Masa Depan, Khayalan, dan Perasaan

“Pernah nggak kamu ngebayangin suatu hari nanti kamu lepas-hubungan dari kedua orangtuamu? Kamu tinggal sendiri; kamu ngejalanin hidup kamu sendiri. Kedua orangtuamu itu ada tapi mereka nggak bisa lagi mengatur kamu atau bahkan sekadar mengusik kamu. Kamu bebas. Kamu hidup sebagai manusia yang bebas. Kamu bisa ngelakuin apa pun yang kamu mau.”

Sambil mengatakan semua itu, Arni menengadah menatap langit. Matanya dingin begitu juga caranya bicara. Seandainya saja aku bukan orang yang dianggapnya dekat, aku mungkin sudah sedari tadi merasakan hawa permusuhan dan itu membuatku berusaha menjaga jarak darinya.

Sedari tadi di sekolah, bahkan sejak kami mengobrol di perjalanan ke sekolah, Arni telah seperti ini. Agaknya sesuatu yang begitu dibencinya terjadi di rumahnya; mungkin beberapa lama sebelum kami bertemu atau malam harinya atau beberapa jam sebelumnya lagi. Biasanya Arni akan begitu saja mengutarakan apa yang mengganggunya itu tanpa aku berusaha mengoreknya; aku tinggal menunggu dan ia akan bercerita dengan emosional. Tapi kali ini, setidaknya sampai detik ini, Arni belum juga bercerita. Mungkinkah kejadian-tak-menyenangkan yang dialaminya itu terlampau dibencinya, atau dinilainya terlampau memalukan untuk diceritakan bahkan kepadaku? Aku tak tahu. Satu-satunya hal yang sedari tadi terus dikemukakannya padaku adalah bayangan soal masa depan yang mungkin menanti kami. Dari apa-apa yang ia gambarkan, mudah ditebak ia mendambakan kondisi yang jauh lebih baik baginya dari kondisi saat ini.

“Aku sering membayangkannya,” ujar Arni kemudian. “Aku di sebuah kamar kos, atau bahkan kamar apartemen, dan aku bebas melakukan apa pun yang aku mau. Bangun siang, mandi sore, tidur larut. Makan mie, minum Cola, baca komik. Aku bikin kue tart terus aku memakannya sendiri. Semuanya. Sambil nunggu ngantuk aku dengerin musik-musik yang aku suka.”

Jujur saja, lama-lama tingkahnya ini membuatku cemas. Maksudku, ia bukan tipe orang yang akan terus-menerus mengutarakan kondisi ideal yang diinginkannya; terlalu asyik memikirkannya akan menyita waktu dan ia tahu betul itu buruk. Setidaknya suatu hari ia pernah mengatakan itu padaku. Aku jadi terpikir untuk memancingnya bercerita, tetapi aku ragu. Atau lebih tepatnya, takut. Jika dugaanku tadi benar bahwa kejadian-tak-menyenangkan itu adalah sesuatu yang terlampau dibencinya, maka sangat mungkin aku sebenarnya tak ingin tahu itu apa.

“Langit itu… sampai kapan akan seperti ini?” tanyanya, entah kepada aku atau siapa.

Aku pun memandangi langit. Terus memandanginya. Tiba-tiba langkah Arni terhenti dan langkahku pun demikian. Udara mulai terasa dingin, yang artinya petang segera datang. Tapi kota ini masih sangat terang.

___

 

Baru sembilan tahun kemudian Arni memberitahuku apa sebenarnya kejadian-tak-menyenangkan yang dialaminya saat itu. Ia menceritakannya saat kami sedang berdiri di sebuah gerbong kereta yang penuh sesak. Aku agak kurang nyaman harus menyimaknya di tempat itu dalam situasi seperti itu. Pasalnya, kukira itu bukan sesuatu yang pantas didengar orang-orang tak kaukenal yang kebetulan berada di dekatmu.

