Real World (リアルワールド) Part 1_1

Di Jepang, sekolah dimulai di bulan April dan diakhiri di bulan Maret tahun selanjutnya; terdiri dari tiga termin, yang dipisahkan oleh liburan pendek di musim semi dan musim dingin, serta liburan panjang di musim panas. Para siswa menempuh sekolah dasar selama enam tahun, sekolah menengah pertama selama tiga tahun, dan sekolah menengah atas selama tiga tahun.

 

Bab Satu

Ninna Hori

 

Aku sedang membentuk alisku ketika sirene alarm-peningkatan-kadar-asap berbunyi. Bunyi itu selalu kudengar setiap harinya sejak liburan musim panas dimulai, dan karenanya aku tak lagi terkejut. “Perhatian perhatian…” Terdengar suara seorang perempuan menggema dari pengeras suara. “Laporan mengenai polusi udara telah dikeluarkan,” lanjutnya. Dan sirene itu terus berdengung dan berdengung, serupa seekor dinosaurus tua yang mengerang kelelahan.

Kebanyakan dari laporan-laporan ini diberitakan di pagi hari, biasanya tepat saat aku akan pergi kursus. Tak seorang pun tergerak untuk melakukan sesuatu setelah menyimaknya. Setiap orang, justru, seakan-akan berpikir, “Ah, itu lagi.” Satu hal yang ingin kuketahui adalah di mana pengeras-pengeras suara itu disembunyikan. Bagiku, hal ini lebih aneh dan lebih menakutkan ketimbang berita-berita tentang asap itu.

Aku tinggal di sebuah kawasan di pinggiran Suginami, Tokyo. Dulunya kawasan ini terbilang menyenangkan, tetapi rumah-rumah tua, semuanya, dirobohkan, dan diganti dengan rumah-rumah untuk sebuah keluarga kecil serta apartemen-apartemen. Ketika aku masih kanak-kanak, beberapa rumah kecil dibangun di mana sebelumnya di sana pernah ada kebun buah plum dan pesawahan. Mereka menggunakan nama-nama yang keren untuk apa yang mereka bangun ini—Estates atau apalah itu—dalam rangka meningkatkan penjualan. Keluarga-keluarga yang tampak bahagia berdatangan, dan di akhir pekan kau bisa melihat mereka berjalan-jalan santai menuntun anjing mereka atau berkendara mengitari kawasan ini dengan mobil-asing-mewah mereka. Tetapi jalan beraspal yang melalui kawasan ini, yang dulunya mungkin adalah lahan pertanian yang kotor, begitu sempit dan kecil. Kudengar sebuah keluarga dua rumah sebelum rumah kami kesulitan memarkir mobil Mercedes-Benz mereka di garasi rumahnya, dan karenanya mereka menjualnya.

Sirene itu terus berdengung dan berdengung. Tepat di antara dengungan yang satu dengan dengungan yang lain, aku mendengar bunyi keras, seakan-akan sesuatu baru saja pecah di luar sana. Rumah-rumah di kawasan ini begitu berdekatan sehingga jika kau membuka jendela kau bisa mendengar para orang tua meneriaki satu sama lain, atau telepon yang berdering. Aku menduga ada jendela yang pecah. Tujuh tahun lalu seorang anak lelaki yang tinggal di rumah di depan agak ke samping dari rumah kami menendang bola dan memecahkan salah satu jendela rumah kami, sebuah jendela di ruangan yang di sana kami menyimpan altar Buddha. Si anak mengabaikan apa yang terjadi, dan tak lama ia dipindahkan ke sebuah sekolah di Kansai. Aku ingat bola yang ditelantarkan itu bergeming di sana di bawah atap rumah kami, seolah-olah ia akan seperti itu selamanya.

Nah, bunyi yang kudengar barusan persis seperti bunyi yang kudengar saat itu. Tak ada lagi anak kecil yang tinggal di depan sana, sehingga sangatlah aneh aku bisa mendengar bunyi sesuatu pecah sekeras itu. Dan semua ini membuatku gelisah. Bisa jadi seorang pencuri membobol salah satu rumah. Jantungku berdegup hebat. Kucoba menajamkan pendengaranku, tetapi aku tak mendengar apa pun lagi. Benar-benar sunyi.

