Beberapa Cerita Tentang Rumah

Lewat meeru istrinya bertanya apakah ia akan pulang larut lagi seperti sehari sebelumnya, dan ia membalas, “Ya.” Itu sesungguhnya sebuah pesan biasa, dan karenanya ia tak perlu merasa terganggu olehnya. Sedikit pun tak perlu. Tapi kenyataannya, ia justru terganggu. Teman-temannya dilihatnya masih menikmati obrolan sambil sesekali tertawa-tawa dan menenggak bir. Ia tak lagi tertarik. Tubuhnya memang di sana, tetapi ia merasa dirinya tengah melayang-layang di suatu tempat yang sangat jauh.

Dalam sebulan terakhir, kepulangan-larut-selepas-kerja-nya meningkat drastis sehingga kini telah berada pada frekuensi yang mengkhawatirkan. Ia tahu itu. Ia menyadarinya. Perusahaan tempat ia bekerja menyediakan jatah lembur satu kali seminggu dan fasilitas inilah yang ia gunakan sebagai alasan untuk tidak langsung pulang ke rumah ketika langit belum benar-benar gelap. Dulu, jatah ini jumlahnya lebih banyak, dan ia selalu menggunakannya; dan ia menikmatinya. Ketika jatah itu kemudian menjadi tinggal satu kali dalam seminggu ia tetap menikmatinya, meski di dalam hatinya ia mengeluh karena sejatinya ia butuh jatah itu lebih banyak setidaknya dua kali lipatnya. Pada akhirnya, sewaktu-waktu, ia mengarang-ngarang alasan sendiri untuk menundanya pulang lebih cepat; menciptakan rutinitas-rutinitas baru yang memaksanya untuk tetap berada di sekintar kantor beberapa jam lebih lama. Dan salah satu di antara rutinitas-rutinitas itu adalah: bersama teman-teman kantornya mengobrol di sebuah kafe atau rumah makan sambil sedikit ngemil dan minum-minum.

Ia tak ingat persisnya sejak kapan ia mulai merasa butuh menunda kepulangan-kepulangannya. Ia telah bekerja di perusahaan A—sebut saja begitu—selama sebelas tahun dan ia menikah di tahun ketiganya bekerja di perusahaan itu. Delapan tahun. Itu artinya telah delapan tahun ia habiskan dengan bekerja di perusahaan tersebut lalu pulang ke sebuah ruang di mana di sana seseorang menyambutnya. Seseorang yang kemudian diikuti seseorang yang lain—istrinya melahirkan seorang anak perempuan di usia pernikahan mereka yang ketiga. Pada awalnya, ia yakin, ia menikmati kepulangan-kepulangan itu; setibanya di genkan (ruangan antara pintu depan dan bagian utama rumah—penerj.) setelah melepas sepatu istrinya menghampirinya untuk merapikan sepatunya namun ia memeluk perempuan itu sebelum sempat melakukannya. Ia akan menciumi perempuan itu di pipi, di leher, di dagu, dan di bibir. Ia tak mungkin tak menikmati yang dilakukannya itu, tetapi entah kenapa, pada satu titik waktu yang anehnya tak bisa ia ingat, ia telah tak lagi melakukannya. Kepulangan-kepulangannya ke rumah jadi lebih seperti sebuah singgah, dan itu tak menyenangkannya. Anaknya sendiri, yang dulu di matanya begitu menggemaskan, seakan telah berubah jadi sesosok makhluk yang tak lagi menarik perhatiannya.

Ia bukannya tak mencintai istrinya. Justru, ia mencintai istrinya, dan itu dibuktikannya dengan membelikan perempuan itu berbagai hal yang selalu berhasil membuat perempuan itu tersenyum lebar. Perhiasan-perhiasan, baju-baju mahal. Sepatu-sepatu impor, alat-alat dapur. Ia mendapati dirinya bergembira saat mencari-cari dan membeli benda-benda itu, dan rupanya lebih bergembira lagi saat dengan tangannya sendiri ia menyerahkan benda-benda itu kepada istrinya. Hal serupa ia lakukan juga kepada anaknya. Kedua perempuan ini, diposisikannya begitu istimewa di dalam hidupnya. Ia bersyukur memiliki dan dimiliki mereka berdua.

Tetapi itu tak mengubah fakta bahwa ia, dalam satu setengah tahun terakhir, merasa kepulangan-kepulangan itu tak lagi menyenangkannya. Di saat orang-orang di kantornya bersiap-siap pergi, ia akan tediam memandangi mereka, kemudian mengalihkan matanya ke jendela; menyaksikan langit yang masih cukup terang dan bertanya-tanya berapa lama lagi terang itu akan hilang. Jika jatah lemburnya masih ada, seperti yang kusinggung tadi, ia akan mengambilnya. Jika sudah tak ada, ia akan menimbang-nimbang siapa saja di antara teman-teman kantornya itu yang kelihatannya belum ingin pulang dan mungkin bisa diajaknya minum-minum. Seperti itu. Tentu sewaktu-waktu ia harus memaksakan dirinya untuk langsung pulang sebab istrinya bisa berpikir macam-macam kalau ia terus-terusan dan terlampau sering pulang larut. Dan begitulah, dalam satu bulan terakhir ini, ia ternyata melakukannya.

