“Arturo” dan Upaya-upaya Memahaminya

Cerita berjudul “Arturo” karya Rizaldy Yusuf—tayang di Koran Tempo edisi 7-8 Mei 2016—memulai dirinya dengan kalimat berikut: “Ini sebuah kisah belaka tentang pertemuan dan perpisahanku dengan Arturo.” Perhatikan keberadaan kata “belaka” di sana. KBBI menyatakan bahwa arti dari kata “belaka” adalah “semuanya (tiada kecualinya)”, atau “seluruhnya”, atau “sama sekali (tidak bercampur dengan yang lain)”, atau “semata-mata”. Kita bisa menebak-nebak untuk kemudian mendapati bahwa kata “belaka” dalam kalimat pembuka itu lebih ke pengertiannya yang terakhir disebut—”semata-mata”.

Jadi kalimat tersebut bisa juga ditulis seperti ini: “Ini semata-mata sebuah kisah tentang pertemuan dan perpisahanku dengan Arturo.” Di sini, maknanya terang sudah. Si penutur sedang berusaha memberitahu kita bahwa apa yang mungkin kita hadapi saat membaca cerita itu bisa jadi tidaklah luar biasa, tidaklah istimewa, melainkan biasa saja; sesuatu yang bahkan bisa jadi tak meninggalkan kesan apa pun. Kita diwanti-wanti untuk tidak memasang tinggi-tinggi ekspektasi kita. Jika kita berharap menemukan—atau merasakan—sesuatu yang luar biasa, kita “disarankan” si penulis untuk mengabaikan ceritanya itu dan membaca cerita(-cerita) lain saja.

Sebuah apologia, dengan kata lain. Namun juga sebuah cara menantang diri sendiri. Dalam hal apa? Menyajikan penuturan yang menyenangkan, tentu saja. Dengan membocorkan betapa biasanya peristiwa-peristiwa dalam cerita yang tengah ditawarkannya, si penutur kemudian mau tak mau harus berupaya menghadirkan penuturan yang menarik, semata-mata agar kita pembaca tidak benar-benar merasa sia-sia telah menghabiskan waktu dan energi kita untuk membaca ceritanya itu—sampai habis.

Tapi benarkah peristiwa-peristiwa dalam ceritanya itu biasa saja? Jangan-jangan si penutur sedang merendah saja; atau berusaha mengakali kita untuk membuat keluarbiasaan itu lebih terasa efeknya? Itu pertanyaan menarik, dan layak untuk dicaritahu jawabannya. Tapi sebelum ke sana, kita coba telaah dulu penuturannya.

Tentu, kita berharap penuturannya ini tidaklah “biasa”.

Kecenderungan, Otentisitas, dan Latar di Baliknya

Si penutur memberitahu kita bahwa Arturo adalah nama salah satu tokoh penting dalam cerita tersebut, seorang Belanda yang, dari segi “tampilan”, tidak begitu terlihat Belanda—atau Eropa. Ia menjelaskannya seperti ini: “Ia orang Belanda yang dilahirkan dengan nama depan yang terlalu Latin dan perawakan yang kurang Eropa.” Pilihan si penutur untuk menggunakan “nama depan yang terlalu Latin” dan “perawakan yang kurang Eropa” membuat kita dengan sendirinya memperbandingkan si tokoh dengan hal-hal yang kadung kita ketahui—Latin dan Eropa. Memang, terutama soal “perawakan yang kurang Eropa”, kita sebenarnya masih hanya mendapatkan gambaran yang umum saja; belum ke tahap yang mengarahkan kita pada otentisitas si tokoh, misalnya. Tapi setidaknya, cara pendeskripsian seperti ini telah mampu membuat kita tidak hanya membatasi—untuk tidak menyebut menyempitkan—pengamatan hanya pada diri si tokoh itu, melainkan juga ke hal-hal lain di luar dirinya. Sebuah simbol dari pengembangan perspektif, barangkali. Atau sebuah kritik terhadap cara berpikir yang sempit. Sesuatu yang patut kita apresiasi, saya kira.

