Keluarga Kami yang Berbahagia, 2

Dengan teramat kasar, adikku membuka pintu depan dan mendorongnya hingga gagang-dalamnya membentur dinding, menyisakan semacam denging yang berpusing di dalam kepalaku. Segera aku menoleh, dan kudapati adikku itu melangkah masuk dengan raut muka semuram malam dan sorot mata menikam tajam. Ia tak menutup kembali pintu, dan berjalan menghentak-hentak menuju kamarnya. Seolah-olah, ia tengah berusaha melepaskan sesuatu kotor yang telanjur melekat di sekujur tubuhnya.

Pengalaman memberitahuku: adikku sedang kesal terhadap sesuatu. Sangat. Sangat sangat kesal. Mengingat ia bukan orang yang menyenangkan ketika sedang kesal (tutur kata dan tingkah lakunya bisa begitu tidak aduhai dan aku tentu ingin menghindarinya), aku diam saja di sofa ruang keluarga; berpura-pura tak melihat apa yang tadi kulihat itu—bahkan berpura-pura tak menyadari ia sudah pulang dan masuk ke kamarnya. Tak lama lagi, dengan sendirinya, ia akan keluar; dan ketika keluar itu ia telah cukup tenang sehingga kemungkinan akan aman jika aku menanyainya. Begitu aku meyakinkan diriku saat itu. Untuk sementara, perhatianku kufokuskan ke televisi. Wajah seorang anggota dewan di layar mengingatkanku pada tahi kuda dan aku jadi ingin mengumpat dan melemparkan remot di tanganku ke sana sekuat tenaga.

Seperti yang kuduga, adikku keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian. Raut mukanya tak lagi muram, dan sorot matanya terlihat bersahabat. Aku menyampaikan padanya pesan dari Ibu sekitar dua jam yang sebelumnya, bahwa bahan-bahan untuk membuat kue telah dimasukkannya ke dalam salah satu lemari-atas di dapur. Ia mengangguk, dan berjalan menghampiriku—untuk kemudian duduk di samping kiriku. Langkah-langkahnya terkesan malas seperti kucing hamil yang baru bangun.

Kuberikan remot padanya, dan ia mulai mengganti-ganti channel. Selama beberapa saat kuamati wajahnya, sekadar untuk memastikan ia memang sudah dalam keadaan tenang. Setelah yakin, aku tanyakan padanya apa yang membuatnya kesal sampai tadi ia nyaris membanting pintu. “Aku digrepe-grepe tadi. Di kereta.” Begitu jawabnya. Beberapa detik, aku mencoba mencerna apa yang kudengar. Saat itu aku agaknya memicingkan mata dan sedikit memiringkan kepala sehingga adikku akhirnya menoleh dan menatapku, dan berkata, “Di pantat.”

Adikku ini, meskipun ia perempuan, aku nyaris tak pernah melihatnya sebagai perempuan. Rambutnya pendek di atas bahu; tulang rahangnya tegas; dadanya nyaris rata dan setelan favoritnya adalah kaus oblong dan celana jins. Meskipun dilihat dari sudut-sudut tertentu ia kadang terlihat cantik, namun kecantikannya itu bisa juga dikategorikan ketampanan seorang lelaki yang gemar mandi. Aroma tubuhnya wangi, memang, tapi untuk seorang perempuan itu jelaslah belum apa-apa.

Maka dari itu aku agak kaget, jujur saja, mendengar ia diraba-raba oleh seseorang—di kereta. Seseorang itu pastilah lelaki (aku tak bisa membayangkan seorang perempuan meraba-raba pantat adikku di ruang publik seperti itu), dan ia kupikir bisa memilih calon korban lain yang secara penampilan lebih bisa membangkitkan libidonya ketimbang adikku. Jangan bilang, dari belakang ia melihat adikku begitu menggiurkan. Aku sudah sering berada di belakangnya dan mengamatinya meski sekilas, dan aku tak pernah mendapati diriku membayangkan adikku itu serupa Sora Aoi jika dilihat dari depan.