Keluarga yang kini menghuni rumah di depan itu tiba dua tahun lalu. Kami tak punya urusan apa pun dengan mereka. Kadang-kadang, ketika aku menyerahkan buletin komplek kepada mereka, aku menekan bel interkom dan si ibu akan keluar, dengan senyum palsu terpasang di wajahnya. Yang kutahu di rumah itu ada seorang ibu dan seorang ayah dan seorang anak lelaki seumuranku. Sewaktu-waktu si ibu berada di halaman depan, menyapu dengan sebuah sapu dari bambu. Ia mengenakan kacamata berbingkai perak dan lipstik merah cerah yang pastilah akan meninggalkan bekas di cangkir teh yang digunakannya. Singkirkanlah kacamata dan lipstik itu, dan kupikir aku tak akan mengenalinya.

Suatu ketika saat perempuan itu melihatku mengenakan seragam sekolah, ia bertanya, “Kamu anak SMA?” Saat kubilang iya, ia berkata, “Anak kami juga,” dan ia menyebutkan nama sebuah sekolah menengah atas ternama tempat anaknya itu bersekolah, dan tersenyum bahagia. Ibuku, saat hal ini kuceritakan padanya, langsung mendecap dan tampak kesal. Perempuan itu memang terkesan memamerkan apa-apa tentang anaknya, dan ibuku tentu berpikir perempuan itu menghina kami, sebab aku bersekolah di sebuah sekolah swasta khusus perempuan yang tidak terkenal. Tapi aku sendiri berpikir, perempuan itu lebih ke naif. Aku merasa kasihan kepada anaknya sebab ia memiliki seorang ibu yang memalukan seperti itu.

Anaknya ini seseorang yang kurus-semampai dengan bahu turun dan mata yang kecil-muram. Ia, mengingatkanku pada seekor cacing. Cara berjalannya adalah dengan menyeret-nyeret kakinya, dengan kepala dimiringkannya ke satu sisi, dan sama sekali tak menunjukkan gairah. Pernah suatu kali kami berpapasan di stasiun dan ia menghindari tatapanku lantas menghilang di balik gedung. Ia seperti berpikir bahwa jika ia berada di dalam bayangan maka ia tengah menyembunyikan dirinya dari dunia. Dalam hal ini ia seperti ayahnya, yang tampaknya tipe seorang pekerja kantoran. Ayahnya ini mengabaikan keberadaanku seolah-olah aku memang tidak ada. Suatu kali aku keluar rumah untuk mengambil koran malam dan kebetulan ia baru saja pulang. Aku mengangguk padanya, tetapi ia tak meresponnya, seakan-akan aku sosok yang tak terlihat.

“Aku penasaran apa pekerjaannya, ngomong-ngomong,” kata ibuku. “Dia kayak merasa dirinya superior aja dengan askotnya itu (dari ascot—penerj.),” sambungnya. Siapa juga yang peduli dengan askotnya, pikirku. Di mataku, manusia terbagi ke dalam dua kelompok: yang baik dan yang tak baik. Dan keluarga di depan rumah kami itu jelas tergolong ke yang kedua. Kalau saja nenekku masih hidup ia mungkin sudah mengendus sejumlah gosip tentang mereka, tapi ibuku agaknya tidak tertarik ke arah sana. Yang kami tahu tentang mereka, hanyalah bahwa si anak terlihat seperti cacing, si ibu mengenakan lipstik merah, dan si ayah mengenakan askot.

Kembali ke bunyi yang kudengar tadi, sampai titik ini aku belum juga bisa yakin itu apa. Seorang pencuri bisa saja memasuki rumah mereka. Aku tak peduli jika pun itu terjadi, jujur saja. Tetapi, aku tak ingin si pencuri itu juga memasuki rumah kami. Aku mulai panik. Kedua orangtuaku masih di luar (baca: bekerja). Semalam sebelumnya aku tidur telat dan saat itu aku sedang akan menyantap sebuah cup-ramen sebelum berangkat kursus—aku saat itu masih di SMA—dan mendapati seorang pencuri melarikan diri ke rumah kami adalah hal terakhir yang kuinginkan. Ayah suatu kali pernah berkata: hal paling menakutkan di dunia ini adalah seorang pencuri yang (merasa) terpojok dan ia mewujudkan keputusasaannya lewat tindak kekerasan.

