Semacam Pengakuan

Delapan tahun yang lalu, persis di tanggal ini, aku berada di sebuah ruangan yang asing bagiku. Aku duduk di sebuah sofa putih untuk tiga orang. Seorang lelaki duduk di hadapanku, di sofa dengan jenis yang sama, dengan sebuah laptop terbuka dan menyala di meja di hadapannya—di hadapanku juga. Seorang lelaki lain berdiri di samping kirinya, memegang kamera besar yang diarahkan padaku. Jauh di belakang mereka, di ruangan lain yang seperti menyatu dengan dapur, sejumlah lelaki lain tampak disibukkan oleh aktivitas mereka masing-masing.

Benar sekali, di ruangan itu saat itu akulah satu-satunya perempuan. Tentu saja, sebab itu pengalaman pertama bagiku, aku merasa lumayan kikuk, lumayan gugup, meski untuk mengatakan takut agaknya tidak. Meski lelaki-lelaki itu memanglah orang-orang yang belum pernah kutemui, yang karenanya tak sedikit pun bisa kupastikan bahwa mereka orang-orang baik, namun aku seperti meyakini bahwa mereka tak akan melakukan hal-hal buruk terhadapku; tidak di ruangan itu di momen semacam itu yang mengharuskan mereka bersikap profesional. Kehadiranku sendiri di situ, saat itu, adalah untuk urusan pekerjaan. Aku belum akan mengatakannya di sini tapi yang jelas itu sebuah pekerjaan yang tak pernah kubayangkan akan kulakukan. Bahkan sekarang pun, ketika mengingatnya, aku masih tak percaya saat itu aku melakukannya.

Ruangan itu berada di sebuah gedung empat lantai di pinggiran Kota N, tepatnya Prefektur O. Kedatanganku ke sana bermula dari obrolan acak di sebuah forum di internet. Aku memasukkan diri ke forum tersebut sekitar dua bulan sebelumnya, kira-kira dua minggu setelah suamiku pergi bersama selingkuhannya. Apa yang menarik dari forum itu sendiri di mataku adalah betapa luas dan bebasnya topik-topik pembicaraan yang ada; seakan-akan di forum itu siapa pun, tak peduli ia laki-laki atau perempuan, tak peduli ia pegawai kantoran atau ibu rumah tangga, tak peduli ia orang berpendidikan atau tidak, tak peduli ia orang kaya atau miskin, boleh mengutarakan apa pun, dan yang lain akan menanggapinya, sampai akhirnya topik baru muncul menggantikan topik sebelumnya. Sudah pasti di antara topik-topik itu ada yang sedikit menggangguku, atau setidaknya tidak kusukai, seperti hal-hal berbau gore atau porno atau SM (dari sadomasokis, umumnya ditulis “S&M”—penerj.). Tapi biasanya aku tinggal mengabaikannya, dan member-member lain tak akan berusaha menyeretku ikut serta dalam obrolan tersebut, dan karenanya itu bukan masalah. Aku mengakses situs ini setiap hari, terutama malam—menjelang tidur.

Suatu ketika sebuah topik yang ditawarkan salah satu member menarik perhatianku, dan aku mengikutinya, dan lumayan aktif memberikan respons, seperti dengan memunculkan stiker-bergerak atau mengajukan pertanyaan. Semakin lama aku mengikuti obrolan tersebut, semakin aku tergerak untuk mengetahui lebih jauh, hingga aku akhirnya benar-benar membayangkan seperti apa sebenarnya hal yang sedang kami bahas itu; apakah ia nyata atau bualan belaka; apakah ia benar-benar ada atau tidak. Sebelum log out, aku mencatat di selembar kertas hal-hal dari obrolan tersebut yang kuanggap penting, termasuk nomor telepon dan alamat pos serta alamat website. Besok siangnya, saat aku di rumah seorang diri—anak-anakku saat itu masih di sekolah, aku melakukan pencarian menyeluruh terhadap hal tersebut di internet, dan itu berlangsung hingga sore, sampai-sampai aku lupa bahwa aku belum menyiapkan makan malam untuk kami berempat—anakku ada tiga. Besoknya, aku putuskan untuk menelepon.

Singkat kata, beberapa hari kemudian aku berdiri di depan gedung empat lantai itu, dengan setelan santai yang jika kau melihatnya kau akan mengira aku sedang akan berbelanja atau bertemu teman lama. Intinya, bukan setelan yang biasa dikenakan seorang perempuan untuk mengikuti wawancara kerja. Aku berdiri di depan gedung tersebut, cukup lama; cukup lama sampai-sampai aku berkali-kali berpikir untuk tak jadi memasuki gedung itu dan menyetop taksi atau berjalan menuju halte terdekat. Pada akhirnya, seperti yang kugambarkan di awal tadi, aku memasuki gedung tersebut.

