Dominasi Pengarang dan Dunia Serupa Sketsa

Sembilan cerita dalam buku terbaru Niduparas Erlang, Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar, sejatinya menyajikan penuturan dan penceritaan yang sama. Saya mendefinisikan penuturan di sini sebagai hal-hal yang berkaitan dengan bahasa yang digunakan si pengarang saat bercerita, sedangkan penceritaan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan rangkaian cerita itu sendiri. Kendatipun, sembilan cerita itu semuanya bisa dikatakan saling bebas (keberlangsungan cerita yang satu tidak berpengaruh pada keberlangsungan cerita yang lain) dan saling lepas (kesembilan cerita itu tidak beririsan satu sama lain), namun secara nyata, secara kentara, mereka disatukan oleh penuturan dan penceritaan tadi. Hasilnya tentu saja, tidak lain dan tidak bukan, adalah sebuah kemonotonan; sesuatu yang bisa membuat kita jenuh. Bisa dirasakan juga bahwa dominasi si pengarang dalam cerita-ceritanya itu teramat kuat; seakan-akan menenggelamkan hal-hal menarik lain yang mungkin dimiliki si cerita.

 

Penuturan vs Penokohan

Kesaling-bebasan dan kesaling-lepasan sembilan cerita dalam buku terbaru Nidu—panggilan saya atas Niduparas Erlang—salah satunya bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita-cerita tersebut. Mereka masing-masing memiliki nama, kisah, misi, dan posisi yang berbeda satu sama lain. Keberbedaan ini, semestinya, akan terwujud juga dalam bagaimana tokoh-tokoh itu berbicara, berpikir, bersikap, dan semacamnya—hal-hal yang otentik tentang dirinya. Itulah sesuatu yang lazim kita temukan dalam cerita-cerita yang dimaksudkan sebagai cerita yang “hidup”. Namun Nidu, sepertinya, tak membiarkan itu terjadi. Selaku si pengarang, selaku si pencipta dunia-dunia rekaan itu, ia lebih memilih untuk menonjolkan si penutur—yang bisa kita curigai adalah dirinya—dan menyamarkan kenyata-adaan tokoh-tokoh itu; membenamkan otentisitas mereka hingga tak terasa dan terlihat. Bahwa si penutur diposisikan Nidu sebagai penggerak cerita ikut menguatkan kesan ini. Seolah-olah, ada upaya kuat dari Nidu untuk memberitahu kita, para pembacanya, bahwa apa pun kehidupan yang tersaji dalam cerita-ceritanya itu, semuanya adalah fiksi belaka; ia samar, dan kita tak akan bisa menggenggamnya sekeras apa pun kita berusaha. Lebih jauh lagi kita bisa juga memandang dunia-dunia rekaan Nidu itu sebagai bentukan-bentukan yang belum rampung, yang belum jadi, yang belum selesai. Yang sudah rampung, jikapun ada, itu adalah penuturannya tadi; kehadiran si penutur tadi. Realitas dalam cerita-cerita Nidu seakan-akan bukanlah realitas peristiwa atau realitas tokoh, melainkan realitas bahasa atau realitas pengarang.

Untuk membuktikan benar tidaknya pernyataan tersebut, kita bisa membuka Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar secara acak dan membaca apa yang kita temukan di halaman yang kita buka itu. Misalnya, halaman 55. Di sana kita menemukan paragraf ini: “Ah, barangkali, dalam-hitam-legam sekaligus dingin yang menguar dari rupa mereka, wajah-wajah resah yang melingkung setampah sesaji itu, seperti kegelapan di dalam seceruk Gua Lalay itu sendiri. Ahai, Gua Lalay. Gua yang tak hanya tempat berumah para kelelawar yang selalu merindukan malam, namun juga dipercaya menyimpan telur-telur oray tutug yang kelak pecah dan menetaskan bayi-bayi ular tanah, serta memerangkap sarang-sarang burung walet yang dibebat rapi-rapi oleh Wak Gijir sendiri.” Kemudian, halaman 84: “Tepat pukul tiga dini hari, di dermaga, didekapnya mayat lelaki yang melulu gagal mencoba bunuh diri dengan pisau lipat itu. Pisau lipat yang sama dengan yang diberikan kepadanya pada malam terakhir mereka melepaskan semesta dari genggaman berdua. Dan kini, tubuh keduanya tampak lunglai dalam remang lampu mercusuar yang menyorot ke tengah lautan. Lemah-layu-masai-sangsai. Sesempurna pilu sebuah tugu di pangkal jalan. Dan ia tersedu. Hanya tersedu dengan beban kepedihan yang tak mampu ditampung kapal-kapal yang tersandar.” Selanjutnya, halaman 19: “Kelak, di masa yang akan datang, ibumu akan bercerita tentang kepindahannya ke kota yang melulu diguyur hujan sepanjang senja, sepanjang tahun, dan seolah tak pernah mengenal musim gugur ini. Ketika itu, rambutmu mulai memanjang dan kamu tengah mematut diri di depan cermin yang mencitrakan betapa jelita parasmu yang meremaja, dan akan melewati kencan pertama di bulan purnama. Ibumu, akan memulai ceritanya tentang mata lelaki bujang dan perempuan hujan yang mengandung bayi kemarau dalam rahimnya selama tujuh puluh dua purnama….”

