Apa yang Semestinya Dihadapi Puisi Saat Ini?

Ketika Pop-Art muncul dan memperoleh sambutan hangat dan selanjutnya menandingi secara serius Ekspresionisme Abstrak—dalam hal popularitas dan nilai tawar di dunia seni rupa Amerika Serikat (AS) saat itu, di antaranya—ia dinilai membawa kesegaran, menawarkan sejumlah kebaruan yang berani. Ini tak bisa disangkal memang. Salah satu kesegaran atau kebaruan itu adalah upayanya dalam, antara main-main dan sungguh-sungguh, meleburkan seni rupa (tinggi) dan realitas atau budaya populer (rendah), menyamarkan sesamar-samarnya batas-batas yang kadung ada di antara keduanya sehingga kita tak bisa lagi dengan begitu mudah membedakannya. Akan tetapi, seperti kita semua ketahui, apa-apa yang dihadirkan Pop-Art tidak semuanya baru—meski mungkin masih bisa dikatakan segar. Pop-Art, sebagai salah satu aliran seni rupa yang mencoba merespons dominasi Ekspresionisme Abstrak, faktanya juga hadir dengan sejumlah hal yang akan lekas menarik penikmatnya ke masa silam, memasuki ruang-ruang di mana aliran-aliran seni rupa yang beberapa dekade sebelumnya pernah berkembang dan memuncak di Eropa seperti hidup kembali.

Salah satunya yang bisa disebut adalah kecenderungan Pop-Art dalam memunculkan objek-objek yang kita temukan di realitas dalam wujud yang nyaris sama, setidaknya sangat mudah untuk dikenali. Ini tentu saja salah satu bentuk perlawanan ekstrem Pop-Art terhadap Ekspresionisme Abstrak (yang justru begitu berupaya melarikan diri dari bentuk-bentuk realis), namun di saat yang sama kita pun menyadari bahwa Pop-Art sesungguhnya tengah mengajak kita untuk kembali terbiasa dengan Realisme, mendekatkan kita kembali kepada realitas sehari-hari yang selain konkret juga banal. Perbedaan mendasar, tentu ada. Yang diambil Pop-Art dari realitas untuk kemudian dijadikan subject-matter adalah benda-benda atau subjek-subjek yang lekat-erat dengan budaya populer—makanan kaleng, Cola, bintang film, dlsb. Selain itu, tidak seperti Realisme, Pop-Art terasa sekali menyajikan kebermain-mainan dan perayaan. Memang tidak seperti seniman-seniman Ekspresionisme Abstrak yang membangun kedalaman dengan cara mencurahkan rasa sakit, kemuakan dan trauma atas Perang Dunia ke dalam karya-karyanya, para seniman Pop-Art justru lebih memilih untuk membebaskan diri dari hal tersebut sebebas mungkin, sejauh mungkin, sehingga yang kemudian terasa kuat dalam karya-karya mereka adalah perayaan tadi.

Selain Realisme, aliran seni rupa sebelumnya yang juga sangat terasa “ruh”-nya dalam Pop-Art adalah Dada, khususnya konsep Marcel Duchamp tentang ready-made. Terkait Dada yang menentang tradisi habis-habisan dan mengedepankan kebermain-mainan, kita tentu mudah menemukan jejak-jejaknya di Pop-Art. Sementara itu tentang ready-made-nya Duchamp, kita bisa menemukannya dalam sejumlah karya Andy Warhol di mana ia benar-benar hanya meng-copy suatu produk yang ditemukannya di ruang-ruang konsumerisme seperti supermarket untuk kemudian memberi “sedikit” perlakuan tertentu atasnya sehingga ruang pemaknaan pun terbentuk—ini berarti, seperti halnya Duchamp, Warhol pun menekankan betapa krusialnya konsep sebagai landasan utama terciptanya sebuah karya seni, bukannya eksekusi bentuk. Perbedaannya, lagi-lagi, tentu ada. Konsep ready-made Duchamp memungkinkan sebuah benda fungsional yang diproduksi untuk menjadi bagian dari realitas sehari-hari bertransformasi menjadi benda-dengan-nilai-estetis yang membuatnya layak disajikan sebagai sebuah karya seni (atau bagian dari sebuah karya seni); dan yang perlu dilakukan si seniman hanyalah memilihnya dan memberi sedikit perlakuan padanya—aktivitas memilih ini diyakini Duchamp adalah bagian dari proses terbentuknya karya seni dan karenanya ia mesti disertakan ke dalam pemaknaan. Karya-karya Pop-Art Warhol, di sisi lain, lebih mengandalkan replikanya, tiruannya. Dalam hal ini lukisan-lukisan Warhol dengan subject-matter berupa produk-produk budaya populer yang ditampilkan secara nyaris apa adanya tadi pun bisa kita tarik ke sana; bahwa produk-produk tersebut pun, setelah dipilih oleh Warhol, adalah ready-made.

