Seorang Lelaki-yang-Tak-Kukenal yang Bercerita Tentang Istrinya

Aku sedang membaca novel Ernest Hemingway berjudul The Garden of Heaven dan tengah menanti-nanti apa yang akan dilakukan ketiga orang tolol ciptaan Hemingway itu ketika seorang lelaki menyapaku. Aku menatapnya, dan ia tersenyum dan membuat gerakan tangan yang barangkali bisa diartikan seperti ini: “Boleh saya duduk di sebelah Anda? Kursi di sebelah Anda ini kosong, ‘kan?” Aku mengangguk, dan menggeser tubuhku sedikit ke kiri. Lelaki itu pun duduk dan kembali tersenyum ketika ia menatapku. Mungkin, ia bermaksud menunjukkan rasa-terima-kasihnya.

Aku kembali membaca novel Hemingway itu dan si lelaki menggumamkan sesuatu yang entah apa. Kukira, ia sedang bicara dengan kondektur atau pedagang asongan. Atau, dirinya sendiri. Aku benar-benar tak mendengar apa yang ia gumamkan itu sebab selain di telingaku terpasang earphone aku juga sama sekali tak tertarik menyimak gumamannya. Tapi rupanya, gumamannya itu ditujukannya padaku. Aku baru menyadarinya ketika ia mencondongkan tubuhnya sedikit dan matanya yang berbinar menatapku dan aku melihat lagi senyumnya itu. Setengah bingung, dan setengah panik, aku mencabut earphone, dan membuka mulut seakan-akan ingin berkata: “Maaf, saya tadi sedang mendengarkan musik, dan karenanya tidak mendengar apa yang Anda katakan. Bisakah Anda mengatakannya lagi?” Lelaki itu, seperti bisa mendengar apa yang tak kukatakan itu, merespons dengan sebuah anggukan. Ia lantas mengatakan lagi apa yang tadi baru saja dikatakannya itu.

Tadi itu ia rupanya bertanya apakah aku suka membaca dan apakah itu berarti aku juga suka mendengarkan orang lain bercerita. Pertanyaannya ini, bagiku, sedikit aneh. Kukira ia akan bertanya soal tujuanku atau asalku atau tempat tinggalku atau kabarku atau apakah aku masih bersekolah ataukah sudah bekerja atau semacamnya. Aku menatap matanya yang berbinar itu, dan dengan ragu aku berkata, “Iya”. Senyumnya kembali kulihat dan ia berkata, “Baguslah”. Dan seperti baru saja menemukan sesuatu yang tengah ia cari-cari, ia bersandar ke kursi dan mengembuskan napas panjang.

Di titik ini aku jadi bertanya-tanya apa yang sesungguhnya direncanakan lelaki itu, dan aku mulai khawatir ia memiliki niat jahat. Maksudku, ia laki-laki yang tak kukenal, dan ia begitu saja menyapaku dan tersenyum seolah-olah tengah berusaha membuatku percaya bahwa ia seseorang yang baik. Dan itu, sangatlah mencurigakan. Terlebih lagi aku ini perempuan. Bisa jadi, ia seorang hipnotis, dan ia tengah menyiapkan sebuah cara untuk membuatku kehilangan kesadaran. Aku pun mulai mengamatinya, dari kepala hingga kaki. Sempat juga aku berpikir ia akan membiusku dan di saku jaket di mana tangannya itu ia masukkan ada sebuah sapu tangan yang telah ia basahi dengan cairan tertentu.

Dan aku terkaget-kaget, ketika tiba-tiba ia berkata (sebenarnya tidak tiba-tiba; akulah yang terlalu fokus mengamatinya), “Aku punya sesuatu yang ingin kuceritakan. Kamu mau dengar?”