Tapi begitulah, adikku diraba-raba dipantat. Ia menceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi dan apa yang ia rasakan dan ia tahan-tahan selama berbelas-belas menit lamanya—sampai akhirnya kereta tiba di stasiun di mana ia kemudian turun. Cara bicaranya begitu judes, tapi baik raut muka maupun sorot matanya menunjukkan ia tak lagi kesal sekesal tadi.

___

Dari apa yang kututurkan barusan, mungkin kalian mengira aku dan adikku cukup dekat; dan memang, kenyataannya begitu. Kami terpaut dua tahun dan sewaktu kecil sering menghabiskan waktu bersama. (Aku orangnya jarang bermain di luar bersama anak-anak lelaki seumuranku ketika itu.) Di usianya yang kesepuluh, setelah kami pindah tempat tinggal dan tentunya juga pindah sekolah, ia mulai punya teman-teman mainnya sendiri, dan mulai banyak menghabiskan waktu dengan mereka baik itu di rumah maupun di luar; dan banyak di antara teman-temannya itu laki-laki. Dari situlah barangkali ketomboyannya itu bermula. Ketika kami pindah tempat tinggal lagi—yang berarti adikku pindah sekolah lagi—enam tahun kemudian, ia berpisah dengan teman-teman mainnya itu, dan agaknya tak berusaha mencari teman-teman main baru. Saat itu aku sudah ngekos di sekitar kampus di mana aku kuliah dan pulang ke rumah paling sering dua minggu sekali. Semestinya, jika mempertimbangkan waktu-interaksi kami yang minim, juga masa enam tahun yang dinikmatinya bersama teman-temannya itu, kedekatan kami berada pada kadar yang rendah. Kami menjadi seperti asing satu sama lain pun kukira bukan hal yang aneh. Tapi yang ada, justru sebaliknya. Setiap kali bertemu di rumah kami mengobrol panjang lebar tentang berbagai hal, dan aku entah kenapa tak merasa perlu menahan diri terhadapnya; aku merasa bisa membahas apa saja dengannya termasuk hal-hal yang menyerempet ke pornografi atau isu-isu sensitif seperti gender dan agama. Mungkin, sedikit-banyak, ketomboyannya itu membantuku. Kadang-kadang aku merasa seperti tengah berbicara dengan belahan diriku saja.

Adikku seorang Protestan, jika kalian ingin tahu. Di kamarnya ia menempel satu salib-kosong besar di dinding (salib tanpa patung Yesus—peny.), dan ia mengaku selalu berlutut dan menghadap ke salib itu setiap kali berdoa. Aku pernah menyentuh salib itu; agaknya ia terbuat dari kertas karton atau yang lebih tebal lagi. Adikku memperlakukan salib itu seperti memperlakukan sesuatu yang teramat penting dalam hidupnya—mengecatnya dengan sempurna, membersihkannya secara berkala, bahkan memberinya nama. “Paskah. Itulah namanya,” ujarnya, suatu kali. Ketika kutanyakan apakah ada alasan di balik pemberian nama tersebut ia menjelaskan bahwa—kalau tidak salah—salib-kosong itu mengingatkannya pada saat-saat ketika Yesus diangkat ke Surga; tubuh Yesus yang penuh derita dan bekas luka tak lagi ada di kayu salib dan yang tersisa di sana adalah rasa syukur—dan kegembiraan. Aku tak begitu mengerti, jujur saja. Yang kurasakan setiap kali memandangi salib-kosong itu adalah semacam terlempar ke sebuah ruang kosong. Tak ada (si)apa pun di ruang itu, selain aku. Dan dalam situasi seperti itu, aku kira, hampir mustahil aku merasakan kegembiraan. Bisa jadi, dan kurasa ini benar, kesan berbeda ini dikarenakan agama kami—lebih tepatnya iman kami—berbeda.