Jika teman-temannya bertanya kenapa ia lagi-lagi tak ingin langsung pulang, ia akan menjawab: “Berhadapan dengan istri dan anakku sehabis kerja? Itu bukan sesuatu yang membuatku nyaman.” Teman-temannya itu akan mengangguk-angguk, sebab pada dasarnya mereka pun merasakan hal yang sama—dengan konteksnya masing-masing. Dengan maksud bercanda salah satu temannya suatu kali bertanya mengapa ia tidak pergi saja; pergi ke sebuah tempat dan menghabiskan waktu di sana beberapa lama sampai akhirnya ia merindukan anak dan istrinya—dan hasrat untuk pulang itu pun timbul. “Yang benar saja,” ujarnya, “aku tidak mungkin meninggalkan orang-orang yang aku miliki. Itu akan membuat mereka sedih. Aku sendiri bisa jadi lebih sedih lagi,” lanjutnya. Salah satu temannya yang lain kemudian bertanya apakah alasan itu memanglah yang sesungguhnya atau ia hanya tak bisa membayangkan kehilangan mereka, menjalani sisa hidupnya seorang diri tanpa kehadiran mereka berdua. Ia memikirkannya sejenak, sambil menenggak habis sisa bir miliknya. Ia kemudian mengatakan bahwa bisa jadi yang dikemukakan temannya itu benar, lantas tertawa. Teman-temannya pun tertawa.

Kini ia sungguh berharap salah satu temannya itu akan tertawa dan yang lainnya ikut tertawa, begitu juga dirinya. Ia tak ingin masih dalam keadaan murung begini setibanya di rumah nanti. Ia kasihan pada istrinya. Dalam beberapa hari terakhir ia menemukan di mata istrinya semacam kecemasan yang tercampur kesedihan; sesuatu yang membuatnya merasa bersalah dan bersalah. Ia tahu, ia semestinya memberitahu istrinya apa yang selama satu setengah tahun ini mengganggunya, mengusiknya, membuatnya kehilangan rasa nyaman berada di rumahnya sendiri. Namun, dan ini sangat disesalkannya, ia takut. Mungkin benar yang dikatakan salah satu temannya itu, bahwa ia merasa tak akan bisa hidup tanpa kehadiran anak dan istrinya. Dan ia takut, jika ia mengungkapkan apa yang selama ini ditahan-tahannya itu, anak dan istrinya akan menjadi sosok-sosok yang berbeda, dan kemudian meninggalkannya.

___

Malam ini aku akan genap menjalani enjo-kousai selama satu tahun. Mungkin aku perlu merayakannya. Sepulang dari “melayani” para pelanggan nanti aku bisa mampir ke sebuah konbini (dari convenience store—penerj.) dan membeli di sana sebuah kue kecil serta sebatang lilin. Atau mungkin, sebelum itu saja. Aku bisa menyalakan lilin itu di hadapan pelanggan dan meniupnya dengannya bersama-sama. Sepertinya itu menyenangkan. Si pelanggan sendiri, kukira, tak akan keberatan. Toh kehadirannya di hadapanku nanti adalah sebuah bukti bahwa ia merasa kesepian, bahwa ia membutuhkan kehadiran seseorang untuk menemaninya bicara dan menghabiskan waktu. Dan tentu ia akan lebih bisa menikmatinya kalau aku mengajaknya merayakan “ulang tahun”-ku. Bagaimana? Kau sependapat denganku, ‘kan? Setelah bel pulang nanti aku akan berjalan-jalan sendirian di Ginza; mencari-cari toko kue dan membeli salah satu kue yang paling mengundang selera—tentunya harus ada stroberi di atasnya. Aku kemudian akan memotretnya, dan memostingnya di blog.

Satu tahun. Tidak terasa. Aku ingat pertama kali melakukannya rasa gugup menjalar gusar ke seluruh tubuhku. Tanganku gemetar saat menyeduh kopi. Jari-jari kakiku tak henti-hentinya bergerak di sepanjang obrolan. Ketika aku bicara, dan ketika aku menatap mata seorang lelaki di hadapanku, aku menyadari: aku tak nyaman. Seseorang itu bagaimanapun sosok asing bagiku dan aku yang tak punya satu teman dekat pun di sekolah tentulah kikuk sekikuk-kikuknya berhadapan dengannya. Saat ia tersenyum, dan aku membalas senyumnya, aku merasa bodoh dan ingin sekali memaki diriku sendiri. Satu setengah jam aku terjebak dalam situasi seperti itu. Dan setelahnya, selepas lelaki itu meninggalkan ruangan, aku benar-benar menarik-embuskan napas-napas panjang.