Meski efek terkaget-kaget itu telah lenyap, aku masih diliputi kebingungan, dan itu disebabkan setidaknya oleh dua hal: pertama, ia, lelaki yang tak kukenal ini, tiba-tiba menawariku untuk mendengarkan ceritanya; kedua, tiba-tiba saja ia menggunakan “aku-kamu” padahal kami baru berinteraksi beberapa puluh detik sebelumnya. (Untuk yang terakhir ini kelak aku menyadari bahwa pada interaksi kami beberapa puluh detik sebelumnya itu ia tidak menggunakan kata sapaan sama sekali. Tidak “aku-kamu”, tidak “saya-anda”. Tapi saat itu aku belum menyadarinya, dan karenanya aku semakin meningkatkan kewaspadaanku terhadap si lelaki.)

“Aku ingin bercerita soal istriku,” ujarnya, seakan-akan aku telah mengutarakan kesediaanku. Ia mengatakannya sambil menatap langit-langit bus—bukannya aku. Ia bertingkah seolah-olah aku akan mendengarkan ceritanya dan entah kenapa itu membuatku kesal—meski pada kenyataannya aku memang mendengarkan ceritanya itu.

“Hubunganku dengan istriku sedang buruk tiga bulan terakhir ini. Kami nyaris setiap hari bertengkar. Dia yang dulunya selalu menahan diri jadi tak segan-segan mengungkapkan ketidaksenangannya atas apa-apa yang kulakukan. Misalnya, jika dia mendapatiku merokok di dalam rumah, dia akan langsung memintaku keluar, dan dia mengatakannya dengan membentak. Atau, jika dia mendapati aku tidak sempurna membersihkan kloset yang baru saja kupakai, dia akan langsung mengumpatiku, dan itu bisa dilakukannya hingga bermenit-menit lamanya. Dia baru akan berhenti setelah tenaganya habis.

“Aku sendiri pada akhirnya jadi tak mau kalah. Beberapa kali aku dengan sengaja melakukan sesuatu yang aku tahu akan menyulut kemarahannya. Aku memang tak suka melihat dia marah, apalagi jika kemarahannya itu ditujukannya padaku. Tapi pada saat-saat seperti itu, kamu tahu, aku justru ingin membuatnya marah. ‘Biarkan saja dia marah. Biarkan saja dia marah sampai dia puas sampai suaranya habis sampai dia tak bisa bicara lagi.’ Begitulah yang kupikirkan saat itu. Kamu pun mungkin akan memikirkan hal yang sama, jika berada di posisiku.”

Ia mengambil jeda sejenak untuk menarik dan mengembuskan napas panjang.

“Tapi aku tak pernah menyangka itu akan benar-benar terjadi,” ujarnya. Di titik ini ia mengambil jeda lagi, meski aku tak melihatnya menarik dan mengembuskan napas panjang seperti sebelumnya. Beberapa detik kemudian, aku tersadar bahwa aku tak benar-benar memahami kalimatnya itu.

“Aku tak menyangka itu akan benar-benar terjadi dan aku pun sungguh terkejut. Memang aku saat itu sedang begitu kesal pada istriku tapi aku—”

“Yang terjadi itu apa?” potongku.

Ia menoleh. Ia menatapku dan tersenyum, seakan-akan menunjukkan rasa-senangnya bahwa aku memang menyimak ceritanya itu.

“Istriku kehilangan suaranya. Dia bisu,” cetusnya.

Di titik ini, aku justru semakin tak memahami apa yang dikatakannya itu.

“Mungkin ini membingungkanmu dan kamu jadi ingin tahu bagaimana istriku itu bisa kehilangan suaranya,” ujarnya kemudian, dan aku rupanya mengangguk—sesuatu yang terjadi di luar kesadaranku. “Tapi sebelum aku bercerita tentang itu, aku akan lebih dulu bercerita tentang apa yang menyebabkan hubunganku dengan istriku jadi buruk.”

Aku diam. Menunggu. Sesuatu yang lagi-lagi terjadi di luar kesadaranku.