Hal yang sama kita dapati pada kalimat deskriptif setelahnya: “Matanya terlihat bengis dan rahangnya akan membuat iri para preman pasar.” Sila menganalisisnya sendiri jika penasaran—atau ragu.

Bahwa tersajinya kalimat deskriptif yang mengajak kita melihat juga hal-hal di luar si objek itu bukanlah kebetulan, kita yakini dari tersebarnya kalimat-kalimat tersebut di sepanjang cerita; tidak hanya di paragraf pembukanya. Di paragraf kedua, misalnya, sosok Michael, bos si penutur, dihubungkan dengan Led Zeppelin dan LA Lakers. Di paragraf lain, si penutur dikaitkan dengan almarhum komedian Kasino. Kita agaknya patut menduga si penutur memiliki kecenderungan melakukan pendeskripsian dengan cara seperti ini, entah itu sebatas karena ia menyukainya atau ia bermaksud menyembunyikan sesuatu di baliknya; sesuatu yang bisa jadi menguatkan si cerita atau pesan yang dikandungnya. Tapi tidak perlu kiranya kita menceburkan penelaahan kita sampai ke sana. Di titik ini pun, setidaknya, kita sudah tahu bahwa si penutur—yang berarti juga si penulis cerita ini—memiliki cara bertutur yang oke. Dikatakan oke (bukannya bagus, misalnya), karena sejatinya trik tersebut—jika boleh disebut trik—masih bisa dikembangkan lagi.

Selain cara pendeskripsian tersebut, hal lainnya terkait penuturan yang bisa—untuk tidak menyebut patut—kita telaah dari cerita “Arturo” ini adalah kecenderungan si penutur untuk menyisipkan humor di sela-sela masalah. Kita mendapatinya, misalnya, di kalimat ini: “Satu minggu sebelum tanggal 17 Agustus, aku jatuh tifus dan telepon genggamku rusak; aku harus bertahan dengan telepon genggam lama yang hanya punya tiga fungsi—telepon, SMS, dan mengajarkan keihklasan.” Fungsi terakhir yang disebutkan di sana sangat non-teknis, jauh berbeda dengan dua fungsi yang disebutkan sebelumnya, dan karenanya ia memiliki semacam efek-kejut—selain tentunya ia lucu—yang membuat kita sedikit “disegarkan”. Fungsi yang terbilang nyeleneh ini juga mengandung ironi-cum-paradoksitas. Meski yang dikatakan di sana adalah “mengajarkan keikhlasan”, namun nyatanya itu dimaksudkan untuk menunjukkan betapa hal tersebut sangat tak menyenangkan, dan menyusahkan. Si penutur tampak berusaha menyikapi dengan santai masalah yang tengah dihadapinya tersebut, tanpa mengingkari masalah itu sendiri.

Kasus serupa kita temukan pada kalimat ini: “Orang ini mantan teman sekampungku yang tidak lulus-lulus karena terlalu menelan mentah-mentah ungkapan ‘proses belajar tidak pernah berakhir’.” Alih-alih menegaskan nasib buruk atau kemalangan mantan teman sekampungnya, si penutur justru memberi sedikit nuansa cerah dengan menghubungkannya pada semacam kata-kata mutiara. Di sini pun, ironi dan paradoksitas, hadir. Kadarnya diperkuat dengan adanya kata-kata “menelan mentah-mentah”.

