Kursi Roda

Ia merasa Lebaran kali ini ia akan menyambut anak-anak dan cucu-cucunya di kursi roda. Kambuhnya darah tingginya dua minggu yang lalu menyebabkan kaki kanan dan tangan kanannya lumpuh. Sejak saat itu, ia nyaris tak bisa melakukan apa pun tanpa seseorang membantunya. Suami dan anak bungsunya lumayan ia buat repot. Bahkan untuk kencing dan membersihkan diri saja, ia harus meminta bantuan mereka.

Upaya pengobatan tentu saja telah dilakukan. Suaminya, dengan bantuan anak sulung mereka, memanggil mantri[1] ke rumah. Dalam setiap kedatangannya, mantri itu memeriksa keadaannya, dan meninggalkan beberapa obat. Ia meminum obat-obat itu, meski tanpa meyakini keampuhannya. Sampai detik ini memang telah ada beberapa kemajuan, seperti telah bisanya ia kembali menggunakan tangan kanannya. Tapi kaki kanannya masih saja lumpuh, dan agaknya masih akan seperti ini ketika Lebaran tiba. Karena itulah ia merasa Lebaran kali ini ia akan menyambut kedatangan anak-anak dan cucu-cucunya di kursi roda.

Apakah ia menyesali keadaannya ini? Jawabannya adalah iya. Bagaimanapun, lebih nyaman melakukan segalanya sendiri. Menunggu seseorang membantumu berarti menunggu seseorang itu memiliki waktu atau meluangkan waktunya untukmu, dan itu artinya kau harus bersabar dan menahan diri lebih lama jika seseorang itu sedang tak bisa—atau belum bisa—meluangkan waktunya untukmu. Hidupmu seperti berada dalam kemurahhatian orang lain. Dan itu menyedihkan. Begitulah ia berpikir. Tapi apakah ia juga meratapi keadaannya ini? Jawabannya rupanya adalah tidak. Pada awalnya ia memang sempat mengeluh dan mengeluh; di dalam hati ia bahkan memaki-maki dan menyalahkan keadaannya ini. Namun kemudian, ia tak lagi terlampau memikirkannya, bahkan berusaha menikmatinya. Ini bulan Puasa. Dalam keadaan sehat ialah yang menyiapkan santapan sahur dan berbuka; ia jugalah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah setiap harinya.[2] Dan gara-gara keadaannya yang seperti ini, semua pekerjaan itu kemudian, mau tak mau, dilakukan oleh anak bungsunya. Itu artinya beban-bebannya berkurang drastis dan ia memiliki banyak waktu untuk hanya memikirkan dirinya sendiri.

Sebenarnya ia merasa kasihan pada anak bungsunya itu. Sebagai satu-satunya anak perempuan yang ia miliki, dan juga sebagai anak bungsu, perempuan itu selalu dimanjakan, sejak kecil. Hampir tak pernah anak bungsunya itu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Namun rasa kasihannya itu tak ada gunanya. Ia tak bisa membantu anak bungsunya itu. Ia juga tak mungkin (hanya) menyemangatinya sebab itu terlampau konyol baginya. Maka pada akhirnya, ia berusaha untuk tak memikirkannya. Jika saat ini ada yang bisa kulakukan, pikirnya, itu adalah mengistirahatkan diriku, dan sambil menunggu kesembuhan itu datang aku bisa menggunakan waktuku untuk menikmati banyak hal yang tak bisa kulakukan karena kesibukanku. Ia benar-benar menggunakan kata-kata “banyak hal” dalam kalimatnya itu; sesuatu yang kemudian membuatnya bingung sendiri. Memangnya apa saja yang bisa dilakukan olehnya?

Di umurnya yang sudah sangat renta ini, kemampuan panca inderanya telah banyak berkurang. Matanya, misalnya, tak lagi bisa melihat dengan jelas benda-benda yang berada pada jarak 5 meter. Bahkan melihat dengan jelas huruf-huruf dalam sebuah buku yang ia pegang saja belum tentu ia bisa. Dan ia tak memiliki kacamata. Suaminya memang tak pernah berpikir untuk membelikannya kacamata dan hal ini setidaknya disebabkan oleh 2 hal: 1) ia, tokoh kita ini, tak punya kebiasaan membaca; 2) segala pekerjaan rumah yang selama ini ia lakukan nyaris tak berhubungan dengan aktivitas membaca. Ya, barangkali begitulah memang lazimnya perempuan yang lahir di kampung ini pada masa penjajahan, dan terus hidup di sini sampai ia dewasa dan menikah. Ketika ia berkeluarga, suaminyalah yang mencari uang. Ia tak perlu sedikit pun merecoki apa yang dilakukan suaminya. Suaminya sendiri tak sedikit pun meminta pendapatnya terkait apa-apa yang dilakukannya. Bisa jadi lelaki itu pun berpikir tokoh kita ini sama sekali tak perlu mempelajari (baca: membaca) apa pun untuk bisa bertahan hidup di kampung ini—sebagai istrinya.

