Masyarakat-Televisi dan Simplifikasi

Dalam sebuah komedi-situasi (sitcom) di televisi, yang tidak perlu saya sebutkan judulnya, sepasang suami-istri berumahtangga sekian lama tanpa memiliki seorang anak pun. Tidak diterangkan apakah memang si istri tidak pernah melahirkan, atau ia pernah melahirkan namun anaknya itu meninggal tak lama kemudian, ataukah ia tidak bisa hamil sebab salah satu di antara mereka bermasalah dengan kesuburan, atau yang lainnya. Tidak juga ada keterangan seperti apa orangtua masing-masing pasangan suami-istri ini bersikap terhadap ketidakhadiran—atau kebelumhadiran?—sosok anak ini; apakah mereka menerimanya dengan lapang dada, atau diam-diam menaruh-harap sosok anak itu akan ada, atau menuntut pasangan suami-istri itu agar berusaha lebih keras tentang hal ini, atau yang lainnya. Kita, penonton, hanya diberitahu bahwa sosok anak itu tidak ada, dan bahwa sepasang suami-istri ini terlihat baik-baik saja berada dalam kondisi seperti ini bertahun-tahun lamanya; bahkan, tak sedikit pun mereka membahasnya—apalagi mempermasalahkannya. Keadaan mereka ini, seakan-akan, hanya dimaksudkan sebagai pembanding-ekstrem bagi pasangan suami-istri lainnya yang adalah tetangga mereka dan masih terbilang belum-lama-menikah.

Di sejumlah acara unjuk-wicara (talkshow), yang di sini pun tidak perlu saya sebutkan masing-masing judulnya, beberapa orang pemandu-acara (host) memandu para narasumber atau bintang-tamu untuk membahas sesuatu yang biasanya berkaitan dengan hal-hal yang sedang mereka lakukan, namun terkesan semua itu diarahkan untuk menghadirkan semacam kelucuan belaka, suatu kondisi atau situasi yang dengan sendirinya akan mengundang tawa, terutama dari para penonton. Tidak banyak yang bisa didapatkan penonton dari perbincangan intens antara para pemandu-utama dengan para bintang-tamu itu. Tak ada sebuah dialektika yang terjadi, katakanlah begitu. Label unjuk-wicara itu pada akhirnya seperti lebih cocok diubah jadi unjuk-kegembiraan (funshow) atau unjuk-tawa (laughshow), yang fungsinya barangkali sekadar membuat para penonton merasa terhibur. Ya, sekadar itu. Tak terlihat ada upaya untuk mengubahnya jadi benar-benar sebuah unjuk-wicara, yang di sana dialog-dialog konstruktif antara pemandu-acara dengan bintang-tamu—mungkin juga dengan penonton—terjalin. Barangkali, reaksi positif penonton sejauh ini—ditunjukkan dengan rating, misalnya—dinilai mengindikasikan konsep dan wujud seperti itulah yang memang mereka butuhkan. Tak perlulah memperbaiki sesuatu yang sudah kadung laris. Kasarnya begitu.

Dua contoh kasus tersebut, juga kasus-kasus serupa lainnya yang mudah kita temukan di televisi kita saat ini, bisa dilihat sebagai sebuah pemeliharaan atas simplifikasi. Pengabaian terhadap detail. Penggalian kausalitas yang tidak mendalam. Dihadapkan pada kasus-kasus seperti itu, yang intensitas kemunculannya terbilang tinggi (baca: hampir tiap hari), kita seperti diminta terbiasa memberikan pemafhuman atas ketidakberesan atau kecacatan yang ada, yang jika disimak dengan saksama bisa jadi memunculkan kesalahan-logika (logical fallacy) yang mengganggu, yang tak bisa diabaikan begitu saja. Di situ juga terjadi pembiasaan terhadap pengabaian atas hilangnya sejumlah mata rantai penting, sejumlah proses yang semestinya ada. Sepasang suami-istri itu, misalnya; bagaimana mereka bisa bertahan selama itu tanpa sesosok anak seolah-olah tidak pernah sekalipun mereka berbenturan dengan kondisi sosio-kultural atau kebutuhan psikologis mereka sendiri? Terkesan ada upaya nyata menghindari kompleksitas—tempat di mana masalah demi masalah bermunculan. Pada akhirnya, jangan-jangan, para penonton benar-benar terbiasa.