Dua hal terkait penuturan yang telah dikemukakan ini, jika dicermati lebih jauh, mengarahkan kita kepada otentisitas si penutur—atau si penulis—dalam bertutur. Kita bisa mengatakan bahwa si penutur cenderung begini dan begitu. Ini mungkin dipengaruhi oleh “lingkungan” di mana si penutur tumbuh. Akan baik sebenarnya jika “lingkungan” tersebut dimunculkan juga dalam cerita, sehingga sebagai seseorang yang tidak (begitu) mengenal si penutur kita bisa mengukur tingkat kewajaran kecenderungannya ini, apakah ia sesuatu yang dibuat-buat (demi mencapai efek tertentu) ataukah alamiah saja. Menariknya, sesuatu semacam ini justru dilakukan terhadap Arturo. Ia digambarkan gemar menyatakan penilaiannya—atau responsnya—akan sesuatu tidak secara langsung, melainkan sedikit memutar, seperti pada dialognya ini, “Saya sudah mendengar tentang semua anggota tim Michael. Dia memberimu delapan. Tapi kalau kau bisa mendapat lima saja, saya bisa membuang obat tidur ke kloset.” Kalimat penutupnya. Perhatikan itu. Kita akan menduga-duga apa hubungannya nilai lima tersebut dengan obat tidur (juga kloset). Ini bukan sesuatu yang bisa dipahami begitu saja, sepintas lalu, melainkan perlu didahului penafsiran atasnya. Bahwa beberapa kali—jika bukan selalu—Arturo digambarkan menyatakan responsnya lewat cara seperti itu dilatari oleh “lingkungan” tumbuh-kembangnya yang asli Belanda, atau asli Eropa, atau asli Barat. Apakah ini masuk akal, atau tidak, memang perlu dibuktikan di lapangan. Tapi setidaknya, kalau kita menjadikan film-film Hollywood sebagai patokan, seperti itulah agaknya orang-orang Barat—stereotip.

Inferioritas Dunia Ketiga dan Kedekatan Humanistis

Jika diminta menyebutkan siapa tokoh utama dalam cerita ini, bisa jadi kita akan sedikit melakukan perhitungan. Apakah si penutur, atau Arturo? Si penutur adalah juga tokoh dalam cerita yang dituturkannya, dan ia sesosok tokoh penting yang jika keberadaannya dihilangkan maka cerita nyaris tidak akan berjalan; keterlibatannya dalam cerita terlalu besar dan dominan untuk di-anggap-tiada-kan. Tapi di sisi lain, Arturo, terlihat menempati posisi yang lebih tinggi ketimbang si penutur. Kemunculannya memang tidak sedominan si penutur (Arturo tidak (di-)hadir(-kan) saat si penutur berjalan menuju kamar kos temannya yang menjual ganja, misalnya), namun Arturo nyaris selalu dicitrakan mampu menekan si penutur, bahwa si penutur pada akhirnya akan mau-mau saja melakukan sesuatu yang diminta Arturo. Membelikannya ganja, mematikan lagu Arctic Monkeys, dan yang lainnya. Satu-satunya permintaan Arturo yang tidak dikabulkan si penutur hanyalah mempertemukan langsung si orang Belanda itu dengan mantan teman kampungnya yang menjual ganja. Si penutur bahkan, terutama di akhir-akhir cerita, memosisikan dirinya—mungkin secara tak sadar—sebagai seseorang yang selain dekat dengan Arturo juga menyukainya—untuk tidak menyebut mengaguminya. Kerinduan si penutur akan sosok Arturo terasa begitu kuat di bagian di mana seorang wanita bule gemuk dengan kulit berbintik-bintik mengambil alih peran Arturo di kantor, dan ditegas-kekalkan dengan apa yang disajikan di akhir cerita: si pencetak gol di pertandingan sepakbola yang tengah ditonton si penutur adalah orang Belanda—Arjen Robben.

Kita patut curiga, jangan-jangan, dengan menjadikan Arturo seseorang yang begitu dominan terhadap si penutur, sesuatu tentang inferioritas Dunia Ketiga sebenarnya sedang dicoba-tampilkan. Arturo adalah seorang Belanda, seorang Eropa, seorang Barat. Sementara si penutur, meski tak dinyatakan secara terang-terangan, mudah diketahui ia seorang Indonesia. Negara Maju vs Negara Berkembang. Bangsa Penjajah vs Bangsa Terjajah. Dunia Pertama vs Dunia Ketiga. Si penutur yang seorang pribumi itu disajikan tak berdaya menghadapi tekanan demi tekanan dari Arturo yang seorang bule. Itu terjadi bahkan seperti alamiah; begitu mudahnya dan tak memerlukan waktu lama. Inferioritas ini, jadi terasa lebih kuat, jika kita mempertimbangkan bos si penutur yang adalah seorang Amerika—Michael.