Jadi, apa yang semula “banyak hal” tadi itu rupanya berubah menjadi kebalikannya. Setelah ia memikirkannya dengan saksama, ia mendapati bahwa apa yang ia lakukan selama ini, selain melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, adalah mengobrol dengan tetangga atau bermain dengan cucunya atau menantunya atau menonton televisi. Selain itu, tak ada lagi. Dan itu membuatnya mati kutu ketika keadaannya seperti sekarang ini. Tiba-tiba ia merasa iri pada salah satu cucunya yang gemar menulis,[3] atau pada salah satu cucunya yang lainnya yang pandai bernyanyi dan memainkan alat musik. Jika mereka berada dalam keadaan seperti ini—mudah-mudahan itu tak akan pernah terjadi—mereka tentu bisa mengatasi kebosanannya dengan melakukan apa yang biasa mereka lakukan dan mereka senangi itu, pikirnya.

Namun bagaimanapun, ia tak punya pilihan selain menikmati keadaannya ini, dan ia mencoba menikmatinya dengan tidur dan tidur. Kadang-kadang, ketika suaminya atau anak bungsunya telah membantunya duduk di kursi roda, ia menonton televisi, atau mengobrol dengan menantunya atau cucu-cucunya yang kebetulan main ke rumah. Lama-lama ia bosan juga, sebenarnya. Tapi setidaknya, itu masih lebih mendingan daripada hanya berbaring mengkhidmati detak jam yang tak pernah berubah temponya.

___

Memasuki hari terakhir bulan Puasa ia semakin berusaha menikmati keadaannya. Ada satu kebiasaan orang-orang di kampung ini, yang masih bertahan sampai sekarang, bahwa mereka akan saling berkirim masakan—dalam rantang, biasanya—di hari terakhir puasa, yang artinya kita sebisa mungkin harus sudah menyiapkan masakan untuk diberikan kepada si pengirim sebagai balasan. Pada Lebaran tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, tokoh kita inilah yang menyiapkan masakan itu. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya sama sekali tak kerepotan, seberapa banyak pun kiriman yang datang. Namun karena keadaannya yang seperti ini, mau tak mau, anak bungsunyalah yang kali ini melakukannya. Anak bungsunya ini yang pada tahun-tahun sebelumnya hanya berpangku tangan saja kini begitu repot dan kesusahan. Tentu saja ia merasa kasihan pada anak bungsunya itu, tapi di saat yang sama ia rupanya tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum. Sesuatu di dalam dirinya bahkan seperti meneriakkan keras-keras kalimat-kalimat ini: “Nah, rasakan! Biasanya kau tak acuh saja sementara aku melakukan ini dan itu, membuat masakan ini dan masakan itu. Sekarang, setidaknya, kau merasakannya!”

Perasaan serupa menghinggapinya malam harinya. Anak bungsunya itu menyiapkan masakan untuk hari raya; ia menghabiskan berjam-jam di dapur sambil sesekali mengurusi kedua anaknya yang rewel itu. Kali ini bahkan suaminya ikut direpotkan; anak bungsunya itu memintanya mengupas beberapa buah kelapa dan menyembelih ayam. Selama itu, ia hanya berbaring, di kamar. Tak bisa melihat apa persisnya yang sedang mereka lakukan, ia memejamkan mata dan membayangkannya. Gambaran anak bungsu dan suaminya—yang selama ini hampir tak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah—melakukan semua itu membuatnya tersenyum. Bahkan, sesuatu di dalam dirinya, entahlah itu persisnya apa, seperti tertawa terbahak-bahak.

Dan perasaan itu, meskipun kadarnya berkurang, rupanya masih menghinggapinya beberapa jam lalu, bahkan hingga saat ini. Dengan rajinnya anak bungsunya bangun pukul 3 pagi, lantas melanjutkan apa-apa yang telah dimulainya semalam. Dari apa yang ia dengar ia menduga anak bungsunya itu bolak-balik dapur-kamar mandi-ruang makan. Sementara suaminya, kira-kira setengah jam setelah azan subuh, terlihat menyapu ruang tamu. Pada titik ini ia tak bisa lagi menahan diri untuk tak tersenyum. Ia tersenyum selebar-lebarnya. Sesuatu di dalam dirinya kembali tertawa terbahak-bahak hingga tawa itu seperti memantul-mantul tanpa henti di dalam kepalanya.

