Raden Mandasia dan Siasat Membuai Pembaca

Dari pembukaannya saja, mudah ditebak bahwa novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi—selanjutnya disebut Raden Mandasia saja—karya Yusi Avianto Pareanom diniatkan sebagai sebuah novel yang mudah dinikmati, dalam arti enak dibaca, gampang divisualkan, menghadirkan feel tertentu dalam proses pembacaan, dan menawarkan misteri. Di bab pertama ini Yusi menyajikan narasi yang menunjukkan kelihaiannya bermain-main dengan kata (makna, bunyi, bentuk, dll.) dan tempo pembacaan, dan kebermain-mainan kata yang jatmika ini—jika boleh dikatakan begitu—digunakannya untuk mengemas sebuah adegan kejar-kejaran yang detail dan thrilling, yang mau tak mau membuat pembaca akan melahapnya tanpa tersendat dan setelahnya dihinggapi perasaan ganjil yang menyenangkan—kenyang tapi di saat yang sama lapar, segar tapi di saat yang sama haus. Jika kata “detail” dalam kalimat tadi dinilai belum cukup jelas, baiklah dikemukakan seperti ini saja: adegan kejar-kejaran itu digambarkan Yusi sebagai sebuah pengalaman multi-dimensi; pembaca tidak hanya disuguhi peralihan adegan yang cepat dan bikin ngos-ngosan, tapi juga sesekali dihadiahi penginderaan dan sensasi sentuhan yang sifatnya fisik sekaligus psikis. Ada juga bagian di mana Yusi merangsang imajinasi pembaca dengan mendeskripsikan secara minimalis keadaan di sekitar si tokoh saat adegan-adegan itu berlangsung—bentuk bulan dan yang lainnya. Dan ada juga bagian di mana Yusi membocorkan sedikit karakter si tokoh yang dengan sendirinya membuat adegan kejar-kejaran ini terasa faktual dan berterima. Sesuatu yang baru bisa dicapai oleh seorang penutur yang mapan, saya kira. Dan tentu saja, ini menandakan betapa Yusi memosisikan aktivitas menuturkan cerita sebagai sesuatu yang tak main-main—jika bukan istimewa.

Untuk memastikan klaim di atas berlebihan atau tidak, simak penggalan berikut ini: “Aku mendengar bunyi kraak. Bajingan, hidungku sepertinya patah. Sepakan pertama di kepala sebetulnya membuatku hampir mati rasa sehingga serangan mereka ke tubuhku tidak semenyakitkan yang mungkin mereka inginkan. Namun, jotosan yang terakhir membuatku menguik seperti babi. Darah masuk ke kerongkonganku. Aku tersengal-sengal. Aku berusaha memuntahkan darah agar bisa bernapas lebih lega tetapi satu tamparan lagi mampir ke mulutku. Ternyata masih sakit juga. Mereka tertawa puas mendengarku mengerang. Saat mereka tertawa itulah ada rasa sakit lain yang merambat. Ketika orang memanahmu atau menggunakan senjata tajam untuk melawanmu, kautahu mereka takut berhadapan satu lawan satu. Tapi, ketika kau digebuki seperti anjing, kautahu lawanmu merasa diri mereka raksasa dan ini sungguh bikin hati nyeri.”

___

Narasi Yusi yang multi-dimensi itu berlanjut di bab-bab berikutnya, dan tak ayal, aktivitas membaca lembar demi lembar novel ini menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan dan membahagiakan. Harus diingat bahwa Raden Mandasia ini adalah novel yang ditulis dalam bahasa Indonesia, oleh seorang Indonesia, dan itu membuat hal menyenangkan dan membahagiakan tadi sesuatu yang istimewa. Pasalnya, tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang telah menelurkan sejumlah novel berbahasa Indonesia berkualitas dan laris-manis, mendapati sebuah novel berbahasa Indonesia yang dari teknik penyajian—terutama bahasa—begitu beres dan bernilai seni masihlah sesuatu yang langka; sesuatu yang akan seketika membikin girang saking sungguh jarangnya hal tersebut. Tentu ini menandakan dua hal. Pertama, novel Raden Mandasia ini memang berkualitas, ajeg, kuat. Kedua, hutan atau lautan kesusastraan kita masih belum berada pada tahap yang bisa benar-benar kita banggakan.