Lantas apa yang berusaha dikemukakan lebih lanjut dengan hal itu? Apakah kebencian? Apakah dendam? Atau trauma? Agaknya bukan. Alih-alih ketiga hal itu, yang cenderung tampak mengemuka justru kedekatan yang nyata antara si penutur dengan Arturo, antara bangsa terjajah dengan penjajahnya. (Kebetulan sekali, Arturo adalah seorang Belanda. Bukan Jerman, misalnya.) Inferioritas itu pada akhirnya seakan diterima sebagai sesuatu yang wajar. Tidak digambarkan si penutur membenci Arturo atau terdorong membalikkan keadaan—dirinya balik menekan Arturo, misalnya. Di saat Arturo menceritakan sejumlah kisah pribadinya, bahkan, si penutur dengan sendirinya menjadikan dirinya pendengar yang baik, layaknya teman dekat atau sahabat saja. Pada satu kalimat, Arturo dicitrakan si penutur serupa seorang ayah—hampir-hampir ayahnya sendiri. Ketika Arturo tak lagi berada di dekatnya si penutur tidak ragu-ragu mengakui—meski tidak lewat perkataan—bahwa ia merindukan si orang Belanda itu, bahwa ia entah bagaimana telah (begitu) bergantung kepadanya. Ya, kebergantungan. Inferioritas dan kebergantungan. Inferioritas, penerimaan, kedekatan, dan kebergantungan. Mungkinkah si penulis sedang berusaha menunjukkan hal-hal itu, kepada kita?

Menarik untuk disimak bahwa penerimaan si penutur terhadap Arturo (dan kedekatan di antara mereka yang mengikutinya kemudian) sesungguhnya berawal dari perubahan cara pandang si penutur terhadap Arturo. Ini terjadi di titik di mana Arturo menghampirinya dan menanyainya soal ganja. Sebelumnya, setidaknya dari apa yang tergambar di cerita, si penutur melihat Arturo masih sebatas rekan kerja yang berbeda kebangsaan dengannya. Namun setelah adegan yang dimaksud tadi, di mata si penutur, Arturo bukan lagi semata rekan kerja, namun juga teman bicara, teman minum, teman jalan, bahkan lebih dari itu. Fakta bahwa Arturo memiliki ketertarikan terhadap ganja menyadarkan si penutur bahwa si orang bule ini, si orang Belanda ini, sesungguhnya adalah manusia yang sama sepertinya. (Ingat, si penutur juga memiliki ketertarikan terhadap ganja.) Memang tak bisa dipungkiri Arturo adalah seseorang dari ras dan bangsa yang kadung dianggap maju dan dominan, namun saat keduanya hanyut-larut dalam keasyikan mereka terhadap ganja, hal itu menjadi tak berarti—dikatakan oleh si penutur bahwa ia bisa berteman dekat dengan Arturo karena ganja. Si penutur seorang manusia, begitu juga Arturo. Keduanya memiliki kisah hidup untuk diceritakan, persoalan-persoalan untuk dicemaskan, dan hal-hal sepele untuk dilakukan bersama. Mereka adalah perwakilan atau simbol dari dua hal yang dipisahkan oleh sekat-sekat sosio-kultural, namun kemudian disatukan oleh kemanusiaan. Kedekatan yang terbangun di antara mereka berdua, tak lain dan tak bukan, adalah kedekatan yang humanistis—bukan politis, misalnya.

