Hasrat, Posisinya, dan Penyalurannya

Menempatkan sesuatu berada di dalam diri kita dengan menempatkan sesuatu berada di luar diri kita jelas akan menghasilkan dampak dan penanganan yang berbeda. Hasrat bertarung, misalnya. Katakanlah kita melihatnya sebagai sesuatu yang berada di luar diri kita. Maka, jika kita kemudian memiliki hasrat tersebut, kita akan mengatakan bahwa sesuatu—atau beberapa hal—telah terjadi sehingga ia menjadi ada di dalam diri kita. Dengan kata lain, lingkungan. Juga, pengalaman. Lingkungan dan pengalaman yang kita hidup di dalamnya telah membuat hasrat tersebut merasuk-masuk ke dalam diri kita; mungkin seperti menciptakan sebuah kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi. Dan apabila yang kita inginkan kemudian adalah tidak-masuknya hasrat bertarung ini, yang kita lakukan pastinya adalah memagari diri, menjauhkan segala hal yang mengandung atau identik dengan pertarungan dengan diri kita. Film-film tentang peperangan atau perkelahian, kita tak akan menontonnya. Game yang menyajikan opsi pertarungan, kita tak akan memainkannya. Permainan-permainan yang pada titik tertentu membolehkan pertarungan, kita tak akan melakukannya. Kita menilai itulah langkah yang tepat. Secara tidak langsung, kita juga menilai memiliki hasrat bertarung adalah sesuatu yang buruk.

Lain halnya jika kita melihat hasrat bertarung sebagai sesuatu yang ada di dalam diri kita. Sesuatu yang built-in; bersifat bawaan. Seberapa besar hasrat tersebut kita miliki, kita tidak tahu. Yang jelas ia ada. Dan karena ia ada, dan katakanlah ia “tumbuh”, maka pada titik tertentu ia akan menuntut untuk dilepaskan—sebab kata “dilampiaskan” terdengar sadis. Ini seperti seorang lelaki yang konon akan mengalami mimpi basah jika ia tidak membuang air-maninya untuk waktu yang lama. Ya, barangkali seperti itu. Lambat-laun penyaluran itu pastilah ada, haruslah ada, sebab jika tak ada maka si lelaki akan berada dalam kondisi tak nyaman. Hasrat bertarung tadi, dalam hal ini, membutuhkan penyaluran tersebut atau kita yang memilikinya bisa berada dalam kondisi tak nyaman, yang sangat mungkin berdampak buruk—bagi kita dan mungkin orang lain.

Pertanyaannya, penyaluran seperti apa yang mungkin, dan penyaluran seperti apa yang baik? Jika kita lihat lagi kasus air mani tadi, penyaluran-dengan-sendirinya akibat pengabaian terlalu lama itu masihlah dalam wujud yang tidak berbahaya; si lelaki mengalami mimpi basah dan baik ia atau siapa pun tidak dirugikan—secara fisik, psikis, ataupun materiil—oleh hal ini. Tapi bagaimana dengan hasrat bertarung? Jika ia diabaikan terlalu lama, wujud penyaluran seperti apa yang akan dipilihnya? Menghajar seseorang yang membuat kita kesal? Memukuli tembok atau benda-benda keras sampai tangan kita terluka? Mengumpulkan massa lalu menyerang sekelompok orang sampai hasrat itu berkurang—sebab ia tak mungkin hilang? Ketiga penyaluran ini, tentulah, bukan sesuatu yang aduhai, dan karenanya terlampau menawan jika kita mengabaikan hasrat bertarung itu dan menahannya—sebab “mengingkari” terlalu keras—terus-menerus. Sewaktu-waktu, untuk mencegah penyaluran-penyaluran yang aduhai tadi, kita perlu menawari si hasrat ini sejumlah penyaluran yang “halus”, yang “lembut”, yang tidak akan merugikan siapa pun dan karenanya ia baik. Yang bisa dicoba, misalnya, menonton film-film tentang pertarungan atau memainkan game yang memiliki opsi pertarungan.

Di sini kita melihat bahwa membiarkan diri kita berhadapan, bersentuhan, bahkan berinteraksi dengan hal-hal yang mengandung atau identik dengan pertarungan itu, justru baik. Justru, sesuatu yang baik. Memagari diri kita dari hal-hal tersebut akan membuat hasrat bertarung yang kita miliki terus tumbuh, terus menguat, dan ini bisa berdampak sangat buruk saat kita tak mampu lagi membendungnya. Melakukan yang sebaliknyalah yang kita perlukan. Ibaratnya, kita memasuki toilet dan menurunkan celana dan buang air kecil. Itu sesuatu yang sewajarnya selama ia dilakukan di tempat yang tepat. Demikianlah, menyalurkan hasrat bertarung lewat cara yang “halus” tadi, seperti menonton film tentang pertarungan atau memainkan game yang memiliki opsi pertarungan, adalah tindakan yang akan menyehatkan kita—selama kita melakukannya di tempat yang tepat.