Di sini timbul pertanyaan-pertanyaan: Mengapa bisa seperti itu? Apakah mencapai kedewasaan dan kemapanan dalam mengolah bahasa sungguhlah sesuatu yang sulit bagi orang-orang Indonesia pada umumnya, atau penulis-penulis berbahasa Indonesia pada khususnya? Apakah memang terlalu muluk bagi pembaca untuk mengharapkan bertebarannya novel-novel berbahasa Indonesia yang secara kelas bisa disandingkan—atau setidaknya diperbandingkan—dengan novel-novel berbahasa asing dari penulis-penulis kenamaan dunia?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dibutuhkan sebuah ruang lain yang khusus; yang lapang dan kondusif. Untuk sementara ini, pertanyaan-pertanyaan itu biarlah bergentayangan di benak kita saja—sebagai derau, barangkali.

___

Terkait narasi Yusi yang detail dan multi-dimensi tadi, saya ingin menggarisbawahi kegemarannya mempermainkan pembaca dengan mendedahkan penguasaannya yang mumpuni atas hal-hal yang berkaitan dengan masak-memasak. Ia seperti sengaja memancing nafsu makan pembaca untuk muncul, mencuat, dan akhirnya rasa lapar pun tiba; sedikit-banyak air liur bahkan siap untuk dialirkan—jika bukan disemburkan—kapan saja. Itu tercermin dengan baik, misalnya, di penggalan ini: “Dari kiri ke kanan, atas ke bawah, Raden Mandasia berturut-turut akan meletakkan potongan lamusir rusuk keempat sampai kedua belas lunak berlemak yang sangat enak jika dibakar atau dibuat sup, daging tanjung dari tulang punggung belakang yang nikmat jika dipanggang atau digoreng bumbu taosi, daging paha depan dengan potongan segi empat setebal dua sampai tiga ruas yang enak diolah setelah dicincang beberapa potong daging iga—jumlahnya tak pasti karena kadang ia kepengin mencicipi sepotong dua—yang selain gurih dan empuk jika dibakar juga sedap jika dibuat sup atau semur, daging penutup atau paha belakang sapi dekat pantat yang sangat kurang lemak sehingga terlalu liat jika dibakar atau dipanggang tetapi cukup sedap jika dijadikan campuran makanan olahan lain atau ditumpuk menjadi daging lapis bakar setelah dicincang terlebih dahulu, daging punuk dengan serat-serat kasarnya yang cocok dikukus atau dimasak…”

Sebuah pengalaman membaca yang lagi-lagi menyenangkan dan mengenyangkan. Itu tak bisa dipungkiri. Dan mengingat betapa terlihat sabar dan percaya dirinya Yusi di sana, bisa dipastikan ia sebelumnya telah memperlengkapi diri dengan hal-hal seputar masak-memasak daging sapi itu hingga ke tahap di mana ia merasa pengetahuannya itu sudah kodrati; hal-hal seputar masak-memasak daging sapi seolah-olah telah menjadi bagian dari dirinya, dari karakternya, dan ia tinggal menuangkannya saja apa adanya, membuka keran dan mengalirkan sebagian dirinya secara alamiah sehingga yang dirasakan pembaca kemudian adalah kewajaran belaka, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau dipaksakan. Ini baik, tentu, selain sebagai wujud nyata bahwa menghasilkan tulisan yang bagus itu butuh ketekunan dan kegilaan juga sebagai bantahan keras bahwa kemahakaryaan bisa diraih lewat kesemenjanaan. Berbahagialah kita pembaca kelak, jika novel-novel berbahasa Indonesia dengan kejatmikaan seperti ini membludak di toko-toko buku—daring maupun luring.

Sebagai tanda hormat atas pencapaian Yusi ini, sekali lagi mari kita memanjakan diri dengan menyantap narasi-virtualnya berikut: “Pesanan Raden Mandasia datang. Sandung lamur yang kata pelayan sudah dipanggang selama setengah hari lebih dan juga diasapi. Sisi luarnya menghitam karena taburan mericanya sudah mengeras dan berubah warna. Raden Mandasia menawariku. Aku mengambil sepotong kecil. Aku mengira bahwa dulu daging bakar yang kumakan bersama Raden Mandasia adalah puncak kelezatan daging sapi. Aku keliru. Bajingan. Aku ingin mengambil lagi, tapi aku menahan diri. Bagaimanapun, aku ingin makan babi panggang. Tanpa kubantu, Raden Mandasia cukup tangkas menghabiskan daging sapinya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Wajahnya puas.”