Dari paparan tersebut kita bisa melihat bahwa, memang, selain menawarkan sejumlah kesegaran atau kebaruan yang identik dengan masa depan, Pop-Art pun rupanya menarik masyarakat seni rupa (seniman, penikmat, kritikus) ke masa silam; menarik mereka begitu kuat ke masa silam, bisa jadi tanpa mereka menyadari itu. Dalam redaksi bernada skeptis kita bisa juga mengatakan bahwa Pop-Art, terlepas dari upayanya untuk tampil sebagai sesuatu yang baru, ternyatalah tak bisa benar-benar membebas-lepaskan diri dari yang telah ada, dari faktisitas, dari tradisi seni rupa yang kadung terbentuk sebelum kemunculannya. Seperti itulah barangkali keniscayaan yang dihadapi sebuah pembaharu, sesuatu yang dilontarkan secara sengaja untuk mengusik tatanan yang telah ada demi terciptanya sebentuk perubahan.

Lantas, bagaimana jika konteksnya adalah puisi?

___

Badrul Mustafa vs. Ampenan, Mana yang Lebih Segar?

Dunia perpuisian kita dalam satu tahun terakhir cukup menarik untuk dibicarakan. Oktober 2017 lalu, untuk kategori puisi, Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017 jatuh kepada buku puisi Kiki Sulistyo, Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?. Kemudian Januari 2018 lalu, buku puisi Heru Joni Putra yang juga masuk shortlist KSK 2017, Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa, terpilih sebagai buku puisi terbaik Tempo untuk tahun 2017. Keduanya, baik dari segi bentuk maupun estetika, benar-benar berada pada jalan yang berbeda.

Pertanyaan kita kemudian tentu saja adalah bagaimana sebenarnya nilai tawar kedua buku tersebut, juga seperti apa respons yang diberikannya terhadap faktisitas atau tradisi yang kadung ada, serta dalam wujud apa kesegaran dan atau kebaruan yang ditawarkannya—jika ada. Kesegaran atau kebaruan agaknya perlu kita beri perhatian lebih, sebab keberadaan hal inilah yang mampu menyelamatkan kita dari salah satu bentuk kematian yang paling ingin kita hindari: kebosanan.

Kita mulai dengan Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa—selanjutnya Badrul Mustafa saja.

Puisi-puisi Heru dalam Badrul Mustafa menghadirkan ke hadapan kita permainan sikap—juga tafsir—terhadap produk-produk bahasa seperti peribahasa, sehingga si peribahasa, kendati tampil ke hadapan kita di kehidupan kontemporer, tidaklah lagi dalam wujud asalnya seperti yang kita kenal, yang berarti sebentuk kesegaran. Meminjam wujud puisi-naratif sebagai bentuk dasar, Heru memberikan sentuhan-sentuhan yang sifatnya cenderung main-main dan komikal, yang kemudian memunculkan komedi, namun komedi di sini bukanlah semata untuk memancing kita tertawa melainkan lebih jauh lagi dari itu, lebih dalam lagi itu, ia merangsang kita untuk memandang realitas ini sebagai sesuatu yang pahit, juga busuk. Ini mendorong kita untuk sedikit-banyak merasakan kemuakan di balik kelucuan-kelucuan yang tampak. Dalam hal ini, Heru sedikit mirip dengan Joko Pinurbo (Jokpin). Kita tahu dalam puisi-puisi Jokpin yang juga naratif (dan kadang komikal) hal-hal lucu tampil di permukaan seakan-akan sebagai upaya untuk menutup-nutupi kesedihan dan kepedihan yang kuat bergerak di baliknya, dan Heru saya kira bekerja dengan cara serupa. Perbedaan mendasar tentu ada. Alih-alih berusaha membuat kita trenyuh, misalnya, komedi atau kelucuan-kelucuan di puisi-puisi Heru seperti diarahkan untuk membawa kita pada sarkasme—juga olok-olok. Sebentuk kesegaran lainnya.