Aku sendiri Muslim, dan ini, aku curiga, adalah sesuatu yang kudapatkan dari ayahku. Sesuatu yang diturunkan, katakanlah begitu. Aku tak ingat pernah memilih untuk menjadi Muslim, atau sekadar menyatakan keinginan untuk mengenal ajaran Islam. Ketika aku menyadarinya tahu-tahu aku sudah Muslim. Aku salat, aku hapal sejumlah surat dalam Al-Quran. Aku bisa mengaji, aku sanggup berpuasa di bulan Ramadan tanpa mengeluh. Di awal-awal kami tinggal di kawasan ini kukira tak seorang pun tetangga menyangka para penghuni rumah ini adalah orang-orang yang berbeda agama, dan saat ini pun barangkali sebagian besar masih seperti itu. Belakangan, baik aku ataupun adikku sesekali membawa teman ke rumah, tetapi mereka pun tak akan menyadari hal itu seandainya tak mengamatinya secara saksama. Selain di kamar, ayahku tak membolehkan simbol-simbol agama—apa pun itu—dipasang di rumah ini. Kami sendiri entah kenapa sangat jarang melakukan kegiataan keagamaan bersama-sama. Kalau saja adikku tidak gemar mengenakan kalung salib, aku jamin siapa pun yang bertamu atau main ke rumah ini tak akan menyadari keberbedaan kami itu.

Pernah suatu kali kubicarakan hal ini dengan adikku, dan ia menjawab santai—seolah-olah tak peduli: “Mereka menyadarinya atau nggak, itu toh sama sekali bukan urusan kita.” Aku tak bisa mengatakan aku sependapat dengannya, tapi harus kuakui sesungguhnya aku berharap kenyataannya begitu. Di saat sedang mempertanyakan hal-hal terkait keberbedaan kami tersebut, mau tidak mau, di benakku akan terbayang Ayah dan Ibu. Lebih dari dua puluh tahun sebelumnya mereka menikah dengan kondisi berbeda agama dan aku sungguh penasaran apa yang mereka pikirkan—dan pertimbangkan—saat itu. Maksudku, mereka tentu tahu hal yang umum ditemui di negeri ini adalah pernikahan seagama, dan selanjutnya keluarga satu agama. Jalan yang ditempuh Ayah dan Ibu tentulah akan mengundang banyak masalah dan aku selalu bertanya-tanya apakah mereka saat itu sebegitu saling mencintainya, sampai-sampai mereka seakan-akan mengabaikan hal tersebut.

___

Ngomong-ngomong soal Ayah dan Ibu, ada beberapa hal tentang mereka yang kukira menarik untuk diceritakan. Ini, ada hubungannya dengan keberbedaan mereka dalam hal agama dan iman tadi.

Ayahku Muslim dan ibuku Protestan, dan entah kenapa, mereka sama-sama taat. Setidaknya setiap kali Ayah di rumah, aku selalu melihatnya salat; kadang ia pun mengaji dan aku selalu menikmati lantunan-lantunannya itu. Ibu sendiri, selain nyaris tak pernah melewatkan ibadah di gereja hari Minggu (kecuali jika sakit berat atau ada keperluan keluarga mendadak), di tiap pagi dan sebelum tidur ia agaknya membaca sesuatu seperti renungan atau semacamnya—aku kurang paham. Dengan ketaatan seperti itu aku bisa memafhumi jika kalian membayangkan keluarga kami adalah keluarga yang super-religius; sekumpulan orang saleh yang selalu berusaha untuk mengingat Tuhan dan menyenangkan-Nya. Tapi dugaan itu meleset. Ayah dan Ibu, kendatipun mereka terbilang aduhai dalam beragama, kenyataannya tak pernah benar-benar meminta—apalagi memaksa—kami untuk menjadi seperti mereka. Memang Ayah mengajariku banyak hal soal menjadi Muslim; dan hal serupa dilakukan Ibu terhadap adikku. Tapi, pada akhirnya kami seperti dibiarkan untuk beragama dengan cara-cara kami sendiri. Kami seperti dilepas, di satu titik waktu yang entah kapan. Kata adikku, kami adalah domba-domba yang dibiarkan berkeliaran dan kembali tersesat untuk kelak akhirnya menemukan jalan keselamatan kami sendiri.