___

Satu hal lainnya yang ingin saya garis bawahi dari narasi multi-dimensi atau narasi-virtual Yusi dalam Raden Mandasia adalah saat ia mendeskripsikan Nyai Manggis, atau hal-hal yang bersentuhan langsung dengannya. Suatu kali ia menggambarkan Nyai Manggis seperti ini: “Belum pernah aku menjumpai perempuan yang membuat udara seperti hanya terisap setengah dari yang semestinya.” Kali lain, ia memvisualkannya seperti ini: “Nyai Manggis tertawa sembari menutup mulutnya. Tawa itu merdu sekali. Aku ikut tertawa, malu. Untuk menutupinya, aku menyeruput cepat jahe di mangkuk. Sial, ternyata masih terlalu panas. Nyai Manggis tertawa lagi, tangan kirinya masih menutup mulutnya sementara tangan kanannya memegang bahuku. Tanpa kuperintah, ada yang menegang di balik cenalaku.” Kali lain lagi, ia mencitrakan Nyai Manggis seperti ini: “Tidak rugi ternyata lidahku sedikit terbakar karena dengan itu aku terbebas dari kutukan menjadi manusia yang hanya sanggup mengucapkan satu kata. Dan, aku akan membakar lidahku lebih parah, langit-langitku sekalian, untuk bisa mendengarkan lagi tawa Nyai Manggis.”

Kebetulan sekali, ketiga deskripsi tersebut menawarkan Nyai Manggis sebagai sosok yang cantik memukau bukan dari tampilan fisiknya, melainkan dari perangainya, tingkah-polahnya yang jatmika. Bagaimana ia tertawa, bagaimana aura atau kehadirannya membuat si tokoh di hadapannya—Sungu Lembu—sulit bernapas, bagaimana ia seperti menjelma sebuah obat atau bahkan kesembuhan itu sendiri. Ini bisa jadi satu cara cerdik untuk menonjolkan pesona seorang perempuan tanpa perlu memberikan penggambaran yang gamblang secara fisik, yang artinya ada semacam upaya merekonstruksi realitas saat ini—atau zaman dulu?—yang terkesan menempatkan perempuan sebagai objek seksual; setidaknya untuk dipandangi lekuk-lekuk tubuhnya. Keindahan sikap, bisa jadi lebih penting daripada keindahan fisik. Keindahan bahasa, seperti jauh lebih berharga daripada keindahan tubuh. Kesan yang timbul seperti itu. Dan jika kita bicara soal kemanusiaan, apa yang ditawarkan Yusi ini tentulah baik.

Namun agaknya, ini kalau konteksnya masih Nyai Manggis, Yusi tidak meresesifkan apalagi menistakan keindahan fisik. Pada akhirnya, ia juga mencitrakan Nyai Manggis sebagai seorang perempuan yang memiliki postur dan bentuk tubuh yang aduhai, yang sama memikatnya dengan perangainya tadi (dua jenis keindahan ini satu sama lain saling menguatkan), mungkin dengan maksud memanjakan—bahkan memuaskan?—pembaca. Itu tergambar jelas, misalnya, di potongan ini: “Nyai Manggis lalu membuka tangannya lebar-lebar. Mau tak mau belahan dadanya yang menyembul dari kembennya menjadi sangat terbuka untuk kutatap dari jarak dekat. Tapi, aku hanya berani melakukannya sekejap karena mataku langsung kutumbukkan ke lantai kayu. Kalau dari kulitnya yang kuning langsat dan sangat bersih, sangat boleh jadi ia berasal dari kawasan pegunungan sejuk di selatan Kelapa yang kata orang diciptakan saat Tuhan tersenyum atau bisa juga ia datang dari sebuah kota pelabuhan di kawasan tengah Pulau Suwarna, tempat sungai paling besar di pulau itu bermuara. Tapi, hidung bangirnya, mata lebarnya, alis tebalnya, bulu mataya yang panjang, dan rambut halus di tangannya, mengisyaratkan ia menyeret darah orang-orang dari Negeri Atas Angin…”