“Penyebabnya setidaknya ada dua: Pertama, anak kami meninggal karena demam berdarah. Anak kami itu baru berumur tujuh tahun dan dia anak kami satu-satunya. Istriku tentu terpukul dan dia menyalahkan aku yang terlalu minim memberi perhatian kepada anak kami itu. Aku saat itu memang sedang terlampau sibuk mengerjakan sesuatu yang tak bisa kutunda lagi. Istriku tak bekerja, dan aku harus berusaha keras memenuhi kebutuhan hidup kami bertiga. Kedua, perselingkuhanku terbongkar. Istriku memergokiku berkirim pesan-pesan nakal dengan seorang rekan kerjaku dan dia langsung naik pitam. Aku tak berusaha melakukan pembelaan diri saat itu. Anak kami sedang dirawat di rumah sakit dan aku berkirim pesan-pesan nakal dengan seorang perempuan. Dilihat dari mana pun, apa yang kulakukan itu memanglah salah.”

Ia kembali mengambil jeda untuk menarik dan mengembuskan napas panjang. Baru kusadari matanya tak berbinar lagi. Entahlah apakah ia tengah dirundung rasa bersalah akibat perselingkuhannya itu atau ia sedang teringat almarhum anaknya, atau justru hal lainnya.

“Jadi, begitulah. Setelah perselingkuhanku terbongkar dan anak kami meninggal, dia jadi orang yang berbeda. Dia dulu orang yang lemah lembut dan sering tersenyum dan karena itulah aku menyayanginya—dan akhirnya menikahinya. Tapi setelah dua hal itu dia jadi seseorang yang menyebalkan. Tak ada lagi senyum. Tak ada lagi kelemah-lembutan itu. Setiap harinya interaksiku dengannya selalu menyisakan rasa sesak di dadaku dan itu membuatku frustasi. Maksudku, aku telah menghentikan perselingkuhanku, dan aku benar-benar menyesalinya. Tapi istriku tak mau mengerti. Di matanya aku adalah si orang-bersalah, dan mungkin akan selamanya seperti itu.”

Di titik ini, ia terlihat seperti akan menangis.

“Dan suatu hari dia tiba-tiba kehilangan suaranya. Aku baru menyadarinya keesokan harinya.”

Ada jeda beberapa puluh detik sebelum ia kembali bicara dan mungkin semestinya aku memanfaatkan jeda tersebut untuk mengingatkan diri bahwa aku tak mengenal lelaki ini, dan bahwa semestinya aku meningkatkan kewaspadaanku. Tapi yang terjadi, bukanlah seperti itu. Aku agaknya telah terlampau tertarik pada ceritanya yang aneh itu, dan sebagai seseorang yang gemar membaca dan menulis aku tentu ingin sekali mengetahui kelanjutannya.

“Di hari aku menyadari istriku telah kehilangan suaranya itu, aku sebenarnya telah berniat menceraikannya,” ujarnya, masih tanpa menatapku. “Selama seminggu sebelumnya aku telah memikirkannya masak-masak, dan kupikir solusi terbaik bagi kami berdua saat itu adalah bercerai. Maksudku, dia membenciku; dia tak menginginkan kehadiranku; dia muak menemukan sosokku. Aku sendiri pada akhirnya tentu tak mungkin tahan terus-terusan dia bentak dan dia umpat. Maka kupikir, saat itu, sebaiknya kami bercerai saja. Dia bisa mencari suami baru, dan aku bisa punya waktu untuk menenangkan diri.