___

Langit di balik jendela sudah cukup terang ketika suaminya memasuki kamar dengan menenteng ember kecil dan handuk tipis. Melihat apa yang dikenakannya—baju koko dan sarung dan peci dan sajadah tersampai di bahu kirin—ia menduga lelaki itu baru kembali dari solat Ied. Tanpa banyak bicara, lelaki itu mulai melucuti apa yang ia kenakan, dan memandikannya (sebenarnya mengelap saja), seperti yang dilakukannya dua minggu terakhir ini. Dan hal ini, lagi-lagi, membuatnya tersenyum. Lelaki itu dulu sering mengasarinya, jika kau ingin tahu. Pada tahun-tahun lampau lelaki itu bahkan kerap menjambak rambutnya dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Namun kini, selama dua minggu terakhir ini, lelaki itu begitu sabar merawatnya. Ia tak sedikit pun mengeluh. Ia tak sekalipun terlihat enggan memandikannya, atau membersihkannya.[4] Mungkinkah ia cemas kehilangan aku? pikirnya. Maksudku, jika aku mati lebih dulu, tak ada yang akan merawatnya. Anak bungsuku tentu tak akan bisa merawat ia sebaik dan selancar aku melakukannya, sambungnya. Sambil menunggu lelaki itu selesai memandikannya ia melihat-lihat dan mengamati apa saja yang bisa ia amati. Perhatiannya lantas terpaku pada kursi roda yang diletakkan di dekat pintu dan menghadap padanya. Beberapa jam lagi, ketika anak-anak dan menantu-menantu dan cucu-cucuku datang, aku akan menyambut mereka dengan duduk di kursi roda ini. Satu per satu dari mereka akan menghampiriku dan menyalamiku dan setelahnya mengajakku bicara. Sepertinya tidak begitu buruk. Ya, sepertinya tak begitu buruk. Begitulah ia berpikir. Di dalam benaknya bermunculan gambaran demi gambaran di mana ia dihampiri anak-anaknya dan menantu-menantunya dan cucu-cucunya dan ia, meskipun hanya bisa duduk di kursi roda, tersenyum lebar selebar-lebarnya. Meski masih berupa gambaran di benaknya semata, hal itu sudah membuatnya merasa hangat.

Namun sebuah ketukan dan ucapan salam membuyarkan gambaran itu, dan seketika membuatnya was-was. Ia menoleh ke ambang pintu, dan menemukan anak sulungnya sedang berdiri di sana, dengan pakaian yang menunjukkan bahwa lelaki itu pun baru saja kembali dari solat Ied—ia agaknya berzikir dulu setelahnya dan mengambil rute memutar yang jauh ketika ia pulang. Perlahan, anak sulungnya itu masuk. Mata lelaki itu terarah pada apa yang tengah dilakukan suaminya, dan seketika ia tersadar bahwa ia belumlah dalam keadaan siap untuk dihampiri. Suaminya sedang berusaha memakaikannya celana dalam, dan anak sulungnya itu mendekat padanya dan meraih kedua tangannya dan menciumnya lembut. Apa yang dikatakan lelaki itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakannya pada Lebaran tahun sebelumnya, atau tahun-tahun sebelumnya lagi. Akan tetapi, jelas sekali, ia merasakan kesedihan yang jauh lebih kuat daripada yang ia rasakan pada Lebaran tahun lalu, atau tahun-tahun sebelumnya. Suaminya telah selesai memakaikannya celana dalam ketika akhirnya, tanpa bisa ia bendung lagi, tangisnya pecah. Ia berusaha memeluk anak sulungnya itu. Sepintas ia menoleh menatap kursi roda di dekat pintu dan mendapati seseorang serupa dirinya, seseorang yang barangkali adalah dirinya, tengah duduk di sana. Seseorang itu mengatakan sesuatu namun ia sama sekali tak memahaminya.(*)

Bogor, 2 September 2014

[1] Aku tidak tahu dari mana kata ini berasal. Orang-orang di kampung ini menyebut orang itu (dan teman-teman seprofesinya) mantri, padahal ia agaknya sama saja dengan dokter. Perbedaannya hanyalah si mantri ini mau mendatangi rumah-rumah di kampung seperti kampung ini.

[2] Suaminya yang rambutnya sudah putih semua itu tentulah tak bisa diandalkan untuk urusan ini. Sedangkan anaknya yang bungsu, meskipun ia perempuan, waktunya terisap habis untuk mengurusi kedua anak laki-lakinya yang masih kecil—dan rewel.

[3] Konon cucunya itu menulis setiap hari—apa pun itu—dan ia akan jatuh sakit atau kehilangan selera makan jika melewatkan satu hari tanpa menulis. Orang yang aneh.

[4] Ingat bahwa di umur setua ini penampakan fisiknya tidak lagi mengesankan, bahkan cenderung menjijikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s