Dan tidak berhenti di situ, khusus Nyai Manggis ini, Yusi bahkan membawa imajinasi pembaca ke hal-hal menegangkan dalam arti lain—bukan thrilling seperti di bab pembuka tadi. Sudah perangainya aduhai, sudah wujud fisiknya mengesankan, servisnya pun kelas atas. Nyai Manggis seolah sengaja dihadirkan Yusi dalam novelnya ini untuk memenuhi dahaga pembaca akan sesuatu yang adikodrati namun dekat dan mungkin dijangkau; sesuatu yang menuju sempurna namun ada di dunia nyata. Nyai Manggis, tak ubahnya sosok suci, atau keindahan yang mumpuni. Tetapi ia tetap manusia biasa; seorang perempuan yang juga memiliki hasrat seksual dan tak mengekang dirinya dari melampiaskannya. Setidaknya, itu terdeskripsikan dalam paragraf ini: “Aku mengangguk dan mengiyakan dengan suara tertahan. Sejujurnya, aku tak peduli itu minyak zaitun atau minyak bulu karena aku masih tak mempercayai keberuntunganku. Nyai Manggis mendekatkan dadanya ke mulutku. Tanpa diperintah, aku langsung mengisap puting kirinya dengan bersemangat sampai Nyai Manggis memintaku melakukannya pelan-pelan saja. Tangannya yang berminyak mengelus-elus selangkangan dan bola-bolaku. Tanpa kumaui, burungku naik-turun mengangguk-angguk sendiri. Nyai Manggis seperti tak peduli. Aku yakin ia sengaja. Tangan kanannya kini mengurut perutku, dan dalam gerakan yang seolah-olah tak sengaja, dua tangan yang bergerak maju-mundur itu menyenggolku. Nikmatnya membuatku rela kehilangan umur satu pekan. Nyai Manggis terus melakukannya tanpa pernah sekalipun memegang langsung pusaka keluargaku.”

___

Hal-hal yang telah dikemukakan sejauh ini adalah apa-apa yang menjadikan Raden Mandasia sebuah sajian yang membangkitkan liur dan menumbuhkan rasa haus dan lapar, yang tentunya kemudian terobati setelah—bahkan saat—kita menyantapnya. Narasi multi-dimensi yang membuai, sosok elok Nyai Manggis yang aduhai. Salah-salah cukup dengan melihat dua hal ini saja (dan mengabaikan yang lain) novel perdana Yusi Avianto Pareanom ini telah begitu saja, secara tergesa-gesa, ditahbiskan sebagai sebuah fiksi yang krenyes-krenyes; sebuah fiksi yang sedap bukan hanya di mata tetapi juga di lidah tetapi juga di hati. Berlebihan? Bisa jadi. Tapi setidaknya terbangunnya kesan dan penilaian ke arah sana sangat masuk akal. Toh, dua daya pikatnya tadi itu sudah benar-benar sebuah kemewahan untuk fiksi berbahasa Indonesia. Tapi pertanyaannya: apakah ini hal yang baik?

Pertanyaan yang menjebak, sebenarnya. Tentu saja sebuah karya yang berkualitas adalah karya yang baik, salah satunya karena ia berpotensi menularkan kebaikan baik kepada pembacanya maupun penciptanya. Dalam kasus Raden Mandasia ini, dua daya pikat tadi itu telah turut andil secara aktif dalam memperkaya si penulisnya, Yusi Avianto Pareanom, baik itu yang sifatnya materiil maupun spiritual; pundi-pundi uangnya bertambah dan ia bisa jadi merasa bahagia sebab novelnya dibaca dan disambut banyak orang. Untuk pembaca sendiri, novel ini baik karena setidaknya memberi mereka “pertunjukan” atau penghiburan tingkat tinggi yang membuat mereka kemudian dihampiri feel tertentu—yang menyenangkan. Lalu apakah ada sisi tidak baiknya?