“Tapi di saat aku menyadari istriku itu kehilangan suaranya, bahwa dia tiba-tiba menjadi bisu dan karenanya dia begitu murung, niat untuk bercerai itu jadi melemah. Istriku menjelaskan keadaannya yang aneh itu lewat tulisan tangan di secarik kertas ketika suatu malam aku mendesaknya untuk mengatakan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Aku terkejut, tentunya. Bagaimana bisa istriku tak bisa bicara padahal sehari atau dua hari sebelumnya dia begitu sibuk membentak dan mengumpatiku? Itulah yang kupertanyakan saat itu. Dan besok harinya aku menemani istriku memeriksakan keadaan anehnya itu ke dokter. Dan konyolnya, dokter yang memeriksanya itu menyatakan tak ada yang salah dengan tubuh istriku. Secara fisik, istriku baik-baik saja. Tak ada hal aneh yang terjadi di dalam tubuhnya yang bisa membuat dia bisa kehilangan suaranya. Tapi faktanya: istriku benar-benar kehilangan suaranya. Dokter itu pun mengaku bingung. Dia lantas mengajukan sebuah dugaan bahwa apa yang menimpa istriku itu mungkin disebabkan oleh kondisi kejiwaannya yang sedang buruk. Di titik itu, aku hanya bisa diam.

“Dan mulailah aku menjalani hari-hari di rumah bersama seorang istri yang tak lagi memiliki suara. Rasanya sungguh canggung dan tak nyaman. Kami biasa berkomunikasi lewat kata-kata yang dibunyikan dan saat itu aku harus mencari cara lain. Pada awalnya aku meminta dia menuliskan apa yang ingin dikatakannya lewat secarik kertas. Lama-lama, dia merasa itu merepotkan, dan memilih untuk mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya lewat bahasa tubuh—sesuatu yang sesungguhnya menyulitkanku.”

Di titik ini ia terpaksa mengambil jeda sebab kondektur menghampirinya dan meminta ongkos. Setelah ia membayar dan setelah ia menerima kembalian dari si kondektur, ia melanjutkan ceritanya.

“Satu hal yang aku sadari kemudian: aku tidak lagi punya niat untuk menceraikan istriku. Dan satu hal lainnya yang aku sadari: istriku seperti tak lagi punya keinginan untuk mengumpatiku. Barangkali, dia bahkan tak lagi menyalahkanku.

“Dan di situlah rupanya aku jatuh cinta lagi kepadanya. Maksudku, meskipun kamu tinggal serumah dengan pasanganmu bertahun-tahun lamanya, tidak berarti setiap detiknya kamu jatuh cinta kepadanya; perasaan itu seringkali lenyap tanpa kamu sadari, dan itulah barangkali yang sempat kualami dan karenanya aku berselingkuh. Dan saat itu, aku jatuh cinta lagi pada istriku. Aku menyayanginya seperti aku menyayanginya saat kami masih berpacaran dulu. Aku mulai rajin memperlakukannya dengan lemah lembut, dengan manis, bahkan dengan manja. Dia pun rupanya menanggapi perlakuanku itu dengan baik dan aku jadi semakin jatuh cinta kepadanya. Dan puncak dari semua itu, tentu saja: kami bersenggama. Itu adalah persenggamaan pertama kami setelah empat atau lima bulan lamanya.”

Ia kembali mengambil jeda dan kali ini aku bersyukur ia melakukannya. Baru saja ia mengucapkan kata “bersenggama” dan itu tentulah membuatku tak nyaman. Maksudku, ia orang asing, seorang lelaki-yang-tak-kukenal, dan ia mengatakan padaku bahwa ia bersenggama dengan istrinya. Tidakkah itu… hmm…

“Dan saat aku bersenggama dengannya,” lanjutnya, seakan-akan tak peduli pada ketidaknyamananku, “aku merasakan sesuatu yang aneh. Dia diam; begitu diam. Bibir dan lidahnya bergerak-gerak tapi tak sedikit pun suaranya terdengar. Mata dan raut mukanya menunjukkan rasa sakit, tapi tak satu pun erangan terdengar. Di titik itu, aku jadi bertanya-tanya, apakah memang istriku kehilangan suaranya ataukah indera pendengaranku yang tak berfungsi. Istriku mungkin saja sebenarnya masih memiliki suaranya hanya saja aku tak bisa mendengarnya, tidak juga si dokter itu, tidak juga dirinya sendiri. Begitulah yang kupikirkan saat itu. Dan semakin lama memikirkannya, aku mulai ketakutan. Maksudku, coba bayangkan, kamu memiliki suara, tapi suaramu tak bisa didengar bahkan oleh dirimu sendiri maupun orang-orang di sekitarmu. Lantas siapa yang bisa mendengar suaramu itu? Di frekuensi mana sebenarnya ia bekerja?

