Tentang Ini dan Itu Indonesia

Sebagai seorang non-Indonesia yang kadung jatuh-suka kepada Indonesia, dan kebetulan memiliki aktivitas intensif yang membuatmu sering bersentuhan dengan hal-hal Indonesia, apa yang akan kaulakukan saat dihadapkan pada hal-hal Indonesia yang dalam pandanganmu tidaklah baik-baik saja, bahkan sangat problematis? Apakah kau akan diam saja, mengabaikannya, berpura-pura tak menyadarinya, sebab bagaimanapun hal-hal problematis itu berasal dari Indonesia yang kausukai? Atau kau akan bicara, mengemukakannya, mempermasalahkannya, bahkan berkoar-koar, meski di saat yang sama kau menyadari seorang non-Indonesia sepertimu tak memiliki keharusan melakukannya? Atau kau akan memilih jalan tengah, yakni mempermasalahkannya namun dengan cara-cara yang sangat halus, yang akan mampu membenamkan identitas dan kebanggaanmu sebagai seorang non-Indonesia namun di saat yang sama menahan orang-orang Indonesia yang menyimak pengemukaanmu itu dari merasa tersinggung dan akhirnya marah?

Berthold Damshäuser, dalam bukunya Ini dan Itu Indonesia, agaknya, mencoba menempuh pilihan ketiga. Lewat sejumlah kolomnya, ia mempermasalahkan hal-hal Indonesia yang oleh orang-orang Indonesia sendiri mungkin luput dipikirkan, bahkan kadung dianggap benar dan tak bermasalah. Soal sila-sila Pancasila, misalnya. Apa sebenarnya maksud dari tiap-tiap sila itu? Apakah penggunaan imbuhan “ke-an” di sana adalah sebuah kesalahan, atau sesuatu yang disengaja dengan visi dan misi tertentu tersembunyi di baliknya? Bagi sebagian orang Indonesia, terutama mereka yang fanatik terhadap Pancasila, mengangkat hal-hal ini sebagai sesuatu yang bermasalah bisa jadi bukan hal baik; bahkan, sesuatu yang buruk. Kesucian Pancasila, jika ada, seperti terkotori; orang-orang seperti didorong untuk memandang Pancasila sebagai sesuatu yang tidak beres—atau belum beres. Dan ini tentu akan jadi sesuatu yang sensitif jika kita mempertimbangkan si penulis kolom adalah seorang non-Indonesia. Sangat mungkin timbul tanggapan miring bahwa hal-hal Indonesia, apalagi sesuatu yang “suci” seperti Pancasila, hanya boleh diangkat-bicarakan oleh seorang Indonesia. Maka mengemas pengemukaan itu lewat cara yang “segar”, seperti yang dilakukan Berthold dalam bukunya itu, saya kira menjadi sebuah langkah cerdas.

Alih-alih menempatkan “dirinya” sebagai si non-Indonesia yang mempermasalahkan Pancasila, Berthold justru menjadikan “dirinya” dalam kolom-kolomnya itu pihak yang melihat Pancasila tidaklah bermasalah. Pertanyaan-pertanyaan kritis soal Pancasila itu tidak datang dari dirinya, melainkan dari tokoh-tokoh lain yang diperlawankan dengannya—murid-muridnya sendiri. Para murid lebih cerdas daripada dosen mereka. Si dosen sendiri, yakni “dirinya” yang disebut tadi, digambarkan memiliki perangai yang kurang aduhai: ia nyaris seorang yang anti-kritik dan akan memilih “melarikan diri” saat tak lagi bisa membantah argumen murid-muridnya itu. Dihadapkan pada situasi seperti ini, mau tak mau, kita menjadi tergelitik. Si dosen non-Indonesia ini mati-matian membela hal-hal Indonesia yang dipermasalahkan orang-orang non-Indonesia lain, tapi kita disadarkan bahwa pembelaan yang dilakukannya itu tidaklah cerdas; pembelaan-pembelaan itu seperti respons-aktif belaka untuk sekadar menyelamatkan muka dan harga dirinya. Maka, dengan sendirinya, kita dibuat mengerti bahwa hal-hal Indonesia yang diangkat di sana itu memanglah bermasalah. Dan kita tidaklah tersinggung, sebab kita diajak melihat persoalan itu dari kacamata si pembela, sosok yang mungkin merepresentasikan diri kita sendiri. Berthold, bisa dikatakan, telah mengorbankan dirinya untuk membuat kita memahami apa yang berusaha disampaikannya.

