Kehidupan, Kekecewaan, dan Ikatan

Berangkat dari proposisi “setiap orang pada akhirnya akan mengecewakanmu”, saya mulai menjaga jarak dan memperhitungkan kedekatan yang mungkin terjalin antara saya dengan seseorang, siapa pun itu. Maksud saya melakukannya adalah agar saya tidak kesulitan melepaskan diri dari seseorang itu jika suatu saat nanti ia benar-benar membuat saya kecewa sampai pada tahap yang melebihi batas toleransi yang saya tetapkan. Tentu saja, itu berarti saya merelakan seseorang yang sebelumnya “ada” dalam kehidupan saya menjadi “tak ada”, dan ini mungkin terdengar muram, bahkan sedih. Tapi saya tidak apa-apa dengan itu. Lebih tepatnya, saya merasa bisa menerima konsekuensi itu dan menjalaninya. Hidup dan menjalin ikatan dengan seseorang yang telah membuatmu benar-benar kecewa, agaknya sebuah hidup yang tak menyenangkan. Saya barangkali akan lebih memilih untuk hidup seorang diri saja daripada harus memaksakan diri beradaptasi dengan kehidupan seperti itu.

Kenyataannya, banyak orang yang semula “ada” dalam kehidupan saya telah mengecewakan saya, mungkin seperti halnya saya mengecewakan mereka atau orang-orang lain yang bukan mereka. Saya mengecewakan seseorang, dan seseorang (yang lain) mengecewakan saya. Ini seperti sebuah lingkaran sebab-akibat yang coba sepenuhnya saya terima. Jelas, dalam setiap “peniadaan” yang terjadi, ada kekosongan yang lekas timbul, yang cepat terasa, dan dampak negatifnya bisa membuat saya tak nyaman. Sangat-sangat tak nyaman. Tapi sekali lagi, seperti yang telah saya katakan tadi, saya tidak apa-apa dengan hal ini. Saya menerimanya, dan akan menjalaninya. Ketika seseorang yang semula “ada” menjadi “tak ada” maka seseorang yang lain akan “ada”—meski untuk kemudian menjadi “tak ada” suatu hari nanti. Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai berpegang teguh pada pemikiran ini. Yang pasti, semakin lama saya semakin menilai langkah yang saya ambil itu sangat tepat merepresentasikan diri saya (di kehidupan ini).

Titik ekstrem dari pilihan saya tersebut adalah sebuah kondisi di mana saya benar-benar sendirian, benar-benar tak memiliki ikatan lagi dengan siapa pun, benar-benar telah “meniadakan” setiap orang yang semula “ada” dalam kehidupan saya. Sewaktu-waktu, saya membayangkannya, dan mendapati betapa sunyinya kehidupan seperti itu, namun di sisi lain betapa ia juga terlihat menyenangkan; sebuah kehidupan tanpa kebergantungan terhadap siapa pun; sebuah kehidupan di mana kau cukup menjadi dirimu sendiri, tanpa perlu memikirkan orang-orang di sekitarmu—sebab mereka sudah “tak ada”. Mungkin kehidupan seperti itulah yang memang paling tepat untuk saya (di kehidupan ini). Tapi sayangnya, saya menyadari, tidak mungkin titik ekstrem itu tercapai. Pasalnya, seperti halnya manusia-manusia lain, saya sudah telanjur menjalani hidup dengan sejumlah ikatan, yang beberapa diantaranya sangatlah kuat. Ikatan darah, misalnya. Apakah saya bisa dengan mudahnya memutuskan ikatan dengan orang tua dan adik-adik saya agar saya bisa menjalani hidup benar-benar seorang diri? Agaknya tidak. Jangankan dengan mudah, bisa melakukannya pun mungkin mustahil; setidaknya di kehidupan ini. Contoh ikatan lainnya adalah ikatan pengalaman. Tentunya, bersama sejumlah orang, saya telah mengalami berbagai hal yang beberapa diantaranya sungguh berkesan, baik dalam arti positif maupun negatif, dan saya kira akan jadi pekerjaan yang luar biasa sulit jika memang saya akan memutuskan ikatan ini. Bahkan dengan orang-orang yang sudah tidak lagi “bersama” saya pun, bisa jadi, ingatan pengalaman itu tetaplah ada. Pada akhirnya, saya seperti terjebak dalam sebuah ruangan tanpa pintu tanpa jendela, tanpa jalan keluar apa pun. Di satu sisi saya menyadari saya begitu ingin keluar dari ruangan itu, di sisi lain saya menyadari bahwa saya tak mungkin bisa melakukannya—secara fisik.