“Usai bersenggama dengan istriku aku memeluknya erat dan menciuminya tanpa henti. Dia senang; setidaknya itulah yang terlihat di wajahnya. Saat itu aku meyakinkan diriku bahwa aku akan benar-benar memperlakukannya dengan baik setidaknya sampai suaranya itu kembali—atau sampai dia bisa mendengar suaranya lagi. Aku mulai menganggap hilangnya suaranya itu sebagai sebuah tanda bahwa kami—aku dan istriku—telah melupakan sesuatu yang berharga, meski entah itu apa.”

Cerita anehnya itu berhenti di sini. Aku sempat menunggu ia mengatakan sesuatu lagi, tapi itu tak terjadi. Beberapa menit lamanya aku menunggu. Barangkali jika aku memang penasaran, maka saat itu aku semestinya menanyainya saja akan kelanjutan atau akhir dari ceritanya itu. Tapi entahlah. Rasa-rasanya saat itu yang kulakukan adalah memandang ke luar jendela sambil memikirkan cerita anehnya tersebut; apakah itu nyata ataukah fiksi; apakah itu benar-benar terjadi atau karangannya belaka. Maksudku, memang aku orang yang gemar membaca dan menulis dan telah berhadapan dengan banyak cerita aneh atau absurd seperti yang dituturkannya itu. Sebut saja cerita berjudul “Sleep” dari Haruki Murakami, di mana si tokoh utama mengalami tak bisa tidur dua minggu berturut-turut. Atau cerita berjudul “Shinigawa Monkey”, juga dari Haruki Murakami, yang menghadirkan sesosok monyet yang memiliki kebiasaan mencuri nametag sekaligus ingatan dan perasaan si pemilik nametag. Tapi bagaimanapun, cerita-cerita itu adalah fiksi, sudah pasti fiksi, dan aku mendapatinya di sebuah tulisan dari seorang pengarang yang bertatap muka dengannya saja aku belum pernah. Tapi cerita aneh yang baru saja kudengar itu, aku dapati dari seorang lelaki yang sosoknya benar-benar ada di sampingku—meski aku tak mengenalnya. Dan kau tentu tahu maksudku ketika kukatakan bahwa membaca sebuah cerita tidaklah sama dengan mendengarnya (dibacakan).

Memikirkannya bermenit-menit, entah kenapa, meski cerita anehnya itu lebih cocok kukategorikan sebagai fiksi, saat itu aku justru berandai-andai itu bukanlah fiksi, bahwa itu memang benar terjadi (di dunia nyata). Aku membayangkan aku berada di posisi istri si lelaki. Pastilah mengerikan menemukan suatu hari tiba-tiba kau kehilangan suaramu sendiri. Di titik itu, aku bahkan jadi berpikir bahwa jika memang itu benar terjadi maka aku harus bertemu istrinya itu. Aku sungguh telah dibuat penasaran dan aku jadi terpikir untuk menuangkan cerita anehnya ini ke dalam sebuah cerpen, atau bahkan novel.