Tadi kubilang Ayah dan Ibu adalah orang-orang taat—juga saleh. Perlu kalian pahami: itu tidak berarti mereka setiap detiknya menunjukkan laku putih ala orang suci. Sesekali, mereka bertengkar. Sesekali, mereka bertingkah layaknya anak-anak. Sesekali, mereka menegaskan jati diri mereka sebagai manusia biasa.

Itu terlihat salah satunya ketika mereka terlibat adu mulut. Pertengkaran bisa dimulai dari Ayah atau Ibu, dan penyebabnya beragam mulai dari hal-hal filosofis sampai hal-hal teknis yang tak penting. Ketika Ibu sudah kelewat kesal (aku bisa melihat itu dari kulit mukanya yang memerah), ia akan memaki Ayah dengan menyebutnya teroris. Ketika Ayah sudah kelewat jengah (aku bisa mengetahui itu dari urat-urat di lehernya yang menegang), ia akan balik memaki Ibu dan mengatainya kafir.

Aku dan adikku pernah menyaksikan adu mulut mereka itu bersama-sama dan kami sempat lumayan tegang sebab mengira sesuatu lebih serius dan berbahaya akan mengikutinya setelahnya. Ternyata, kecemasan kami tak beralasan. Ibu dan Ayah mungkin sudah melakukannya sejak masih pacaran dulu, dan pada akhirnya mereka terbiasa. Beberapa hari setelah adu mulut itu, jika kemudian salah satu dari kami—aku dan adikku—menyinggungnya, mereka akan seketika tersenyum, dan akhirnya tertawa. Kami pun, seperti terpengaruh, ikut-ikutan tersenyum, dan tertawa.

Ada yang lebih konyol dari itu. Suatu dini hari aku terbangun karena sakit perut, dan saat aku tengah berjalan cepat ke kamar mandi aku mendengar suara-suara aneh yang membuat bulu kudukku berdiri. Dari kamarku ke kamar mandi, tak mungkin tidak, akan melewati pintu kamar Ayah-Ibu, dan suara-suara aneh itu aku dengar dari dalam kamar mereka. Tanpa kusadari langkahku sudah terhenti, dan menggelikannya, meski jelas-jelas merinding, aku justru menajamkan pendengaranku dan mencoba mengidentifikasi suara-suara itu. Rupa-rupanya suara-suara itu jauh dari menakutkan. Semakin mencermatinya, semakin aku tahu aku tak perlu mengkhawatirkannya, dan semakin aku mengenali si sumber suara. Orang-orang yang berada di dalam kamar itu jelas Ayah dan Ibu, dan merekalah si sumber suara yang kumaksud.

Pada satu titik apa yang kudengar itu justru membuatku ingin tertawa—dan aku mati-matian menahannya. Setelah menempelkan telinga kanan ke pintu kamar, kudapati Ayah dan Ibu di dalam sana sedang saling memaki, dan tentunya mereka menggunakan kata makian kesayangan mereka tadi—teroris dan kafir. Kedua kata ini berloncatan dari lidah mereka, seperti teriakan-teriakan penggemar di sebuah konser. Semakin saksama aku mencermatinya, semakin aku yakin mereka memuntahkan kedua kata tersebut di tengah-tengah melakukan hubungan seks.

Kepada adikku kuceritakan hal itu besok paginya, tepat sebelum aku pergi ke kampus, dan ia langsung tertawa dan tertawa. Adikku ini suaranya melengking dan itu akan sangat terasa ketika ia tertawa lepas. Telingaku pasti berdengung dibuatnya. Beberapa bulan kemudian, entah kenapa, kami sama-sama terbangun di sebuah dini hari, dan suara-suara asoy dari dalam kamar Ayah-Ibu itu kembali tedengar. Kali itu kami menjadi kakak-adik paling kompak sedunia; kami tempelkan satu telinga kami ke pintu kamar itu sambil menutup mulut dengan satu tangan. Konyol sekonyol-konyolnya.