Jika di sini kau sudah sangat ingin mengetahui apa sebenarnya sesuatu yang kumaksudkan itu, pekerjaan macam apa yang kulakoni itu, aku harus meminta maaf. Di titik ini aku belum akan mengatakannya, belum akan membocorkannya. Aku justru akan sedikit bercerita tentang kehidupan rumah-tanggaku.

Aku dan suamiku menikah sebelas tahun sebelumnya. Dari pernikahan kami itu, aku dikaruniai tiga orang anak, dengan dua diantaranya perempuan, dan si anak tertua saat itu berusia sembilan tahun—kelas 3 SD. Kehidupan rumah tangga kami, bisa dibilang, sangatlah lancar. Aku dan suamiku nyaris tak pernah bertengkar dan anak-anakku tidak ada yang terlampau nakal-cum-menyebalkan seperti Shin-chan (Nohara Shinnosuke, tokoh utama di manga/anime Crayon Shinchan—penerj.). Dari segi finansial pun, terbilang lancar. Baik aku atau anak-anakku tak pernah kekurangan apa pun. Suamiku apalagi. Dari sebelum kami menikah pun suamiku sudah memiliki penghasilan yang lumayan besar dan inilah kukira salah satu alasan mengapa sebelas tahun sebelumnya itu aku dengan mudahnya menerima lamarannya. (Hal yang sama dilakukan kedua orangtuaku.) Ketika kau menikah dengan seseorang, kau tentu berharap kehidupanmu setelahnya adalah kehidupan yang nyaman, aman, dan menyenangkan. Dan tentulah kau berpeluang besar mendapatkannya, jika kondisi pasanganmu seperti kondisi suamiku saat itu.

Selama kami berumahtangga, suamiku memperlakukanku dengan baik. Tadi aku sudah sedikit menyinggung soal pemenuhan tanggung jawab finansialnya. Uang bulanan darinya selalu lebih dari cukup; aku bahkan bisa membeli sejumlah pakaian atau aksesori atau perabotan dapur atau bahkan perhiasan dari uang bulanan tersebut. Aku juga bisa mempercantik diri secara berkala, entah itu di salon atau spa atau pusat kecantikan yang kualitas dan pelayanannya di atas rata-rata. Dan bukan hanya soal materi, sikap dan tingkah laku dan ucapannya pun menyenangkanku. Ia nyaris sempurna sebagai seorang lelaki dan suami, kecuali bahwa wajahnya tidak termasuk tampan; aku tak mungkin mengkategorikan suamiku itu sebagai ikemen (sebutan orang Jepang untuk lelaki yang tampan dan memesona—penerj.). Tapi tentu ketidak-ikemen-annya itu bukanlah satu hal penting dalam hal ini; kendatipun suamiku bukan seorang ikemen, aku toh tak akan meninggalkannya atau mengkhianatinya gara-gara itu, maksudnya. Aku sendiri, jika bicara soal penampilan fisik, sangatlah percaya diri. Aku cantik dan beratku bersesuaian dengan tinggiku, dan aku selalu menjaga agar diriku begitu bersih dan begitu wangi, begitu enak dipandang dan enak didekati. Bahkan, dan ini mungkin yang paling penting, payudaraku besar.

Dengan segala pesona yang kumiliki itu, bahwa suamiku akhirnya berselingkuh dan memilih pergi bersama selingkuhannya tersebut, tentulah sesuatu yang sulit dipercaya, bahkan tak masuk akal. Aku sempat mencoba melihat hal ini sebagai mimpi, atau gosip murahan di televisi, namun terbuktilah itu sia-sia. Suamiku benar berselingkuh. Ia memiliki perempuan lain dan telah menjalin hubungan istimewa dengannya sejak dua tahun sebelum kepergiannya itu. Aku marah? Entahlah. Mungkin tidak. Agaknya aku lebih ke kecewa dan tak percaya ketimbang marah. Bahwa suamiku kemudian memutuskan untuk tetap memenuhi tanggung jawab finansialnya seperti biasanya, meski ia sudah tak lagi hidup bersama kami, barangkali menjadi salah satu alasan dari sikapku yang sedikit aneh tersebut.

Kami tidak bercerai, jika itu yang kautanyakan. Kepergiaannya itu pun, sesungguhnya, bukanlah kepergian yang tiba-tiba. Ia mengutarakan niat dan rencananya secara terang-terangan kepadaku—meski tidak kepada anak-anak, dan di situlah ia meyakinkanku bahwa aku dan anak-anak akan baik-baik saja; ia tidak akan membiarkan kami kelaparan atau kesusahan meski ia akan tak lagi ada di sisi kami. Aku menghargai keputusannya ini, meski tetap sulit menerima kenyataan ia telah memalingkan diri dariku dan memilih perempuan lain. Apakah perempuan itu lebih cantik dariku? Ia bilang tidak. Apakah perempuan itu lebih baik dariku? Ia bilang tidak. Jikapun ia harus mengutarakan alasan di balik perselingkuhannya itu, ia bilang, itu dikarenakan ia tak lagi melihatku sebagai pasangan yang benar-benar pasangannya; bukan seseorang yang ia ingin temui setiap hari lantas ia peluk dan ia cium, misalnya. Aku tak mengerti apa maksud kata-katanya itu; atau mungkin aku mengerti, namun aku berusaha keras tak mengakuinya. Ketika aku memikirkannya kemudian, saat itu memang sudah cukup lama aku dan suamiku tak melakukan sesuatu yang membuat kami layak disebut suami-istri, pasangan yang benar-benar pasangan.

