Membuka Pintu dan Memasukinya

Membaca sebuah cerita (dengan bentuk yang) konvensional seperti membuka pintu sebuah ruangan lalu memasuki ruangan itu. Di sana, di dalam ruangan itu, ada sejumlah hal yang ditawarkan kepada kita, yang bisa kita nikmati satu-dua di antaranya, atau bahkan semuanya. Membuka pintu, juga pintu itu sendiri, seakan tak lebih dari sebuah awal saja, sebuah tindakan pengantar yang bisa jadi tak dinilai penting sebab yang benar-benar diniatkan sebagai sajian adalah apa-apa yang ada di dalam ruangan itu. Pada sebuah cerita konvensional, sejumlah hal di ruangan itu bisa berupa isu, tema, “pesan moral”, quote. Sedangkan yang diposisikan sebagai pintu, misalnya, adalah gaya bertutur.

Cerita-cerita Dea Anugrah yang terkumpul dalam buku kumpulan cerita perdananya yang diterbitkan Mojok pada September 2016, Bakat Menggonggong, saya kira bukanlah cerita-cerita seperti itu. Pada cerita berjudul “Kemurkaan Pemuda E”, misalnya, sebagai pembaca kita disuguhi kebermain-mainan yang sepintas seperti omong-kosong, namun karena ia dikemas dengan gaya bertutur yang kuat, yang ditandai salah duanya oleh penggunaan kalimat-kalimat yang beres dari segi tata bahasa dan menampilkan tempo yang terukur, ia jadi sebuah omong-kosong yang menyenangkan, yang menggembirakan, bahkan membahagiakan. Saya katakan “omong-kosong” sebab cerita ini tidak menonjolkan dirinya sebagai sebuah pembacaan terhadap realitas sosial yang sifatnya umum dan “berguna”, melainkan semata realitas individual yang selain privat juga terkesan “tak berguna”. Jika kembali menggunakan analogi pintu dan ruangan tadi, cerita itu tidaklah menyajikan apa-apa di ruangan di balik pintu tersebut, atau ia menyajikan sejumlah hal tetapi tak membiarkan pembaca bersentuhan apalagi menikmati sejumlah hal itu; akses ke sana seakan-akan dibendung bahkan ditiadakan—oleh si penulis. Jadilah pembaca hanya bisa membuka pintu itu, dan setelahnya pilihan yang tersisa baginya hanyalah dua: tak jadi memasuki ruangan itu dan meninggalkannya atau tetap di sana namun berusaha memasuki sesuatu yang lain. Dan apa sesuatu lain yang dimaksud? Tentu saja pintu itu.

Membuka sebuah pintu lalu memasuki pintu itu. Oke, ini sebuah aktivitas yang absurd; sesuatu yang janggal dan akan ditolak akal sehat sebab tak mungkin itu bisa terjadi di dunia nyata. Tapi katakanlah itu terjadi. Maka, ada setidaknya dua kemungkinan. Pertama, yang dilabeli “dunia nyata” itu rupa-rupanya telah melebur-sabur dengan fiksi atau dunia tak-nyata. Kedua, si pintu bukanlah pintu biasa pada umumnya; ia diperlengkapi sesuatu di dalam dirinya yang membuat seseorang bukan saja hanya bisa membukanya namun juga memasukinya.

Saya tertarik pada kemungkinan yang kedua. Cerita “Kemurkaan Pemuda E” tadi, misalnya, dihadapi pembaca tentulah (masih) di dunia nyata, dalam arti pembaca sepenuhnya sadar saat membaca cerita tersebut. (Bukan sedang bermimpi atau mabuk, misalnya.) Maka gaya bertutur di cerita tersebut, yang tadi dianalogikan sebagai pintu, mestilah memiliki sesuatu yang istimewa, atau setidaknya tidak biasa, sehingga pembaca bisa memasukinya, berada di dalam dirinya, untuk kemudian merasakan kenikmatan tertentu. Dan apakah kenyataannya memang begitu?