Detail dan Kebaikan-kebaikannya

Yang dimaksud dengan detail di sini bisa macam-macam. Dialog, deskripsi, itu termasuk detail. Adegan-pelengkap, kalimat-perumpamaan, juga begitu. Jika bicara soal dialog, perhatian kita tentu tertuju pada seberapa bisa ia “mewakili” apa yang sesungguhnya terjadi di antara para tokoh yang terlibat dalam dialog itu, atau yang dilibatkan dalam dialog itu—meski ia tak ikut serta di sana. Jika bicara soal deskripsi, perhatian kita barangkali tertuju pada seberapa mampu wujud deskripsi itu merangsang indera-indera yang kita punya dalam upaya “merasakannya”.

Satu hal yang pastinya tak luput dari perhatian kita jika bicara soal detail adalah kesegaran. Ini, bisa diberlakukan untuk detail jenis apa pun. Apakah dialog-dialog itu klise saja, atau ada semacam kebaruan di sana? Apakah deskripsi itu aus belaka, atau ada upaya mencoba cara-cara baru? Apakah adegan-adegan itu boros-nan-tak-berarti, atau ada makna serta efek yang berusaha dicapainya? Apakah kalimat-kalimat itu standar-standar saja, ataukah ia menawarkan bentukan-bentukan “aneh”—tentunya dalam arti positif?

Di cerita berjudul “Arturo” ini, perkara detail yang potensial untuk dibahas adalah bentukan kalimat dan adegan-tambahan. Deskripsi pun sebenarnya masuk, tapi di bagian sebelumnya tadi sudah cukup dibahas.

Dengan membaca cerita ini secara dekat (maksudnya adalah mencermati sampai ke hal-hal kecil seperti kalimat dan logika sebab-akibat), kita mendapati betapa si penutur terlihat berupaya keras menghindarkan diri dari klise, dan mencoba menawarkan kesegaran bentukan kalimat. Kalimat ini, misalnya: “Matanya terlihat bengis dan rahangnya akan membuat iri para preman pasar.” Sederhananya, si penutur ingin mengatakan bahwa si sosok ini—Arturo—tampangnya sangat laki-laki bahkan cenderung sangar, tapi ia tidak mengatakannya begitu saja, melainkan berusaha merangsang bekerjanya indera-indera kita—penglihatan dan penciuman, minimal. Atau kalimat ini: “Seperti damak yang melesat dari sumpitan, langsung menancap ceruk antara bagian bawah kepala belakang dan tengkuk.” Kata “damak”, yang menurut KBBI adalah “kawat (bambu, dsb.) yang ujungnya ditajamkan dan pangkalnya diberi gabus atau dibebat dengan kapas dan digunakan sebagai peluru sumpitan”, agaknya jarang digunakan, baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam aktivitas tulis-menulis; ia, karenanya, menghadirkan kesegaran. Dan tidak berhenti sampai di situ, penggambaran “damak yang melesat dari sumpitan” tadi dimaksudkan untuk menggambarkan cara bicara Arturo kepada si penutur. Ini pun, tentu saja, adalah kesegaran itu.

Contoh-contoh lain dari bentukan kalimat yang menghadirkan kesegaran itu diantaranya: “Aku kini percaya waktu adalah magnet yang gigih bisa menarik cerita seberat besi”; “Sesekali aku merawat kebun di samping rumah ketika aku sedang butuh pelarian dari kebiasaan merawat kecemasanku sendiri”; “Aku menatap layar dengan pengetahuan sepak bola semata kaki”. Harap dipahami bahwa kesegaran bentukan kalimat tidak boleh keluar dari keberesan logika, agar ia terhindar dari kesan dibuat-dibuat belaka yang adalah tanda bahwa si penutur—atau penulis—sedang menjadi diri-kanak-kanaknya. Yang disebut ketiga tadi, misalnya. Mengapa di sana digunakan “semata kaki” tentulah dikarenakan si penutur tak bisa mengenali atau sekadar membeda-bedakan pemain sepakbola yang satu dengan yang lain sebab ia hanya melihat kaki-kaki mereka, sedangkan kaki, terutama dalam jumlah sebanyak itu, akan cenderung terlihat sama. Berbeda, misalnya, kalau si penutur melihat wajah-wajah si pemain. Dan untunglah si penutur tidak menjelaskan ketidaktahuannya itu sebagai “dengan pengetahuan sepak bola sebatas leher-kepala”.