Seandainya kau berpikir alasan di balik perginya suamiku itu adalah sikap dan tingkah lakuku yang tak menyenangkannya, yang berkebalikan dengan penampilan fisikku yang memesona itu, kau keliru. Sungguh, aku tidak berbohong, selama menjalin rumah tangga dengannya aku selalu menjaga diri agar tak melakukan sesuatu yang buruk, sesuatu yang tak semestinya dilakukan seorang istri kepada suami, seorang ibu kepada anak-anaknya, dan seorang kekasih kepada pasangannya. Aku bahkan menghindari pertemuan-pertemuan rutin dengan tetangga atau teman-teman masa sekolahku, sebab aku tahu jika aku mengikuti pertemuan-pertemuan tersebut maka peluang aku melakukan sesuatu yang tak semestinya itu akan membesar, dan aku sangat mungkin benar-benar menyenangkannya. Misalnya saja, aku jatuh suka kepada salah satu teman masa laluku itu, yang kondisi dan penampakan fisiknya tentu sudah jauh berbeda dibanding yang terakhir kuingat. Atau bahkan, lebih parah dari itu: aku menjalin hubungan rahasia-cum-terlarang dengan lelaki itu.

Aku kira, tak berlebihan jika aku menyebut diriku seseorang yang setia; kenyataannya selama kami berpacaran pun—nyaris lima tahun—aku tak pernah membiarkan diriku tertarik pada lelaki lain. Aku berani bertaruh soal yang satu ini. Suamiku pun, kukira, menyadarinya. Benar-benar menyadarinya. Tapi kemudian ia malah mengkhianatiku; mencampakkanku, dan meninggalkanku. Kepada anak-anak kukatakan bahwa ayah mereka sedang menjalani dinas ke luar kota untuk waktu yang lama, sangat-sangat lama. Barangkali aku membohongi mereka seperti itu, sebab aku tak bisa menerima diriku yang memesona luar-dalam ini dicampakkan oleh ayah mereka.

Setelah suamiku akhirnya pergi, dan aku jadi punya lebih banyak waktu yang harus kunikmati seorang diri—ketika tidur aku tentu sendirian, aku mulai kerap memikirkan banyak hal, termasuk rumahtanggaku itu. Sesekali aku menelepon ibuku atau ayahku, atau adik-adikku, menanyakan kabar dan kesibukan dan semacamnya, namun aku tak yakin aku benar-benar ingin mengetahui hal itu. Sangat mungkin, saat itu aku cuman kesepian. Aku butuh teman bicara, dan merekalah yang terpikirkan olehku. Kepada mereka tentu saja aku tak mengatakan perselingkuhan suamiku juga alasan sesungguhnya di balik kepergiannya. Mereka hanya tahu, suamiku sedang dalam urusan penting di luar kota—untuk waktu yang lama.

Pada saat itulah agaknya aku mulai berpikir aku telah melakukan kesalahan; ada yang salah dengan cara hidupku, dengan caraku menjalani hari-hari sebagai seorang istri dan seorang ibu, hanya saja aku tak menyadarinya. Logikanya, jika kau tak melakukan kesalahan apa pun, jika tak sedikit pun ada yang salah dengan cara hidupmu, maka kau tak akan mungkin ditimpa sesuatu yang buruk, apalagi secara tiba-tiba. Perselingkuhan dan kepergian suamiku tentu sesuatu yang buruk. Aku memang tak menangis tersedu-sedu karenanya, tak juga depresi dan terpikir untuk bunuh diri atau semacamnya, namun itu tetap sesuatu yang buruk. (Karena itulah aku menyembunyikannya dari anak-anak dan adik-adikku dan orangtuaku, misalnya.) Namun berapa kali pun aku berusaha keras menemukan kesalahanku itu, aku tak juga menemukannya. Aku telah menjalani hidupku dengan baik. Aku selalu menjaga diri dari melakukan hal-hal buruk. Aku tak pernah sekalipun berpikir untuk berselingkuh. Sungguh. Tak sedikit pun terbersit niat untuk itu. Maka nasib buruk yang menimpaku kemudian, perselingkuhan suamiku dan kepergiannya itu, lagi-lagi, adalah sesuatu yang sulit dipercaya; hampir-hampir tak masuk akal.