Kita simak paragraf pembuka cerita tersebut berikut ini: “Pemuda E mencengkeram tutup toples acar dengan jari-jari tangan kanan dan mencekal bagian bawahnya dengan telapak tangan yang lain. Lalu, dengan satu gerakan memutar yang kuat dan tiba-tiba, ia memisahkan keduanya. Toples dan tutup toples. Pemuda E tidak tahu, dan mungkin tidak peduli, manakah yang lebih penting di antara keduanya dalam menjaga kesegaran acar mentimun yang ia bubuhkan di atas roti panggangnya saban pagi.”

Perhatikan bahwa dalam sebuah paragraf yang terdiri dari 64 kata itu si penulis, Dea Anugrah, terlihat berusaha memunculkan keberagaman dalam hal diksi. Memang ada beberapa kata yang dimunculkan lebih dari sekali, seperti “dengan”, “tangan”, “toples”, “yang”, “ia”, “acar”, tetapi penempatan kata-kata ini selalu tidak sama antara yang sebelumnya dengan yang setelahnya, dan sejumlah (banyak) kata lain yang tidak “diulang” menimbulkan kesan ramai, atau kaya, yang tentulah sesuatu yang positif. Sederhananya pembaca ketika berhadapan dengan paragraf tersebut tidak akan mudah bosan, bahkan cenderung tidak, sebab berpapasan dengan 64 kata itu seperti mengalami serangkaian peristiwa yang berbeda satu sama lain. Tidak ada monotonitas; ini berhasil diatasi dengan kesungguhan si penulis dalam memilih diksi. Selain temponya yang juga nyaman dan variatif, keramaian diksi ini saya kira satu poin penting yang membuat gaya bertutur Dea di “Kemurkaan Pemuda E” sesuatu yang bisa dimasuki, untuk kemudian dinikmati. Sebuah pintu-tak-biasa yang kita bayangkan tadi. Membangun dan menyajikan sesuatu seperti ini tentu bukan hal mudah. Setidak-tidaknya butuh ketekunan, kalau bukan keahlian.

Hal serupa kita temukan pada paragraf pembuka cerita berjudul “Kisah Sedih Kontemporer (XII)” berikut ini: “Sepersekian detik setelah terjaga, Rik berusaha menggerakkan lengan kirinya, menekuk siku, dan menghadapkan telapak tangannya ke wajah. Tentu saja ia mengerti, dalam keadaan bangun tidur, koordinasi antara kelenjar pengatur kesadaran pada otak dan pos-pos tubuh yang lain tidaklah sebagaimana diterangkan guru biologi di sekolah menengahnya dulu. Otot-ototnya bergerak jauh lebih lamban daripada yang semestinya. Perintah-perintah dari otak bergerak perlahan dalam jaringan saraf, seperti tikus utuh dalam tubuh seekor ular, seperti gumpalan lemak kekuning-kuningan dalam pembuluh darah.” Bisa dilihat, selain temponya yang lagi-lagi terukur, diksinya pun terbilang kaya, dan ini akan menghindarkan pembaca dari kebosanan.

Jadi, bisa dikatakan bahwa gaya bertutur di cerita-cerita Dea Anugrah dalam Bakat Menggonggong menawarkan sesuatu yang bisa dinikmati pembaca, sehingga bisa dikatakan bahwa sejak berhadap-hadapan dengan pintu saja pembaca sudah mendapati aktivitas mereka itu tidak sia-sia. Kalaupun setelah membuka pintu itu pembaca tak menemukan apa-apa di dalam ruangan di baliknya, atau menemukannya tetapi tak punya akses untuk menjangkaunya, setidaknya ia sudah memperoleh sesuatu yang bisa ia nikmati—di pintu itu.

Namun barangkali satu pertanyaan perlu dilontarkan di sini: Benarkah cerita-cerita dalam Bakat Menggonggong itu hanya menyajikan pintu yang bisa dimasuki dan tidak akses ke benda-benda yang mungkin ada di ruangan di balik pintu itu? Sebab jika ternyata jawabannya adalah “tidak”, maka itu berarti sebuah kegembiraan. Pembaca tentu akan lebih senang jika bisa menikmati pintu itu juga benda-benda yang mungkin ada di ruangan di balik pintu tersebut.