Aku mendengar sebuah bunyi-keras lainnya; kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. Bunyi ini berdengung di telingaku, dan itu membuatku gugup, dan rasa gugup ini membuatku tak sengaja mengacaukan alis kiriku. Mungkin harus kuperbaiki, pikirku, sambil memandangi cermin. Saat itulah ponselku di meja bergetar.

“Yo! Ini aku, Mamen,” ujar seseorang di balik telepon. Pastilah Terauchi.

“Aku barusan denger bunyi aneh dari rumah depan—mungkin pencuri atau sejenisnya. Apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

Tapi Terauchi tak menyimaknya.

“PR esai soal Mori Ogai? Aku sudah nulis lebih dari seratus halaman. Haha… Bercanda… Tapi kupikir semuanya bakal baik-baik aja. Ngerti, kan?” Ia mengoceh seperti itu selama sekitar satu menit.

“Terauchi, dengerin. Seorang pencuri kayaknya ngebobol rumah di depan rumahku.”

Oh Meeeen!” Terauchi akhirnya terkejut dan salam-biasa-nya berubah jadi interupsi. Terauchi sebenarnya gadis yang cantik dan menarik, tapi suaranya benar-benar rendah dan basah. Di antara teman-temanku, ia yang paling pintar dan paling lucu.

“Baru aja aku denger bunyi jendela pecah,” ujarku. “Seseorang masuk ke sana, mungkin.”

“Bisa jadi cuman pertengkaran suami-istri.”

“Sepagi ini?” sergahku. “Si suami pasti masih di kantor.”

“Hmm… si istri mungkin lagi kesal dan dia ngelempar cangkir teh atau semacamnya. Pasti kayak gitu,” ujarnya. “Kamu tahu, suatu kali ibuku bertengkar sama ayahku dan dia lepas kontrol; dia lempar itu cangkir-cangkir teh dan piring-piring ke jendela.”

“Ibumu itu ekstrem.”

“Ya, memang,” ujar Terauchi. “Dia lempar piring-piring dan cangkir-cangkir teh itu dengan santainya; diarahkannya ke jalur-batu di taman. Ayahku, tahu nggak, ngasih nama piring-piring itu seolah-olah mereka bayi-bayinya sendiri. Eh, ngomong-ngomong, Toshi-can, aku pengen tahu perkembangan esaimu.”

Toshi-chan. Namaku Toshiko Yamanaka; bagian “toshi” berarti “sepuluh dan empat”, sebab aku dilahirkan di tanggal empat bulan kesepuluh, Oktober. Terlihat sekali orangtuaku tak berusaha berpikir keras saat menamaiku, tapi aku tak memusingkannya sebab aku belum pernah bertemu seseorang dengan nama seperti itu. Nama depan Terauchi (bisa juga disebut nama keluarga—penerj.) adalah Kazuko, dan ia tak menyukainya. Sejauh yang ia tahu, kakeknya yang dari Akitalah yang memberinya nama itu. Teman-temanku saling memanggil satu sama lain dengan nama depan atau nama panggilan mereka, kecuali Terauchi. Ia bersikeras meminta kami memanggilnya dengan nama belakangnya saja.

“Faktanya adalah, aku belum mengerjakannya sama sekali,” kataku.

Ketika kami naik kelas (baca: menjadi senior), guru Bahasa Jepang kami menugaskan kami menulis sebuah esai tentang “Gadis Penari”-nya Ogai. Terauchi selalu bagus dalam tugas-tugas dan ujian. Saat diminta menulis ulasan buku, ia akan mengkopas sebagian esai dari media massa ke dalam ulasannya itu, dan guru kami tak menyadarinya. Aku sedikit terlalu jujur—jujur terhadap kesalahanku, kau bisa bilang begitu—untuk melakukan hal itu. Maka aku pun selalu butuh waktu jauh lebih lama untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut, dan peringkatku di kelas tak pernah sebagus Terauchi. Jangan keliru. Aku tak menilai apa yang dilakukannya itu sebentuk kecurangan. Aku hanya cemas saja kalau-kalau suatu saat nanti kecerdikannya ini menjerumuskannya ke dalam masalah. Aku mencemaskannya karena aku sangat menyukainya.

