Satori

sembari mengangkat gelas kosong di hadapannya
ia terpukau pada matanya, matanya sendiri, yang melesak lekas
menuju piring
untuk kemudian kembali kepada rongga yang mencintainya

ia putar-putar lemah gelas di tangannya itu
seperti tengah memecah-mecah doa, atau mungkin dosa,
yang konon menjalar-jalar di dalam dirinya

masa kanak-kanak mengerubungi rambutnya
juga telinganya, juga lehernya, juga punggungnya
dari atasnya seperti matahari sejurus sinar-tampak turun
layaknya wahyu
tegak di hadapannya dan memurnikan apa pun itu
yang barangkali ada di sana
tersisa di sana
di gelas itu

sedikit pun ia tak peduli
atau setidaknya terlihat seperti itu
pada alunan musik yang merambat masuk serupa gelombang
lewat celah pintu atau celah jendela
atau celah di dalam dirinya
di dalam jiwanya

sebuah pisau seumpama perjanjian
yang ditanggungkan
bukan kepadanya, tetapi kepada layar yang saat itu memerangkapnya
kepada ruang yang saat itu mengurungnya
sehingga kita yang sesungguhnya tak berada di sana
tak bersamanya dan sama sekali tak dikenalnya
bisa melihatnya
menyaksikan ia merelakan satu-satu
bagian dirinya terlepas
hingga hanya menyisakan sedikit saja
hingga ia di hadapan kita itu
tak lebih dari sebuah kontur yang terkhianati
yang terluka oleh warna-warna
dan dirinya sendiri

“pada akhirnya, merah itu akan menguasainya,” ujarnya
kita tak tahu apakah ia sedang bicara soal pisau itu, atau gelas itu,
atau mata itu

semua yang tadi tergambar itu masihlah ada
lalu seketika ia bangkit, meninggalkan bayangannya sendiri
yang membusuk seperti waktu

ia letakkan kembali gelas yang kosong itu
dan ia untuk kesekian kalinya terpukau, pada matanya
yang kali ini meloncat jauh dan meninggalkannya
dan melupakannya

“sebab yang kita miliki
seluruhnya adalah apa yang tak kita miliki,”
ujar biru
yang begitu saja muncul di sebuah sudut
lantas membesar, dan membesar
menjadikan yang tersaji itu sepenuhnya dirinya
sepenuhnya… adalah dirinya

dan kita menyadari
barangkali
sedari tadi kita ini hanyalah sehimpun mimpi purba
yang baru akan kalis sempurna
sesudah sirna

2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s