Bagaimana Kita (Manusia) Memperlakukan Kata (dan Bahasa)

Sejak tinggal (sebenarnya ngekos, tapi kata “tinggal” sepertinya lebih asoy) di Duta Pakuan, Baranangsiang, untuk menunaikan Salat Jumat saya pergi ke kampus Universitas Pakuan (UNPAK)–jika tidak malas atau ketiduran. Ada mesjid di sana, yang baik ukuran maupun arsitekturnya sebenarnya biasa saja. Saya memilih pergi ke mesjid itu hanya karena itulah mesjid terdekat dari kosan–yang saya tahu. Kalau mau saya bisa saja Salat Jumat di mesjid Botani Square yang besar dan bersih itu, tapi itu artinya saya harus berjalan kaki sekitar lima belas menit dan menempuh sekian banyak anak tangga juga jalan menanjak.

Hari Jumat kemarin (22/4) adalah kali kedua saya menunaikan Salat Jumat di mesjid di kampus UNPAK itu. Saya tidak berharap banyak akan beroleh sesuatu yang menyenangkan; bahkan saya keluar kosan kira-kira lima menit sebelum tengah hari, dengan langkah-langkah malas. Di kali pertama saya Salat Jumat di mesjid itu saya terpaksa harus menyimak ocehan absurd dari sang khotib yang sedikit-sedikit meninggikan suaranya seolah-olah ia sedang berada di tengah-tengah keriuhan.

Tapi ternyata, Salat Jumat saya kali kedua itu memberi saya kesenangan. Sang khotib, tidak melontarkan hal-hal absurd; malahan, ia mengatakan hal-hal yang membuat saya percaya bahwa orang-orang yang tetap waras meski ia “mendalami” agama masihlah ada, terutama di Bogor ini. Apa yang coba disampaikan sang khotib di Salat Jumat itu adalah bahwa kita, sebagai anak, bagaimanapun harus tetap menunjukkan rasa hormat terhadap orang tua, kendatipun orang tua kita itu tidak seagama dengan kita (baca: non-muslim). Dalam redaksi lain: kita tetap harus menghormati orang tua kita kendatipun ia/mereka adalah kafir.

Saya sedang di tengah-tengah salat-menghormati-mesjid ketika ucapan sang khotib itu mendarat di telinga saya, untuk kemudian masuk ke dalam diri saya. Saya tertarik dengan kata “kafir” yang disebutkan di sana; sebuah kata yang tentulah tidak memiliki nilai dan sensitivitas yang sama dengan “non-muslim” atau “berbeda agama”. Pada konteks tertentu, kata ini bisa terdengar kasar, ofensif, bahkan imperialistis. Tetapi kesan tersebut agaknya tidak saya rasakan saat itu. Alih-alih mengucapkannya dengan penuh tekanan dengan disertai gerakan tangan yang menantang, sang khotib justru mengucapkannya dengan santai saja, ringan, seolah-olah kata tersebut tak memiliki imej negatif yang selama ini kerap kita temukan.

Tapi mungkin itulah yang berusaha dilakukan sang khotib: membuat kata yang telanjur memiliki makna dan imej negatif itu jadi terkesan biasa saja, santai, ringan, lumrah. Meskipun jelas sekali kata itu saya dengar namun saya tak sedikit pun merasa terusik, terganggu, atau tersakiti. Mereka yang non-muslim pun saya kira akan seperti itu. Setiap orang yang masih waras tentu bisa membedakan mana kata yang diucapkan dengan penuh permusuhan dan kebencian dan mana kata yang diucapkan dengan biasa saja bahkan penuh kasih sayang.