Cerita “Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu”, misalnya, juga cerita “Kisah Sedih Kontemporer (XII)” yang disinggung tadi, bisa jadi adalah jenis cerita seperti itu. Pertama, keduanya menyajikan sebuah pintu yang bisa dimasuki dan dengan memasukinya pembaca beroleh pengalaman menyenangkan. Kedua, tidak seperti “Kemurkaan Pemuda E”, dua cerita tersebut merupakan semacam pembacaan terhadap realitas sosial yang bisa dianggap “berguna”, di mana tokoh-tokoh dalam cerita itu saling berinteraksi untuk kemudian muncul pemahaman atau pertanyaan tentang kehidupan itu sendiri, meski mereka seperti berusaha untuk tidak mengutarakannya secara terang-terangan. Di “Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu”, misalnya, ditemukan quote ini: “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah cara melanjutkan hidup.” Di “Kisah Sedih Kontemporer (XII)”, sementara itu, ditemukan quote ini: “Ular menelan tikur. Dan tikus, di luar kehendaknya sendiri, maju perlahan sepanjang jalur pencernaan ular yang gelap, panas, dan lembab. Tidakkah takdir manusia juga demikian?” Ini baru quote. Sesuatu yang lebih “besar” bisa jadi kita dapatkan saat mencoba memahami apa yang mungkin secara implisit dikemukakan narasi hidup tokoh-tokohnya.

Satu hal yang menarik untuk dicermati di sini adalah: dua quote barusan diposisikan di cerita lebih ke sebuah ornamen ketimbang inti. Saya katakan demikian sebab dua quote tersebut tidak (benar-benar) dijadikan muara dari narasi hidup si tokoh sepanjang cerita berlangsung, melainkan selingan saja, semacam derau, serupa gangguan, yang dengan kemunculannya apa yang dituturkan dekat sebelumnya jadi lebih berarti, meninggalkan kesan, bahkan mungkin menyentuh sanubari. Ini berbeda dengan quote yang kita temukan pada, misalnya, cerita “Yesterday” karya Haruki Murakami, di mana di akhir cerita si penutur mengatakan bahwa musik memiliki kekuatan misterius untuk membangkitkan ingatan (dan kenangan). Di ceritanya Murakami ini, quote tersebut tak ubahnya sebuah kesimpulan, sebuah muara, yang karenanya ia lebih ke inti.

Tapi agaknya kita keliru jika berpikir Dea berusaha menghindari apa yang dilakukan Murakami di “Yesterday” itu. Sebab, dalam beberapa ceritanya yang lain, seperti “Perbedaan antara Baik dan Buruk” dan “Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada”, quote yang muncul bisa dikategorikan sebagai inti—meski dikategorikan sebagai derau pun saya kira tak masalah. Di “Perbedaan antara Baik dan Buruk”, ada quote ini: “Tidak seperti kebahagiaan, Mas, hati yang remuk pasti bisa dipahami oleh siapa saja.” Di “Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada”, ada ini: “Tapi tak pernah ada penderitaan terakhir. Kau tahu itu.” Keduanya dimunculkan tepat setelah penggalan narasi hidup si tokoh akan “berakhir”. Ia tak ubahnya semacam kesimpulan dari apa-apa yang telah diceritakan si penutur sampai titik itu.

Jenis quote mana yang lebih kuat? Entahlah. Dan bisa jadi, memikirkan hal ini bukan sesuatu yang penting juga. Satu hal yang jelas: beberapa cerita di Bakat Menggonggong terbukti menyajikan bukan saja pintu yang bisa dimasuki namun juga akses ke benda-benda yang ada di ruangan di balik pintu tersebut. Seperti telah saya katakan sebelumnya tadi, ini sebuah kegembiraan. Pembaca mana pun saya kira, selama ia berpeluang terkena kanker otak (baca: hanya orang-orang yang punya otak yang mungkin terkena kanker otak), akan sulit menolak cerita-cerita yang menawarkan dua hal itu. Kenikmatan membaca tentu saja jadi sesuatu yang krusial bagi pembaca dalam menentukan sikap pada sebuah cerita. Dan ketika kenikmatan ini bisa didapatkan di dua “wilayah” yang berbeda, agaknya hanya “campur tangan” Tuhanlah yang membuat si pembaca justru malah mengabaikan cerita tersebut. Saya kira begitu.(*)

—Bogor, 6 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s