Itu sungguh pengalaman yang menghibur ketika aku mengingatnya sekarang. Beberapa kesempatan pertama, agaknya kulewatkan seperti itu. Barulah kemudian pada suatu kesempatan—entah persisnya kapan—aku mulai menikmati apa yang kulakukan itu, dan setelah itu semuanya seolah mudah. Aku tak lagi gugup saat menyeduh teh atau kopi. Aku merasa rileks saat duduk berhadap-hadapan berdua saja dengan lelaki asing di hadapanku. Aku bisa menatap mata pelangganku itu dan tersenyum lebih dulu dari dirinya. Bahkan, dan ini yang kemudian kubanggakan, aku selalu bisa membuat para pelangganku itu tampak bahagia; seakan-akan obrolan yang dijalaninya denganku itu telah secara sempurna mengenyahkan kesuntukan dan kemuraman yang semula bercokol di dalam diri mereka. Aku senang. Dengan begini aku jadi merasa keberadaanku (di dunia ini) ada artinya; bahwa aku rupanya bisa berguna juga bagi orang lain. Aku, yang baik di sekolah maupun di rumah selalu merasa seorang diri ini. Suatu ketika aku bahkan menerima kado dari salah satu pelangganku; sebuah kotak kubus berwarna putih bersih dengan sepasang pita hitam mengikatnya. Di dalam kado itu, ada sebuah jam tangan berbentuk kepala kucing, sebuah bando dengan sepasang kuping kucing sintetis, dan semacam ikat pinggang disertai ekor kucing. Lelaki itu tentu berharap aku mengenakannya, dan memang aku mengenakannya saat itu juga, di hadapannya. Ia seorang pelanggan yang telah beberapa kali menggunakan “jasa”-ku dan selalu tampak bahagia menjelang obrolan kami berakhir. Malam itu, ia tampak jauh lebih bahagia dari biasanya.

Pernah juga suatu ketika aku kedatangan seorang wotaku. Ia penggemar AKB48 dan seorang Mayuyu-oshi. Di sepanjang obrolan kami itu ia tak henti-hentinya mengajakku bicara soal Mayuyu dan AKB48, dan aku mau tak mau harus menunjukkan seolah-olah aku tertarik pada yang kami obrolkan itu. Jujur saja, aku bukan seorang penyuka idol grup—mana pun itu. Kakakku, yang usianya terpaut delapan bulan saja denganku, memasang poster-poster Yukirin di kamarnya, dan kerap memutar keras-keras lagu-lagu French-Kiss bahkan di malam hari. Aku melihatnya menggelikan. Dan barangkali, itulah juga salah satu alasan aku tak lagi merasa ingin menghabiskan malam-malamku di rumah. Bisa jadi aku memutuskan menjalani enjo-kousai adalah juga untuk menghindarkan diri dari kondisi yang membuatku tak nyaman itu. Alasan utamanya, jelas: cara ayah-ibuku memperlakukanku.

Aku sesungguhnya tak ingin mengatakannya di sini, tapi mungkin lambat-laun aku akan mengatakannya juga. Kepada kakakku, ayah-ibuku selalu bersikap ramah. Mereka bahkan membelikannya hampir semua hal yang diinginkannya. Sedangkan kepadaku, sikap mereka selalu dingin. Aku memang tak pernah mendapati mereka memarahiku apalagi memakiku, namun jelas sekali aku bisa merasakan mereka mengabaikanku. Seolah-olah, aku melakukan atau tidak melakukan apa pun di rumah, mereka tak peduli. Ini telah berlangsung sejak aku SMP dan kukira penyebabnya adalah tidak kunjungnya aku menunjukkan tekad dan kesungguhan untuk berprestasi—di sekolah, misalnya. Ayahku seorang dosen di sebuah universitas ternama di Tokyo, dan ia mungkin berharap setiap anaknya mewarisi kecerdasan dan semangat-belajarnya. Bagusnya ia mendapatkannya dari kakakku. Dariku, sayangnya tidak.

Ibuku tak bekerja dan ia mengecewakanku. Bukan karena ia tak bekerja, tetapi karena ia seperti sepenuhnya membenarkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan ayahku. Kami sama-sama perempuan, dan tadinya kupikir aku bisa membuat semacam persekutuan dengannya; ayahku dengan kakakku, aku dengan ibuku. Tapi berharap seperti itu pun rupanya terlampau muluk. Aku merasa rumah bukan lagi sesuatu yang bisa kutinggali—bahkan kusinggahi—dalam waktu lama—dan dengan rasa nyaman. Karena itulah aku kemudian menjalani enjo-kousai, menemani bicara lelaki-lelaki yang kelewat kesepian dan malas mencari teman-kencan—atau sekadar teman-bicara. Di sekolah, sudah jelas, aku merasa kehadiranku tak ada artinya.