“Aku dulu pernah melihat papaku menampar-nampar Mama.” Begitulah ia memulai. Sebelumnya kami membahas sebuah buku kumpulan cerita yang banyak cerita di dalamnya mengemukakan tindak-tindak kekerasan dalam rumah tangga.

“Itu malam hari, saat kami sedang makan malam,” lanjutnya. “Aku saat itu masih terlalu kecil untuk tahu apa akar masalahnya yang sebenarnya; yang jelas tiba-tiba saja Mama mengeluh soal betapa jarangnya kami berlibur dan bersenang-senang. (Ah, yang dimaksud ‘kami’ di sini adalah ‘aku dan Mama’.) Di luar dugaan, papaku langsung menaruh sendok dan garpu, dan menatap Mama dengan dingin. Itu adalah kali pertama aku melihat sepasang mata papaku seperti itu. Menakutkan. Tak lama kemudian terjadi adu mulut yang membuatku jengah dan adu mulut ini baru berhenti setelah papaku beranjak dari kursinya dan menghampiri Mama dan menamparnya. Berkali-kali.”

Dengan sendirinya aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa orang-orang yang berada di sekitar kami dan mungkin ikut menyimak itu memilih tak peduli.

“Aku tak tahu apa yang ada di pikiran papaku saat itu,” lanjut Arni. “Dia menampar-nampar istrinya di depan anaknya sendiri. Jelas itu bukan sesuatu yang baik. Di setiap tamparan itu Mama kembali menoleh dan menatap papaku dengan mata yang berkaca-kaca. Di tamparan keempat atau kelima, air mata Mama mengalir.”

Di sini Arni menarik-embuskan napas pendek.

“Aku tak ingat betul apa saja yang dikatakan mereka selama adu mulut itu terjadi. Yang jelas, sementara Mama mengeluhkan cara hidup papaku yang dinilainya kurang realistis, papaku sebaliknya mempermasalahkan cara berpikir Mama yang kurang spiritualis—atau kusebut saja ‘kurang agamis’. Kamu tahu sendiri papaku orangnya seperti apa. Kalau disuruh memilih antara hal-hal akhirati dengan hal-hal duniawi, dia sudah pasti memilih yang pertama. Dia tak pernah meninggalkan salat wajib. Itu aku tahu pasti. Di matanya satu-satunya alasan kita manusia dibiarkan hidup di dunia ini adalah untuk melakukan ritual-ritual keagamaan, sebagai wujud bakti dan sembah kita kepada Tuhan.

“Mama spesies yang berbeda. Memang dia juga manusia seperti papaku, tetapi alasan manusia hidup di dunia ini di matanya bukanlah seperti yang dijelaskan papaku, melainkan untuk menikmati kehidupan itu sendiri. Dengan kata lain, berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan duniawi. Bukan berarti Mama menilai yang sebaliknya (baca: memenuhi kebutuhan-kebutuhan akhirati) tak penting; dia hanya menilai itu tak lebih penting dari yang pertama tadi. Memenuhi kebutuhan duniawi dan akhirati, menurut Mama, adalah dua hal yang sama-sama harus dilakukan bersamaan, dengan satu sama lain tak saling mengalahkan. Mama memang orang yang menyukai kesetimbangan. Mungkin, salah satu alasan dulu dia menerima pinangan papaku adalah kesetimbangan itu. Dia agak terlalu materialistis sedangkan papaku jelas-jelas kebalikannya.

“Sebelum kejadian malam itu, aku sebenarnya masih bisa menghormati papaku. Memang dia menyebalkan. Dia memaksakan keyakinannya yang konyol itu kepada kami. Tapi dia bagaimanapun papaku, orangtuaku, juga kepala keluarga. Di depannya aku selalu menunjukkan sikap baik meski di belakangnya kerap menggunjingkannya. Setidaknya, dia tak bertingkah kasar secara fisik. Tak pernah, hingga malam itu. Aku begitu terkejut dan hanya bisa diam menyaksikan Mama ditampar-tamparnya. Sejak saat itu aku memutuskan untuk tak lagi memaksakan diri bersikap baik di hadapannya.”