Tapi jikapun benar seperti itu, saya toh masih bisa melakukannya, mewujudkan apa yang saya bayangkan tadi itu, secara psikis. Sedari awal memang inilah yang saya maksudkan. Secara psikis, saya memutus ikatan dengan orang-orang yang telah membuat saya kecewa sekecewa-kecewanya; mereka menjadi “tidak ada”, meski secara fisik mereka ada—dan saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Mengingat pada dasarnya saya seorang nekura dan memiliki hasrat mati yang terbilang tinggi, keadaan tersebut saya rasa bisa saya capai—tentunya dengan banyak perjuangan dan pengorbanan. Yang menjadi masalah adalah: bagaimana kalau seseorang yang hendak saya putus ikatan dengannya itu adalah diri saya sendiri?

Saya baru memikirkan ini beberapa minggu terakhir. Semula, proposisi yang saya sebut di awal tadi itu berbunyi seperti ini: “Semua orang pada akhirnya akan membuatmu kecewa, kecuali dirimu sendiri.” Ya, kecuali diri saya sendiri. Dengan berpikir seperti ini maka saya setidaknya masih memiliki optimisme, dan itu berarti saya masih punya alasan untuk terus bertahan hidup, menjalani kehidupan yang semakin lama semakin tak layak disebut “kehidupan” ini. Tapi kemudian, saya mendapati, diri saya sendiri pun bisa mengecewakan saya; lebih tepatnya, telah mengecewakan saya. Dan saya kemudian menilai kekecewaan saya terhadap diri saya sendiri itu telah melebihi batas toleransi yang saya tetapkan, yang bisa saya tetapkan. Maka langkah yang akan dan ingin saya ambil atas hal ini sangatlah jelas: “meniadakan” diri saya sendiri, meninggalkan diri saya sendiri, memutus segala macam ikatan yang saya miliki dengan diri saya sendiri. Pertanyaannya, apakah itu bisa terjadi?

Memutus segala macam ikatan dengan diri sendiri berarti melupakan diri sendiri. Atau, jika kita definisikan “diri sendiri” itu sebagai bagian dari diri kita yang kita benci, yang ingin kita buang dan lupakan, maka yang dimaksud memutus ikatan tadi itu adalah memisahkan secara sempurna diri kita-yang-ingin-kita-pertahankan dengan diri-kita-yang-ingin-kita-buang. Sederhananya, membuat diri kita ini terbelah, dengan tiap-tiap bagian membawa “sifat-sifat” diri kita yang berbeda.

Di serial-anime berjudul “Tasogare Otome x Amnesia”, salah satu tokoh utama mengalami hal tersebut. Namanya Yuuko. Kanoe Yuuko. Ia benar-benar orang yang baik semasa hidupnya namun harus mengalami sesuatu yang teramat buruk karena kebaikannya itu, yakni dijadikan tumbal untuk menghentikan wabah yang tengah menimpa sebuah desa—desa di mana ia tinggal. Ia dilemparkan ke sebuah ruang bawah tanah dan ditelantarkan di sana; seolah-olah ia dilupakan oleh orang-orang yang pernah mengenalnya dan hidup dengannya di permukaan—bahkan adik kandungnya sendiri. Satu kakinya patah, akibat ia mendarat dengan buruk. Ia kemudian mati perlahan-lahan dalam keadaan membenci dan mendendam kepada orang-orang di permukaan tadi. Tepat, sebelum ia benar-benar mati, ia mencoba menolak kebencian dan dendamnya itu; meyakinkan dirinya bahwa ia sungguh orang yang baik, bahkan kendatipun ia harus menemui ajalnya dengan cara seperti itu. Dan ia berhasil. Ketika ia akhirnya mati, dirinya (baca: jiwanya) terbelah. Yang satu adalah dirinya yang baik sebaik-baiknya itu, yang bahkan tak memiliki ingatan tentang hal-hal buruk yang telah dialaminya. Yang satu lagi, adalah dirinya yang buruk seburuk-buruknya; segala ingatan tentang hal-hal buruk tadi ada padanya, begitu juga dendam dan kebencian itu.