Maka saya pun, usai salat sunnah yang saya lakukan lebih karena kebiasaan itu, mulai melakukan sejumlah simulasi dalam benak saya, di mana saya, atau lawan bicara saya, mengucapkan kata “kafir” tadi, berulangkali, namun dengan nada bicara penuh kehangatan, persahabatan, bahkan cinta. Misalnya, saya bicara kepada gebetan saya, “Dasar kafir, Kamu. Kafir yang cantik dan baik hati.” Atau, gebetan saya itu yang justru bilang ke saya, “Aku kafir dan kamu suka aku. Kalau aku bukan kafir, jangan-jangan kamu nggak suka aku. Penegasian.” Rasakanlah. Agaknya aneh kalau dirimu mendapati kata “kafir” di sana bernada permusuhan, kebencian, apalagi kemarahan. Itu hanyalah kata biasa, yang kita ucapkan atau tak kita ucapkan pun nyaris tak akan ada bedanya. Sebuah perang antar-kelompok tak akan terjadi dikarenakan hal ini.

Mungkin padanannya adalah seperti seorang perempuan Jepang, dalam dorama atau anime, mengatai teman lelakinya “baka (バカ)”, namun dengan nada yang riang, lembut, atau bahkan manja. Kita tahu, dalam bahasa kita kata “baka (バカ)” sering disepadankan dengan “bodoh”, atau “tolol”, atau “dungu”. (Untuk yang terakhir ini sebenarnya ada kata yang lebih cocok, yakni “aho (アホ)”.) Tapi kata ini, ketika diucapkan dengan cara tadi (baca: riang, lembut, atau manja), akan kehilangan daya ejeknya, daya serangnya, daya tekannya, daya jajahnya. Ia menjadi sebuah kata yang ramah, hangat; seolah-olah menunjukkan kedekatan yang intim antara si pelontar dengan si pendengar. Si pendengar, si teman lelaki itu, malah justru akan senang menerima kata tersebut. Bisa jadi ia setelah itu bersengaja melakukan hal-hal yang mendorong si perempuan mengucapkannya lagi.

Sekarang coba pikirkanlah, dan lakukan simulasi-simulasi dalam benakmu. Ucapkanlah kata-kata yang telanjur dimaknai buruk, yang telanjur dinilai mengandung kebusukan, tapi dengan cara yang melawan itu, yang merekonstruksi makna dan nilai tersebut. Barangkali dengan begitu dirimu lebih bisa memahaminya. Seorang subjek bagaimanapun dibekali kemampuan untuk memperbaiki hal-hal yang telah rusak. Tinggal dirinya saja mau melakukan itu atau tidak.

Katakanlah cara ini ampuh, dalam arti bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari dan berdampak positif. Maka, bahasa menjelma jadi dirinya yang lebih baik. Ia tidak lagi dijadikan kambing hitam semata; sebuah ruang di mana kita manusia menuangkan sebagian sisi gelap kita, dan ia hanya bisa menampungnya. Kitalah si pengguna, sesungguhnya sedari dulu, yang memiliki sisi gelap itu. Bahasa adalah produk kita dan kita kerap memperlakukannya sesuka hati kita.

Dengan begitu, dengan asumsi bahasa berhasil kita dorong–untuk tidak mengatakan kita buat–jadi dirinya yang lebih baik, maka kita, logikanya, akan terhindar dari terlampau sensitif. Setidaknya kita tidak akan lagi mudah kesal apalagi mudah marah hanya karena lawan bicara kita mengucapkan kata-kata itu. Misalnya, jika lawan bicara kita itu mengucapkan kata “gemuk”, sedangkan kita memang terbilang gemuk, itu bisa kita lihat sebagai sebuah cara ia menerima, dan mungkin selanjutnya memaknai, keberadaan kita, kehadiran kita. Tentu saja syaratnya adalah ia mengucapkan kata itu dengan nada yang positif. Hal yang sama berlaku juga untuk kata “mesum” dan “buaya”.

Seandainya ini benar-benar terjadi, maka realitas yang semakin lama semakin bikin penat ini, tentulah akan terlihat berbeda. Lebih bisa dinikmati. Minimal sedikit.(*)
NB. Tulisan ala-kadarnya ini dibuat sambil menikmati versi akustik–atau ballad?–lagu “Nobody” dari Wonder Girls. Minggu pagi yang aduhai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s