Kali ini Arni menarik-embuskan sebuah napas panjang. Mulutnya kulihat membentuk huruf “o”. Seorang lelaki di sampingnya sebentar memandanginya lalu kembali mengarahkan matanya ke jendela.

“Jadi, sejak saat itu interaksi antara kamu dengan papamu jadi berbeda?” tanyaku.

“Bukan hanya interaksi, tapi juga hubungan,” balasnya.

“Maksudmu, kamu tak lagi melihat dia sebagai kepala keluarga dan sebagai ayahmu?”

“Sampai sejauh itu sih tidak. Tapi, aku menegaskan bahwa dia bukan lagi sosok yang perlu kuhormati. Posisinya berada jauh di bawah Mama.”

“Hmm…”

“Kenapa? Menurutmu itu jahat?”

“Err… Entahlah. Orang tua kita berbeda. Hubunganku dengan ayahku terbilang baik sehingga aku tak tahu seperti apa rasanya berada dalam posisimu saat itu. Jadi, aku tak tahu harus menilainya bagaimana.”

“Aku paham.”

“Tapi tunggu. Bukannya dulu itu kamu bilang kamu membayangkan ketika kamu besar nanti kamu lepas-hubungan dari mereka—mamamu dan papamu? Kenapa mamamu ikut dimasukkan ke sana? Bukannya yang kamu benci itu hanya papamu?”

“Ah, ya. Aku lupa.”

Ia tampak memikirkan sesuatu. Sesuatu yang berat.

“Besok paginya, sebelum kita bertemu seperti biasa, aku sempat mengobrol berdua dengan Mama. Aku sudah sarapan dan sedang membantu Mama cuci piring. Mama sebenarnya memintaku untuk lekas berangkat tetapi aku bersikeras membantunya sebab ada sesuatu yang harus kutanyakan padanya.

“Yang kutanyakan saat itu adalah mengapa semalam sebelumnya tadi dia diam-diam saja saat papaku menamparnya, padahal menurutku dia bisa saja menangkis tangan papaku atau menutupi kedua pipinya atau menghindar atau yang lainnya. Mama sepertinya terkejut; dia sesaat berhenti menyabuni piring-piring. Ketika dia menatapku matanya seperti sebuah kotak hitam berisi ratusan pertanyaan.

“Mama bilang ia malam itu tak melakukanya karena tak merasa itu perlu. Jawabannya ini membingungkanku, dan karenanya aku bertanya lagi. Kali ini yang kutanyakan adalah apakah dia membenci papaku atau tidak.

“Dan kamu tahu apa jawabannya? Jawabannya adalah tidak. Mama bilang dia sama sekali tak membenci papaku. Bahkan, ini ditambahkannya kemudian, dia menilai membenci papaku bukanlah sesuatu yang pantas, sebab papaku itu suaminya, pasangan hidupnya, seseorang yang telah dipilihnya untuk selalu bersamanya. ‘Kalau kamu sudah dewasa nanti kamu akan mengerti apa itu konsekuensi dan risiko.’ Begitu kira-kira Mama berkata. Aku tak puas dengan sikap dan pilihannya. Mama lantas membuatku semakin tak puas lagi dengan memintaku tak bertingkah yang aneh-aneh di depan papaku. Dia ingin aku mencoba mengerti.”

Si lelaki yang tadi sebentar memandangi Arni kembali memandanginya. Arni menoleh menatap si lelaki, dan lelaki itu pun kembali mengarahkan matanya ke jendela.

“Ada dua hal yang harus kupastikan dulu,” ujarku.

“Apa?”

Pertama, apakah papamu dan mamamu masih bersama?”

“Saat ini? Masih.”

Kedua, apakah kamu masih terhubung dengan mereka?”

“Itu pun masih.”