Yuuko dalam serial­-anime itu menjalani “hidup” dengan cara seperti itu, sebagai hantu, selama puluhan tahun. Ia mungkin berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya sedikit-sedikit teringat pada masa lalu suramnya, namun ketika ingatan ini benar-benar terlihat jelas di hadapannya ia akan begitu saja menolaknya lagi, “meniadakannya” lagi, memisahkannya lagi dari dirinya dan melupakannya. Siklus ini baru berakhir ketika ia pada suatu ketika jatuh cinta, itu pun setelah melalui berbagai halangan dan rintangan.

Di novel Sputnik Sweetheart, karya Haruki Murakami, tokoh yang mengalami hal tersebut adalah Miu, seorang perempuan berdarah Jepang-Korea, seseorang yang begitu diinginkan oleh Sumire si tokoh utama. Miu suatu ketika berada di Swiss; ia saat itu masih 25 tahun dan urusannya di negara itu adalah membantu ayahnya memperoleh tanda tangan kesepakatan dari salah satu klien. Singkat cerita, selama menikmati sisa waktunya di negara itu Miu kerap berhadapan dengan seorang lelaki Latin yang ia duga menginginkannya, namun ia sama sekali tak menginginkan lelaki itu. Ia terus menghindar dari lelaki itu, bahkan terpaksa mengubah rute makan malamnya dan yang lainnya. Sampai akhirnya, suatu malam, ia tak bisa lagi menghindari lelaki itu.

Malam itu selepas makan Miu entah kenapa tergerak untuk berjalan-jalan sebentar, dan setelah berjalan beberapa lama, ia menemukan semacam pasar malam. Dulu sewaktu ia kecil ayahnya pernah membawanya ke arena hiburan semacam itu, dan ia jadi ingin memasukinya, meski ia tahu itu sudahlah cukup larut dan tak ada seorang pelanggan pun terlihat di sana. Si penjaga, yang agaknya setengah mabuk, menolaknya, namun ia bersikeras dan si penjaga itu pun mengalah—sambil bersungut-sungut. Miu memilih wahana kincir angin.

Ketika ia tiba di atas, Miu mengeluarkan teropong yang kebetulan ia bawa dan mengamati kamar hotelnya. Lampu kamar itu menyala, dan jendelanya terbuka; ia semula memang hanya berniat keluar sebentar saja. Saat ia tiba di bawah dan seharusnya wahana itu berhenti ia mendapati wahana itu tidak berhenti. Si penjaga bahkan tak dilihatnya di sekitar wahana itu. Akibatnya, ia kembali menuju ke atas, dan sesampainya di posisi tadi ia kembali mengeluarkan teropongnya dan mengamati kamar hotelnya. Dan konyolnya, atau mungkin absurdnya, ia melihat seseorang berada di kamar tersebut. Seorang lelaki. Telanjang. Lambat laun ia mengenali lelaki itu adalah si lelaki Latin yang ia duga menginginkannya tadi. Ia kaget; tak habis pikir si lelaki bisa berada di sana. Dan ia lebih kaget lagi, ketika mendapati seseorang lain juga ada di kamar itu. Seorang perempuan. Telanjang. Lambat-laun ia mengenali si perempuan itu adalah dirinya, dirinya sendiri. Dan tak lama kemudian, ia saksikan, kedua sosok telanjang itu bersenggama, di kamar itu.

Dalam situasi itu Miu jadi bertanya-tanya apakah dirinya yang berada di wahana kincir angin adalah dirinya yang sesungguhnya ataukah dirinya yang tengah bersenggama dengan si lelaki Latin itulah justru dirinya yang sesungguhnya. Miu terguncang, tentu saja. Dirinya yang lain itu pasalnya tengah melakukan sesuatu yang sangat ia hindari, bahkan sesuatu yang ia benci. Singkat cerita Miu tertidur—atau mungkin kehilangan kesadaran. Besoknya ia terbangun dan mendapati ia tengah berada di kamar sebuah rumah sakit. Seorang polisi yang kemudian menghampirinya membuatnya memahami satu hal yang musykil: setiap helai rambutnya telah berubah warna menjadi putih.