Akan sangat disayangkan jika kemudian keterbiasaan ini berpengaruh besar terhadap cara mereka memandang kasus-kasus lain yang mereka hadapi, di dunia-nyata. Kasus pemerkosaan, misalnya. Ketika ditengarai si pemerkosa dalam keadaan mabuk atau sekadar mengkonsumsi minuman keras saat melakukan aksinya itu, dengan mudahnya disimpulkan bahwa minuman keras itulah, atau lebih tepatnya konsumsi atasnya, yang menjadi akar masalah dari pemerkosaan tadi, sehingga didapatilah solusi-tak-solutif bahwa untuk mencegah terjadinya pemerkosaan lagi minuman keras harus dimusnahkan, penjualannya harus dihentikan, orang-orang yang membelinya harus dikenai hukuman (sosial), dll. Contoh lainnya: games. Konon sejumlah remaja atau anak-anak yang melakukan tindak kekerasan—fisik atau verbal—kerap memainkan games yang kontennya banyak diisi oleh adegan kekerasan, dan disimpulkanlah bahwa games inilah, atau konsumsi atasnya, yang menjadi akar masalah dari tindak kekerasan yang dilakukan para remaja atau anak-anak, sehingga solusi-tak-solutif yang diambil adalah: remaja atau anak-anak—bahkan orang dewasa sekalipun—harus dipisahkan dari games tersebut, akses ke games tersebut harus diputus, dll. Contoh lainnya lagi: terorisme. Hanya karena para pelaku terorisme yang muncul di permukaan (baca: media massa) adalah orang-orang yang terkesan menganut dan mendalami agama Islam, yang kerap terwujud dalam cara mereka berkata-kata dan berpenampilan, maka disimpulkanlah bahwa akar masalah dari terorisme adalah Islam itu sendiri, atau ajarannya, atau lebih tepatnya konsumsi (berlebih) atasnya. Di sini pun, solusi-tak-solutif lainnya muncul—meski tidak sekentara dua solusi-tak-solutif tadi: orang-orang harus dijauhkan—atau setidaknya dijaga—dari (mendalami) Islam (secara berlebih). Simplifikasi.

Pertanyaannya sekarang sederhana: Akankah solusi-tak-solutif itu efektif? Tidakkah ia hanya akan menjadi pemicu munculnya persoalan-persoalan lain, yang tingkat destruktivitasnya lebih tinggi? Lagipula, bukankah jelas sekali solusi-solusi tersebut tidak tepat sasaran—karena itu saya menyebutnya solusi-tak-solutif?

Aku-Kanak-kanak, Aku-Dewasa, dan Keberpihakan Mediator

Dalam diri manusia ada yang namanya aku-kanak-kanak, yang bergerak berdasarkan hasrat, emosi, nafsu, dan hal-hal semacamnya. Di sisi lain, ada aku-dewasa, yang bergerak berdasarkan logika, rasio, nalar, serta moral. Posisi kedua aku ini seperti halnya anak dan ayah, di mana mereka kerap berseberangan dalam menyikapi sesuatu, hanya saja di antara keduanya tidak terjadi konfrontasi langsung, yang artinya mereka membutuhkan sesosok mediator. Sosok mediator inilah kemudian, pada praktiknya, yang kerap mencari semacam “jalan-tengah”, yang di sana tertampung apa yang diinginkan si aku-kanak-kanak juga apa yang diinginkan si aku-dewasa. Katakanlah, sebentuk kompromi. Dalam psikoanalisisnya Sigmund Freud, si aku-kanak-kanak ini disebut id, sementara si aku-dewasa disebut super-ego. Si mediator sendiri, disebut ego.