Katakanlah aku frustasi, sebab tak juga menemukan jawaban dari pertanyaan yang kulontarkan sendiri itu. Aku lantas jadi berpikir, aku perlu melakukan sesuatu untuk menghibur diriku, untuk membuat diriku tersegarkan dan terangkat dari situasi tak menyenangkan itu. Jika sebelumnya aku selalu menghindarkan diri dari melakukan hal-hal buruk, mungkin kini aku harus mencoba melakukannya, pikirku saat itu. Kebosanan, kejenuhan, barangkali telah mendorong pikiran itu muncul. Maka aku pun membenamkan diri ke dalam rutinitas malamku di forum yang kusinggung tadi itu. Maka aku pun, tak lama setelahnya, mendatangi gedung empat lantai di Prefektur O—yang tadi telah kusebut itu.

Sekarang, aku akan memberitahumu pekerjaan macam apa yang sebenarnya kulakukan di ruangan yang kudeskripsikan di awal tadi itu. Kau sudah sangat menantikannya? Berbahagialah.

Para lelaki yang kugambarkan itu, adalah orang-orang yang memproduksi film-film biru. Benar, kau tak salah membaca: film-film biru. Itulah kenapa ketika aku telah berdiri di depan gedung tersebut aku malah berpikir untuk beranjak dan pulang, sebab di detik aku masuk aku pastilah akan terjebak di sana hingga urusanku selesai. Aku tahu itu. Saat aku mengisi formulir, saat lelaki asing di hadapanku itu mewawancaraiku, aku merasakan dadaku berdebar-debar; jantungku berdetak dengan kecepatan yang tak mungkin bisa kau sebut normal.

Untuk sekadar menenangkan diri, aku mengingat-ingat obrolanku dengan para member di forum itu. Salah satu dari mereka, si pencetus topik, mengatakan bahwa aku tak perlu melakukan sesuatu di luar kontrak yang kutandatangani. Mereka tak akan memaksaku. Begitulah katanya saat itu. Dengan kata lain, jika kedatanganku ke tempat itu adalah untuk membiarkan seorang lelaki bermain-main hanya dengan payudaraku, benar-benar hanya itu, maka ia memastikan itulah yang akan terjadi. Mereka tak akan melangkah lebih jauh. Tidak akan.

Aku menarik-embuskan sebuah napas panjang; mengatur kembali detak jantungku. Wawancara itu sendiri rupanya berakhir tanpa aku harus melakukan apa pun, tanpa aku harus memperlihatkan payudaraku atau apa pun. Si lelaki yang mewawancaraiku itu bilang, mereka menyediakan waktu paling lama satu minggu bagiku untuk berpikir; kalau-kalau aku sesungguhnya tak sepenuh hati dan berniat membatalkannya. Aku tanyakan padanya apakah benar di film itu nanti mukaku akan disamarkan—mungkin dibuat seperti mozaik—seperti yang tertulis di kontrak. Ia bilang, pasti disamarkan.

Empat hari kemudian, aku datang lagi ke gedung itu, dan berada lagi di ruangan itu, dan kali itulah aku benar-benar melakukan apa yang tertera di kontrak. Seorang lelaki menghampiriku dan duduk di sampingku, menanyaiku ini-itu seolah-olah ia belum tahu apa pun tentang diriku, seolah-olah wawancara empat hari sebelumnya itu tak pernah ada. Ia lantas memintaku memperlihatkan payudaraku, dan aku melakukannya—dengan malu-malu. Selanjutnya ia memuaskan dirinya dengan mempermainkan payudaraku selama kira-kira setengah jam. Seorang lelaki lain, tentunya, merekam aktivitas kami berdua itu dengan kamera.

Mereka rupanya telah menyiapkan beberapa hal, seperti pakaian ganti untukku, atau mungkin kusebut saja kostum. Sebelumnya, aku memang telah diberitahu bahwa dalam satu hari itu aku akan menjalani tiga kali pengambilan gambar, dengan tiga setting berbeda. Setelah yang pertama tadi, ada jeda sekitar satu jam, termasuk untuk berganti kostum dan menata ulang tata rias. Si lelaki yang menjadi pasanganku di sesi kedua adalah orang yang sama, begitu juga si lelaki di sesi ketiga.

Sesuai dengan yang tertera di kontrak, aktivitas aku dan si lelaki hanya sampai di situ, dan itu cukup melegakanku. Aku kemudian diajak melihat proses penyuntingan, dan di sana aku mendapati wajahku memang disamarkan—serupa mozaik. Syukurlah, gumamku. Memang dari aktivitas satu hari itu aku mendapatkan uang dalam jumlah besar, namun aku tentu akan sangat malu jika orang-orang kelak menemukan diriku dalam video seperti itu, dan mereka menonton video itu sambil memuaskan dirinya masing-masing. Dan yang lebih buruk lagi dari itu: salah satu dari orang-orang itu adalah anakku sendiri.