Sayangnya ada. Setidaknya saya melihatnya begitu. Dua hal tadi yang menjadi daya pikatnya itu telah, dalam arti tertentu, membutakan pembaca. Pembaca dibawa mengalun dari satu bagian ke bagian lain, dari satu scene ke scene lain, dari satu halaman ke halaman lain, dan saking nikmatnya pengalaman-dibawa-mengalun itu pembaca tak lagi terlampau peduli kalau-kalau di sana-sini ada sejumlah keganjilan yang bisa dipertanyakan. Misalnya, kenapa narasi-virtual atau detail yang multi-dimensi itu tidak begitu dioptimalkan dalam adegan-adegan perang atau pertarungan atau perkelahian; seolah-olah ada kesan adegan-adegan ini tidak lebih penting daripara adegan-adegan atau hal-hal yang berhubungan dengan masak-memasak. Apakah Raden Mandasia diniatkan Yusi lebih sebagai sebuah novel kuliner ketimbang novel sejarah yang (umumnya) sarat aksi? Apakah Raden Mandasia, yang langsung dierat-hubungkan dengan “daging sapi” sedari awal, memanglah lebih ke sebuah catatan tentang begitu mengagumkannya cita rasa masyarakat kita di zaman dulu, ketimbang sebuah gambaran tentang betapa mereka dulu itu gemar berperang dan ahli dalam hal itu? Saya rasa ini perlu dicermati baik-baik sebab jika dua alasan yang saya coba tawarkan barusan terbukti meleset maka saya khawatir detail yang sabar dan multi-dimensi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masak-memasak itu hanyalah semacam human error, sebuah “kecelakaan” yang diakibatkan Yusi terlampau ingin menunjukkan kepada pembacanya—pamer?—bahwa ia memiliki pengetahuan yang mumpuni soal masak-memasak (daging sapi) dan bahwa ia memiliki tingkat kepercaya-dirian yang tinggi tentang menyajikannya lewat tulisan. Jika benar begitu, maka ini sangat disayangkan, sebab kedewasaan dan kematangannya dalam mengolah bahasa yang telah saya singgung di awal tadi seperti terkotori, seperti rusak.

Lagipula saya kira, jika detail yang sabar dan multi-dimensi itu dioptimalkan juga pada adegan-adegan perang atau pertarungan atau perkelahian itu, hasilnya akan baik. Pembaca, sebagai pihak yang menikmati, akan lebih kenyang. Si penulis sendiri, Yusi, akan terhindar dari kecurigaan nyinyir seperti yang datang dari saya tadi. Intinya, saya tidak melihat diterapkannya narasi-virtual-cum-multi-dimensi terhadap hal-hal pertarungan itu sesuatu yang buruk; dan bukan juga sesuatu yang mubazir. Justru, berguna dan perlu.

Dan kita mesti ingat bahwa narasi-virtual semacam itu juga diterapkan Yusi kepada adegan-adegan “pencobaan” yang melibatkan Nyai Manggis. Maka, kesan yang timbul itu kemudian berkembang jadi seperti ini: Yusi, sebagai penulis novel ini, lebih mengedepankan urusan perut dan kelamin—ketimbang kekuasaan dan harga diri. Apakah ini semacam “pesan moral” lain yang berusaha disampaikannya kepada pembaca? Entahlah. Tapi satu hal: apakah “pesan moral” ini cocok untuk konteks yang melatarbelakangi ceritanya?

Satu hal-mungkin-terlewatkan lainnya adalah ending-nya. Jika pembukaan novel ini sungguh aduhai dan jatmika, sungguh-sungguh hanya menyisakan decak kagum dan umpatan hormat kepada si penulis, ending-nya alias penutupnya justru jauh dari itu; bahkan, terasa cukup klise dan dipaksakan. Yang saya maksudkan bukan kalimat terakhir yang menyebut-nyebut Babad Tanah Jawa; ini justru asyik parah. Yang saya maksudkan adalah, bertemunya si tokoh utama penutur, Sungu Lembu, dengan Melur, seorang perempuan yang dulu pernah terjerat dalam berahi yang manis-belia dengannya. Pertemuan kedua tokoh ini sungguh membuat saya kesal sebab di titik itu saya sudah membayangkan mereka berdua “berbaikan” dan menjalin hubungan yang lebih serius dan menikmati hari-hari dengan penuh kebahagiaan; dan seperti itulah yang disajikan Yusi setelahnya. Padahal, Melur ini adalah tokoh yang resesif, yang lebih ke ornamen ketimbang tubuh-utama, meski kehadirannya membantu cerita untuk bergulir. Sementara Nyai Manggis, sosok memesona yang kehadirannya begitu dominan dan penting di awal ke pertengahan cerita, dibikin mati dan “lenyap”, Melur yang justru “bukanlah apa-apa” dimunculkan, begitu saja, dan ia seakan-akan menjadi sosok penting di akhir perjalanan Sungu Lembu. Para pengagum-garis-keras Nyai Manggis sudah semestinya angkat bicara dan angkat senjata di titik ini. “Kami menuntut diberi keleluasaan untuk membuat fanfic dari sosok Nyai Manggis dalam Raden Mandasia!” Begitu barangkali mereka bisa berteriak. Dan saya, tentu, akan mendukung mereka. (Yeay!)

