, yang dilakukan Shigemori Ayako itu salah, atau justru benar? Pertanyaan ini kuajukan sebab sedari tadi bagaimanapun aku menyuarakan apa yang kuyakini, dan penilaianku tentu sedikit-banyak dipengaruhi oleh posisi saat ini aku berdiri, yakni seseorang dari perusahaan yang dirugikan oleh “kenakalan”-nya itu. Aku memiliki kepentingan untuk menangkis serangan-serangannya, untuk membantah tuduhan-tuduhannya, terutama bahwa apa yang kami lakukan selama ini adalah sesuatu yang negatif, sesuatu yang buruk, sesuatu yang akan baik jika tak pernah ada. Hampir pasti, yang berusaha ia katakan lewat “kenakalan”-nya itu, kepada kami juga para pembaca, adalah bahwa menulis novel—atau cerita pada umumnya—semestinya sesuatu yang “murni” dan “jujur”, juga “mandiri”, yang di dalamnya termasuk tidak menerima “pemberian bantuan” dari pihak mana pun, terutama jika “pemberian bantuan” itu dilakukan secara terstruktur lewat sebuah “sistem” seperti perusahaan kami—ia menyebutnya Perusahaan A. Sekali lagi, sebab aku memiliki kepentingan untuk membantah tuduhannya itu, aku pun menilai cara pandang yang ditawarkannya ini sangatlah kolot, sangatlah aus; sesuatu yang hampir-hampir Romantik dan sangat layak untuk ditertawakan. Seperti itu jugalah orang-orang di perusahaan kami, juga orang-orang yang berada di pihak kami, akan menilai. Tetapi mereka yang berada di luar (lingkaran) itu, barangkali, memiliki penilaian yang (agak) lain.

Pacarku Rena, dalam percakapan makan malam yang sempat kusinggung tadi, mengutarakan penilaiannya yang, tentu sudah bisa kau tebak, (agak) lain. Jika memang dugaanku soal motif atau tujuan Shigemori Ayako dari melakukan “kenakalan”-nya itu tepat sasaran, maka ia melihat, setidaknya, dua hal ini mendukung Shigemori Ayako: 1) (perusahaan) kami melakukan “pemberian bantuan” kepada para (calon) penulis secara sembunyi-sembunyi, dan itu menandakan ada hal-hal yang tidak boleh diketahui orang-orang, yang dalam arti lain apa yang kami lakukan ini bukan sesuatu yang baik, atau setidak-tidaknya bukan sesuatu yang bisa diterima kebanyakan orang; 2) kami memperlakukan tragedi atau peristiwa-peristiwa nahas layaknya “bahan baku” belaka, sesuatu yang kemudian kami “olah” dan kami jadikan “produk” untuk dijual (baca: diuangkan), tanpa sedikit pun peduli apakah pihak-pihak yang berkaitan dengan tragedi atau peristiwa-peristiwa nahas tersebut akan senang atau tidak, bahkan lebih jauh lagi: akan memberikan izin atau tidak. Menurut Rena, jika ia adalah Ayako, dua hal ini dinilainya sudah lebih dari cukup untuk dijadikannya motif, dan ia mengingatkanku akan kemungkinan adanya motif-motif lain yang bisa jadi lebih kuat lagi dari itu. Aku tidak menyepakatinya, tentu saja, karena melakukan hal itu berarti melemahkan posisiku—di hadapan Rena maupun di hadapan Ayako.

Jadi menurutmu bagaimana? Yang kami lakukan itu salah, atau tidak? Apakah (orang-orang seperti) kami memang semestinya tak pernah ada di dunia ini, atau penilaian itu berlebihan? Apakah menulis novel—atau cerita pada umumnya—adalah sesuatu yang harus murni semurni-murninya, jujur sejujur-jujurnya, atau boleh disertai “bantuan-bantuan” seperti dari kami? Jawablah, dan sebaiknya kau tak sungkan-sungkan. Tiga bulan telah berlalu sejak dilangsungkannya rapat darurat tadi dan popularitas novelnya Shigemori Ayako kian melambung dan terlihat masih akan terus melambung untuk beberapa bulan ke depan. Kabar termutakhir dari atasanku: sebuah rapat untuk membahas novelnya Shigemori Ayako akan kembali digelar, dan kali ini akan melibatkan lebih banyak orang. Aku diminta atasanku itu memikirkan sebuah solusi yang bisa memberikan ketenangan kepada orang-orang di perusahaan kami, agar kami bisa bekerja sebaik biasanya, agar kami tak terjebak pada “permainan” yang bermula dari “kenakalan” Shigemori Ayako itu, agar kami tak harus menyesali apa-apa yang telah kami lakukan dengan bangga dan profesional bertahun-tahun ini.

Pacarku sendiri, Rena, melihat rapat ini sebagai kesempatan emas bagiku untuk “membersihkan citraku” atau bahkan “memperbaiki posisiku”, di hadapan para atasanku. Tapi ia kemudian berkata, “Bisa jadi apa yang kalian lakukan selama ini memang keliru. Ingat itu.” Harus kuakui, “peringatan” Rena ini membuatku sedikit gamang. Meski aku tahu betul di mana posisiku berdiri, juga apa yang harus kukatakan dan kulakukan dalam posisiku itu, tetapi aku jadi berpikir bahwa aku mungkin saja melakukan sesuatu yang keliru—hanya saja aku mau tak mau harus melakukannya. Semacam risiko atau konsekuensi dari jalan hidup yang kupilih. Katakanlah begitu. Maka dari itu aku merasa perlu mendengar pendapatmu, dan kuharap kau tak menahan diri. Apa yang persisnya akan kukatakan di rapat nanti, aku belum memutuskannya, dan sangat mungkin pendapatmu memengaruhiku. Tapi tentu, kuharap kau tak melupakan penjelasan panjang-lebarku sejauh ini, terutama soal bagaimana Shigemori Ayako memperlakukan peristiwa nahas tadi. Bagaimanapun, terlepas dari motif atau tujuannya yang bisa jadi masuk akal itu, sikapnya terhadap peristiwa pembunuhan itu sangatlah antipati, dan karenanya itu buruk. Menurutku begitu.(*)

(Bogor, Maret 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s