Setibanya di rumah sore harinya, aku langsung menyiapkan ofuro (maksudnya adalah membersihkan bak mandi dan mengisinya dengan air hangat—penerj.) dan setengah jam kemudian membenamkan diriku cukup lama di sana. Aku telah membiarkan lelaki yang tak kukenal menjamah tubuhku. Ini konyol, pikirku. Kendatipun syukurlah aku tak berhubungan seks dengan lelaki itu, bahkan berciuman pun kami tidak, namun tetap saja itu bukan sesuatu yang layak diingat, dikenang, apalagi diceritakan. Bagaimana seandainya anak-anakku atau orangtuaku atau adik-adikku mengetahui hal ini? gumamku. Atau bagaimana jika suamiku mengetahuinya? lanjutku. Kemudian, sekonyong-konyong, aku dihinggapi rasa bersalah yang kuat; begitu kuat sampai-sampai kedua tanganku gemetar dan belakang kepalaku berdenyut-denyut dengan hebatnya. Aku membenamkan diriku sepenuhnya ke dalam ofuro, dan baru memunculkan kembali kepala setelah tak lagi bisa menahan napas. Tak lama kemudian, aku mendengar bunyi pintu depan dibuka, dan suara anak keduaku mengikutinya. Aku harus menyiapkan makan malam, gumamku. Aku bertahan di ofuro selama sekitar sepuluh menit lagi, sebelum akhirnya keluar.

Kira-kira tiga minggu yang lalu, aku bertemu suamiku. Lebih tepatnya, aku melihat suamiku. Saat itu sore hari, dan aku bersama anak bungsuku baru saja keluar dari sebuah depaato (dari department store—penerj.) dan tengah berjalan santai di trotoar menuju sebuah kafe. Anak bungsuku itu ngebet ingin makan hambaagu (dari hamburger, tetapi sesungguhnya bukanlah hamburger, melainkan sejenis daging yang dibentuk sekepalan tangan dan ditumis—penerj.) di kafe tersebut dan aku mengabulkan keinginannya agar ia berhenti merengek-rengek seperti anak kecil. Lalu tiba-tiba saja, saat kami masih setengah perjalanan menuju kafe, aku ingin menoleh ke kanan, mengamati apa yang mungkin ada di seberang jalan, dan aku melakukannya. Dan begitulah: aku menemukan suamiku.

Memang, bisa jadi aku keliru. Aku sudah bertahun-tahun tak melihat suamiku, dan ia tentulah sudah mengalami perubahan di sana-sini, seperti di bentuk muka atau warna rambut. Tetapi aku yakin, benar-benar yakin, yang kulihat saat itu adalah suamiku. Bagaimanapun aku telah hidup cukup lama dengannya, dan aku dengan sendirinya mengenali hal-hal sepele tentang dirinya, seperti cara ia berjalan atau cara ia menoleh. Dan lelaki itu, sosok itu, langsung mengingatkanku kepada suamiku. Langsung dan benar-benar langsung. Ia memakai setelan kerja dan menjinjing tas hitam yang biasa digunakan suamiku saat bekerja. Sayangnya ia tak menoleh ke arahku dan mempertahankan posisi itu cukup lama. Sebab kami akhirnya tiba di kafe yang kami tuju, dan aku harus memasuki kafe itu yang artinya memunggungi jalan, aku pun kehilangan sosoknya. Setelah kami duduk di salah satu meja di dekat jendela, aku kembali menoleh ke seberang jalan, mencoba menemukan sosok suamiku itu. Tapi sayangnya, aku tak menemukannya.

Malam harinya aku melihat sosoknya lagi, namun di dalam mimpi. Kali ini kami bertemu, dalam arti ia pun melihatku dan mengamatiku. Tak ada yang berubah darinya, dan itu cukup mengherankanku, meski rupanya aku justru merasa senang. Ia lantas menyapaku, menanyakan kabarku, dan berbasa-basi tentang sudah sangat lamanya kami tak bertemu. Suaranya masih suara yang kukenal, dan agaknya saat itu aku tersenyum.

Pertemuan kami itu terjadi di kamarku, dengan aku berbaring di tempat tidur sementara ia berdiri di ambang pintu; pintu dalam keadaan terbuka. Ia lalu membuat gerakan dengan kepalanya, mengajakku bangkit dan menghampirinya lantas mengikutinya. Ini dini hari, pikirku saat itu, mendapati betapa dinginnya lantai dan betapa sunyinya kamar. Aku berjalan, menghampirinya dan mengikutinya. Ia rupanya mengajakku ke dapur yang berada di lantai bawah, dan sementara aku duduk di kursi meja makan ia kulihat sibuk menyiapkan sesuatu untuk dihidangkan; sesuatu yang akan kami nikmati bersama. Ah, mungkin dia sudah menyiapkannya sejak setengah atau bahkan satu jam yang lalu, pikirku. Aku tak sedikit pun menyapanya, atau memanggilnya atau melontarkan pertanyaan seperti kenapa ia tiba-tiba saja muncul—setelah sekian lama. Saat ia telah duduk di salah satu kursi lainnya dari meja makan, mata kami kembali bertemu. Ia tersenyum namun aku tak membalas senyumnya, justru malah cemberut. Apa yang dihidangkannya di meja adalah sebuah kue tart yang telah ia hias sedemikian rupa sehingga tampak sangat enak dan sangat mahal. Di tengah-tengah kue tersebut tertulis ini: “Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-11.”