Kesegaran lainnya lagi akan kita temukan apabila kita memfokuskan pengamatan ke puisi-puisi naratif Heru yang menyaru anekdot. Layaknya tokoh utama dalam anekdot, Badrul Mustafa, tokoh sentral dalam buku puisi ini, melakukan hal-hal konyol yang berpotensi membuat kita tergelitik, tersenyum, bahkan tertawa, dan kelak membawa kita kepada sebuah pemahaman tertentu (akan realitas). Apa-apa yang diucapkan atau dipikirkan Badrul Mustafa seperti sebentuk ketidakwarasan yang disajikan dalam warna-warna terang; di satu sisi kita menyadari Badrul Mustafa tidak waras, di sisi lain kita menikmatinya bahkan sangat terhibur olehnya. Mereka yang akrab dengan kisah-kisah Nasrudin Khoja, misalnya, mestilah merasakan adanya kedekatan yang kuat antara puisi-puisi Heru dengan cerita-cerita sang sufi.

Kesegaran yang satu ini menarik untuk dielaborasi mengingat Heru, selaku penyair, terkesan sekali meleburkan batas-batas antara puisi dan anekdot. Bukan hanya di bahasa, peleburan itu juga terjadi di penokohan, narasi, bahkan realitas itu sendiri. Realitas puisi dan realitas anekdot menjadi sulit dibedakan; seperti sama saja kedua hal ini namun di saat yang sama kita tahu betul kita mestilah melihat realitas tersebut sebagai realitas puisi, sebab ia termaktub di dalam sebuah buku puisi. Ini serupa dengan kasus Pop-Art dan Warhol tadi. Dan saya kira, dampak setelahnya pun demikian. Setelah Pop-Art berhasil membuktikan bahwa batas-batas antara seni rupa dan budaya populer bisa dikikis hingga setipis mungkin, sejumlah seniman kemudian berupaya meleburkan seni rupa dengan realitas pada umumnya, atau dengan hal-hal lain yang sebelumnya dianggap berada pada “dimensi” yang berbeda—bahkan bertentangan—dengannya; dan mereka berhasil melakukannya. Ini berarti, selain meleburkan puisi dengan anekdot, kita pun mestilah bisa meleburkan puisi dengan hal-hal lain, mengikis hingga setipis mungkin batas-batas yang kadung ada di antara puisi dan hal-hal lain itu. Misalnya, kita mungkin bisa meleburkan puisi dengan (aktivitas) memasak(?).

Agaknya diperlukan pembahasan yang lebih mendalam untuk membuat tawaran tersebut terasa konkret. Namun sebelum ke sana, kita akan membahas terlebih dahulu buku puisi Kiki Sulistyo, Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?—selanjutnya Ampenan saja.