“Hmm…”

“Kamu mungkin sedikit kecewa. Aku paham. Saat ini aku punya kesempatan dan kemampuan untuk benar-benar memutuskan hubungan dengan mereka, tetapi aku tak melakukannya. Bahkan, tak lagi terpikir untuk melakukannya. Kalau kamu mau menilai aku plin-plan, ya silakan saja. Tapi kalau kamu mau mendengar alasanku, aku akan senang. Kamu tahu, orang-orang yang membesarkan kita dan merawat kita dengan kasih bagaimanapun adalah orang-orang yang berjasa dalam hidup kita, seberapa tidak-nyambung-nya pun kita dengan mereka saat ini. Aku tak mau melakukan sesuatu yang kelak kusesali. Aku juga tak mau membuat mereka sedih. Mereka saat ini sangat mungkin tidak lagi sekuat dan setegar dua puluh tahun lalu.”

“Tunggu. Orang tua kamu tahu soal kamu pindah agama?”

“Aku tak pernah pindah agama.”

“Ah, oke. Kuganti. Orangtuamu tahu soal kamu bukan lagi Muslim?”

“Mereka tak tahu, dan sebaiknya memang begitu.”

“Kamu takut apa yang kamu lakukan ini menyakiti mereka?”

“Sejujurnya, iya.”

“Tapi kamu melakukannya…”

“Karena aku juga tak bisa terus-terusan menyakiti diriku sendiri.”

Nada bicara Arni cukup tinggi. Si lelaki tadi dan beberapa orang lain menoleh mengamatinya sesaat.

“Karena aku tak mungkin lagi masih Muslim. Itu seperti… Itu seperti aku mati-matian membohongi diriku sendiri.”

“Dan kamu sekarang merasa lebih baik?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Maka orangtuamu harus tahu.”

“Nanti lah.”

“Nanti?”

“Kalau aku sudah merasa itu waktu yang tepat.”

“Hmm…”

“Kita manusia bisa terus hidup karena menyimpan sejumlah rahasia, Yuka. Setidaknya itu yang kuyakini.”

Aku tak lagi membalasnya, sebab aku tahu itu percuma. Ketika kami telah saling diam aku jadi memikirkan kedua orangtuaku dan ingatanku pun membawaku ke sebuah Minggu pagi yang damai.

___

 

“Menurutmu langit itu bagaimana? Indah, menenangkan, atau bagaimana?” tanya ayahku. Kami sedang berdiri di trotoar, memandangi langit itu. Ayah memasukkan kedua tangannya di saku celananya.

“Aku nggak suka langit begini terus. Membosankan,” kataku. Jelas itu bukan jawaban yang ingin didengar Ayah.

“Kamu lebih suka langit itu kembali seperti sebelumnya—gelap kalau malam dan terang kalau siang?” tanya Ayah.

“Ya. Seenggaknya itu nggak bikin aku linglung pas bangun pagi,” jawabku.

Ayahku tertawa.

“Ya ya… Kadang-kadang Ayah juga kayak gitu. Linglung. Bingung itu pagi atau malam. Tapi ajaibnya Ayah masih bisa hidup seperti biasa. Ayah, kamu, ibumu, orang-orang di kota ini, ternyata masih menjalani hidup seperti biasa.”

Aku tak tahu apa yang sedang berusaha dikatakan Ayah. Ia terus memandangi langit, seolah-olah sedang menunggu sesuatu muncul, atau terjadi.

“Ibumu benar-benar nggak suka langit seputih ini. Dia masih percaya sesuatu yang buruk bakal harus kita hadapi nggak lama lagi.”

“Memangnya Ayah suka?”

“Apanya? Langit putih ini? Nggak. Jelas nggak. Tapi sewaktu-waktu Ayah merasa sebaliknya.”

“Seperti saat ini.”

“Kamu memang peka. Ya, seperti saat ini.”

“Apa yang Ayah rasakan? Memandangi langit putih ini saat ini, apa yang Ayah rasakan?”

“Damai. Mungkin itu. Bisa juga diartikan tenang, atau menenangkan.”

“Memandangi langit putih ini bikin Ayah tenang. Kenapa?”

“Nggak tau juga. Bisa jadi karena putihnya sempurna.”