Dan aktivitas yang kujalani ini rupanya menyenangkan juga, bahkan sewaktu-waktu sangat menyenangkan. Misalnya, suatu malam menjelang Natal. Saat itu seperti biasa aku duduk di kursi kesayanganku, dan seorang lelaki tepat di hadapanku—kami hanya dipisahkan sebuah meja persegi dari kayu—mengajakku bicara. Awalnya, semua biasa saja. Aku mencoba menyimak apa-apa yang ia katakan, sambil sesekali meresponsnya dengan tersenyum dan pura-pura terkejut. Lalu tiba-tiba, pada satu titik, raut mukanya berubah. Ia seorang lelaki dengan pipi bulat dan mata yang sedikit terlalu sipit, meski ia tidak gemuk. Aku mengamati perubahan raut mukanya dan entah kenapa merasa sesuatu yang tak biasa akan terjadi. Dan benarlah. Si lelaki di hadapanku itu menangis; terisak-isak layaknya anak kecil. Aku kaget sekaligus cemas dan kutanyakan padanya ada apa, dan ia, sambil terisak-isak dan berlelehan air mata, menjawabnya. Ia bilang ia baru saja putus dengan pacar-sembilan-tahunnya dan berbicara panjang-lebar denganku mengingatkannya pada perempuan itu. Dan tentu saja, ia merasakan dadanya sesak.

Awalnya kukira si perempuan adalah pihak yang mengakhiri hubungan itu, tapi rupanya aku keliru. Si lelakilah yang melakukannya. Dan aku jadi bingung. Maksudku, jika memang ia saat itu teramat merindukan si perempuan, maka ia pastilah tak menginginkan perpisahan itu. Dan itu artinya, ia seharusnya tak melakukannya.

“Aku melakukannya karena aku terpaksa,” ujarnya. “Tinggal itu satu-satunya yang bisa kulakukan,” sambungnya.

Menyimaknya tak membantuku memahaminya. Tapi kemudian aku memancingnya untuk terus bercerita, dan ia, seperti tengah teramat lama menahannya, mengutarakan begitu banyak hal tentang perempuan itu dan hubungan istimewa mereka dan alasan-alasan di balik berakhirnya hubungan tersebut. Intinya, kendatipun hubungan itu bertahan cukup lama, ia bukanlah sebuah hubungan percintaan yang bisa dianggap baik-baik saja. Perempuan itu berkali-kali berselingkuh, sedangkan si lelaki di hadapanku terlalu takut kehilangan dirinya. Ia bilang ia telah mencoba banyak cara untuk membuat dirinya mampu bertahan, dan pada akhirnya ia tahu: ia sudah sampai pada batasnya. Ketika kutanyakan apakah ia juga mencoba sejumlah cara untuk membuat si perempuan sedikit “jinak”, ia cepat-cepat menggeleng. Katanya, menerima perempuan itu apa adanya adalah hal terbaik yang harus ia coba lakukan sebagai seseorang yang betul-betul mencintainya.

Membingungkan, jujur saja, dan aku menilai lelaki itu tolol. Namun di saat yang sama, aku kasihan padanya, dan jadi tergerak untuk menghiburnya. Maka kuraih tangan kanannya dan kugenggam serta kuelus-elus. Ajaibnya, ia balas menggenggam tanganku, bahkan juga dengan tangannya yang satu lagi. Di hadapanku lelaki itu terus menangis, dan anehnya aku mendapati diriku tersenyum, dan sesuatu yang hangat dengan cepat menjalar-menyebar di dalam diriku. Hampir dua puluh menit lamanya lelaki itu menangis, dan selama itu pula aku merasakan kehangatan itu, dan selama itu pula aku tersenyum dan tersenyum. Di detik-detik terakhir percakapan kami lelaki itu mengatakan padaku bahwa ia berterima kasih sebanyak-banyaknya atas apa yang telah kulakukan, bahwa ia telah merasa jauh lebih baik dan ia mensyukurinya. “Memangnya apa yang sudah kulakukan?” tanyaku. Namun lelaki itu hanya tersenyum, dan aku baru menyadari arti dari senyumnya itu setelah ia pergi.

Jadi rupanya, ini sekiranya pemahamanku tidak keliru, apa yang kulakukan itu (baca: menjalani enjo-kousai) secara nyata membuatku merasa kehadiranku di dunia ini beralasan. Ada orang-orang yang membutuhkanku, dan aku bisa melakukan hal-hal baik untuk mereka; membantu mereka untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Memang ada saja anggapan miring yang mengkategorikan apa yang kulakukan ini sesuatu yang buruk; semacam bagian dari dunia-malam Jepang yang dekat sekali dengan prostitusi. Terserah. Aku tak peduli. Aku menjalaninya dan selama ini aku hanya melakukan hal-hal baik. Dan itu membuatku merasa berada di rumah. Rumah yang sebenar-benarnya rumah.

Bel istirahat berbunyi. Saatnya tidur siang.