Jika kita bicara soal kasus pemerkosaan, misalnya, di mana (sejumlah) laki-laki melakukan persenggamaan sepihak dengan (seorang) perempuan, kita bisa melihatnya seperti ini. Di dalam diri si laki-laki, timbul hasrat untuk melakukan kontak fisik dengan si perempuan. Ini sesuatu yang wajar saja, mengingat hasrat ini ada dalam aku-kanak-kanak si laki-laki, dan, jika kita percaya pada konsep Freud mengenai id, apa-apa yang ada dalam aku-kanak-kanak tersebut sudah dimiliki si laki-laki sejak ia lahir; sesuatu yang sifatnya bawaan, atau built-in. (Mengenai hal ini, sebenarnya kita bisa mengkonfrontasikannya dengan konsep hasrat (desire) yang dikemukakan René Girard dalam teori mimesis-nya, tapi mungkin di ruang-waktu yang lain saja.) Namun tentu kita tidak bisa menjadikan hal ini pembenaran (mutlak) atas tindakan kriminal si laki-laki. Dengan kata lain, kita perlu mencaritahu seperti apa aku-dewasa dan mediator si laki-laki, sebab jangan-jangan salah satunya, atau bahkan keduanya, bermasalah, sehingga tindakan kriminal itu bisa terjadi.

Berbeda dengan apa-apa yang ada pada aku-kanak-kanak si laki-laki, jika kita percaya pada konsep Freud tentang ego dan super-ego, apa-apa yang ada pada mediator dan aku-dewasa si laki-laki sangat dipengaruhi—untuk tidak menyebut dibentuk—oleh pengalamannya, oleh apa-apa yang dialaminya. Kondisi keluarga di mana si laki-laki tumbuh dan berkembang, misalnya, memiliki andil dalam mewujudkan seperti apa aku-dewasa-nya; bagaimana tingkat moralitasnya dan bagaimana keberesan logikanya. Apabila kondisi keluarga si laki-laki tak memungkinkannya beroleh aku-dewasa yang berkualitas, maka si aku-dewasa ini nantinya tidak memiliki cukup kekuatan untuk menekan si aku-kanak-kanak—tentunya lewat si mediator. Hal yang sama berlaku untuk lingkungan tumbuh-kembang si laki-laki yang lebih besar—sekolah, kawan-main, masyarakat, bangsa. Tapi perlu diingat: aku-dewasa yang berkualitas ini perlu juga didukung oleh mediator yang berkualitas.

Pada dasarnya, mediator-lah yang bertindak sebagai pengambil keputusan. Apa yang dilakukan si laki-laki, tak lain dan tak bukan, adalah apa yang diputuskan si mediator. Jika si mediator memutuskan untuk lebih condong kepada si aku-kanak-kanak, maka si laki-laki akan cenderung memenuhi hasratnya, yang pada titik ekstremnya ia bahkan mengabaikan keluhan-keluhan—untuk tidak menyebut tekanan—si aku-dewasa. Sebaliknya, jika si mediator memutuskan untuk lebih condong kepada si aku-dewasa, maka si laki-laki akan cenderung menahan hasratnya itu; pada titik ekstremnya ia bahkan meyakinkan dirinya bahwa hasrat itu tak pernah ada, bahwa aku-kanak-kanak-nya saat itu tidaklah ada. Dengan begitu, jelas sudah, kualitas si mediator dalam melakukan mediasi (baca: perhitungan, dialog, negosiasi, pencarian solusi, dll.) sangatlah krusial. Ia menentukan seberapa bisa si laki-laki, atau manusia pada umumnya, mengendalikan dirinya saat dihadapkan pada kondisi-kondisi kritis, atau ekstrem.