Hal yang sama berlaku untuk hasrat-hasrat lain yang kadung dinilai negatif, seperti hasrat seksual, hasrat mengalahkan, hasrat mendominasi, hasrat mengibuli, hasrat menyakiti, hasrat mati. Setiap hasrat tersebut, jika kita melihatnya berada di dalam diri kita, bisa coba kita salurkan sewaktu-waktu, lewat cara-cara yang menyenangkan dan tidak akan merugikan siapa pun. Jika hasrat seksualmu sedang tinggi-tingginya, kau bisa berburu video porno atau memutar-ulang rekaman phonesex-mu dengan pasanganmu atau mantan pasanganmu. Jika hasrat mendominasimu sedang gawat-gawatnya, kau bisa bermain monopoli dengan komputer atau bahkan dirimu sendiri. Jika hasrat mengibulimu yang sedang asoy-asoynya, kau bisa bermain poker atau sejenisnya. Jika, yang sedang edan-edannya itu adalah hasrat matimu, kau bisa menyimak tayangan-tayangan yang memacu adrenalinmu atau melakukan olahraga-olahraga ekstrem.

Itu semua, sekali lagi, adalah sebuah upaya untuk membuat penyaluran hasrat yang kita miliki tadi tidak sesuatu yang berbahaya—bagi kita ataupun orang lain. Dan kembali, langkah ini baru kita anggap tepat jika kita melihat hasrat-hasrat itu sesuatu yang berada di dalam diri kita, bukan sesuatu yang semula berada di luar diri kita namun karena sejumlah hal kemudian berada di dalam diri kita. Kita, dengan kata lain, tidak menilai diri kita sesuatu yang “suci”, yang “bersih”, yang “kudus”. Hal-hal negatif dan buruk itu juga ada di dalam diri kita dan itulah justru yang membuat kita sesosok manusia.

___

Tapi yang manakah yang benar? Apakah hasrat itu sesuatu yang berada di dalam diri kita, atau di luar diri kita? Seperti yang tadi telah kita bahas, perbedaan cara pandang ini akan berdampak pada perbedaan penanganan kita atasnya. Dan jika kita tidak memilih cara pandang yang benar, maka pastilah penanganan yang kita lakukan pun akan tidak benar—dan dampaknya tentulah negatif. Di titik ini mau tidak mau kita sedikit bergantung kepada orang-orang yang hidup jauh lebih dulu dari kita dan kadung dikenal memiliki pengetahuan dan kecerdasan yang mewah tentang hal ini. Sebut saja, misalnya, Sigmund Freud dan René Girard.

Freud, lewat konsep ego-id-superego-nya, menyatakan bahwa hasrat, atau keinginan, adalah sesuatu yang berada dalam id, sesuatu yang ada dan dimiliki oleh kita sejak kita lahir. Sedangkan Girard, lewat teori mimesis-nya, mengatakan bahwa hasrat yang kita miliki adalah tiruan dari hasrat yang dimiliki orang lain, yang kebetulan kita “saksikan”. Ini sedikit membuat kita bingung. Di satu sisi, hasrat diposisikan sebagai sesuatu yang sudah ada, yang artinya ia berada di dalam diri kita. Di sisi lain, hasrat diposisikan sebagai sesuatu yang muncul dari interaksi dengan sesuatu di luar diri kita, yang artinya ia berada di luar diri kita. Keduanya nyaris bertentangan, dan jika kita gegabah kita akan mengatakan salah satu dari kedua orang hebat ini otaknya bermasalah. Tapi jika kita mencermatinya dengan saksama, kita akan mendapati: kedua konsep tersebut sesunguhnya saling melengkapi.

Yang coba dikatakan Freud, saya kira, adalah bahwa di dalam diri kita memang sudah ada hasrat, akan tetapi, ia bukan sesuatu yang statis dan langsung jadi, melainkan bisa tumbuh oleh pengalaman. Dan pengalaman yang dimaksud di sini, bisa kita kait-hubungkan dengan interaksi dan aksi peniruan yang disinggung Girard tadi. Jadi, sementara di dalam diri kita ada hasrat yang sifatnya bawaan, hasrat ini pun bisa tumbuh seiring kita hidup dan berinteraksi dengan hal-hal di luar diri kita. Di lain pihak, interaksi dengan hal-hal di luar diri kita itu tak akan pernah memunculkan hasrat seandainya di dalam diri kita hasrat bawaan itu tidaklah ada. Persis, seperti halnya tumbuhan. Kita menyaksikan interaksi si tumbuhan dengan hal-hal di luar dirinya membuatnya menjadi dirinya yang besar, dewasa, dan rumit. Tapi seandainya di dalam tanah itu bijinya tidak ada, seberapa kuat dan seberapa lama pun interkasi itu berlangsung, dirinya yang besar dan dewasa dan rumit itu tidak akan ada.