___

Uraian di atas mencitrakan Ini dan Itu Indonesia sebagai buku yang layak dan menarik untuk dibaca, dan memang seperti itu. Bahwa si penulisnya seorang non-Indonesia jelas menjadi “nilai jual” tersendiri, selain tentunya cara pandang-cara pandang ke-non-Indonesia-an—atau ke-Jerman-an—yang bisa kita temukan di dalamnya. Perhatian dan minat tinggi si orang Jerman ini terhadap puisi Indonesia, misalnya, patut diapresiasi secara positif, terlepas dari tidak—atau belum?—menyeluruhnya pengamatannya itu, dan terlepas dari “kebergantungannya” terhadap pihak atau kubu tertentu dalam menyalurkan dan mengembangkan perhatian dan minatnya itu. Kedekatannya dengan sejumlah penyair negeri ini, dalam beberapa hal, perlu juga diapresiasi secara positif. Dalam sebuah diskusi tentang bukunya ini di Universitas Pakuan (UNPAK), Bogor, Berthold mengatakan bahwa kedekatan seorang non-Indonesia seperti dirinya dengan seorang penyair Indonesia bagaimanapun memudahkan kerja-kerja kreatif yang dilakukannya, seperti penerjemahan puisi-puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya. “Pertukaran budaya,” kata Berthold dalam Ini dan Itu Indonesia, “tidak lain dan tidak bukan memang sebenarnya merupakan pertukaran ide.” Dan dengan kedekatan antara si non-Indonesia dengan seorang penyair Indonesia, misalnya, pertukaran ide itu bisa berlangsung lebih akurat, lebih efisien, dan lebih menyenangkan. Para penyair Indonesia itu—Berthold setidaknya menyebut dua nama, yakni Ramadhan K.H. dan Agus R. Sarjono—diposisikan Berthold sebagai “pendamping”; mereka mendampinginya ketika proses “pertukaran budaya” itu berlangsung. Dalam bukunya ini sendiri, untuk menunjukkan penghormatannya terhadap sejumlah orang Indonesia yang adalah para pekerja sastra dan memiliki kedekatan dengannya, dan telah berpulang, Berthold menyertakan beberapa tulisan; di sana ia mengemukakan (ulang) kerja-kerja sastra para almarhum, untuk mengingatkan kita akan jasa-jasa mereka.

___

Namun buku ini, lebih tepatnya tulisan-tulisan di dalamnya, memiliki beberapa kelemahan. Yang pertama bisa disebut adalah “kebergantungan” si penulis, Berthold, terhadap pihak atau kubu tertentu dalam melakukan kerja-kerja susastranya. Baiklah kita sebut saja secara terang-terangan: Horison dan Denny J.A. Ketika berbicara soal hal-hal Indonesia dalam kolom-kolomnya—pernah ditayangkan di Majalah Tempo—terlihat sekali Berthold memunculkan sisi kritisnya; kendatipun ia seorang non-Indonesia, namun, dengan caranya sendiri, ia tak banyak menahan diri dari melontarkan kritik-kritiknya itu. Namun rupanya tidak begitu saat ia harus berbicara tentang Horison dan Denny J.A. Visi Horison yang “agamis” dipandangnya sebagai sesuatu yang wajar; bahwa setiap pihak berhak memiliki ideologi tertentu dalam menggerakkan kerja-kerja susastra mereka, terlepas dari baik-tidaknya ideologi ini bagi kesusastraan itu sendiri. Ketika berbicara tentang puisi-esai, meski awalnya menunjukkan keraguan dan “penolakannya”, Berthold akhirnya melunak dengan mengemukakan sisi-sisi positif dari “genre” puisi tersebut, seperti kepedulian terhadap isu-isu sosial dan keharusan mencantumkan catatan kaki—yang menjadikannya “berbeda”. Di mata Berthold, pada akhirnya, berbicara tentang mereka adalah berbicara tentang sesuatu-yang-ia-sudah-banyak-berutang-kepadanya—termasuk “kedekatan” yang disinggung tadi. Kesan seperti inilah yang kemudian tampak, dan tentu saja ini menggoyahkan citra kritis yang telah dibangun Berthold lewat kolom-kolomnya itu.