Sementara itu soal adegan-pelengkap, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah terasanya keinginan si penutur untuk sejenak “melarikan diri” dari jalan-utama cerita. Jalan-utama cerita itu sendiri, di sini, bisa ditandai dengan kemunculan Arturo—judul cerita ini saja “Arturo”. Adegan konyol di perayaan—atau peringatan?—Hari Kemerdekaan RI, misalnya. Atau, adegan saat si penutur menunggu ganja pesanannya di kamar mantan teman kampungnya. Atau, saat si penutur menuju ke kamar itu. Adegan-adegan ini, kalau kita mau sadis, sebenarnya tidaklah penting-penting amat. Mereka dihilangkan pun cerita masih akan tetap berjalan, meski mungkin kehilangan sedikit daya-pijaknya. Nah, daya-pijak itulah, barangkali, yang diemban adegan-adegan tersebut. Memang mereka terlihat berada di luar jalur-utama cerita, dan dengan menikmatinya kita sejenak “melarikan diri” dari si cerita. Akan tetapi, di saat yang sama, kita dibuat menjejak, lebih menjejak, ke cerita. Ini pun membuat si cerita, serta tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, terhindar dari kesan diperintah atau digerakkan oleh si penulis. Kekakuan dan keotoriteran tidak berlaku. Sebaliknya, cerita justru terkesan lentur, dan, dalam arti tertentu, riil. Ini saya kira sesuatu yang baik—bagi cerita dan bagi kita.

Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa adegan-pelengkap dalam cerita ini memiliki fungsi lainnya yang tak kalah penting, yakni menghadirkan motif. Kita tahu, adegan-pelengkap—atau adegan pada umumnya—bisa tersaji dalam dialog atau di luarnya. Keduanya, bisa difungsikan untuk menghadirkan motif.

Yang paling kentara barangkali adalah saat Arturo bercerita soal anjing peliharaannya yang disetubuhi anjing liar. Ini mungkin terdengar sepele dan tak penting, namun sesungguhnya ikut aktif membentuk motif dari kegelisahan, kesunyian, kecemasan, dan penderitaan Arturo. Bahwa ia membutuhkan—atau bahkan memiliki ketergantungan terhadap—ganja bisa dilihat sebagai upayanya mengatasi kegelisahan-cum-kesunyian-cum-kecemasan-cum-penderitaan itu. Demkianlah, adegan-pelengkap yang disajikan dalam dialog itu, yang sepintas terlihat sepele dan tak penting itu, sesungguhnya, adalah bagian yang krusial—bagi cerita.

Kecemasan, Ketakutan, Kepemilikan

Di salah satu percakapannya dengan si penutur, Arturo mengatakan bahwa hal yang paling dicemaskannya di dunia ini adalah anaknya. Usia anaknya itu tiga tahun, dan ia tinggal bersama mantan istrinya—yang artinya tidak bersamanya (lagi). Arturo lantas berkata: “Kautahu kenapa aku cemas tentang dia? Karena dia milikku.”

Seandainya pernyataan Arturo tersebut berhenti di sana, kita sebagai pembaca mungkin tak akan begitu memperhatikannya. Akan tetapi, di bagian lain yang jauh, di “tangan” si penutur, pernyataan tersebut dimunculkan lagi, meski dalam wujud yang berbeda. Ini membuat kita mau tak mau mengingat lagi pernyataan Arturo di dialog tadi, dan memperbandingkannya dengan pernyataan-ulang dari si penutur, dan akhirnya mulai menerka-nerka apa perlunya pernyataan tersebut diulang.

Pernyataan-ulang dari si penutur itu sendiri adalah ini: “Kautahu, kenapa aku takut padanya? Karena dia milikku.