Persis setelah membaca tulisan itu, yang agaknya ia buat sendiri, aku terbangun. Kamar sungguh sunyi, seakan-akan di sana benar-benar tak ada apa pun selain aku; bahkan aku pun seolah-olah tak ada. Aku lantas memandangi langit-langit, dan terus seperti itu hingga pagi tiba, hingga bunyi-bunyi dari jalan mulai terdengar, hingga jam weker di meja kecil di samping tempat tidur berdering nyaring. Aku merindukan suamiku. Begitulah saat itu aku berpikir. Tapi satu hal kemudian membuatku bertanya-tanya: mengapa harus yang ke-11?

Aku dan suamiku hidup bersama dalam satu rumah selama hampir sebelas tahun. Dengan kata lain, ketika kami semestinya merayakan sebelas tahun usia pernikahan kami, kami tak melakukannya, sebab ia sudah tak ada; ia pergi bersama perempuan yang entah siapa itu. Aku tak tahu apakah suamiku bisa membuat kue atau sekadar menghiasnya, tetapi kurasa ia tak bisa. Bahkan, dan agaknya aku benar, ia jarang sekali terlihat di dapur dan membuat sesuatu; akulah yang selama ini berada di dapur, bukan ia. Sungguh aneh bahwa suamimu sendiri, ketika akhirnya ia muncul dalam mimpimu setelah bertahun-tahun lamanya, justru hadir sebagai seseorang yang berbeda dari yang kau kenal. Apakah ini berarti suamiku telah menjadi sosok yang berbeda—kendati penampakan fisiknya tetap sama? Begitulah saat itu aku menduga. Selanjutnya aku menduga dirikulah ternyata yang telah menjadi sosok yang berbeda itu.

Barangkali ingatanku menipuku, tetapi agaknya selama delapan tahun ini aku tidak pernah sekalipun memimpikan suamiku; tidak kecuali yang satu itu. Apakah ini berarti aku telah merelakannya, begitu saja? Bisa jadi. Anak-anakku mulai menanyakan ayah mereka di bulan keempat atau kelima sejak kepergiannya, dan aku mulai kesulitan meyakinkan mereka bahwa hubungan kedua orangtuanya baik-baik saja dan bahwa ayahnya itu kelak akan pulang, meski tidak dalam waktu dekat. Ketika masa penantian mereka itu mencapai satu tahun, dengan sendirinya mereka berhenti menanyakannya. Anehnya aku tak terlalu ambil pusing soal itu; bahkan melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Si ayah sudah pergi dan anak-anak baik-baik saja dengan itu, dan itu berarti satu hal: tak ada yang perlu dicemaskan. Begitulah barangkali saat itu aku meyakinkan diriku. Aku menjalani babak baru dalam hidupku tanpa suamiku dan aku baik-baik saja dan itu membuatku lega. Tak pernah lagi sejak saat itu, jika ingatanku tak menipuku, aku menyingung ketidakhadiran si ayah ini di hadapan anak-anak.

Berbeda dengan hal itu, bahwa aku pernah melakoni sebuah pekerjaan yang memalukan tadi justru kerap mengusikku. Sewaktu-waktu aku memikirkannya, dan itu terbilang sering. Selama delapan tahun ini aku sudah beberapa kali memimpikan hal tersebut. Pernah bahkan di sebuah mimpi, aku kembali melakukannya, dengan detail yang nyaris sama, yang bahkan berlanjut hingga aktivitas seksual yang sebenarnya—hubungan seks. Itu sungguh mengagetkanku, dan aku terbangun dengan keringat melimpah di kening dan leher, dan merasa harus membersihkan diri di kamar mandi saat itu juga. Itu masihlah dini hari—sekitar pukul tiga. Di mimpi yang lain aku berada di tubuh seorang lelaki yang tengah menonton apa yang kulakukan itu di layar komputernya, dan aku terbangun tepat setelah si lelaki berejakulasi. Sejujurnya, aku heran mengapa aku sampai seterganggu itu.

Kau salah, benar-benar salah, jika mengira aku melakoni lagi pekerjaan konyol nan memalukan itu. Tak ada kali kedua. Sekali saja sudah cukup. Pengalaman itu seperti menyadarkanku bahwa aku tak perlu melakukan apa pun; cara hidupku sudah benar dan kepergian suamiku itu adalah takdir—sesuatu yang bagaimanapun akan terjadi. Sebaliknya, dengan melakoni pekerjaan tersebut, aku justru merasa telah melakukan kesalahan; satu-satunya kesalahan dalam hidupku; satu-satunya kesalahan yang kemudian membuatku tak lagi merasa berhak menyalahkan suamiku atas kepergiannya itu, sebab aku pun bukanlah lagi sosok yang kunilai pantas dipertahankan olehnya. Seandainya di suatu kesempatan suamiku menonton video tersebut dan ia menyadari bahwa si perempuan yang dijadikan “objek” di sana itu adalah aku, tentulah ia akan berpikir bahwa aku ternyata, seperti halnya dirinya, bukanlah sosok yang “bersih”, yang karenanya tidaklah aneh jika ia kemudian merasa apa yang dilakukannya delapan tahun lalu itu bukanlah sesuatu yang buruk, melainkan sebuah kewajaran. Benar-benar sebuah kewajaran. Setiap orang yang kau anggap setia, sesungguhnya bukanlah orang yang setia. Setiap orang yang kau kira setia, pada akhirnya akan mengkhianatimu. Begitulah barangkali ia akan berpikir. Aku tidak senang memikirkannya. Dan aku lebih tidak senang lagi jika hal ini benar-benar terjadi.