Berbeda dengan Badrul Mustafa, menurut saya Ampenan tidak menawarkan kesegaran dalam hal bentuk. Di epilog buku ini Afrizal Malna memang membahas sedikit tentang upaya-upaya Kiki dalam memberi perlakuan autentik terhadap bahasa, seperti dengan mengatur rima secara ketat sehingga realitas bahasa di dalam puisi-puisi Kiki seperti perwujudan dari relasi antara bunyi dan suara, di mana seakan-akan ada pembatalan dan pembatalan yang terus terjadi, namun saya kira Afrizal luput memperhitungkan apakah pengaturan rima—dan bunyi dan suara—tersebut sudah tersaji dengan optimal atau belum, apakah ia menguatkan komposisi atau justru melemahkannya. Semestinya, Afrizal mencoba memperbandingkan pengaturan rima di puisi-puisi Kiki ini dengan pengaturan rima di sejumlah puisi Nirwan Dewanto di Jantung Lebah Ratu. Di sana pun pembatalan-pembatalan itu terjadi, bisa jadi dengan intensitas yang jauh lebih tinggi, dan dengan kontribusi yang lumayan dominan dalam membentuk komposisi. (Ingat, puisi-puisi Nirwan di Jantung Lebah Ratu umumnya hanyalah sehamparan momen estetika.) Sementara itu, jika kita bicara soal klaim Afrizal tentang realitas bahasa di puisi-puisi Kiki dalam konteks begitu resisifnya bahasa lokal, saya kira itu pun belumlah sebuah pencapaian. Maksud saya, jauh sebelum Kiki, Mugya Syahreza Santosa (atau Faisal Syahreza) telah lebih dulu melakukan hal tersebut dalam Hikayat Pemanen Kentang, di mana bahasa lokal—dalam hal ini Basa Sunda—tidak dimunculkan meski realitas yang dihadirkan di puisi adalah realitas yang lekat-erat dengan masyarakat Sunda. Intinya: klaim-klaim Afrizal tersebut belum teruji.

Namun bukan berarti kesegaran itu tidak ada. Kesegaran itu ada, namun tidak dalam wujud bentuk, melainkan tema—mungkin bisa juga kita sebut konsep(?). Sebagaimana dijelaskan Afrizal, lagi-lagi dalam epilognya itu, puisi-puisi Kiki berupaya menawarkan Ampenan sebagai sebuah kota dengan tidak bertolak pada sejarah yang umumnya diketahui orang (kebenaran objektif), melainkan pada apa-apa yang dialami Kiki sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh-besar di sana dan pada satu titik meninggalkannya (kebenaran subjektif). Di sini, tak mungkin tidak, kesegaran itu ada, sebab realitas yang dialami setiap orang mestilah bersifat autentik; sebuah realitas subjektif yang akan mendorongnya untuk membentuk kebenaran subjektif. Realitas ini pun, dalam puisi-puisi Kiki, cenderung personal; sangat-sangat personal. Ampenan sebagai sebuah kota ternyatalah seperti sekelumit peristiwa yang berpusar pada sosok-sosok yang itu-itu saja, yang meng-ada dan dominan dalam benak si penyair atau si aku-lirik. Bagi seorang pembaca yang juga pernah hidup dan mengalami realitas di Ampenan, atau setidaknya pernah membaca sejarah Ampenan dan karenanya merasa cukup akrab dengan kota itu, apa yang ditawarkan Kiki ini bisa menjadi semacam pembanding, atau alternatif; dan bisa saja kelak setelah itu muncul pemaknaan baru atas Ampenan di diri si pembaca. Bagi saya sendiri, sebagai seorang pembaca yang sama sekali buta soal Ampenan, realitas yang ditawarkan Kiki menyaru sebuah bilik lain, sebuah ruang liyan, sebuah kawasan asing yang masih harus saya jelajahi berkali-kali lagi untuk benar-benar bisa mengenalnya dan mungkin menerimanya. Tentu, keberirisan sudah pasti ada, sebab bagaimanapun di dalam diri tiap-tiap kita ada sebuah kesadaran kolektif; manusia satu dengan manusia lain di dunia ini terhubung—seringkali tanpa mereka sadari—lewat apa yang disebut bawah-sadar kolektif. Realitas Ampenan dalam “penginderaan” si aku-lirik, sewaktu-waktu tampak serupa dengan realitas yang saya alami di Kota Hujan ini; kira-kira begitu. Sejumlah pembaca lain pun mungkin mengalami hal yang sama.