Oke. Katakanlah diulangnya pernyataan tersebut—meski dalam wujud yang berbeda—menandakan bahwa ia bukan sekadar pernyataan, bukan sesuatu yang boleh dilupakan begitu saja. Ia mungkin memiliki makna, atau mengemban misi tertentu; ada sesuatu hal berharga di dalamnya yang bisa kita temukan kalau kita mencoba mencermatinya betul-betul. Sebuah tantangan? Bisa jadi. Maka dari itu mari kita coba menemukan sesuatu berharga tersebut.

Bagian yang tidak berubah dari pernyataan itu: “Karena dia milikku.” Ini bisa kita jadikan patokan, sekaligus kita lihat sebagai kunci untuk membuka pemahaman akan maksud tersembunyi dari pernyataan tersebut. Bagian yang berubah sendiri, perubahannya hanya terletak pada satu kata—yang satu “cemas” sedangkan yang satu lagi “takut”. Kecemasan, ketakutan, yang dimiliki (si aku). Digunakannya kata “karena” menandakan faktor “dimiliki” inilah yang jadi penyebab munculnya “kecemasan” dan “ketakutan” tersebut. Maka, timbullah pertanyaan: jika faktor “dimiliki” itu tidak ada, atau tidak berlaku, apakah “kecemasan” dan “ketakutan” itu tetap akan muncul?

Hasil analisis kita barusan membawa kita pada dugaan bahwa yang berusaha disampaikan si penulis dengan (dua) pernyataan tersebut adalah “kecemasan” dan “ketakutan” baru muncul dan dirasakan seseorang apabila objek dari “kecemasan” dan “ketakutan” itu “dimiliki”—atau dirasa dimiliki—oleh seseorang itu. Pada kasus pertama, yakni dialog dari Arturo tadi, objek tersebut adalah anaknya yang berumur tiga tahun. Pada kasus kedua, objek tersebut adalah ibu si penutur—yang menurutnya mengomel hampir setiap hari.

Jadi begitukah? Bahwa karena sesuatu itu kita miliki, kita lantas dihantui rasa cemas dan atau takut akan terjadinya hal-hal buruk terhadapnya? Kehilangan sesuatu itu, misalnya. Si anak bisa saja tak sedikit pun mengenal ayahnya ketika ia mulai bisa mengingat, dan itukah yang dicemaskan Arturo? Si ibu, bisa saja hidupnya tidak bahagia atau terkena penyakit serius yang dilampiaskannya lewat omelan-omelannya itu, dan inikah yang ditakutkan si penutur? Bagaimanapun, kita sebagai pembaca hanya bisa menduga-duga. Si penulis—ataupun si penutur—tak memberi kita penjelasan terperinci akan hal ini; justru, kita dibiarkan penasaran dan menduga-duga. Anggaplah dugaan kita ini tepat sasaran. Lantas, benarkah hal ini berlaku sungguh di dunia nyata?

Bahwa kita memiliki sesuatu—atau seseorang—dan kita sewaktu-waktu cemas atau bahkan takut sesuatu yang buruk menimpanya, atau memisahkannya dari kita, itu agaknya wajar. Sangat-sangat wajar. Kita punya pacar, misalnya, lalu pacar kita diambil orang lain atau meninggalkan kita dan memilih orang lain, itu tentu sesuatu yang kita cemaskan, bahkan takutkan. Tetapi perasaan cemas ini bisa jadi tetap kita rasakan—meski dalam tingkatan yang berbeda—kendatipun seseorang itu bukanlah pacar kita, melainkan seseorang yang kita sukai, atau sayangi, atau inginkan. Ya, bukankah begitu? Setidak-tidaknya akan ada perasaan tidak nyaman mendapati seseorang yang bukan milik kita itu menjauh dari kita, apalagi jika sampai melupakan kita. Dalam hal ini, memiliki sesuatu, atau dimilikinya sesuatu, tidak menjadi faktor mutlak dari timbulnya kecemasan dan atau ketakutan yang berkaitan dengan sesuatu itu.