Ia mengoceh lagi, dengan suaranya yang rendah itu: “Aku kepikiran melakukan semacam analisis psikologis terhadap si tokoh utama.”

“Termasuk Elise?”

“Nggak—dia nggak. Namanya (ditulis) dalam katakana. Apa ya? Oda?”

Aku sama sekali tak tahu apa yang ia bicarakan.

“Bukan itu,” terdengar suara seseorang yang lain. Kali ini Yuzan. “Dia mau ngelakuin analisis psikologis terhadap si tokoh dengan merhatiin versi China kanji namanya. Bisa kamu bayangkan nggak betapa konyolnya itu?”

“Yuzan, aku nggak tahu kamu di sana,” ujarku.

Aku saat itu pastilah terdengar kecewa. Jujur saja, aku memang tidak senang mendapati ia dan Terauchi menghabiskan waktu berdua tanpaku. Itu membuatku merasa dilupakan. Aku menyukai Terauchi, sangat sangat menyukainya. Tapi Yuzan, aku rasa aku tidak cocok dengannya. Ia punya semacam kesukaan dan ketidaksukaan yang ekstrem. Ia benar-benar membenci para perokok, misalnya. Sampah masyarakat, ujarnya suatu kali. Menurutku sikapnya ini tidaklah adil sebab kita bisa melihat para perokok itu dari beberapa sudut pandang. Di sisi lain, kalau ia menyukai seseorang, ia akan mati-matian mendukung dan menjaga seseorang itu, apa pun yang terjadi. Ekstrem dan sulit dimengerti—itulah Yuzan.

“Terauchi pengen ngerjain tugas bareng-bareng. Aku bilang ke dia kalau kita ini bukan anak SD lagi. Beuh!”

“Menurutku sih yang punya ide itu kamu,” sergahku.

Yuzan tertawa. Suaranya bahkan lebih rendah dari suara Terauchi, dan ketika ia mengenakan seragam sekolah ia terlihat seperti seorang lelaki yang mengenakan pakaian perempuan dan mungkin melakukan pekerjaan kotor. Cara berbicara dan kepribadiannya benar-benar seperti laki-laki; tapi tidak namanya, Kiyomi Kaibara—sangat sangat feminin. Nama panggilan Yuzan, tentu saja, berasal dari Yuzan Kaibara, tokoh ayah dalam manga Oishinbo. Ketika ia masih SMP, ibunya meninggal setelah dirawat lama di rumah sakit. Sejak saat itu Yuzan tinggal dengan ayahnya dan kakek-neneknya. Yuzan dan aku sama-sama anak tunggal—hanya kami yang seperti ini di grup-main kami. Setelah ibunya meninggal, Yuzan mulai bertingkah lebih eksentrik lagi, lebih kelelaki-lelakian lagi. Terauchi bilang mungkin saja Yuzan lesbian, tapi aku ragu itu benar. Bahkan jikapun ia benar lesbian, kukira aku tak akan jadi sasarannya, sebab aku pastilah bukan tipenya. Aku pindahkan ponsel ke tanganku yang satu lagi. Ada bunyi yang menarik perhatianku saat Terauchi akhirnya kembali.

“Begitulah, Mamen.”

“Oke. Terserahlah. Jadi gimana? Kuabaikan aja apa yang terjadi di rumah depan itu?”

“Itu urusan mereka, bukan urusanmu. Iya, kan?”

Jawaban tenang Terauchi membuatku merasa lebih baik. “Kamu benar,” kataku. “Oke. Aku berangkat kursus dulu. Sampai nanti.”

“Sampai nanti,” ujarnya, dan menutup telepon. Aku mematikan AC dan mengecek lagi alis kiriku di cermin. Aku tak suka apa yang kulihat, tapi aku tak punya waktu untuk memperbaikinya, jadi aku pergi dengan kondisi alis kiriku seperti itu. Aku mengenakan celana jins dan kemeja hitam tanpa lengan. Bukan tampilan yang enak dilihat, barangkali, tapi aku nyaman dengan itu.