___

Hari ini ia pun begitu diam. Bahkan, aku rasanya belum sedikit pun mendengar suaranya. Ketika akan menyantap hidangan ia memang mengucapkan “itadakimasu” namun ia mengucapkannya dengan sangat pelan, seakan-akan ia berusaha membuat tak seorang pun mendengarnya, seakan-akan ia enggan aku dan Kanae-san atau siapa pun menyadari keberadaannya. Kami membiarkannya. Ah, tidak. Aku yang membiarkannya, sementara Kanae-san sesekali mengajaknya bicara atau sekedar menyuruhnya mencoba hidangan demi hidangan. Sesekali, ia mengangguk.

Kami mulai menikmati makan malam bertiga seperti ini sejak lima hari yang lalu. Saat itu, aku terkejut mendapati seseorang asing duduk di kursi yang biasa kududuki, dan ia seorang diri saja di sana dan menatapku tanpa emosi. Kanae-san, saat itu sedang mempersiapkan sesuatu di dapur, dan ia lupa memberitahuku bahwa malam itu kami kedatangan “tamu”. Aku menghampirinya, duduk di sebuah kursi di hadapannya. Aku mengira ia teman-main Kanae-san dan karenanya aku mencoba bersikap ramah dengan menanyainya siapa namanya dan apa yang tengah dan akan dilakukannya di rumah kami, namun ia tak menjawabnya; ia bahkan segera mengalihkan tatapan matanya dari diriku. Aku langsung kesal dan menunjukkan kekesalanku itu lewat raut mukaku. Sayangnya, ia tak sedikit pun terlihat terganggu.

Beberapa belas menit kemudian aku mulai mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Kanae-san bilang, ia ditelepon seorang teman-aktivis-nya dan diminta datang ke kantor lembaga kemanusiaan tempat temannya itu bekerja saat itu juga. “Ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolonganku. Begitu temanku memberitahuku,” jelas Kanae-san. Seseorang yang dimaksud temannya itu konon baru saja mengalami serangkaian kejahatan yang mengarahkannya pada upaya bunuh diri, hanya saja ia terselamatkan sebab jumlah pil tidur yang ditelannya rupanya masih kurang banyak. (Bisa dibilang si seseorang ini memiliki tingkat imun dan daya tahan tubuh yang sangat baik.) Kanae-san menemui seseorang itu, mendekatinya dan duduk di sampingnya, dan mengajaknya bicara. Lalu tanpa diduga, seseorang itu mulai menangis. Menangis dan menangis. Teman-aktivis-nya memberitahu Kanae-san bahwa selama lebih dari setengah jam berada di sana seseorang itu hanya diam seperti mayat hidup.

Seseorang itu kemudian dibawa Kanae-san ke rumah ini, dan kini ia berada di hadapanku. Aku ingat di malam pertama ia bersama kami itu aku mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan rupanya aku masih terus melakukannya hingga detik ini. Ia begitu misterius. Begitu kesan yang kutangkap. Saat teman-aktivis Kanae-san menemukannya ia begitu kumuh dan tak membawa satu tanda pengenal pun. Sepasang suami-istri yang memanggil ambulans dan menyertainya ke rumah sakit mengatakan mereka menemukannya di kursi sebuah taman dalam keadaan sebelah tangan terkulai hingga hampir menyentuh tanah, dan semacam cairan putih mulai membusa di mulutnya. “Aku menduga ia korban human trafficking.” Begitu Kanae-san memberitahuku. Aku sependapat dengannya.

Selama tiga hari kemudian Kanae-san mencoba beragam cara untuk membuat perempuan itu bicara; setidaknya mengatakan siapa namanya sesungguhnya dan di mana ia pernah tinggal. Menurutku, jika dilihat dari kulit mukanya yang masing kencang, ia masihlah di pertengahan dua puluh, dan mungkin sempat menjalani kehidupan yang cukup mewah. Mengenakan salah satu kaus-leher-kura-kura milikku ia tampak begitu muda meski tanpa gairah. Dulu, lebih dari lima tahun yang lalu, Kanae-san membeli kaus itu untukku.

Sesungguhnya aku mengerti mengapa ia masih sediam ini. Dulu pun, agaknya, aku tak langsung membuka diri kepada Kanae-san; aku seperti khawatir seseorang yang begitu saja menolongku dan menampungku itu hanyalah sosok busuk lain yang harus kuhadapi dalam hidupku; hidupku yang sudah kelewat suram—saat itu. Karena kesabaran Kanae-san-lah barangkali aku akhirnya membuka diri, sedikit demi sedikit. Aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menceritakan apa saja yang bisa kuceritakan, demi meringankan beban Kanae-san dan bebanku sendiri. Dua-tiga bulan kemudian, aku sudah bisa tersenyum dan menyambut guyonan-guyonannya.