Tahun lalu, juga tahun-tahun sebelumnya, meski pikiran tentang pekerjaan memalukan itu kerap menggangguku, aku tak pernah melakukan apa pun untuk mengatasinya. Dengan sendirinya, pikiran itu akan lenyap, lenyap selenyap-lenyapnya—kendati suatu saat ia akan muncul lagi. Tapi kali ini, entah kenapa, aku merasakan dorongan yang kuat untuk menuliskannya, menceritakannya, kepadamu. Aku tak peduli siapa dirimu. Apakah saat menemukan suratku ini kau akan membacanya atau tidak, aku juga tak peduli. Aku tak menyebutkan namaku, dan aku tak akan menuliskan alamat pos atau hal-hal apa pun yang bisa menghubungkanmu padaku. Katakanlah apa yang kutulis ini sebuah pengakuan, semacam pengakuan, yang dengan menuliskannya aku berharap akan sedikit terbebas—jika tidak sepenuhnya terbebas—dari masa laluku yang memalukan itu. Aku berencana menjatuhkan suratku ini di sebuah tempat tinggi di mana di bawahnya banyak orang berkeliaran, dan tentunya mereka bukanlah orang-orang yang kukenal atau mengenalku. Mungkin Tokyo Sky Tower, atau tempat wisata lain, atau bahkan lantai paling atas sebuah depaato. Aku belum memutuskannya.

Ngomong-ngomong soal pekerjaan memalukan itu, aku jadi ingat, setelah sesi ketiga selesai, ketika aku sedang menyaksikan proses penyuntingan, aku menanyakan beberapa hal kepada seorang lelaki di sana, yakni si lelaki yang mewawancaraiku. Saat itu kalau tidak salah aku masih takjub dengan kenyataan bahwa tiga sesi itu benar-benar terbatas hanya pada pasanganku bermain-main dengan payudaraku saja, tidak lebih dari itu, dengan bayaran yang kuterima sangatlah lumayan—terbilang besar. Aku ingin tahu apakah itu semacam anomali saja, atau justru hal yang lumrah; sesuatu yang kerap terjadi. Lelaki itu bilang, tidak kedua-duanya. Untuk dibilang sering rupanya tidak memenuhi, namun untuk dibilang anomali pun bukan. “Semacam selingan saja,” ujarnya saat itu. Aku lantas memintanya memberitahuku kasus-kasus lain—selain kasusku—yang termasuk ke dalam “semacam selingan” itu, dan ia pun bercerita panjang lebar.

“Suatu ketika kami kedatangan seorang perempuan di awal tiga puluhan. Dia cantik, dengan payudara besar, dan gerak-geriknya menandakan dia begitu gugup dan malu-malu. Dia mengisi formulir yang kami sodorkan, dan ketika kami mengeceknya, kami mendapati dia belum pernah sekalipun berhubungan seks. Belum pernah, sekali pun. Itu sungguh mengejutkan, dan aku tak percaya. (Teman-temanku pun tak percaya.) Masalahnya adalah, tidak seperti dirimu, kedatangan perempuan itu adalah untuk melakukan sebuah hubungan seks dengan salah satu dari kami—si aktor yang telah kami siapkan. Kami bertanya apakah dia punya pacar, dan dia bilang punya, dan bahwa dia dengan pacarnya itu sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Benar-benar sulit dipercaya dalam rentang waktu selama itu mereka belum pernah sekali pun berhubungan seks. Bahkan, ini dikatakan si perempuan, berciuman saja mereka belum pernah. Aku mengerutkan kening, begitu juga temanku yang saat itu memegang kamera. Setelah perempuan itu pulang temanku itu berkata si perempuan pastilah berbohong, dan aku membenarkannya. Pikirkan saja. Kau punya pasangan, seseorang yang sudah menemanimu bertahun-tahun lamanya, tapi kau tiba-tiba mengajukan diri untuk membintangi sebuah film biru, yang di sana kau diharuskan berhubungan seks dengan lelaki lain. Hubungan seks pertamamu, adalah dengan lelaki lain, bukan pasanganmu. Itu sungguh tak masuk akal.