Di luar sungguh-sungguh panas. Aku pakai sandal baru yang kubeli di toko sepatu murah yang berjarak dua menit jalan kaki saja dari rumah, lalu menyiapkan sepeda yang kutaruh di dekat pintu depan. Stang dan joknya terpanggang matahari dan terdengar semacam desisan saat tanganku menyentuhnya. Sesaat kemudian, pintu rumah di depan itu terbanting menutup, dan gerbang depannya perlahan terbuka. Seseorang muncul. Aku cemas, tapi juga penasaran, dan kuputuskan untuk menoleh. Itu si Cacing; celana jins di bawah, kaus biru di atas. Ada tulisan Nike tipis di bagian dada kausnya itu. Ia membawa sebuah tas-gunung hitam yang agaknya pernah kulihat. Untunglah bukan pencuri, gumamku. Si Cacing rupanya sedang di rumah, lanjutku. Merasa lega, aku kemudian menatapnya, dan ia balik menatapku. Entah kenapa ia terlihat bahagia dan bersemangat, seolah-olah ia sedang akan pergi kencan; tampilan seperti itu tidak cocok untuknya. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku darinya. Rasanya aneh; seperti aku baru saja melihat sesuatu yang tak boleh kulihat.

“Panas ya.”

Itu kali pertama ia mengatakan sesuatu padaku. Aku mengangguk, ragu-ragu. Jadi rupanya si Cacing tipe orang seperti itu. Seseorang yang mengomentari cuaca, kepada seseorang sepertiku yang seumuran dengannya. Sambil bersenandung, ia menengadah ke arah matahari. Ia terlihat sangat sehat sehingga sebutan si Cacing tidak lagi cocok untuknya.

“Beberapa menit yang lalu aku dengar bunyi keras dari rumahmu dan itu bikin aku kaget,” ujarku. Aku kira aku memang harus mengatakan sesuatu.

Masih sambil menengadah, ia memiringkan kepalanya. “Oh ya? Kamu pasti salah dengar.”

“Maaf kalau gitu,” ujarku.

Si Cacing terlihat seperti akan mengikuti semacam tur sekolah. Merasa malu, aku menaiki sepedaku, menaruh tas di keranjang di depannya, dan, tanpa menoleh, mulai mengayuhnya ke arah stasiun. Segera aku melewati si Cacing, tapi aku tak mengucapkan “hai” atau apa pun.

Tempat kursusku di dekat pintu-keluar-selatan sebuah stasiun besar yang terhubung ke Chuo-Line (jalur kereta Tokyo-Takao dengan perhentian tidak di setiap stasiun yang dilewatinya—penerj.), empat perhentian dari stasiun di dekat rumah. Aku masih memikirkan si Cacing, lebih tepatnya tentang bunyi-keras dari rumahnya yang kudengar itu, dan dihadang seseorang dengan papan-klip (clipboard) yang biasa memintamu mengisi kuisioner. Biasanya, aku cukup hati-hati untuk menjaga jarak paling tidak tiga puluh yard dengan orang-orang sepertinya, namun rupanya tidak kali itu. Ia memakai setelan yang serius dan kaku: kemeja putih dan celana-sayur hitam, dengan kacamata berbingkai hitam yang saat itu sedang populer.

“Kamu pelajar?” tanyanya.

“Saya sedang buru-buru.”

“Nggak akan lama. Kamu mahasiswa?”

“Ya.”

“Universitas biasa atau Universitas Terbuka?”

“Biasa. Departemen Pendidikan di Universitas Tokyo.”

Aku berdiri dengan ekspresi sama-sekali-tak-berminat-dengan-pertanyaan-pertanyaannya di wajahku. Orang itu—ia laki-laki—tampak terkejut sesaat, sebelum kemudian menuliskan “Universitas Tokyo” dengan tulisan tangan yang buruk. Sebuah senyum-busuk muncul di wajahnya, seakan-akan ia berpikir aku membual, seakan-akan ia tahu aku baru saja berbohong.

“Boleh tahu namamu?”

“Ninna Hori.”

“Bagaimana menuliskannya?”

“Hori ditulis dengan kanji untuk ‘parit’, Ninna sama seperti ‘ninna’-nya Kuil Ninna di Kyoto.”