Kali ini pun Kanae-san agaknya akan mengulangi apa yang dilakukannya itu. Ia memang berpengalaman, dan professional. Aku tahu di dalam hatinya ia sesungguhnya kerap mengeluh dan ia melepaskan kepenatan dan tekanan-tekanan yang dirasakannya di tempat-tempat tertentu, tempat-tempat yang jauh dan menenangkannya, meski kadang ia kewalahan juga. Suatu dini hari, lima tahun yang lalu, aku terbangun dan ingin kencing, dan tak sengaja kutemukan Kanae-san sedang menangis sesenggukan di kotatsu (meja-kayu berkaki rendah yang dilengkapi dengan pemanas; biasa dipasang dan digunakan di musim dingin—penerj.). Televisi di hadapannya menyala tanpa suara.

Kembali ke perempuan itu. Sejujurnya, melihatnya mengingatkanku pada diriku sendiri. Diriku lima tahun lalu. Aku pun dulu mungkin masih semuda itu, hanya saja bentuk mukaku tak se-kawaii bentuk mukanya. Aku tak akan terkejut jika di hari-hari yang dijalaninya sebelum bersama kami itu ia rupanya seorang model majalah lokal, atau ambassador sebuah produk kecantikan yang iklannya belum tayang di televisi. Sesuatu semacam itu. Tapi membayangkan itu benar, dan menyandingkannya dengan kenyataan ia mencoba bunuh diri dan seperti tak memiliki siapa-siapa lagi, membuatku risau. Seseorang di hadapanku ini mungkin sedang menahan sesuatu yang teramat muram dan ia bisa saja memuntahkannya sewaktu-waktu, dan itu mungkin akan memengaruhi kehidupan kami.

“Besok siang kamu bisa menemani Mima-tan belanja? Aku akan seharian di luar. Baru pulang malam,” ujar Kanae-san.

Aku mengangguk. Besok adalah hari libur, dan aku tak punya rencana bepergian.

“Sudah saatnya Mima-tan melihat kembali dunia luar. Terlalu lama mendekam di sini bisa membuatnya lupa jadi manusia,” tambah Kanae-san.

Kembali, aku mengangguk. Kalau tidak salah lima tahun lalu pun aku mulai diajak “melihat” kembali dunia luar di hari kelimaku.

Beberapa minggu berlalu dan kondisi perempuan itu mulai membaik. (Kanae-san memanggilnya dengan namanya, tetapi aku entah kenapa selalu menghindari itu; seakan-akan di dalam diriku ada dorongan untuk menjauhkan diri darinya meski jelas sekali ia mengingatkanku pada diriku dulu.) Sekarang, ia mulai merespons ucapan-ucapan Kanae-san—dengan ucapan juga. Ia pun sesekali tersenyum, meski masih terlihat ia memaksakan diri. Kepadaku, ia mulai menunjukkan keramahannya, seperti dengan mengangguk-angguk dan memberiku senyumnya itu. Aku mulai lega dan berharap kondisinya akan terus membaik. Tapi di saat yang sama, sekiranya ini bukan perasaanku saja, sesuatu dalam diriku justru berharap suatu hari nanti perempuan itu akan pergi—kembali ke tempatnya yang semestinya dan meninggalkan kami.

Kanae-san sejauh ini telah cukup berhasil mengorek informasi tetang perempuan itu, dan ia begitu senang akan hal ini. Setidaknya itulah yang terlihat di binar matanya. Tentu saja ia tidak melakukannya seorang diri; si teman-aktivis-nya tadi (juga teman-temannya yang lain) ikut mendatangi sejumlah tempat dan menanyai sejumlah orang. Rupanya, setidaknya dari pencarian sementara, perempuan itu pernah terlibat dalam suatu produksi film porno; ia berperan sebagai si aktris dan pembuatan film itu melibatkan sebuah rumah produksi ternama dan seorang bintang porno terkenal. Kabar ini sebenarnya masih samar, tapi jika benar, sungguh aku bersimpati padanya. Ia sesungguhnya dikontrak—sebab dibayar agaknya kelewat kasar—untuk bersetubuh dengan seorang lelaki saja, tapi kenyataannya, saat proses pembuatan film berlangsung, ia disetubuhi juga oleh lelaki-lelaki lain. Ada yang menyebutkan jumlah lelaki-di-luar-kontrak itu lima orang. Ada juga yang mengatakan tujuh orang. Pada saat pengambilan gambar itu tentulah ia tak berdaya; bagaimanapun ia satu-satunya perempuan di tempat itu dan ia dalam keadaan lemas—mungkin juga ngilu. Setelah pengambilan gambar selesai, setelah ia berada di kamar apartemennya, ia mulai menyesali apa yang telah dilakukannya itu, dan setelah lama memikirkannya ia putuskan untuk tak lagi melakukannya. (Tak lagi! Sebab sekali saja sudah cukup!) Tapi rupanya ia harus menerima kenyataan bahwa kontrak yang tempo hari ditandatanganinya mengandung sesuatu yang tak ia ketahui, bahwa jika ia memutuskan kontrak begitu saja hanya setelah satu produksi film ia diharuskan membayar uang kompensasi yang begitu besar—puluhan juta Yen—dan ia harus membayarnya dalam kurun waktu yang singkat. Mau tidak mau, ia kembali menjalani produksi film yang lain, dan terus seperti itu sampai ia tak tahu lagi apakah ketika melakukan itu ia sesungguhnya sedang bekerja atau diperbudak. Ia memang dibayar, sesuai yang tertera di kontrak. Tapi ia tak lagi menikmatinya. Tak sedikit pun menikmatinya.