Dari ketiga paragraf di tiga halaman yang berjauhan tersebut (masing-masing tertanam di tubuh cerita yang berbeda), kita bisa dengan mudah mendapati betapa serupanya cara bertutur di sana. Terlepas dari apa yang diceritakan si penutur, warna kalimat yang ia gunakan terbilang sama; ada pola-pola yang identik dan seakan menyatukan ketiganya. Misalnya, kecenderungan untuk memunculkan rentetan kata yang berima atau menghadirkan efek bunyi tertentu. Ini dengan sendirinya mengarahkan kita pada pemahaman bahwa si penutur di tiga cerita itu adalah sosok yang sama, yakni si pengarang. Dan saking ditonjolkannya cara bertutur ini, mau tidak mau, wujud dan kehadiran si tokoh—serta apa-apa yang dilakukannya—jadi tersamarkan. Mereka ada, tapi kita tak dibiarkan Nidu “mengalami” mereka, sehingga tokoh-tokoh itu seperti tak benar-benar ada. Dan ini bisa jadi masalah.

Sebagai si pengarang, sebagai si pencipta dunia-dunia rekaannya, Nidu jelas memiliki hak untuk melakukan apa pun terhadap dunia-dunia rekaannya itu, termasuk di dalamnya menonjolkan penuturan dan menyamarkan penokohan seperti yang kita bahas tadi. Namun, di sisi lain, pembaca pun tentu memiliki hak untuk berekspektasi, membayangkan dunia-rekaan seperti apa yang ingin dihadapinya; dan mereka juga berhak mengeluh ketika mendapati dunia-rekaan itu, dalam sejumlah hal, mengecewakan mereka. Bagaimanapun penokohan dalam sebuah cerita, juga hal-hal di luar penuturan atau di luar bahasa, adalah unsur-unsur yang bisa dinikmati pembaca, yang bisa memberikan kenikmatan kepada pembaca ketika kehadirannya dioptimalkan. Maka dengan menyamarkan atau membenamkan unsur-unsur tersebut, tak bisa dipungkiri, kekecewaan itu akan ada. Memang pembaca berhadapan dengan kekuatan bahasa, dan mereka bisa menikmatinya. Tapi jika kekuatan bahasa ini didukung juga oleh kekuatan unsur-unsur lain, seperti penokohan tadi, misalnya, bukankah mereka akan lebih menikmatinya lagi, dan bukankah itu lebih baik?

 

Narasi vs Motif

Ketika kita bicara soal narasi, kita bicara soal bergulirnya sebuah cerita, dan di dalamnya, terutama jika cerita itu begitu kompleks, motif menjadi sesuatu yang harus ada; ketidakhadirannya akan sedikit-banyak melemahkan bangunan cerita. Dalam ruang cerita yang lapang seperti novel, akan sangat terasa “bolongnya” novel itu jika ia sangat kurang dari sisi motif. Kelogisan cerita, hubungan sebab-akibat antarperistiwa, menjadi sesuatu yang meragukan, bahkan mudah dibantah. Kondisi ini tentu saja sebuah indikator bahwa si pengarang, atau si novelis, telah gagal; bangunan ceritanya itu tidak mampu membuat pembaca menerimanya—atau bahkan sekadar menikmatinya. Lalu bagaimana jika ruangnya terbilang pendek, seperti cerpen?