Kasus Pemerkosaan dan Solusi-yang-Solutif

Kembali ke kasus pemerkosaan tadi, dengan memanfaatkan pemahaman kita atas aku-kanak-kanak, aku-dewasa, dan mediator, kita akan mudah menyadari bahwa minuman keras, atau konsumsi atasnya, kendatipun berperan dalam terjadinya kasus tersebut, bukanlah akar masalah yang sebenarnya, sehingga menimpakan semua kesalahan padanya hanyalah sebuah upaya mencari kambing-hitam semata; sebuah wujud dari kemalasan berpikir; suatu bentuk nyata simplifikasi. Begitu juga jika kita menimpakan semua kesalahan itu kepada cara berpenampilan—untuk tidak menyebut berpakaian—si korban, dalam hal ini perempuan. Begitu juga jika kita menimpakan semua kesalahan itu kepada konten-konten porno, atau konsumsi atasnya. Sebab semua hal itu, kenyataannya, bisa diatasi jika saja si mediator melakukan tugasnya dengan baik, yang tentunya didahului dengan cukupnya kualitasnya sebagai sesosok mediator. Kendatipun si laki-laki mengkonsumi minuman keras, atau dihadapkan pada (seorang) perempuan yang penampilannya dinilainya “menggiurkan”, atau menikmati konten-konten porno, ia tetaplah tidak akan melakukan tindakan kriminal itu kalau sosok mediator di dalam dirinya berkualitas dan melakukan tugasnya dengan baik. Bahwa si laki-laki kemudian melakukan tindakan kriminal tersebut, itu berarti sosok mediator di dalam dirinya itu tidak cukup berkualitas dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Perhatian terhadap kualitas dan kinerja si mediator inilah semestinya yang menjadi fokus utama solusi pencegahan atas tindakan serupa.

Tidak setiap laki-laki yang mengkonsumsi minuman keras melakukan pemerkosaan. Ini fakta—mudah dibuktikan. Tidak setiap laki-laki yang berhadapan dengan perempuan yang cara berpenampilannya “mengundang” melakukan pemerkosaan. Ini juga fakta. Tidak setiap laki-laki yang menikmati konten-konten porno melakukan pemerkosaan. Ini pun, fakta. Di sini kita jangan sampai lupa bahwa dalam aku-kanak-kanak si laki-laki hasrat untuk itu—atau setidaknya melakukan kontak fisik—ada, juga bahwa dalam aku-dewasa si laki-laki tekanan-tekanan nalar dan moral itu ada—selemah apa pun. Ini artinya, kualitas dan kinerja si mediator benar-benar menentukan; lebih menentukan dari kualitas dan kinerja si aku-dewasa, dan jauh lebih menentukan daripada kualitas dan kinerja si aku-kanak-kanak—yang sifatnya built-in itu. Maka alangkah baiknya kita berhenti membuang-buang energi untuk membenahi sesuatu yang tingkat krusialitasnya rendah. Melakukannya sebagai langkah preventif, mungkin baik. Tapi menjadikannya sebuah fokus utama, apalagi dengan mengabaikan hal-hal lain yang lebih krusial darinya, agaknya tidak.

Solusi-yang-solutif adalah solusi yang dibuat dari analisis saksama terhadap akar masalah yang sesungguhnya, bukan solusi yang dibuat dengan mengabaikannya. Sementara analisis saksama terhadap akar masalah yang sesungguhnya itu sendiri, barulah bisa dilakukan jika kita memperhatikan detail, jika kita menggali kausalitas hingga dalam. Sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: menghindari simplifikasi.

Cara berpikir seperti ini bisa diterapkan juga untuk kasus games dan terorisme.