Miu mengatakan bahwa sejak peristiwa itu sebagian dirinya telah meninggalkannya. Ia masih hidup, masih terus melanjutkan hidup, namun ia telah kehilangan beberapa hal yang semula dimilikinya. Rambut-hitamnya. Kemampuan-bermain-pianonya. Hasrat seksualnya. Lima belas tahun telah berlalu dan Miu terus hidup dengan kondisi seperti itu. Ia hidup, tapi ia tak benar-benar hidup.

Apa yang saya maksudkan tadi, agaknya, lebih cocok ke kasus pertama—kasusnya Kanoe Yuuko di “Tasogare Otome x Amnesia”. Namun tentu, bagaimanapun, itu adalah fiksi; sebuah dunia-rekaan yang sifatnya masih berupa konsep—jika bukan fiksi sefiksi-fiksi. Kalau kita menghubungkannya dengan konsep diri (self) dari Freud atau Jung, kita akan menilai itu mungkin; sesuatu yang bisa saja terjadi dengan syarat-syarat tertentu. Namun di dunia nyata? Bisakah…?

Terlepas dari bisa atau tidaknya hal itu diwujudkan, upaya mengarah ke sana terus saya lakukan. Misalnya, berhenti “bercerita”. Sebab saya sudah telanjur memiliki ikatan dengan sejumlah orang, maka sambil berusaha melemahkan ikatan tersebut saya memagari diri dari memiliki ikatan dengan orang-orang lain. Saya menyadari bahwa sebuah ikatan bisa berawal dari “bercerita”. Kita menceritakan diri kita, masalah-masalah kita, kepada seseorang, dan lambat-laun ikatan di antara kita dan seseorang itu akan tercipta. Saya tidak ingin itu terjadi, dan saya berusaha keras mencegahnya. Bahkan, kalaupun ini mau disebut, saya juga berhenti “bercerita” kepada orang-orang yang dengannya saya kadung memiliki ikatan. Ketika saya sedang merasa mumet, penuh rasa bersalah, putus asa, atau semacamnya, saya tak lagi “mendatangi” seseorang untuk “bercerita”; saya, menyimpannya di dalam diri saya; bisa juga dikatakan saya hanya “bercerita” kepada diri saya sendiri. Sewaktu-waktu, saya melampiaskannya dengan menulis—seperti ini.

Tapi sekeras apa pun upaya saya itu, pada akhirnya, sewaktu-waktu, dorongan untuk “bercerita” itu akan sulit dibendung. Maka saya pun “bercerita”, dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menceritakan semuanya. Hanya sebagian kecil saja. Itu pun, kepada seseorang yang saya pilih di antara orang-orang terpilih—katakanlah begitu. Saya memilihnya tentu saja bukan tanpa alasan. Kendatipun bisa jadi ia–seperti halnya orang-orang terpilih lain—tak memahami saya, namun dengan “bercerita” kepadanya saya merasa lebih baik. Selalu merasa lebih baik. Setidaknya sejauh ini. Saya mungkin menyukainya, meski entah sebagai apa. Satu hal yang jelas: dengannya pun saya tetap menjaga jarak, tetap memperhitungkan kedekatan yang mungkin akan terjalin di antara kami. Saya barangkali terlalu takut dikecewakan lagi, apalagi jika sampai tahap melebihi toleransi yang saya tetapkan. Atau mungkin, bisa jadi, saya sudah kehilangan niat saja untuk menjadi “ada” di kehidupan ini—betapapun sesekali saya masih menikmatinya.(*)

Bojongpicung, 13 Juni 2016

___

NB. Selanjutnya proposisi di awal tadi itu jadi bermasalah juga ketika sosok yang membuat saya kecewa sekecewa-kecewanya itu adalah kehidupan ini sendiri. Itu artinya, saya harus memutus ikatan dengan kehidupan ini. Dan bagaimana saya bisa melakukannya? Dengan cara mengakhiri hidup, alias bunuh diri? Atau, menjalani hidup tapi tak benar-benar menikmati hidup—seperti yang mungkin saya alami beberapa minggu terakhir ini? Sungguh, bila kita melihat kehidupan ini secara menyeluruh, kita akan mendapati kita bertanya-tanya mengapa sampai saat ini kita bisa terus hidup—sementara orang-orang yang lebih layak untuk terus hidup justru mati, menderita, atau tersiksa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s