___

Bahkan bertahun-tahun kemudian ketika Ayah dan Ibu akhirnya berpisah, bahkan kini setelah tahun-tahun lainnya berlalu seperti mimpi, hal-hal konyol itu masih sesekali terlintas di benakku, dan dengan sendirinya aku tersenyum—kadang dilanjutkan dengan tertawa. Jika kalian bertanya kenapa Ayah dan Ibu berpisah, padahal sejauh ini kugambarkan mereka begitu serasi dan saling menerima satu sama lain, akan kujawab begini: itu bermula dari konflik berdarah di sejumlah kota di Pulau S.

Dulu, nyaris dua tahun sebelum perpisahan itu terjadi, serentetan bentrokan antar-kelompok santer diberitakan di televisi, dan entah bagaimana bentrokan-bentrokan ini kemudian dinyatakan sebagai konflik antara Muslim dan Kristiani, antara Islam dan Kristen. Ayah dan Ibu, kami sekeluarga, pada awalnya biasa-biasa saja menyikapinya; kami tak terprovokasi sebab bagaimanapun kami sudah hidup cukup lama dalam kondisi berbeda agama dan terbukti kami bisa menjalaninya tanpa terjadi bentrokan atau perselisihan. Namun lama-kelamaan, Ayah dan Ibu terpancing juga. Mungkin penayangan-penayangan konflik itu memang sudah melewati batas. Ayah dan Ibu, di sela-sela makan malam, mulai sering membahasnya; dan mereka entah kenapa jadi seperti fanatik terhadap agama mereka masing-masing. Ayah membela orang-orang yang dianggapnya saudara-saudaranya. Ibu pun begitu. Adikku beberapa kali dengan kasarnya meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Sisa makanan di piringnya seperti kebencian. Aku sendiri kadang jengah dan memilih untuk menyantap saja apa yang ada di hadapanku tanpa sedikit pun menoleh ke kanan atau kiri. Seringkali, apa yang kemudian diperdebatkan Ayah dan Ibu di meja makan itu aku tak lagi menyimaknya.

Adikku begitu menyesali perpisahan Ayah dan Ibu, begitu juga aku. Ia mengikuti Ibu, sedangkan aku tak mengikuti siapa pun. Barangkali kalian akan berpikir aku sebaiknya mengikuti Ayah, mengingat ia saat itu seorang diri dan kami sama-sama Muslim. Tapi aku tak berpikir seperti itu. Sejak awal, aku tak pernah melihat ikatan yang terjalin di antara kami adalah ikatan agama (atau iman), sehingga ayahku seorang Muslim atau Kristiani atau apa pun tak jadi soal bagiku. Dan sejak awal, atau lebih tepatnya sejak aku bisa mengingatnya, aku selalu melihat kami berempat adalah sebuah keluarga; satu kesatuan, yang tak akan terpisahkan oleh apa pun. Ayahku dan ibuku berpisah; mereka bercerai dan ibuku memilih “menenangkan diri” di salah satu saudaranya di luar kota, dan adikku menemaninya. (Adikku ini bahkan menyusun ulang rutinitas hariannya sebagai pekerja kantoran di kota tempat kami tinggal—dulu.) Ayahku menyepi; rumah yang kami dulu tempati itu ia jual dan uangnya ia gunakan untuk membeli sebuah rumah-tinggal di provinsi seberang, di kawasan pedesaan yang udara dan pemandangannya masihlah segar. Aku sendiri, bertahan di kota ini. Bekerja dan bekerja. Sesekali aku mengunjungi Ibu dan adikku. Dua atau tiga kali dalam setahun aku mengunjungi Ayah dan mengabarkan padanya kondisi terkini Ibu. Ia selalu terlihat damai saat aku mengajaknya bernostalgia, namun aku tak tahu apakah di dalam dirinya ia memang seseorang yang setenang itu.