Televisi dan Tayangan yang Anti-Simplifikasi

Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi dengan mengatakan tayangan-tayangan di televisi yang memelihara simplifikasi adalah akar masalah dari masyarakat penikmatnya—kita sebut saja masyarakat-televisi—yang kerap simplifikatif dalam menyikapi suatu kasus, agaknya perlu juga dimunculkan dan diperbanyak tayangan-tayangan di televisi yang anti-simplifikasi. Ini sebagai langkah pembiasaan saja, yang dampaknya tentu baru akan terasa setelah dilangsungkan cukup lama, dan baru akan benar-benar terasa jika didukung oleh langkah-langkah lain dengan visi yang sama—dalam lingkup keluarga, terutama. Wujud tayangan itu sendiri bisa apa saja. Komedi-situasi, unjuk-wicara, serial-televisi, dll. Satu contoh yang bisa dijadikan rujukan barangkali adalah serial-televisi Lie to Me dengan pemeran-utama bernama Cal Lightman. Tayangan ini, selain memberi penonton wawasan spesifik mengenai cara-cara menganalisis raut muka dan bahasa tubuh, juga memancing penonton untuk meragukan apa yang di permukaan tampak benar, dan di saat yang sama mendorong mereka untuk memberdayakan nalar dan bersikap kritis atasnya—sebab tidak jarang nalar pun keliru. Memang mungkin tayangan semacam ini tidak akan membuat penonton sedikit-sedikit tersenyum dan tertawa, seperti halnya tayangan-tayangan yang disebutkan di awal-awal tadi. Dalam redaksi lain: tayangan semacam Lie to Me ini tidak akan dirasa cukup menghibur para penonton yang sejatinya memang butuh dihibur secepat dan semudah mungkin, sebab di kehidupan sehari-harinya mereka sudah dipusingkan oleh berbagai hal. Ya, berbagai hal. Mulai dari urusan rumah tangga sampai urusan pekerjaan. Mulai dari urusan dengan diri sendiri sampai urusan dengan orang lain. Tapi begini. Coba ingat-ingat lagi apa yang dikemukakan Freud tentang ego—dalam bahasan kita ini: mediator. Yang diupayakan oleh ego, atau mediator, adalah memberi diri (self) kepuasaan jangka-panjang, bukan jangka-pendek. Dengan semata memenuhi apa yang diinginkan aku-kanak-kanak, mediator sesungguhnya hanya memberi kepuasan sejenak; kepuasan yang akan segera hilang dan menuntut pemenuhan lainnya. Itulah agaknya yang terjadi pada televisi kita saat ini. Masyarakat-televisi butuh dihibur, secepat dan semudah mungkin, dan televisi mengabulkannya. Televisi menjadi mediator yang dengan mudahnya berpihak kepada aku-kanak-kanak penonton, dan itu tentu bukan sesuatu yang baik. Seandainya ia bertindak sebagai mediator yang berkualitas, ia akan memutuskan sesuatu yang memberi para penontonnya kepuasan jangka-panjang. Salah satu contohnya: menyajikan juga tayangan-tayangan yang anti-simplifikasi tadi—kendatipun mungkin kurang menghibur.

Perhatikan bahwa di sana digunakan “menyajikan juga”, yang artinya tayangan-tayangan yang sudah ada, yakni yang disebutkan di awal-awal tadi, tidak perlu dihapus. Biarkan penonton memilih. Jangan-jangan, para penonton menjatuhkan pilihan pada tayangan-tayangan yang memelihara simplifikasi itu sesungguhnya dikarenakan tidak adanya tayangan-tayangan lain yang dinilai mereka lebih oke dari itu. Bukan tidak mungkin toh, ternyata, sebuah tayangan anti-simplifikasi semacam Lie to Me tadi justru dinilai (lebih) menghibur oleh beberapa penonton. Dan siapa tahu, dengan intens menikmati tayangan seperti ini, mereka lambat-laun (semakin) menghindarkan diri dari bersikap simplifikatif—terhadap apa pun.(*)

Duta Pakuan, 11 Mei 2016

Ardy Kresna Crenata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s