Dengan demikian realitas Ampenan yang ditawarkan Kiki itu kemudian mestilah menarik kita ke semacam ambiguitas. Di satu sisi ia jauh, lain, liyan; di sisi lain ia dekat, sama, tak-liyan. Sayangnya sesuatu semacam ini umum kita hadapi saat mengalami sebuah karya seni, termasuk di dalamnya puisi. Itu artinya, meski apa yang ditawarkan Kiki itu menarik, kesegarannya agaknya masih kurang memuaskan, masih belum bisa mengatasi rasa haus kita akan adanya kebaruan yang membawa kita ke masa depan. Bisa jadi ini dikarenakan Kiki, dalam Ampenan, tidak menawarkan kesegaran itu lewat bentuk.

___

Kesegaran Bentuk dan Estetika Baru

Salah satu kesalahan Pop-Art, tepatnya Warhol, yang kelak mendorong lahirnya Seni Rupa Konseptual, saya kira adalah terlampau diposisikannya konsep atau ide sebagai yang paling krusial, jauh di atas eksekusi bentuk. Dengan memegang prinsip ini berarti seorang seniman boleh tak begitu peduli pada kebaruan bentuk selama ia senantiasa menawarkan kebaruan konsep, kebaruan ide. Lebih jauh lagi, dengan berpegang pada prinsip tersebut, seorang seniman pun boleh saja tidak terlibat secara langsung dalam eksekusi bentuk selama konsep atau ide untuk melakukan eksekusi tersebut berasal darinya, darinya seorang. Jeff Koons dan Damien Hirst, adalah dua seniman yang kerap melakukannya di dunia seni rupa kontemporer.

Dalam konteks puisi, prinsip tersebut bisa diartikan begini: seorang penyair, selama ia memiliki konsep atau ide yang kuat dan orisinal, dibolehkan untuk tidak sungguh-sungguh berusaha menggarap bentuk, mengolah bahasa (teks). Tentu cakupan bentuk dalam sebuah puisi jauh lebih luas dari itu; tidak sebatas bahasa secara kasatmata namun bisa juga cara pandang si penyair terhadap bahasa atau bahkan puisi itu sendiri; bisa juga menjangkau proses pemilihan subject-matter jika kita menariknya kuat ke konsep ready-made-nya Duchamp. Di puisi-puisi Heru tadi, misalnya, yang terjadi adalah yang kedua, di mana Heru selaku penyair mencoba melihat puisi sebagai sesuatu yang lain, sebagai bukan-puisi, yakni anekdot. Adapun soal bahasa sebagai teks itu sendiri, sebagai media komunikasi di realitas yang kita hadapi sehari-hari, agaknya relatif dibiarkan demikian; perlakuan-perlakuan liyan atasnya tak cukup signifikan untuk menjadikan si bahasa ini terlihat mengalami pengolahan berarti. (Ingat, yang diolah Heru adalah produk-produk bahasa, bukan bahasa itu sendiri.)

Puisi-puisi Kiki dalam Ampenan, meski dengan kadar yang berbeda, saya kira juga tidak benar-benar melakukan pengolahan terhadap bahasa secara langsung; wujud bahasa dalam puisi-puisi Kiki memang kadang asing namun itu sesungguhnya biasa-biasa saja jika kita melihatnya sebagai bagian dari tradisi perpuisian yang ada. Kiki pun tidak terasa mencoba melihat puisi (teks) sebagai bukan-puisi (bukan-teks). Yang dilakukan Kiki adalah mengolah konsep, yakni tentang Ampenan yang sejarahnya terbentuk dari pengalaman-pengalaman personal si aku-lirik.

Saya pribadi kurang senang dengan apa yang dilakukan Kiki tersebut. Jalan puisi seperti ini, sebagaimana ditempuh juga oleh beberapa penyair lain seperti Faisal Oddang, bukan saja terlampau mengandalkan pembentukan nilai tawar ke tangan konsep, namun di saat yang sama cenderung memberikan pemafhuman besar-besaran atas tidak benar-benar digarapnya bahasa sebagai “latar” yang dipinjam puisi. (Pada kasus Faisal Oddang—Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama—bahkan penggarapan bahasa ini hampir-hampir tidak ada.) Sementara itu jalan puisi yang ditempuh Heru sendiri, di sisi lain, belum memuaskan saya. Itu karena Heru, meski telah mencoba melihat puisi sebagai anekdot, pada dasarnya masih melihatnya sebagai teks, sebagai bahasa dalam realitas yang kita jalani sehari-hari.