Cerita-cerita dalam Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar, yang masing-masing ruangnya terbilang pendek, saya kira memiliki kekurangan dalam hal motif. Sebab yang dimuncul-tonjolkan adalah penuturan alias bahasa, hal-hal seputar si tokoh, terutama apa-apa yang dulu pernah dilakukannya sehingga ia mengalami apa yang terjadi di inti-cerita, tidak tergambarkan dengan utuh. Porsi si bahasa sangat besar dan mendominasi ruang yang pendek itu; dan motif jadi sesuatu yang terpinggirkan. Memang ada motif, serupa motif, tetapi masih sekadar motif saja, belum benar-benar motif yang membuat kita dengan sukarela mengangguk-angguk memberikan pemafhuman atas dunia-rekaan si pengarang. Mengapa si tokoh begitu mencintai tokoh lain, mengapa si tokoh melampiaskan kerinduannya dengan menggambari sebuah batu, mengapa si tokoh yang lama hilang kemudian muncul dan “bersahabat” dengan mimpi buruk tokoh lain, hal-hal ini tak terjelaskan. Dan masih banyak yang seperti itu. Kita sebagai pembaca pada akhirnya seperti ditawari sebuah masakan yang asal matang, atau asal tersaji, atau bahkan asal ada. Ini tentu bukan sesuatu yang baik terutama jika kita memosisikan cerita-cerita itu sebagai produk (untuk dijual).

Tetapi Nidu mungkin memang tidak memosisikan cerita-ceritanya, dunia-dunia rekaannya itu, sebagai produk (untuk dijual). Alih-alih produk, mereka lebih seperti karya. Dan karya, terlebih lagi jika ia karya seni, selalu mengandung subjektivitas pembuatnya—juga menonjolkannya. Ia memang pada akhirnya dijual, dipertukarkan dengan produk, namun nilainya tidak mengikuti pasar, dan karenanya ia seolah-olah dibolehkan memiliki dan memperjuangkan estetikanya sendiri. Dan begitulah barangkali estetika cerita-cerita Nidu di Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar: kuat di bahasa, menonjolkan si pengarang, menyamarkan dan membenamkan hal-hal lain. Dan untuk bisa benar-benar menikmatinya, sembari menerimanya, dibutuhkan semacam kefanatikan, atau sejenisnya. Para penikmat dan pengagum cerita-cerita Nidu, pada akhirnya, bisa jadi adalah mereka yang maniak terhadap cerita-cerita sejenis itu. Bisa juga dikatakan: penggemar-garis-keras.

Dan tentulah sebagai bukan-penggemar-garis-keras cerita-cerita Nidu, wajar-wajar saja jika kita tak begitu menikmati cerita-ceritanya itu, tak begitu bisa menerimanya sebagai sebuah karya yang mumpuni, atau bahkan menolaknya. Menonjolkan bahasa atau penuturan dan membiarkan lemah unsur-unsur lain, seperti yang disinggung tadi, bisa juga dilihat sebagai kemalasan si pengarang, atau upaya ia melarikan diri dari ketidakmampuannya menggarap—apalagi mengoptimalkan—unsur-unsur lain itu. Lebih jauh lagi, jika penonjolan bahasa atau penuturan ini tidak mampu menghadirkan harmoni, penolakan kita atasnya menjadi sesuatu yang niscaya.

 

Tegangan dan Harmoni

Di bukunya ini Nidu membuat semacam pernyataan bahwa cerita-ceritanya adalah ambang, atau tegangan. Antara apa dan apa? Banyak. Lelap dan jaga. Mimpi berbahasa dan kesadaran bercerita. Yang menatap dan yang ditatap. Dan lain-lain. Bertolak dari pernyataan ini kita akan digiring untuk memafhumi dunia-rekaan Nidu yang sangat superior di satu-dua sisi namun sangat inferior di sisi-sisi lain. Sebagai pengarang, tentu saja, ia boleh melakukannya. Tapi kembali, sebagai pembaca, kita pun berhak untuk tak bersepakat dengannya.