Jadi agaknya upaya kita memenuhi tantangan si penulis itu tidak sepenuhnya membuat kita bahagia. Kita tak mendapatkan satu kesimpulan meyakinkan. Kita hanya mendapatkan “sketsa”, bukan “gambar utuh”. Si penulis mungkin masih perlu memberikan satu-dua petunjuk lainnya agar upaya kita itu berbuah hasil yang lebih baik.

Cerita Biasa vs Penceritaan Biasa

Sekarang kita kembali ke pertanyaan kita di awal tadi: Apakah benar cerita yang disajikan si penutur ini hanyalah cerita biasa?

Seperti apa cerita yang biasa sebenarnya perlu kita definisikan dulu. Apakah cerita yang tidak menghadirkan banyak kejutan, terutama dalam hal adegan atau peristiwa? Ataukah cerita yang nyaris sepele dan terkesan hanya main-main belaka tanpa ada niat menghadirkan realizing effect? Ataukah cerita yang kalimat-kalimatnya biasa-biasa saja dalam arti tidak istimewa sama sekali? Ataukah yang lainnya? Untuk memudahkan pendefinisian kita, kita coba membedakan cerita biasa dengan penceritaan biasa. Segala hal yang berkaitan dengan cara bercerita atau teknik bercerita, kita masukkan ke “penceritaan”. Sementara soal adegan-adegan atau peristiwa-peristiwa yang ada di dalam cerita, kita masukkan ke “cerita”. Dengan begitu, cerita biasa berarti cerita yang di dalamnya adegan-adegan atau peristiwa-peristiwanya biasa saja, dalam arti tidak banyak memberi kejutan, bahkan bisa jadi tak meninggalkan kesan. Di sisi yang lain, penceritaan biasa berarti cara-cara bercerita yang biasa saja, dalam arti teknik-teknik bercerita yang digunakan di dalamnya tidak istimewa—bahkan aus. Lalu apakah cerita berjudul “Arturo” ini adalah cerita biasa, atau cerita dengan penceritaan biasa?

Dilihat dari adegan-adegan yang ada di dalamnya, bisa dikatakan cerita berjudul “Arturo” ini adalah cerita yang biasa, sebab selain adegan di mana Arturo menanyai si penutur apakah ia mengisap ganja, tak ada lagi adegan yang bisa disebut mengejutkan. Mereka mengisap ganja bersama-sama, mereka mengobrol, mereka bertemu dan menghabiskan waktu. Itu biasa saja. Namun penceritaannya agaknya tidaklah biasa—meski mungkin belum sampai ke tahap istimewa. Dari telaah-telaah kita tadi sudah jelas terlihat ada hal-hal menarik dari teknik berceritanya yang memberi kita kesenangan—bahkan kesegaran. Maka dengan kata lain, cerita berjudul “Arturo” ini, adalah sebuah cerita biasa dengan penceritaan yang tak biasa. Dan apakah ini baik? Saya kira iya. Seorang penulis (fiksi) yang pada dasarnya adalah kreator tentulah dituntut untuk kreatif, yang artinya ia bisa memilih melakukan satu dari tiga opsi ini: 1) mengemukakan sesuatu yang baru dengan cara lama; 2) mengemukakan sesuatu yang lama dengan cara baru; 3) mengemukakan sesuatu yang baru dengan cara baru. Kesegaran dan cara bercerita, bisa kita kategorikan sebagai kebaruan yang dimaksud. Maka meskipun apa yang diceritakan terbilang biasa-biasa saja, sebab penceritaannya tidak biasa, si penulis sudah bisa dianggap menunaikan tugasnya dengan baik, dan karenanya kita perlu memberikan apresiasi yang positif atas kinerjanya ini. Tentu, ia masih bisa jauh lebih baik lagi.(*)

Sindangbarang, 14-15 Mei 2016

Advertisements

One thought on ““Arturo” dan Upaya-upaya Memahaminya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s