“Sempurna? Terus?”

“Sesuatu yang sempurna selalu memancarkan sesuatu, Yuka. Sesuatu yang megah. Yang indah. Menenangkan.”

“Dan Ayah lagi merasa butuh itu?”

“Tepat sekali! Kamu ini memang anak Ayah. Ya, saat ini Ayah lagi butuh itu. Kamu tahu sendiri alasannya apa.”

“Tante Ela?”

“Seratus!”

“Ayah benci sama Tante Ela?”

“Nggak. Sama sekali nggak.”

“Terus?”

“Benci sih nggak. Tapi biar gimana pun dia itu mantan orang-terkasihnya ibumu, dan Ayah tahu kayak gimana hubungan mereka dulu.”

“Mereka ‘kan nggak pacaran, Ayah.”

“Memang. Tapi kedekatan mereka itu nggak normal.”

“Mereka pernah tidur bareng?”

“Mungkin.”

“Ayah nggak percaya sama istri Ayah sendiri?”

“Bukan itu.”

“Terus apa?”

“Kamu tahu ibumu dulu lebih cenderung suka sama perempuan—”

“Ralat. Aku tahu itu dari Ayah.”

“Oke. Yang jelas, kamu tahu itu. Kalau dibandingin sama Rena jelas Ela bukan apa-apa. Tapi, bayangan-bayangan itu selalu mengusik Ayah.”

“Ayah ngebayangin apa? Tante Ela sama Mama saat ini ciuman?”

Dia tertawa. Tawa yang kering.

“Ayah ini gimana. Masa sama hal kayak gitu aja keganggu.”

“Kamu masih anak-anak, Yuka. Kamu belum tahu kayak gimana rasanya jatuh cinta.”

Tak kujawab. Aku tak pernah suka Ayah menegaskan kalau aku masih anak-anak.

“Ibumu itu orang yang baik, tapi dia nggak punya banyak teman. Dia nggak bisa punya banyak teman. Makanya ketika dia punya teman, dia sama orang itu bakal dekat banget; seolah-olah seseorang itu bagian dari dirinya. Dulu Rena. Setelah dia dan Rena putus hubungan, dia ketemu Ela. Dua orang ini punya kesamaan: sama-sama memahami orang kayak gimana ibumu itu.”

Kali ini aku benar-benar merasakan semacam kesedihan dalam cara Ayah bertutur. Aku jadi bertanya-tanya apakah Ayah memang sebegitu cemasnya Ibu akan kembali menjadi dirinya dulu—seorang lesbian.

“Ela udah hampir dua tahun di rumah sakit, dan ibumu nggak pernah absen jenguk tiap minggu. Kadang seminggu dua kali. Kadang bahkan tiga kali. Ayah pengen bilang ke ibumu kalau dia nggak perlu serajin itu, tapi itu mungkin bakal bikin ibumu tersinggung—bahkan sakit hati.”

“Tante Ela itu nggak punya lagi orang tua atau saudara kandung ya?”

“Punya kok. Mereka ‘kan yang bayar biaya perawatannya. Tapi, mereka nggak mau jenguk. Itu kata ibumu.”

“Nggak mau jenguk karena?”

“Karena Ela lesbian.”

“Karena itu?”

“Ya.”

“Hmm…”

“Kamu bakal paham nanti pas kamu dewasa.”

Lagi-lagi, gerutuku, dalam hati.

“Wah, mau hujan.”

“Hujan? Dari mana Ayah tahu?”

“Pengalaman.”

Pengalaman?

“Belum juga dua minggu, tapi kita manusia udah bisa menyesuaikan diri. Kemampuan adaptasi kita hebat.”

Aku kurang paham apa yang dimaksudkannya. Mungkin soal langit putih itu.

“Seandainya untuk urusan perasaan pun kita sehebat itu,” ujar Ayah, dan ia tertawa pendek.

Tak lama kemudian hujan benar turun. Kami berlari dan terpaksa menunggu hujan reda di sebuah kafe kopi.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s