Dan ketika aku akhirnya menoleh menatap si lelaki untuk menanyainya tentang cerita anehnya itu, saat itu ia justru sudah tidur. Itu sungguh sesuatu yang menggelikan mengingat belum sampai sepuluh menit sebelumnya ia masih bercerita. Ia tidur sambil menyandarkan tubuh dan kepalanya ke kursi, dan aku bisa mendengar dengkurnya yang halus dan samar. Selama beberapa saat, aku mengamati lelaki itu dengan saksama. Hidungnya, matanya, bibirnya. Keningnya, kupingnya, dagunya. Dan entah dari mana kekonyolan ini berasal, aku saat itu jadi merasa mengenal si lelaki; ia yang beberapa belas menit sebelumnya adalah sesosok asing itu jadi seperti seseorang yang dulu sekali pernah kukenal namun tak bisa kuingat siapa. Ya, seperti itulah rasanya. Selama aku mengamatinya, dan terus mengamatinya, di benakku berseliweran beragam pertanyaan seputar lelaki itu: Apakah ia memang seseorang yang dulu sekali pernah kukenal? Apakah bertahun-tahun lalu kami pernah satu sekolah atau bahkan satu kelas dan karenanya lelaki itu tak terlihat canggung saat menyapaku? Ataukah ia justru seorang penulis, seperti halnya aku, dan bahwa yang diceritakannya sedari tadi adalah sebuah cerita yang tengah atau baru saja atau akan ia tulis, dan ia menceritakannya padaku untuk mengetahui sejauh mana ceritanya itu bisa membekas di benak pembaca? Ataukah ia memang seseorang yang asing bagiku, dan bahwa apa yang diceritakannya itu adalah sesuatu yang benar-benar ia alami?

Tak ada habis-habisnya pertanyaan-pertanyaan seputar lelaki itu bermunculan, dan itu membuatku tak bisa berhenti memikirkan lagi cerita anehnya tadi. Setelah aku kembali menatap ke luar jendela, aku mendapati suasana hatiku tak lagi sama; seoah-olah sesuatu dari dalam diriku telah diambil (entah oleh siapa); atau, sesuatu telah dimasukkan ke dalam diriku (entah oleh siapa). Apakah ini disebabkan oleh cerita aneh lelaki itu? Mungkin saja. Ketika aku memikirkannya sekarang, aku menyadari bahwa jika saja lelaki itu tak muncul dan duduk di kursi sebelahku, dan jika saja ia tak menyapaku dan menceritakan padaku kisah aneh tentang istrinya itu, mungkin suasana hatiku saat itu masihlah sama: aku masih akan terus membaca novel Hemingway tadi, dan sesekali tersenyum-senyum dan menyeringai. Tapi lelaki itu telah muncul, dan ia menceritakan padaku kisah aneh itu—yang ia akhiri sesuka hatinya, dan suasana hatiku pun berubah. Dan aku saat itu kembali memandangi si lelaki, dan aku seperti mendengar dengkurnya itu dengan lebih jelas. Sempat terlintas pikiran konyol bahwa aku sebaiknya membangunkannya saja dan memintanya menuntaskan ceritanya. Tentu saja, itu tak kulakukan.

Dan berada dalam situasi seperti itu aku sesungguhnya mati gaya. Baru saja aku mendengar sebuah cerita yang aneh dan cerita itu berhenti di titik di mana aku tak ingin ia berhenti. Sungguh menyebalkan, jika mau jujur. Satu-satunya yang bisa kulakukan kemudian adalah kembali membaca novel Hemingway tadi sambil mendengarkan musik. Kalimat demi kalimat. Kata demi kata. Tetapi kemudian, aku akhirnya menghentikan aktivitas itu. Novel itu sedari awal memang bercerita tentang sepasang suami istri yang bermain-main dengan perselingkuhan dan itu mengingatkanku pada cerita aneh yang diutarakan si lelaki, dan itu tentu bukan sesuatu yang membuatku senang. Aku lantas menutup novel itu, dan bersandar ke kursi, dan menatap langit-langit bus. Di sisa perjalanan aku masih sesekali menoleh menatap lelaki itu, dan berharap ia akan terbangun dan menuntaskan cerita anehnya tadi. Akan tetapi, sampai aku meminta bis berhenti pun, lelaki itu masih saja tidur. Benar-benar masih tidur. Aku bahkan seperti mendengar dengkurnya yang halus itu dengan sangat jelas ketika pintu bis terbuka dan aku mulai menginjakkan sebelah kakiku di bahu jalan.(*)

Bogor, Februari-April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s