Di kota ini aku rupanya sudah hampir sepuluh tahun menjalani hidup. Aku hampir kepala empat, tapi sama sekali belum punya rencana untuk menikah dan berkeluarga. Bahkan memikirkannya saja tidak. Beberapa kali aku pernah mencoba menjalin hubungan dengan seseorang, dan akhirnya selalu kandas, dengan aku lebih banyak menjadi pihak yang mengakhirinya. Entahlah kenapa. Mungkin aku diam-diam khawatir rumah tangaku nanti akan berakhir tragis seperti halnya rumah tangga Ayah dan Ibu. Atau mungkin, aku tak bisa sepenuhnya menerima kehadiran seseorang di luar kami berempat untuk kuanggap dan kusebut keluarga. Bisa jadi bukan keduanya. Adikku sendiri sama saja, dan belakangan aku tahu ia seorang lesbian. Ia tak menikah, karena ia tak bisa menikah dengan seseorang yang dicintainya dan mencintainya—seorang perempuan sepertinya. Ibuku tak menunjukkan gelagat akan menikah lagi, begitu juga ayahku. Kami berempat ini, barangkali, akan selamanya menjadi sebuah keluarga yang sama meski tak lagi berkumpul dan bercengkerama di satu atap.

___

Kalian masih ingat scene yang kumunculkan di awal tadi? Itu adalah hari di mana kami merayakan ulang tahun pernikahan Ayah-Ibu yang ke-23. Aku saat itu kebetulan sudah tidak ada kuliah lagi di kampus dan menyempatkan diri pulang. Adikku sendiri, yang kuliah di kota lain, ditugaskan sebagai pembuat kue sebab Ibu mendadak harus melayat ke salah satu teman-yoga-nya. Jangan salah, adikku sungguh terampil dalam membuat sesuatu—termasuk di dalamnya makanan dan camilan. Dalam hal ini ia bahkan menurutku melampaui Ibu. Ayah sendiri, saat itu, tentulah masih di kampus; masih mengajar atau melanjutkan penelitian ilmiahnya tentang gerakan Islam radikal di negeri ini.

Aku ingat betul malam harinya, menjelang pukul sembilan, Ayah dan Ibu menyalakan lilin-lilin di atas kue buatan adikku itu bersama-sama, dan setelah saling mengucapkan rasa syukur (kepada Tuhan masing-masing) dan saling melontarkan kata-kata manis satu sama lain, mereka meniup lilin-lilin itu bersama-sama. Aku dan adikku menyaksikannya dalam diam, dalam senyum yang kami tahan-tahan meski terbukti kami gagal. Ayah dan Ibu kemudian saling mendekatkan wajah, dan berciuman; itu terjadi lewat gerakan yang begitu lembut seolah-olah di sana pun telah hadir cinta. Kami berempat malam itu begitu berbahagia, dan barangkali berharap perasaan semacam itu akan kami hadapi lagi tahun berikutnya dan tahun berikutnya lagi dan tahun berikutnya lagi. Terus seperti itu. Terus seperti itu sampai maut menjemput kami—satu per satu.

Hari ini, kalau saja delapan tahun yang lalu Ayah dan Ibu tidak berpisah, kami sedang akan merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-40. Empat puluh tahun pernikahan. Itu tentu sesuatu yang bisa dibanggakan. Adikku seperti biasa akan menyibukkan diri di dapur—mungkin di bantu Ibu. Aku sendiri, mungkin sedang menemani Ayah; ia kadang lupa tapi ketika ingat ia selalu mencari-cari sebuah kado yang teramat istimewa yang akan ia berikan dengan tangannya sendiri kepada Ibu—tentunya disertai ciuman dan pelukan setelahnya.(*)

Bojongpicung, 22 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s