Api

di meja ini
kosong betapa lebar

tak ada tangan
satu pun

hanya sebuah gelas
yang telah menghabisi
dirinya sendiri

cahaya mati
setelah ia jatuh

di luar yang jauh
malam bergemuruh
dan jalan terpiuh

___

sebelum biru
segala yang ada terasa palsu

wajah-wajah itu
kursi dan langkah kaki di antara mata
dan kata-kata

sebuah kegembiraan sempurna pasi
dan kertas yang terbuang demi kegilaan akan masa depan
dan sisa diri pada percakapan-percakapan
yang terus berulang
dan berulang

“kita di sini,
dan kita mungkin tak di sini,”
seseorang berkata

merah menggelinding
dan kelak berhenti sebagai roti

di dalam diri
sesuatu mati

___

tepat ketika mulut terbuka
putih berkata ia tak bisa berdiam di sana

sepotong senyuman
bibir yang mengantar hitam dukkha
ke tangan karma

cokelat pucat mencoba membaca
apa-apa yang tertera pada kaca
pada getar hingar dan memar cuaca

lalu seseorang, berkata,
“tunggu, bukankah semua ini hanya ilusi?
tidakkah seseorang menyadari di ruangan ini
tak ada apa pun sedari tadi
—bahkan kekosongan itu sendiri?”

perlahan, hujan yang terasa ringan
perlahan, maut yang semakin sedikit dan tinggal pahit

___

“sesungguhnya kehidupan itu apa?”
seseorang lain bertanya

pintu terbuka
seberkas bayangan masuk
dan kebahagiaan melenyapkan diri
dan kuning-kuning menua
dan cokelat semakin pucat
dan hitam menjadi silam
dan tangan
dan mata dan lidah dan telinga
seketika berjatuhan

berjatuhan dan lekat di lantai

___

di meja ini
kosong betapa lebar

betapa besar
dan betapa sabar

Bogor,23 Nopember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s