Dan mulailah ia akrab dengan ide-ide bunuh diri. Kadang, ia membayangkan menyelipkan pisau lipat di belahan dadanya, dan ia mengambilnya saat si aktor pasangannya mulai menciuminya dan menikamkan pisau itu ke perutnya, atau ke lehernya. Pernah juga, saat tengah menjalani satu produksi film, dalam keadaan menelentang dan telanjang dan sekuat tenaga menahan rasa sakit di di bawah perutnya, ia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah botol anggur. Di dalam benaknya ia memanjangkan tangan kirinya dan mengambil botol itu dan memecahkannya, lantas menikam dirinya sendiri di leher sepuas hatinya.

Ketika ia benar-benar mencoba bunuh diri (dengan menelan sekaligus sejumlah pil tidur yang ia beli dari sebuah konbini dengan sisa uang terakhirnya), ia sudah beberapa lama melarikan diri dari orang-orang yang terlibat dalam produksi film-film porno yang dibintanginya tadi. Ia tak langsung menelan sejumlah pil tidur itu setelah ia membelinya; untuk beberapa lama pil-pil itu bercokol di saku celananya dan ia tak menyentuhnya. Bisa jadi, ia bimbang. Atau, takut. Ia tentulah menilai hidup yang dijalaninya sudah tak berarti lagi; bahwa ia mungkin lebih baik mati saja daripada terus hidup namun menderita dan menderita. Entah di mana keluarga dan teman-temannya. Informasi yang terkumpul belum sampai menyentuh dua hal ini. Beberapa lama perempuan itu berkeliaran dari satu trotoar ke trotoar lain, dari satu taman ke taman lain, dari satu kursi ke kursi lain. Ia tak lagi makan, dan entah telah berapa hari berlalu sejak terakhir kali ia mandi. Dan begitulah ia kemudian menelan sekaligus pil-pil tidur itu, dan sepasang suami-istri yang kebetulan pulang larut dan hendak bermesraan di sekitar taman menemukannya dan menyelamatkannya dari kematian—meski ia mungkin tak mengharapkannya.

Setelah mengetahui sepenggal masa lalunya itu aku jadi melihatnya secara berbeda. Sedikit berbeda. Di dalam diriku aku memang masih merasakan dorongan untuk menjauhkan diriku darinya, dan diam-diam aku masih berharap suatu saat nanti ia akan pergi, membiarkan aku dan Kanae-san menikmati hari-hari kami berdua lagi. Tapi sepertinya, aku juga mulai menyayanginya. Lebih tepatnya, aku kasihan padanya. Aku tak ingin sesuatu seburuk itu kembali menimpanya.

Enam tahun lalu, selama hampir satu tahun penuh, aku menghabiskan malam-malamku di sebuah ruas jalan di Akihabara, menawari lelaki-lelaki yang kutemui kalau-kalau mereka ingin menghabiskan satu sampai satu setengah jam denganku untuk mengobrol, hanya mengobrol, tentunya dengan imbalan sekian ribu Yen. Hampir satu tahun penuh. Selama itu aku telah berhadapan dengan dan melayani orang-orang yang berbeda, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menjengkelkan. Semula, aku kira, para pelangganku itu akan lebih banyak orang-orang tua; lelaki-lelaki empat puluh tahun ke atas yang tak lagi bisa menikmati kehidupan keluarganya atau telah menyerah mencari-cari pasangan. Rupanya, lama-kelamaan, orang-orang yang duduk dan bicara di hadapanku justru anak-anak muda; lelaki-lelaki di pertengahan dua puluh atau awal tiga puluh yang kadung malas mencari teman-ngobrol yang sesungguhnya. Suatu ketika, aku jenuh. Beberapa teman-seprofesiku kudengar menerima tawaran-tawaran yang lebih jauh dari pelanggan-pelanggan mereka seperti berkencan di luar jam kerja atau bahkan bersenggama, mungkin untuk mengatasi kejenuhan mereka. Aku sendiri? Tidak. Bagaimanapun aku bukan pelacur dan apa yang kulakukan selama hampir satu tahun itu lebih ke sebuah upaya untuk mengatasi kesunyianku sendiri, sebab baik rumah maupun sekolah sudah menjadi ruang-ruang lain di mana kesunyianku itu tumbuh. Apa yang kulakukan itu adalah rumahku. Aku seperti sedang membangun rumahku sendiri. Begitulah saat itu aku berpikir. Hingga kemudian, aku jenuh. Selama beberapa hari aku menjalani profesiku itu tanpa menikmatinya lagi, tanpa sedikit pun menikmatinya lagi, dan di masa itulah Kanae-san muncul.

“Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini? Tidak pulang?”

Itulah yang ditanyakan Kanae-san di pertemuan pertama kami. Aku menatapnya curiga. Saat itu aku sedang menengadah memandangi langit dan bertanya-tanya apa yang dilakukan makhluk-makhluk lain di luar angkasa sana—kalau memang makhluk-makhluk itu ada. Kanae-san tentu menyadari aku masih mengenakan seragam sekolahku, dan karena itulah ia menghampiriku.

Menikmati hari-hari bersama Kanae-san di rumah ini, selama lima tahun, membuatku kembali merasa hidup. Agaknya sesuatu positif ini mulai mendatangiku di tahun keduaku bersamanya. Kanae-san, meski telah tahu betul di mana orangtuaku tinggal dan seperti apa mereka, tak mendesakku untuk pulang. Ia hanya bilang bahwa aku, dan setiap orang yang merasa sendirian di dunia ini, sesungguhnya tak pernah sendirian. Akan ada orang-orang seperti dirinya yang akan menemani mereka; yang akan menerima mereka dan menemani mereka. “Jika suatu hari kamu sudah merasa ingin pulang, kamu bisa melakukannya,” ujarnya, hampir empat tahun yang lalu. Di akhir tahun keduaku bersama Kanae-san aku lulus dari SMA, dan beberapa bulan setelahnya aku melanjutkan studi ke sebuah universitas di Tokyo atas dorongan darinya. (Ia bahkan ikut membiayaiku dengan menjual mobil-pribadinya yang telah digunakannya selama bertahun-tahun!) Tahun lalu, entah ini kebetulan atau apa, aku berkesempatan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa asing di sebuah kota di Indonesia. Kanae-san menyambutku setibanya aku di bandara Haneda, beberapa bulan setelahnya. Ia merangkulku dan menangis dan mengatakan betapa ia merindukanku.

Sejak memutuskan untuk percaya padanya, aku telah berkali-kali pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju-baju ganti dan peralatan sekolah. Kanae-san tak sedikit pun menanyaiku apa yang terjadi di rumah dan bagaimana reaksi ayah-ibuku atas kepindahanku, dan ia selalu menyambutku dengan senyumannya yang terasa tulus dan hangat itu. Aku sangat menghargai pengertiannya dan, di saat yang sama, menyayanginya.

Kanae-san tak menikah. Setidaknya itu yang aku tahu. Umurnya saat ini empat puluh tiga dan ia sudah seperti ibuku sendiri. Apakah ia tidak kesepian? Kadang-kadang aku memikirkannya, dan selepasnya aku selalu bersyukur bahwa bisa jadi dengan ia tidak menikah itulah aku jadi bisa hidup dengannya, di rumahnya ini, layaknya ibu dan anak, atau dua orang teman dekat. Ia, pernah aku berpikir, mungkin mengisi kesunyian dan kesendirian yang dirasakannya akibat tak menikah itu dengan menampung dan merawat orang-orang seperti kami—aku dan si perempuan tadi. Bisa jadi, dugaanku ini tepat sasaran.

“Malam ini menu kita sashimi,” teriak Kanae-san, dari dapur.

Aku merebahkan diriku di sofa, dan menyalakan televisi.

“Kerja-sambilan hari ini bagaimana?” teriaknya lagi. “Mima-tan katanya ingin tahu,” sambungnya, lantas tertawa.

“Lumayan merepotkan,” balasku, sambil menoleh ke arah dapur.

Kanae-san lalu memberitahuku bahwa ofuro sudah disiapkan seandainya aku ingin menggunakannya. Kuucapkan terima kasih, tapi ia mengoreksiku dengan berkata bahwa seseorang yang semestinya menerima ucapan terima kasihku itu adalah seseorang lain yang tengah berada di sampingnya, yang tengah membantunya menyiapkan makan malam, seseorang yang sampai detik ini aku masih juga enggan menyebut namanya itu.

“Ah, oke. Terima kasih ya,” ujarku.

Seseorang itu tak menjawabnya, atau mungkin ia menjawabnya tapi dengan volume yang tak mungkin kudengar.

“Semalam katanya Mima-tan memimpikanmu. Makanya dia penasaran dan ingin tahu kabarmu hari ini,” kata Kanae-san, hampir-hampir berteriak, dan kembali ia tertawa.

Jujur saja aku tak tahu harus meresponsnya seperti apa. Aku hanya memandangi layar televisi sambil menekan-nekan tombol channel; membiarkan tawa Kanae-san—juga suara tipis perempuan itu—melayang-layang di dalam kepalaku, di dalam diriku.(*)

Cianjur, Juli-Agustus 2016

___

—untuk Ivon Natasha

—selamat ulang tahun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s