Bicara soal dunia-rekaan berupa tegangan, saya jadi teringat sejumlah puisi Nirwan Dewanto di Jantung Lebah Ratu. Beberapa tahun lalu, saya menulis semacam ulasan atas buku puisi ini dengan fokus pada kuat dan terasanya tegangan dalam puisi-puisi di dalamnya. Tegangan, antara yang mudah dibayangkan dan yang sulit dibayangkan. Tegangan, antara sosok tunggal dan sosok jamak. Tegangan, antara posisi subjek dan posisi objek. Dan lain-lain. Salah satu yang saya bahas saat itu adalah puisi berjudul “Kucing Persia”. Puisi tersebut, dibuka dengan bait ini: “Tanpa belas kasihan ia mencari-cari sisa pasir pada telapak kakiku. Lidahnya berkilauan seperti dada perawan, tapi ia tak hendak menunjukkan rasa laparnya padaku. Seakan ia tahu rasa amis yang kubawa dari tamasya akan membuat tubuhnya bersaing dengan bayanganku. Tapi kuharap ombak laut yang kusimpan di kantung celana akan tumpah ke wajahnya sehingga aku sedikit mampu melupakannya.”

Bisa kita lihat di sana bahwa tiga kalimat awal relatif mudah untuk dibayangkan; citraan-citraannya, tidak begitu sulit untuk diproyeksikan. Namun kalimat keempat, terutama bagian “ombak laut yang kusimpan di kantung celana”, justru sebaliknya. Kehadiran kalimat ini seolah-olah menghancurkan struktur-citraan yang telah dibangun sebelumnya, dan di saat yang sama ia menghadirkan tegangan.

Ditemukannya tegangan dalam bait puisi tersebut adalah sesuatu yang menarik. Namun, saya percaya, bukan itu satu-satunya hal yang membuatnya menarik. Tegangan itu, sangat mungkin, tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang dan dilengkapi—bahkan disempurnakan—oleh hal-hal lain yang dimiliki si bait. Misalnya, keharmonisan bunyi. Atau, hubungan hierarkis-simbolis antara si aku dengan si kucing. Katakanlah dua hal ini tidak ada, maka sudah pasti hadirnya tegangan tadi tidak akan memberikan kenyamanan dan kenikmatan yang sama. Dengan kata lain, meskipun si bait puisi itu ditonjolkan ke hadapan kita sebagai sesuatu yang memiliki tegangan, namun di balik itu semua ia sebuah struktur yang tersusun secara harmonis dan utuh oleh hal-hal lain yang keadaannya cukup. Barangkali, seperti sebuah lukisan kubistis.

Dan di situlah saya kira persoalan cerita-cerita Nidu di Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar. Yang ditonjolkan Nidu kepada kita, adalah bahasanya, penuturannya. Namun unsur-unsur lain pembentuk cerita, seperti penokohan dan motif tadi, belumlah dalam kondisi yang cukup sehingga ia tak mampu menopang dan melengkapi—apalagi menyempurnakan—si bahasa; akibatnya, keharmonisan seperti yang kita temukan pada bait puisi itu tak terbangun. Dunia-rekaan pada bait puisi “Kucing Persia” tadi adalah dunia-rekaan yang ketika dilihat secara menyeluruh, secara utuh, akan terasa harmonis, “indah”, memberikan kita kenikmatan dan kesenangan dengan sendirinya. Namun dunia-rekaan dalam cerita-cerita Nidu di buku terbarunya itu, hanya akan terlihat “indah” dan memberikan kenikmatan-cum-kesenangan jika dilihat secara parsial, itu pun hanya satu-dua sisinya saja; ia tidak akan memberikan kesenangan yang memuaskan jika dilihat secara utuh. Dan tentu penilaian kita ini, sangat dipengaruhi oleh wujud dunia-dunia rekaan Nidu yang adalah cerita—bukan puisi.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa cerita dan puisi memiliki wujud yang berbeda—kadung dilihat seperti itu. Ada memang orang-orang yang tak lagi membedakan wujud keduanya, seperti Afrizal Malna, misalnya. Namun pada akhirnya, dan ini sangat disayangkan, hal itu seperti sebuah upaya belaka untuk menutupi ketidakmampuan si penulis dalam membuat cerita yang berwujud cerita. Dan apakah Nidu termasuk yang seperti itu?

Selain menulis cerita Nidu juga menulis kolom, artikel, dan tulisan-tulisan non-fiksi lainnya, dan saat ia menulis hal-hal di luar cerita itu ia sama sekali tak menonjolkan bahasa—bahasa non-praktis alias bahasa-puisi, maksudnya. Jadi, bisa dibilang, menonjolkan bahasa saat menulis cerita adalah pilihan Nidu; bukan sesuatu yang dilakukannya karena ia tak bisa menulis yang tak seperti itu. Tapi tunggu. Agaknya pernyataan tersebut baru terbukti benar jika Nidu menulis juga sebuah cerita yang di sana ia tidak menonjolkan bahasa atau penuturan. Cerita alias fiksi, bukannya non-fiksi. Sebagai pembaca yang bukan penggemar-garis-keras cerita-ceritanya, kita tentu berharap Nidu kelak melakukannya.