Akan menarik saya kira jika seseorang menulis puisi dengan kesadaran untuk melihat si puisi sebagai bukan-puisi, lebih jauh lagi sebagai bukan-teks; ini karena dengan sendirinya wujud si puisi akan terlihat liyan dan karenanya estetika yang ditawarkannya pun mungkin berbeda, bahkan baru. Sudah ada memang yang melakukannya. Nirwan Dewanto, misalnya, lewat sejumlah puisinya di Jantung Lebah Ratu, di mana ia mencoba melihat puisi sebagai lukisan, di mana kata, tipografi, tanda baca dan yang lainnya digunakan seolah-olah mereka adalah warna, garis, tekstur, ruang kosong dan yang lainnya. Atau Afrizal Malna, di mana ia terlihat mencoba memandang puisi sebagai sebuah karya instalasi; di mana bahasa begitu intens dikenai jukstaposisi demi tercapainya sebuah ruang pemaknaan lain. Tentu puisi bisa juga dilihat sebagai bukan-puisi yang lain seperti musik, di mana elemen-elemen bahasa kemudian diperlakukan sebagai nada, bunyi, tempo, diam dan yang lainnya. Sedikit wujud musik sebenarnya kita temukan dalam puisi-puisi Goenawan Mohamad, atau Avianti Armand, atau Esha Tegar Putra. (Tentu bukan sekadar permainan rima seperti yang dikemukakan Afrizal tadi itu.) Puisi pun bisa juga dilihat sebagai sebuah hening, sebuah diam, sebuah stiuasi-menuju-satori. Untuk yang satu ini kita menemukannya, misalnya, di puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Cara berpikir seperti ini adalah perluasan dari cara pandang Wassily Kandinsky terhadap warna, di mana warna dilihat sebagai bukan-warna, juga sebagai bukan-sesuatu-yang-umumnya-dirujuknya. Warna-warna dalam lukisan, yang umumnya diasosiasikan dengan benda atau sesuatu yang konkret, oleh Kandinsky justru diasosiasikan dengan bunyi, sesuatu non-materiil, untuk kelak dihubungkan dengan perasaan atau emosi. Cara pandang ini telah terbukti membuka jalan yang lapang bagi lahirnya sejumlah aliran seni rupa penting seperti Ekspresionisme Abstrak di AS atau Tachisme di Perancis. Jikapun ditarik ke realitas, yang banal, berisik dan gegas, gunanya tetap ada; salah satunya merangsang dan membiasakan kita untuk tidak melihat sesuatu (apa pun itu) sebagai sosok tunggal, melainkan sebaliknya—jamak; dengan begitu kita tidak akan mudah terjerumus ke dalam fanatisme atau absolutisme. Memperluas persepsi, dengan kata lain. Di saat yang sama kita membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru; hal-hal yang sekilas terlihat musykil bahkan mustahil.

Namun tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa puisi-puisi yang ditulis tidak dengan kesadaran seperti itu adalah puisi-puisi yang jelek. Selalu ada konteks yang menyertai sebuah penilaian. Puisi-puisi Frischa Aswarini dalam Tanda bagi Tanya, misalnya, tak pelak lagi, adalah puisi-puisi yang bagus; puisi-puisi Frischa memiliki kedalaman kontemplatif yang tinggi yang mampu melarutkan kita pada sebuah pengalaman spiritual yang kuat. Dan di sini ada yang menarik. Memang, dilihat dari realitas bahasanya, puisi-puisi Frischa dalam Tanda Bagi Tanya tak terkesan ditulis dengan cara melihat puisi sebagai bukan-puisi, teks sebagai bukan-teks; mereka ditulis dengan gaya konvensional saja, dan karenanya sangat biasa. (Tidak ada kebaruan gaya ungkap sama sekali.) Akan tetapi efek-efeknya yang saya sebutkan tadi, sedikit-banyak, mestilah mengingatkan kita pada Minimalisme. Dalam Minimalisme simplifikasi dioptimalkan, yang justru dengan cara itulah hal-hal yang esensial dan krusial lantas muncul dengan sendirinya, secara alamiah, menyergap kita. Ini berarti meski sebuah puisi tidak ditulis dengan kesadaran untuk melihatnya sebagai bukan-puisi, sebagai bukan-teks, peluang ia terlihat seperti itu di mata pembaca tetap ada. Barangkali si penyair sesungguhnya melakukan itu, secara tidak sadar. Ia melakukan itu di alam bawah-sadarnya.