Maka itu artinya kita akan coba memosisikan hasrat yang kita miliki sebagai sesuatu yang berada di dalam diri kita juga berada di luar diri kita. Yang berada di dalam diri kita, adalah bakalnya, adalah bijinya, adalah potensinya. Yang berada di luar diri kita, adalah rangsangannya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, jika kita bicara soal hasrat bertarung tadi, misalnya, yang akan kita lakukan agar ia tidak tersalurkan lewat cara-cara yang tak aduhai adalah: menyalurkannya sewaktu-waktu lewat cara-cara yang asoy, dan di saat yang sama menjaga diri dari interaksi yang kelewat saleh yang memungkinkan kita terpengaruh—sebab “terinfeksi” terdengar jahat—olehnya. Kau boleh saja banyak menonton film tentang pertarungan, misalnya, tapi sebaiknya kau tidak juga banyak menyaksikan secara nyata pertarungan-pertarungan itu. Kau boleh saja memainkan game yang memiliki opsi-opsi pertarungan, tetapi jika kau kelewat saleh melakukannya bisa jadi kau tergerak untuk mencoba mempraktikkannya di dunia nyata—kepada orang-orang yang ada dalam jangkauanmu, misalnya. Intinya adalah: batas. Dan jika kita bicara soal batas, tentunya, kita bicara tentang sesuatu yang otentik; sesuatu yang case-to-case; sesuatu yang bisa sangat berbeda dari orang ke orang. Maka timbul kemudian satu pertanyaan lain: apakah penanganannya juga harus case-to-case?

Jika benar begitu, maka itu sebuah masalah. Dalam sebuah persoalan matematika, solusi yang diupayakan dicari selalu solusi yang bisa berlaku untuk banyak kasus, atau bahkan semua kasus. Sifatnya global alih-alih lokal; umum alih-alih case-to-case. Itu, selain untuk memudahkan eksekusi, juga untuk meningkatkan efisiensi—baik waktu, tenaga, ataupun yang lainnya. Saya kira begitu jugalah persoalan-persoalan di dunia nyata—jika Matematika dianggap fiksi. Kita bagaimanpun butuh efisiensi, dan butuh dimudahkan dalam melakukan eksekusi. Kita, oleh karena itu, perlu mencari solusi lain untuk mengatasi masalah hasrat tadi.

___

Pada dasarnya, setiap kita memiliki hasrat, baik yang (kadung dinilai) positif maupun yang (kadung dinilai) negatif. Dan jika hasrat ini tidak disalurkan dengan tepat (tepat di sini termasuk juga soal waktu penyalurannya), bisa dibayangkan betapa akan kacaunya kehidupan ini. Dulu terjadi perang dunia, juga kolonialisasi. Sekarang keduanya sudah tak ada lagi namun hasrat untuk melakukannya tentulah masih ada; untuk beberapa negara bahkan masih kuat. Maka yang dilakukan kemudian adalah menciptakan arena-arena di mana kedua hasrat tersebut bisa disalurkan tanpa menimbulkan dampak buruk seperti yang terjadi dulu. Arena itu, salah satunya: Piala Dunia. Negara-negara bertarung satu dengan yang lain di satu lapangan hijau, berusaha menekan dan mengalahkan dan menaklukkan. Ketika yang bertarung adalah dua negara yang memiliki latar belakang sejarah yang tak aduhai, kita selalu mendapati pertarungan yang normalnya sebuah olahraga itu menjadi seperti pertarungan yang diniatkan untuk merekonstruksi sejarah di antara kedua negara tersebut.

___

Jadi, mulai sekarang, bila kita melihat seseorang seperti tengah menyalurkan salah satu hasrat negatifnya, ada baiknya kita melihatnya sebagai sebuah upaya dari seseorang itu untuk menjaga diri dari menyalurkan hasratnya itu lewat cara-cara yang tidak aduhai. Tentu saja, ini jika wujud penyaluran seseorang itu bukanlah sesuatu yang merugikan kita, ataupun orang lain. Agaknya kita sudah cukup dewasa dan berpengalaman untuk bisa membedakan mana wujud penyaluran hasrat yang asoy dan mana wujud penyaluran hasrat oh-em-ji. Ataukah belum?(*)

Bojongpicung, 14-15 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s