Yang kedua bisa disebut adalah kecenderungan Berthold dalam menghindari pembacaan-dekat. (Mungkinkah ini dikarenakan ia bagaimanapun menyadari dirinya seorang non-Indonesia?) Ini terlihat terutama dalam tulisan-tulisannya mengenai puisi Indonesia. Di suatu tulisan ia mengemukakan kerinduannya akan bentuk puisi lama, bentuk-bentuk puisi yang mengedepankan dan mengoptimalkan metrum dan rima, namun masih dalam tulisan itu juga ia melontarkan “apologia” bahwa ia tidak sedang mengatakan puisi-puisi dengan bentuk lain tidaklah berkualitas. Seperti apakah puisi yang berkualitas menurut dirinya, pada akhirnya kita tidak tahu. Berthold, si non-Indonesia yang kritis ini, terlihat sekali menahan diri; ia lebih memilih mengapresiasi puisi-puisi Indonesia berdasarkan kesukaan saja, bukannya kualitas. Ia, lebih memilih memaparkan pengetahuannya soal kondisi sosio-kultural di sekitar puisi ketimbang puisi itu sendiri. Menarik, memang, tapi saya kira kita butuh lebih dari itu. Setidaknya, akan baik jika Berthold mampu membuktikan secara tidak langsung bahwa pilihannya menerjemahkan puisi-puisi Agus R. Sarjono ke dalam bahasa Jerman didasarkan pada kulitas puisi-puisi itu, bukan pada kesukaannya belaka—yang adalah efek-samping dari kedekatan yang terjalin di antara mereka.

Kelemahan lainnya yang bisa disebut adalah dipaksa-cantumkannya sebuah cerpen di bagian keempat buku ini. Saya katakan “dipaksa-cantumkan”, sebab cerpen itu belumlah dalam wujudnya yang bisa dikatakan oke. Sebagai sebuah cerpen, terlihat sekali tokoh-tokoh di dalamnya—si saya dan si sopir taksi—semata perpanjangan dari si penulis; mereka bicara, mengobrol tentang ini dan itu, namun mudah sekali diketahui bahwa mereka hanya mengutarakan keras-keras apa yang ada di benak si penulis. Percakapan di dalam taksi itu, terutama soal konflik Dayak-Madura, benar-benar sebuah proyeksi semata dari pemahaman si penulis tentang konflik tersebut. Tidak ada “kehidupan” yang berlangsung di sana. Tidak ada “jiwa”, yang mengisi dan menggerakkan kedua tokoh tersebut. Ini sejatinya adalah satu dari sejumlah teknik dasar dalam menulis cerita, dan fakta bahwa Berthold tak mampu mengatasinya menunjukkan ia belumlah memiliki kemampuan menulis cerita yang oke—apalagi mumpuni. Maka pertanyaan kita kemudian sederhana: mengapa ia tidak menulis esai atau catatan perjalanan saja jika sekadar ingin mengutarakan pemahamannya soal konflik Dayak-Madura tersebut?

Akan menyenangkan, saya kira, jika kita bisa mendengar jawaban-penjelasan darinya tentang hal tersebut.

___

(Saya membeli buku ini di sebuah acara diskusi tentangnya di kampus UNPAK, Bogor, yang si moderatornya adalah teman saya sendiri—begitu juga salah satu pembicaranya. Kehadiran saya di acara tersebut sebenarnya murni untuk memenuhi permintaan si moderator, meskipun pada akhirnya saya menjadi satu-satunya peserta diskusi yang melontarkan banyak pertanyaan dan dalam satu-dua hal bisa jadi membuat kesal para pembicara—termasuk Berthold sendiri. Selepas diskusi itulah saya membeli buku tersebut, dan setelahnya meminta pembubuhan tanda tangan dari si penulis; sebuah langkah antisipatif kalau-kalau kelak di masa depan nanti tanda tangannya ini bisa dilelang. Dan di luar ruang diskusi itu kami kemudian sempat mengobrol—lebih tepatnya saya bertanya dan ia menjawab. Dalam obrolan itulah saya menjadi tahu ia seorang penggemar Borusia Dortmund, dan ia tidak segan-segan mengajak lawan-lawan bicaranya untuk ikut menyukai klub yang konon adalah representasi dari para buruh itu. Lewat raut mukanya, ia sempat mengejek saya, ketika saya bilang padanya saat ini saya seorang penggemar Barcelona.)

Bojongpicung, 10 Juni 2016

Advertisements

One thought on “Tentang Ini dan Itu Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s