Tetapi saya kira, sekali lagi, penting untuk melakukan hal tersebut secara sadar, mengingat kita sedang berada di kehidupan kontemporer, bukan masa silam. Dan dengan begitulah barangkali puisi yang kita tulis itu pun akan meng-ada, meninggalkan jejak yang kuat di dalam tradisi yang tengah terus dibentuk, sekaligus menjadi titik tolak dari terbukanya jalan lain yang akan membawa puisi menuju dirinya yang lebih menarik lagi, yang lebih menantang lagi, yang lebih visioner lagi, sehingga tradisi itu pun berkembang—secara signifikan. Menurut saya itulah yang semestinya dihadapi puisi saat ini, bukannya perulangan-perulangan semenjana, bukan juga sekadar terobosan yang nyatanya hanya berhenti di permukaan luar dan akhirnya sama sekali tidak menawarkan kedalaman—puisi-esai ala Denny J.A., misalnya.(*)

—Bogor, 17-19 Januari 2018

Referensi Teks

Aswarini, Frischa. (2017). Tanda bagi Tanya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Crenata, Ardy Kresna Crenata. (2018). Badrul Mustafa, Upaya Mengolah Produk Bahasa. Diakses pada 18 Januari 2018. https://jurnalruang.com/read/1515048915-badrul-mustafa-upaya-mengolah-produk-bahasa

Detik.com. (2017). Ini 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Diakses pada 19 Januari 2018. https://hot.detik.com/book/3668137/ini-5-besar-kusala-sastra-khatulistiwa-2017

Dewanto, Nirwan. (2008). Jantung Lebah Ratu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Klikpositif.com. (2017). Ini Tiga Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Diakses pada 19 Januari 2018. http://news.klikpositif.com/baca/21558/ini-tiga-pemenang-kusala-sastra-khatulistiwa-2017

Oddang, Faisal. (2017). Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Putra, Esha Tegar. (2016). Sarinah. Jakarta: Grasindo.

Putra, Heru Joni. (2017). Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa. Bandung: Nuansa Cendekia.

Santosa, Mugya Syahreza. (2011). Hikayat Pemanen Kentang. Bandung: Tajug.

Sulistyo, Kiki. (2017). Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? Yogyakarta: BasaBasi.

Referensi Bukan-Teks

Aspinall, Sarah. (2010). Modern Masters: Andy Warhol. Film dokumenter tentang Andy Warhol dan Pop-Art dari BBC. Durasi: 59 menit 40 detik. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=_ZfhRuEk4Uc

BBC. (1968.) Marcel Duchamp. Rekaman wawancara Marcel Ducham oleh BBC. Durasi: 27 menit 49 detik. Sumber:  https://www.youtube.com/watch?v=Bwk7wFdC76Y

Gold, Mick. (1978). Dadaism & Surrealism. Film dokumenter tentang Dada dan Surealisme dari Arts Council of Great Britain. Durasi: 87 menit 15 detik. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uLL9A0Dhisk&t=3636s

Nicholls, Jill. (2015). Imagine. Film dokumenter tentang Jeff Koons oleh BBC. Durasi: 65 menit 50 detik. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=-27B8gngS4g

Scheider, Stefan. (2010). I Spy With My Little Eye. Film dokumenter tentang Wassily Kandinsky untuk pameran (versi bahasa Inggris). Durasi: 38 menit 28 detik. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cf5FvgJ7Lhk&t=2061s

Smith, Philip. (2014). Documentary: “Relic” Exhibition (2014). Film dokumenter tentang pameran Damien Hirst bertajuk “Relic” di Doha, Qatar, dari Oxford Film and Television. Durasi: 26 menit 2 detik. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=DvdqtA85zTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s