Dunia Serupa Sketsa

Untuk menutup ulasan ini, kita bisa mengatakan bahwa dunia-dunia rekaan Nidu, dalam Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar, pada dasarnya adalah dunia serupa sketsa. Di dalam diri mereka memang terbentuk sebuah dunia, tetapi dunia ini menghindari detail, juga menghindari peniruan-sepenuhnya, sehingga yang tampak kemudian adalah sketsa, dunia yang belum benar-benar terbentuk. Analoginya barangkali seperti lukisan impresionis. Tidak seperti lukisan naturalis yang menuangkan realitas secara “utuh” dan mendetail ke dalam kanvas, lukisan impresionis justru menghadirkan realitas itu secara “parsial” dan “temporal”. Ada ruang-waktu yang sempit yang membatasi dunia-rekaan tersebut. Dengan demikian, bahwa motif dan hal-hal di luar cerita-inti terkesan diabaikan adalah sebuah keniscayaan. Kita diajak untuk mau tidak mau menerimanya. (Paradoks?) Atau mungkin seperti lukisan ekspresionis, yang lebih mengedepankan ekspresi atau apa yang dirasakan si pengarang di saat cerita-inti berlangsung; dan bukan saja membatasi diri pada sebuah ruang-waktu yang pendek (sehingga motif tadi terabaikan), porsi dan kadar peniruan pun bergerak di jalur yang jauh berbeda dengan jalur naturalisme—bahkan berbeda juga dari jalur impresionisme. Dan kita, lagi-lagi, seperti diajak untuk menerimanya.

Masalahnya kemudian sangatlah sederhana: baikkah kita melihat cerita seperti itu, memandangnya seolah-olah ia adalah lukisan? Yang dimaksud dengan baik di sini tentunya adalah baik bagi si cerita, si pengarang, dan si pembaca. Kita bisa berdebat panjang-lebar soal hal ini dan karena itu kita tak akan membahasnya di ulasan ini; tidak, apalagi di saat kita sedang lemas-lunglai-hasai karena berpuasa. Lagipula, ulasan ini sudah kelewat panjang—sejujurnya.(*)

 Bojongpicung, 18 Juni 2016

 ___

NB. Selain yang dikemukakan di ulasan di atas, beberapa hal berikut juga sangat saya sayangkan: 1) buku ini dinobatkan sebagai peraih Siwa Nataraja Award 2015, tapi esai pertanggungjawaban atau setidaknya penjelasan soal mengapa buku ini diganjar anugrah tersebut tidak dicantumkan di buku; 2) esai atau ulasan Mahwi Air Tawar soal buku ini, yang dicantumkan di dalamnya, nyaris tidak memberikan pencerahan berarti kecuali soal kuatnya penggunaan bahasa, dan kelewat banyak menyinggung tema-tema urban secara sinis tanpa memberikan argumen yang kuat mengapa tema-tema rural seperti yang digarap Nidu bernilai lebih baik; 3) Damhuri Muhammad, di salah satu endorsement di awal buku, menyatakan upaya Nidu menghindari epigonisme dan pengulangan-pengulangan sebagai keunggulan cerita-cerita dalam buku ini, seolah-olah hanya dengan menghindari epigonisme cerita seseorang begitu saja dinilai berkualitas—kualitas penghindaran dari epigonisme tersebut sendiri mestinya diperhitungkan; 4) masih soal endorsement tersebut, Damhuri Muhammad menyatakan di cerita-cerita Nidu bisa kita temukan ide-ide yang genuine, dan lagi-lagi ia tidak menyinggung bagaimana ide-ide yang genuine itu digarap dan dihadirkan, seolah-olah yang paling penting dari sebuah cerita adalah idenya, bukan bagaimana ia dihadirkan; 5) si penyunting buku ini, Arip Senjaya, begitu juga pemeriksa aksaranya, Encep Abdullah, agaknya sedang kurang sehat saat melakukan tugas mereka, sebab mereka membiarkan sejumlah kata ulang dalam cerita-cerita di buku ini ditulis dalam format yang keliru, seperti “menari-tari”—harusnya jelas “menari-nari”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s