“Kuil Ninna?” tanya si lelaki, dan aku menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri darinya. Itu kali pertama aku mengenalkan diriku sebagai seorang mahasiswa di Universitas Tokyo. Biasanya, aku katakan kepada orang-orang bahwa aku adalah seorang sekretaris di sebuah kantor, tapi dengan pakaianku yang seperti itu serta tingkahku yang agresif, pilihanku tadi agaknya cocok. Kapan pun kau diminta menuliskan nama dan alamatmu untuk sebuah kuisioner, atau formulir keanggotaan sebuah toko, sebaiknya kau menuliskan nama dan alamat palsu. Itulah yang diajarkan Terauchi. Saat melakukannya pertama kali aku merasa gugup, tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Ninna Hori bahkan terasa seperti nama keduaku saja. Di grup-main kami—yang terdiri dari empat orang perempuan—masing-masing dari kami punya nama palsu yang kami gunakan saat, misalnya, karaokean. Kau harus hati-hati, atau kau akan berada dalam sebuah database, dan orang-orang dewasa akan mengontrolmu. Begitu Terauchi selalu memperingatkan kami.

Orang berikutnya yang mencoba meghentikanku adalah seorang perempuan dengan tampilan mengerikan. Aku mempercepat kayuhanku, bermaksud melarikan diri, tapi si perempuan, mungkin ia sedang benar-benar ingin mewawancarai seseorang, menghambur ke hadapanku, dan ia hampir terjatuh. Rambutnya hitam tebal, dengan potongan serupa mangkuk terbalik; dan ia tak mengenakan make-up. Bibir-atasnya meneteskan keringat. Jejak-putih-keringat tampak di bagian ketiak dari blus-hitam-pudarnya. Saat itu memang sedang panas-panasnya, sehingga aku tak menyalahkannya untuk hal tersebut. Tapi justru karena sedang panas-panasnya juga, aku merasa tidak nyaman. Satu-satunya yang kupikirkan saat itu adalah mendorong perempuan itu dan menyingkirkannya dari hadapanku.

“Maaf,” ujarnya. “Saya sedang belajar meramal dan saya berpikir kamu mungkin punya waktu sebentar saja?”

Seorang peramal. Mereka ada di mana-mana. Tak mungkin ini gratis. Aku memasang ekspresi tenang yang telah kulatih di depan cermin. “Saya buru-buru,” ujarku.

“Maaf kalau begitu.”

Mendapati ekspresi di wajahku, si peramal itu pergi dan mencoba mencari (calon) korban selanjutnya. Tidaklah mudah bagi seorang perempuan muda sepertiku melalui kerumunan di luar stasiun tanpa sesuatu terjadi. Ketika kuberitahukan hal ini kepada ibuku, ia membuang napas kesal dan berkata, “Dulu di zamanku nggak kayak gitu. Sekarang ini banyak orang berbahaya di luar sana.” Ia benar. Di Tokyo saat ini perempuan-perempuan muda dilihat sebagai mangsa-empuk untuk penjualan, atau “marketing leader” untuk membantu perusahaan mendapatkan info soal apa-apa yang bisa dan akan mereka jual. Mereka ingin memperoleh pendapat kami secara cuma-cuma, dan inilah kupikir yang menjadikan kami mangsa-empuk mereka.

Belum lagi para penguntit dan orang-orang mesum; lelaki-lelaki horni, tua maupun muda, yang dengan seenaknya bertanya, “Hey, Sayang. Tarifmu berapa?” Aku sendiri belum pernah berhadapan dengan mereka, tapi ada rumor Terauchi telah beberapa kali berhadapan dengan mereka sejak ia SD—ia bertabrakan dengan mereka di kereta menuju sekolah. Terauchi begitu unik, hampir-hampir jenius, tapi karena ia juga cantik, orang-orang, dari dewasa hingga mahasiswa, kerap meremehkannya. Aku rasa orang-orang mesum itu adalah alasan dari mengapa Terauchi tak terlihat tertarik terhadap laki-laki, juga mengapa ia kadang-kadang terlihat begitu murung, berbicara dengan caranya yang tadi kugambarkan itu, dan depresi. Yah, kita hadapi saja: dunia ini sudah rusak. Dan busuk.

(Diterjemahkan secara bebas dari terjemahan bahasa Inggris oleh Philip Gabriel)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s