“Tetapi rupanya perempuan itu mengatakan yang sejujurnya. Itu kami ketahui beberapa hari kemudian saat dia datang lagi. Dia bukan saja terlihat sangat gugup saat si aktor mulai menyentuhnya, rasa takut pun terlihat jelas di sorot mata dan raut mukanya, juga di gerakan tubuhnya dan suaranya. Aku mulai cemas, dan kecemasanku itu menjadi-jadi saat mereka berdua sampai di adegan utama. Untuk sepenuhnya memasukkan pentungannya ke lubang si perempuan, si aktor membutuhkan lebih dari setengah jam. Ya, lebih dari setengah jam. Aku hampir-hampir mendatangi si produser untuk meminta pengambilan gambar dihentikan—aku saat itu jadi si sutradara. Ketika akhirnya pengambilan gambar itu berlanjut, dan terus berlanjut hingga hampir dua jam, aku merasa bersalah kepada si perempuan; aku seolah-olah baru saja melukainya dan menyakitinya.

“Kali lain, yang kami hadapi adalah seorang ibu rumah tangga. Dia gemuk, dengan payudara besar dan menggantung, dan dia meminta di kepalanya dipasangi topeng ala perampok—warnanya hitam—saat pengambilan gambar dilangsungkan. Itu bukan hal yang aneh, dan kami mengabulkan permintaannya. Yang menarik adalah jawaban yang diberikannya saat kami menanyakan motif di balik apa yang dilakukannya itu. Dia bilang, dia butuh uang banyak untuk mengganti uang suaminya yang telanjur dia gelontorkan begitu saja kepada seorang lelaki. Si lelaki yang dimaksudkannya di sini, adalah selingkuhannya, seseorang yang umurnya jauh lebih muda darinya, seseorang yang pada akhirnya membawa kabur uangnya tersebut dan tak pernah lagi terdengar kabarnya. Kerjasama itu, adalah satu-satunya kerjasama kami dengan si perempuan.”

Dua kasus tersebut, adalah contoh dari betapa bisa sangat mengejutkan dan sulit ditebaknya seorang manusia di kehidupan ini. Begitulah lelaki itu berkata. Dan di matanya, hal-hal seperti ini adalah semacam harta karun, sesuatu yang menguntungkannya. “Bagaimanapun orang-orang butuh sesuatu yang segar atau tak biasa, sebab mereka lambat-laun akan bosan dengan yang itu-itu saja,” ujarnya. Dan dalam hati aku menambahkan: karena itulah bayaran yang aku terima lumayan besar.

Seperti yang kuceritakan tadi, setibanya di rumah setelah melakoni pekerjaan memalukan itu, aku langsung menyiapkan ofuro dan setelahnya membenamkan diri di sana cukup lama; lebih lama dari biasanya. Saat itu sebenarnya aku memperbandingkan diriku dengan kedua perempuan tadi, dan aku merasa tolol setolol-tololnya; merasa dungu sedungu-dungunya. Saat ditanya apa motif dari kebersediaanku menjadi “objek” di film yang mereka garap itu, aku bilang aku sudah sangat lama tak merasakan kedua payudaraku disentuh laki-laki; dengan kata lain, aku mencitrakan diriku sebagai seorang perempuan binal dan murahan, di hadapan lelaki-lelaki yang tak kukenal. Argh, itu sungguh sebuah jawaban yang membuatku mual. Bahkan sekadar mengingatnya saja, sudah membuatku ingin muntah. Bertahun-tahun kemudian di sebuah mimpi, aku berhadapan lagi dengan pertanyaan itu, dan jawaban yang kemudian kuberikan adalah: “Karena suamiku baru saja meninggalkanku, dan aku ingin dia menyesali perbuatannya itu. Benar-benar menyesalinya.” Aku tak yakin dengan yang kukatakan ini, tapi sepertinya, di dalam mimpi aku lebih bisa mengungkapkan apa yang memang ingin kuungkapkan.

Tak terasa, ini sudah hampir pukul tiga. Dini hari. Aku akan segera menghapus file ini usai aku mem-print-nya dan memastikan aku tak akan lagi menyuntingnya. Jika suratku ini kemudian sampai di tanganmu, dan kau benar-benar membacanya, sampai tuntas, aku harap kau lekas membakarnya atau mengguntinginya, atau menyobek-nyobeknya sampai siapa pun tak akan bisa lagi membacanya; dan akan lebih baik lagi jika kau melupakan setiap kalimat bahkan setiap kata yang telah kau baca itu. Aku doakan rumahtanggamu baik-baik saja, jika kau sudah berkeluarga. Jika kau masih lajang, atau bahkan masih sendiri, aku harap kau dilimpahi kebahagiaan di waktu-waktumu setelah ini, dan karenanya kau akan senantiasa tergerak untuk melakukan hal-hal baik—selain tentunya menjaga diri dari melakukan hal-hal buruk yang pastilah akan merugikanmu suatu hari kelak. Mungkin ini terdengar klise, tapi percayalah, jangan korbankan kebahagiaan-masa-depanmu dengan bersengaja melakukan sesuatu yang jelas-jelas buruk. (*)

(Prefektur S, 5 April 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s