___

Yusi Avianto Pareanom, dalam Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (bahwa saya menyebut judul novel ini secarang lengkap lagi menandakan tulisan ini akan segera menemu ajalnya), menyajikan sebentang pengalaman yang dinamis, yang sewaktu-waktu emosional sewaktu-waktu komikal, yang sewaktu-waktu spiritual sewaktu-waktu libidinal, yang sewaktu-waktu eksistensial sewaktu-waktu komunal, dan dengan membiarkan diri dibawa mengalun di dalamnya pembaca dengan sendirinya merasakan kenikmatan dan kemewahan adikodrati untuk fiksi atau novel yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Setidaknya, ini sebuah aktivitas yang menyenangkan. Tapi untuk seorang Yusi, yang kadung dikenal memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni dalam tulis-menulis (fiksi, terutama), novel ini senyatanya belumlah sepenuhnya menunjukkan dirinya; ini karena, seperti sedikit dibahas tadi, novel ini masih menyisakan celah di sana-sini. Kita juga bisa coba-coba memperbandingkannya dengan novel-novel luar yang tipe atau genre-nya serupa seperti dwilogi Samurai-nya Takashi Matsuoka, misalnya, dan kita akan mendapati novel Yusi ini masih terasa diselesaikan dengan ketergesa-gesaan. Kesabaran tingkat dewa dalam membangun motif, dalam menyajikan konflik, dalam menawarkan “penyelesaian”, masih belum terlihat. Penggambaran tokoh-tokohnya pun, kalau mau ditilik lebih jeli, masih menyisakan ruang-ruang kosong yang bisa diisi. Di novelnya Takashi Matsuoka itu, misalnya, perawakan dan bahasa tubuh sesosok tokoh bisa dengan halus dikait-hubungkan dengan pengalaman masa lalu tokoh itu yang penuh arti dan ikut membangun cerita secara kuat dan signifikan. Di Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, agaknya, sesuatu seperti itu hanya purna dilamurkan pada sosok Nyai Manggis dan aktivitas semi-binalnya dengan Sungu Lembu. (Oh, Nyai!)

Baiklah. Bagaimana saya baiknya menutup tulisan ini? Mengutip satu-dua kalimat dalam novel perdananya Yusi ini? Atau sekalian satu-dua adegan saja? Boleh juga. Tapi sebelum itu, saya ingin mengutarakan satu hal ini: Untung saja pertemuan mengharukan antara Sungu Lembu dengan Melur itu tidak disertai muncul seketikanya ratusan orang yang siap menari menunggu iringan musik yang entah berasal dari mana. Jika itu sampai terjadi, tentu saja saya dan barangkali juga pembaca-pembaca lain akan langsung teringat pada film-film Bollywood, dan judul novel ini pun akan dengan sendirinya berganti menjadi, misalnya: Raden Mandasia si Pencari Cinta Sejati. Sungguh, itu menakutkan! Pengalaman membaca yang tadinya menyenangkan dan mengenyangkan itu bisa-bisa dalam sekejap berubah jadi memilukan.

___

Halaman 69. Bab 5: “Rumah Dadu Nyai Manggis”

Dunia milik orang berani, demikian kata seorang pujangga Atas Angin yang pernah kudengar. Atau, mungkin, langit menyenangi anak muda nekat. Atau apalah. Terdorong senyum Nyai Manggis, aku maju dan langsung menyerang bibirnya dengan bibirku. Tangan kananku maju begitu saja memegang payudara kirinya.

“Eh, Raden….”

“Maaf, Nyai.”

Aku mundur, sedikit malu. Tapi, aku yakin, Nyai Manggis tak marah. Benar. Ia tersenyum.

“Raden, jangan tergesa-gesa. Seperti kataku tadi, kita punya waktu sepanjang yang kita mau. Lanjutkan cerita Raden.”

“Tapi otakku buntu, Nyai. Mulutku capai.”

“Ah, Raden.”

Aku segera maju lagi dan menyerbu Nyai Manggis. Lehernya yang harum sangat menyenangkan untuk dihirup. Aku menciuminya sementara tanganku bergerak liar meraba-raba sekujur tubuhnya.

Nyai Manggis tertawa geli. “Raden, sabar sebentar.”(*)

Bogor, 18 September 2016

NB. Saya membuat tulisan ini sambil menikmati—jika bukan mengkhidmati—lagu asoy-nan-melenakan berjudul “Nijikan Dake no Vacance”, yang dibawakan Utada Hikaru bersama-sama dengan Shiina Ringo, dua penyanyi kesayangan saya sedari dulu.

Advertisements

One thought on “Raden Mandasia dan Siasat Membuai Pembaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s